10 Keanehan Bisnis Vtube. Yakin Masih Mau Gabung?

Artikel ini saya tulis karena saya pernah diajak join Vtube oleh beberapa orang yang saya kenal. Saya sudah jawab secara langsung kepada yang bersangkutan. Tapi saya lalu tergerak untuk mempelajari sistem bisnisnya dan membagikan hasilnya untuk para pembaca sekalian.

Bagi saya, bisnis Vtube ini aneh. Dari sisi konsep bisnisnya, setidaknya ada enam keanehan yang saya lihat.

1. Nonton iklan dibayar

Lazimnya, para penonton iklan itu justru jadi target pasar yang diharapkan dapat mengeluarkan uang (untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan).

Tapi kalau penonton dibayar, yang jadi pertanyaan: siapa yang bayar dan dari mana uangnya?

Alur keuntungan yang diperoleh member

Vtube menyebut dirinya bisnis periklanan digital. Menurut materi Business Plan Vtube (banyak beredar di internet), member dibayar dari profit sharing atau bagi hasil yang diterima Vtube. Jadi, Vtube mendapat uang dari pemasang iklan, lalu sebagian uang itu diberikan kepada member Vtube yang menonton iklan, selain sebagian yang jadi pendapatan Vtube sendiri.

Tapi benarkah seperti itu?

Coba pikir sejenak. Menurut logika akal sehat, apakah ada perusahaan yang mau pasang iklan di Vtube, jika iklan tersebut hanya ditonton oleh para member Vtube yang menonton dengan niat untuk mendapat bayaran?

Saya yakin sih tidak ada ya.

Bagaimana dengan iklan yang sudah ada di aplikasi Vtube? Itu bisa dicomot dari mana saja.

Jika hal paling mendasar ini saja sudah tidak masuk akal, maka keanehan-keanehan berikutnya hanya pelengkap saja untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi dalam bisnis ini.

2. Nonton iklan dibayarnya pake poin (view point atau VP).

Ini juga layak diherankan. Pertanyaannya, kenapa tidak langsung dibayar dengan uang? Mau dollar atau rupiah terserah, tapi kenapa harus dengan poin?

Jawabannya: karena tidak ada uang dari pemasang iklan dan memang tidak ada pemasang iklan.

Bagaimana pun, perusahaan yang sungguhan tidak akan mau buang-buang anggaran iklannya di media semacam Vtube. Bandingkan dengan youtube atau facebook, yang memang benar-benar menerima uang dari para pemasang iklan, dan juga membagikan uang kepada para pembuat konten.

Memang, Vtube sendiri memberikan kesempatan kepada para member yang mempunyai produk atau jasa untuk memasang iklan di aplikasi Vtube. Iklan itu dibayar dengan VP yang dimiliki. Tapi ada berapa banyak member yang mau pasang iklan di aplikasi Vtube? Berapa pula nilainya? Kalaupun ada member yang pasang iklan, tidak mungkin mereka menghabiskan seluruh VP yang mereka miliki.

3. Upah nonton iklan terlalu besar (tidak masuk akal)

Nonton iklan dibayar itu jelas tidak masuk akal. Bukan begitu bisnis periklanan. Tapi yang juga sangat tak masuk akal adalah bayarannya.

Perhatikan nilai poin per hari. Itu adalah upah per hari yang diberikan setiap kali nonton 10 iklan berdurasi 5 detik. Upah 0,3 poin (setara 0,3 USD) untuk 10 iklan mungkin terdengar masuk akal, tapi sebetulnya terlalu besar dibandingkan dengan misalnya biaya nonton iklan di youtube.

Di kanal youtube saya yang sudah monet, Asep Sopyan Network, saya perhatikan penghasilan yang diperoleh adalah sekitar 0,1 sd 0,2 USD per 100 penayangan. Artinya, upah yang diberikan Vtube itu 30 kali lebih besar.

Tapi angka 0,3 VP di Vtube ini barulah untuk level Bintang 1. Di level bintang berikutnya, nilai upah nonton iklan ternyata naik signifikan. Bahkan di level Bintang 6, upahnya 337,5 VP per hari. Pemasang iklan mana yang mau membayar penontonnya sebesar 337 USD per hari (alias setara 6 jutaan rupiah), hanya untuk nonton 10 iklan berdurasi 5 detik?

4. Untuk cairkan VP menjadi uang, anda harus menjualnya ke member lain, tidak bisa langsung ditukar dengan uang.

Jual-beli VP dilakukan melalui web exchange counter. Jika anda mendapatkan pembeli, dia mentransfer uangnya langsung kepada anda.

Jadi, berbeda dengan yang disampaikan di awal, ternyata uang yang dicairkan itu bukan diperoleh dari profit sharing Vtube, melainkan dari member lain.

Cara penarikan uang Vtube lewat member lain

Itulah sebabnya kalau anda lihat aneka testimoni pencairan uang Vtube yang banyak beredar di internet, semuanya menunjukkan bukti transfer yang berasal dari sesama member sendiri, bukan dari perusahaan.

Bukti transfer pencairan poin Vtube

Vtube hanya menyediakan poin dari misi harian menonton iklan, tapi para memberlah yang membayari poin tsb.

Memang, dalam sebuah penjelasan di sebuah kanal youtube leader Vtube, disebutkan bahwa jika setelah 7 hari tidak ada member yang membeli VP, maka Vtube yang akan membelinya dari anda. Tapi hal itu belum pernah terjadi.

Selama ini proses pencairan VP masih dilakukan di antara member karena masih banyak member yang mau membeli VP. Kenapa member mau beli VP? Karena untuk beli paket bintang supaya bonus makin besar.

Bagaimana jika tidak ada lagi member yang mau beli VP? Apa betul Vtube akan beli VP anda? Jelas tidak, karena itulah saatnya Vtube BUBAR.

5. Saat mencairkan VP, anda dikenakan biaya penarikan yang sangat besar tergantung level, mulai dari 50% sd 25%.

Untuk apa potongan tersebut? Menurut marketing plan, biaya tsb dibagikan kembali kepada para member tingkat leader (Bronze sd Diamond) dalam bentuk Group Point. Jika anda adalah member awal, jelas anda tidak kebagian. Leader tingkat bawah pun hanya kebagian sedikit. Jadi, mau tak mau anda harus merekrut (mencari referal) sebanyak-banyaknya dan pastikan mereka aktif melakukan pencairan (jual-beli VP) agar poin grup anda banyak.

Biaya penarikan poin

Dari konsep group point ini tampak jelas bahwa Vtube adalah MLM dengan skema ponzi, di mana para member level atas dibayar oleh para member level bawah yang ingin naik tingkat.

6. Awalnya dibilang gratis, tapi kalau mau hasil cepat tetap harus keluar modal juga.

Gabungnya memang gratis. Nonton iklan dibayar dengan poin. Tapi poin dari kerja sendiri ini sangatlah amat kecil sekali. Untuk level awal, upahnya hanya 0,3 VP per hari alias 12 VP per 40 hari. Belum bisa dicairkan sama sekali, karena minimal poin yang bisa ditarik adalah 5 VP, lalu di akun anda harus ada minimal saldo sebesar 10 VP, dan selain itu ada biaya penarikan 50%. Jadi, alih-alih dicairkan, VP tsb harus dibelikan paket bintang 1 seharga 10 VP.

Paket bintang 1 masih bisa dibeli dari menyelesaikan misi pribadi (walaupun untuk itu membutuhkan waktu satu bulan lebih untuk menyelesaikan misi harian, dan pula ada 8 paket bintang 1). Tapi paket bintang 2 dan seterusnya sangatlah mahal, mulai dari 100 poin (setara 1,5 juta) untuk bintang 2 sampai 10 ribu poin (setara 150 juta) untuk bintang 6. Harga 1 VP setara 1 USD.

Harga paket bintang. Tertinggi 10 ribu poin alias 150 juta.

Ada dua cara untuk mengumpulkan poin, yaitu dengan menyelesaikan misi harian (diri sendiri berikut semua referal yang direkrut), atau membeli kepada member lain yang poinnya sudah banyak.  

Mengumpulkan poin sendiri itu sangatlah butuh waktu dan kerja keras yang luar biasa dalam merekrut referal sebanyak mungkin. Tapi ada cara cepat atau fast-track, yaitu dengan membeli VP dari member lain yang menjual VP. Di situlah anda keluar uang, sementara member yang menjual VP mendapatkan uang.

Sekali lagi catat: uang itu dari anda, bukan dari Vtube. Vtube hanya memberikan poin, sedangkan yang dapat menukar poin menjadi uang adalah para member sendiri.  

Bagaimana jika anda bertekad untuk tidak membeli poin? Ya tidak apa-apa, tapi akan sangat lama untuk mendapatkan hasil. Sebuah simulasi yang saya lihat di kanal youtube seorang leader Vtube memperlihatkan seorang member bisa mencapai bintang 6 dalam waktu lebih dari 3 tahun jika tanpa merekrut, dan dengan catatan tidak pernah mencairkan VP-nya. Adakah orang yang mampu bersabar setiap hari menonton video iklan selama tiga tahun tanpa hasil apa-apa?

Jika ingin lebih cepat, tentunya harus merekrut, tapi tetap saja itu pun masih cukup lama (berbulan-bulan sampai tahunan). Sementara agar lebih mudah merekrut, anda butuh bukti hasil dari Vtube berupa pencairan poin. Tapi semakin sering poin dicairkan, poin anda akan dimulai dari awal lagi.

Bagaimana jika semua member Vtube berpikir untuk mengumpulkan poin hanya dari menyelesaikan misi harian (menonton dan merekrut)? Atau dengan kata lain, tidak ada member yang mau membeli poin? Saat itulah bisnis ini BUBAR.


Itulah enam keanehan yang saya lihat dari konsep bisnis Vtube. Jadi, apa yang dibilang profit sharing dari pendapatan iklan, itu jelas tidak benar. VTube hanya menyediakan VP bagi para member yang menonton iklan, sedangkan uang yang diterima saat menukarkan VP adalah dari para member sendiri. Selama masih ada member yang mau membeli VP, Vtube masih berjalan. Tapi ketika tidak ada lagi member yang mau membeli VP, saat itulah Vtube berakhir. Jika saat itu anda baru saja membeli paket bintang 6 seharga 150 juta tapi tidak ada lagi yang mau beli, itu namanya sial.

Tapi dari enam keanehan tsb, saya menemukan satu keanehan lagi.

7. Apa keuntungan yang diperoleh perusahaan Vtube dengan menyediakan aplikasi ini?

Untuk membuat dan mengoperasikan aplikasi berikut semua perangkat pendukungnya, jelas butuh dana besar. Tapi dari mana Vtube memperoleh pemasukan?

Apakah dari para pemasang iklan? Jelas tidak ada.

Apakah dari para member? Jika dilihat dari alurnya, ini juga tidak. Jual-beli VP dan transfer uang dilakukan di antara sesama member. Tidak ada uang yang ditransfer oleh member kepada perusahaan Vtube.

Apakah dari biaya penarikan poin? Ini juga tidak. Biaya penarikan dipotong saat masih berbentuk poin. Jadi tidak ada uang yang ditarik dari member yang mencairkan poinnya.

Nah, soal keanehan ketujuh ini saya hanya bisa menduga sbb: Vtube didirikan oleh orang-orang yang sekaligus menempatkan dirinya (atau diri mereka) sebagai leader awal, dan tentunya di posisi puncak. Merekalah yang menikmati keuntungan terbesar dari para member yang melakukan fast-track (membeli VP untuk segera mendapatkan paket bintang tertinggi). Memang keuntungan dinikmati juga oleh para member yang berhasil menjadi leader (leader-leader generasi berikutnya). Tapi kesialan akan dialami oleh para member generasi terakhir yang melakukan fast-track.

Setelah terbuka rahasianya seperti ini, yakin masih mau gabung?


Selain itu ada beberapa keanehan lain di luar konsep bisnis:

8. Website resmi Vtube yaitu http://fvtech.id diblokir oleh Kominfo.

9. Pada juli 2020, Vtube termasuk bisnis ilegal menurut Satgas Waspada Investasi OJK. Cek di SINI.

10. Di materi Business Plan, Vtube mengklaim didukung oleh PBNU dan tersertifikasi dari Kominfo.

Luar biasa klaim ini. Faktanya, di web nu.or.id, Vtube ini dihukumi haram. Sedangkan website resminya sendiri diblokir oleh Kominfo.

Artikel ttg hukum Vtube di web NU Online

Prediksi saya, Vtube akan bubar sebelum tahun 2021 berakhir.

Bisnis yang mirip sebelumnya dan booming pula, yaitu Memiles, pun tidak panjang umurnya.

Yakin masih mau gabung?

Bagi anda yang sudah bergabung dengan Vtube, yakin mau ajak orang gabung?

Jangan lupa untuk selalu gunakan akal sehat anda. Salam sukses untuk kita semua. []

Posted in Bisnis | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Cover Lagu Tema “Pedang Pembunuh Naga”

Tahun 1990-an, waktu saya masih SMA, saya ingat ada dua serial televisi asal China (entah mungkin Hongkong ya, pokoknya negara itu) yang saya ikuti, yaitu Kembalinya Pendekar Rajawali dengan tokoh utamanya Yoko dan Bibi Lung, dan dilanjut Pedang Pembunuh Naga dengan tokoh utamanya Tio Bukie.

Kedua serial kungfu ini memiliki soundtrack atau lagu tema yang enak didengar. Lagu serial Yoko dinyanyikan oleh Yuni Shara, sedangkan serial Bukie dinyanyikan oleh Merry Andani. Saya cukup hafal dengan kedua lagu tsb.

Sedikit yang saya heran, kedua lagu tsb menurut saya isinya tidak berkaitan dengan cerita film. Walaupun di film ada kisah cinta juga, tapi tetap sulit dicari kaitannya dengan lagu. Tapi ini bukan masalah sih, yang penting lagunya enak.

Kali ini saya menyanyikan ulang (cover) lagu tema Pedang Pembunuh Naga. Saya memuatnya di kanal youtube Asep Sopyan Music. Musik hanya pakai gitar akustik elektrik yang saya mainkan sendiri. Rekaman dilakukan di studio home recording teman saya di daerah Ciputat.

Video klip menampilkan juga potongan-potongan cerita dari serial, tapi videonya saya ambil dari film The Kungfu Cult Master yang dibintangi oleh Jet Li. Isi cerita sama dengan serial Pedang Pembunuh Naga (alias To Liong To). Jadi, sambil mendengarkan lagu, sekaligus anda bisa memutar ingatan anda tentang cerita Pedang Pembunuh Naga.

Sebetulnya saya ingin juga mengcover lagu Yoko, tapi cara main gitarnya susah.

Selamat menikmati. []

Catatan:

Bagi yang minat rekaman cover atau lagu karya sendiri di daerah Ciputat, Pamulang, Serpong, BSD, silakan menghubungi saya di email asepsopyan.asn@gmail.com. Nanti dikasih harga teman.

Posted in Lagu | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Kenapa Pilih Xiaomi Redmi Note 9 Pro?

Pada tanggal 5 Januari 2020, aku membeli HP Xiaomi Redmi Note 9 Pro versi RAM 8/128 GB. Harga 3,5 juta lewat sebuah lapak di Tokopedia. Ini adalah HP Xiaomi ketujuh yang kubeli sejak 2016, sekaligus menjadi yang termahal. Sebelumnya ada Redmi Note 9, yang kubeli seharga 2,8 juta pada bulan Juni 2020 untuk istriku.

HP ini akan menjadi pengganti Redmi Note 8 yang tak bisa menyala setelah tercelup ke air laut pada tanggal 30 Desember 2020 saat pulang kampung. Aku sudah periksakan HP yang rusak ini ke tukang servis di ITC BSD, dan ditemukan dua komponen yang berkarat sehingga harus diganti. Tapi aku tak begitu yakin penggantian dua komponen itu akan memulihkan kondisi HPku seperti semula. Air itu bisa masuk ke seluruh rongga, dan air laut itu keras. Siapa tahu ada sedikit karat pula di komponen lain.

Jadi kuputuskan untuk ganti HP saja. Mungkin ini kesempatan untuk naik kelas, sekaligus memenuhi beberapa kebutuhan yang tak bisa tercakup di Renot 8.

Sebagai pengguna Xiaomi selama empat tahun terakhir, tentu merek pertama yang ada di pikiranku adalah Xiaomi juga. Pilihan di atas Renot 8 yaitu Redmi Note 8 Pro dan Redmi Note 9 Pro, lalu ada lagi Poco X3. Di atas itu sudah tergolong flagship sehingga harganya akan terlalu tinggi. Kenaikan harga yang kutoleransi hanya dari dua jutaan ke tiga jutaan.

Tapi aku tak hendak fanatik, barangkali saja ada merek lain yang lebih baik di kelas harga yang sama.

Jadi aku pun melakukan survei di internet, youtube, dan aneka marketplace. Agar lebih objektif, aku menentukan beberapa kriteria spek sebagai berikut:

  1. Memori internal 128 GB. Peningkatan dari sebelumnya 64 GB di Renot 8. Sejak aktif di youtube, memori 64 GB rasanya kurang. Meski telah ditambah memori eksternal mikro SD sebesar 64 GB juga, artinya total 128 GB, tetap saja setiap kali bikin video baru, video lama mesti ada yang dihapus atau segera dipindahkan ke laptop. Dengan memori internal 128 GB pun, aku berencana tetap menambah memori eksternal, dan aku telah memesan mikro SD kapasitas 256 GB biar puas. Apalagi nanti dengan kamera HP baru yang resolusinya lebih besar, ukuran file video tentu lebih besar, dan karena itu butuh tempat penyimpanan yang lebih besar juga.
  2. RAM boleh 6 atau 8 GB. Intinya lebih besar dari sebelumnya 4GB di Renot 8.
  3. Dual SIM + slot micro SD. Di Renot 8, sebetulnya tersedia 2 slot SIM card + micro SD, tapi entah kenapa kalau dipasang dua SIM, yang satu sering hilang sinyal.
  4. Kamera minimal 48 MP. Renot 8 punya kamera utama 48 MP dan hasilnya bagus sekali, bisa diandalkan untuk bikin video youtube. Tentunya kalau 64 MP lebih bagus dong.
  5. Ada fitur NFC. Awalnya gak ngarep dapat fitur NFC di HP harga 3 jutaan, tapi ketika tahu fitur ini ada di Renot 8 Pro dan 9 Pro, aku pun jadi mensyaratkan fitur ini ketika menimbang HP merek lain di kelas harga yang sama. Bagaimana pun akan sangat membantu ketika kita dapat mengecek dan mengisi ulang saldo emoney langsung dari HP. Mengurangi biaya ke ATM, apalagi kalau ATMnya ada di minimarket.

Di antara berbagai merek dan tipe HP di harga tiga jutaan, yang memenuhi sekaligus lima kriteria tsb hanya ada tiga, yaitu Redmi Note 9 Pro, Realme 7, dan Samsung A31.

Kenapa pilihanku jatuh ke Redmi Note 9 Pro? Pertama, prosesornya paling bertenaga (Snapdragon 720G). Kedua, keunggulan merata di semua aspek, walau tidak selalu yang terbaik. Ketiga, ada fitur infrared yang membuat HP bisa digunakan jadi remote control.

Hanya satu keberatanku terhadap Renot 9 Pro, yaitu ukuran yang terlalu besar (6,67 inci), sehingga mungkin akan terlalu besar di genggaman dan terutama akan terasa kurang nyaman saat dimasukkan ke saku. Tapi kurasa aku hanya perlu membiasakannya.

Realme 7 sebetulnya memiliki spek yang setara dengan Renot 9 Pro, bahkan sensor kameranya yang dari Sony dianggap lebih baik dan ukuran bodinya lebih pas di tangan (6,5 inci). Tapi dua review yang kulihat di youtube memperdengarkan suara speakernya agak cempreng. Selain itu Realme 7 memakai prosesor Mediatek Helio G95, yang walaupun di atas kertas setara Snapdragon seri 7, anehnya Realme sendiri memasangkan Snapdragon 720G di ponsel Realme 7 Pro yang harganya 4 jutaan. Jadi, secara tidak langsung Realme menganggap Helio G95 di bawah Snapdragon 720.

Lalu Samsung A31 tidak kupilih karena prosesornya Mediatek Helio P65, yang secara performa setara dengan Snapdragon seri 6, di bawah Renot 9 Pro yang menggondol Snapdragon 720. Beberapa review di youtube memperlihatkan kecepatan A31 jauh di bawah Renot 9 Pro. Selain itu, resolusi videonya belum bisa 4K, sementara yang dua lagi bisa. Dan lagi, HPku sebelumnya Redmi Note 8 memakai prosesor Snapdragon 665. Kalau aku pilih Samsung A31 berarti tidak ada peningkatan dari sisi prosesor.

Berikut perbandingan spesifikasi tiga HP yang dirangkum dari berbagai sumber. Tipe yang diperbandingkan adalah versi memori 8/128 GB.

Cukup menarik melihat perubahan harga ketiga HP di atas. HP Xiaomi tampak stabil, bahkan di toko resmi tidak ada perubahan, hanya terkadang turun sedikit saat ada diskon. Sedangkan dua merek lainnya turun cukup jauh. Ini menunjukkan harga yang dipatok Xiaomi merupakan harga sebenarnya.

Harga pasar adalah harga dari distributor atau toko-toko seperti banyak terdapat di marketplace. Ada variasi harga di sejumlah toko. Aku sendiri mendapatkan harga Renot 9 Pro persis 3,5 juta, tapi stoknya di toko tsb tidak banyak.

Fenomena menarik kulihat waktu meneliti HP Poco X3 NFC, di mana harga pasar justru lebih tinggi daripada harga resmi. Varian RAM 6/64 GB yang resminya 3,199 juta, di toko lain rata-rata dijual di harga 3,5 jutaan. Sedangkan varian RAM 8/128 GB yang resminya 3,699 juta, di toko lain dijual di harga 4,5 jutaan. 

Selain tiga tipe HP di atas, sebetulnya aku juga sempat mempertimbangkan beberapa tipe lain di harga 3 jutaan.

Ada Poco X3 NFC. Prosesor lebih kuat daripada Renot 9 Pro (pake Snapdragon 732G), tapi SIM dan slot memorinya sistem hibrid (tidak bisa dual SIM sekaligus micro SD). Selain itu harganya di pasaran sudah naik signifikan.

Redmi Note 8 Pro pun sempat masuk dalam pertimbangan, tapi dual SIMnya hibrid dengan slot micro SD. Selain itu, harganya hanya selisih sedikit dengan Renot 9 Pro.

Ada lagi Samsung M31, Oppo Reno 4F, Realme Narzo 20 Pro, Vivo V20 SE, Vivo Y51, dan lain-lain, tapi semuanya belum dilengkapi fitur NFC atau menggunakan prosesor yang kelasnya di bawah Snapdragon seri 7.

Memang Xiaomi ini nyebelin (bagi merek lain) karena merusak pasar. Di Xiaomi, HP dengan prosesor Snapdragon seri 7 itu harganya 3 jutaan. Di merek lain, harganya 4 jutaan bahkan 5 jutaan. Memang prosesor alias mesin bukan satu-satunya kriteria, tapi jelas kriteria yang sangat penting.

Jadi makin mantaplah pilih Xiaomi. Kita tidak perlu ragu dengan harga yang ditetapkan. Konon, brand ini hanya mematok keuntungan rata-rata 5% saja dari tiap produk yang dijual, jadi susah untuk turun banyak.

Soal ukuran HP, kuharap di produksi seri-seri selanjutnya, Xiaomi bisa menyediakan ponsel yang bagus dengan ukuran yang lebih pas untuk digenggam dan dimasukkan ke saku. Kurasa 6 sd 6,3 inci itu yang paling pas.

Baiklah.

Semoga ponsel Redmi Note 9 Pro yang kupegang ini sesuai dengan spek di atas kertas, dan awet selama bertahun-tahun ke depan. Amin. []


Sbg catatan saja, daftar HP Xiaomi yang pernah kubeli:

  1. Redmi 3 (Sept 2016, dipakai olehku, lalu ibuku, lalu adikku, dan sekarang sudah rusak)
  2. Redmi 4X (Juli 2017, dipakai olehku, sekarang dipakai keponakan istri)
  3. Redmi Note 5 (Januari 2019, dipakai istriku, sempat rusak kena air lalu sekarang dipakai adikku)
  4. Redmi Note 8 (Januari 2020, dipakai olehku, rusak kena air laut)
  5. Redmi Note 9 (Juni 2020, dipakai istriku)
  6. Redmi 8A Pro (November 2020, dipakai anak-anak)
  7. Redmi Note 9 Pro (Januari 2021, dipakai olehku)
Posted in Serba-serbi | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Alhamdulillah, Kanal Youtube Asep Sopyan Network Mencapai Monetisasi

Alhamdulillah, kanal youtube saya, Asep Sopyan Network, mencapai monetisasi pada tanggal 18 Desember 2020.

Syarat mendapatkan monet di youtube adalah punya kanal yang mencapai minimal 1000 subscriber dan dalam setahun terakhir mencapai 4000 jam tayang.

Kanal saya mencapai syarat yang ditentukan sehari sebelumnya, yaitu dengan 1097 subscriber dan 4063 jam tayang. Saya ajukan Youtube Partner Program pada sore hari (17 Desember) pukul 17, dan pada siang ini (18 Desember) pukul 12.21 saya menerima pemberitahuan lewat email bahwa pengajuan saya diterima. Jadi tak sampai sehari sudah disetujui. Cepat sekali.

Kanal youtube Asep Sopyan Network berisi video-video tentang asuransi. Saya mengaktifkan kanal ini pada bulan Maret 2020, bersamaan dengan dimulainya era WFH atau kerja dari rumah. Awalnya berisi video klip lagu-lagu saya, tapi lalu saya campur dengan asuransi. Video pertama saya tentang asuransi dibuat tanggal 8 April 2020. Dan pada bulan Juni 2020, saya membuat kanal khusus musik (Asep Sopyan Music), sehingga kanal yg ini menjadi khusus asuransi.

Cara Saya Mencapai Monetisasi

Cara saya mencapai monetisasi dalam waktu sekitar 9 bulan adalah dengan melakukan langkah-langkah sbb:

  • Membuat video secara rutin atau sering. Saya menargetkan seminggu minimal satu video, walaupun kenyataannya kurang dari itu.
  • Melakukan promosi melalui media sosial yang saya ikuti, mulai dari WA (grup maupun status WA), IG, FB, hingga blog. Terkadang mengirim secara personal ke orang-orang tertentu. Saya rutin membuat status setiap kali ada video baru, dan setiap kali jumlah subscriber menapaki batu pijakan tertentu.
  • Bergabung dengan komunitas para youtuber. Banyak grup para youtuber pemula di internet, umumnya grup WA, dan keberadaan mereka mudah dicari. Untuk awal, coba-coba saja bergabung dengan beberapa grup sekaligus. Tidak semua grup itu bagus, dan nasib akan membawa anda ke grup yang tepat.
  • Melakukan sub for sub dengan sesama anggota grup plus sedikit jam tayang. Tujuan terutama menambah subscriber.
  • Melakukan nobar (nonton bareng) di grup yang punya program nobar. Tujuan terutama menambah jam tayang. Kebetulan saya tergabung dengan grup yang bagus, punya program nobar yang rutin tiap minggunya.
  • Memanfaatkan semua gawai yang dimiliki untuk nonton kanal sendiri. Nah, ini terdengar aneh tapi sah-sah saja, selama akun dan gawai yang dipakai berbeda dengan akun dan gawai yang biasa digunakan untuk membuat video.

Demikian sedikit cerita. Semoga bermanfaat bagi anda yang ingin menjadi youtuber.

Selanjutnya, langkah saya adalah terus membuat video secara rutin. Dan saya juga punya satu kanal lagi, Asep Sopyan Music, yang merupakan kanal khusus musik. Ini juga perlu diupayakan bisa monetisasi. Semoga tercapai segera. Amin.

Lalu ada lagi kanal milik istri saya, Iyan Desi Susanti. Dan kami pun membuat kanal berdua, Desi Asep Family. Semoga lancar semuanya. Amin. []

Posted in youtube | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Membeli IPad 8

Ipadku rusak. Sering restart sendiri dan terakhir tak bisa nyala. Sudah dibawa ke tukang servis pun gagal. Ini ipad pro 10,5 inci tahun 2017. Dulu kuperoleh sbg hadiah dari Allianz untuk kontes CPC unit 24 bulan.

Akhirnya terpaksa aku beli ipad. Ipad generasi 8, keluaran tahun 2020. Harga 5,749 juta, di Tokopedia (nama tokonya: Toko Keliling). Memori 32 GB, wifi only.

Tadinya terpikir untuk beli yang second saja, yang penting bisa untuk kerja. Tapi produk apple seringkali tidak bisa update ios ke versi terbaru setelah beberapa tahun. Jadi kalau aku beli yang second, umurnya akan lebih pendek.

Saat ini ipad versi lama yang masih bisa update ke ios terbaru (OS 14) adalah ipad air 2 keluaran tahun 2014. Ipad yang lebih lawas tidak bisa pakai ios terbaru.

Ipad merupakan gadget wajib untuk agen Allianz agar bisa melakukan penjualan secara paperless. Aplikasi Discover sebagai tools untuk mendaftarkan asuransi hanya bisa diunduh di iPad.

Baiklah. Semoga awet dan menghasilkan banyak rezeki. Amin. []

Posted in Catatan Harian | Tagged , , , | Leave a comment