Menggagas Psikologi Profetik

Tentang Peristilahan

Istilah profetik diambil dari gagasan Kuntowijoyo. Artinya kurang lebih ‘kenabian’. Dalam buku-bukunya, terutama yang terhimpun dalam Islam sebagai Ilmu, Kuntowijoyo mengusulkan perlunya ilmu sosial profetik sebagai cara memahami dan mentransformasi realitas sosial secara ilmiah berdasarkan misi profetik Islam. Misi profetik Islam itu, sebagaimana dirumuskannya dari Alquran surat Ali ‘Imran ayat 3, ada tiga: humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Psikologi profetik, dengan demikian, merupakan turunan langsung dari gagasan Kuntowijoyo itu. Usulan nama ini mungkin memerpanjang daftar perdebatan di sisi permukaan dari sebuah gerakan intelektual yang berkembang sejak kuartal terakhir abad ke-20, yaitu Islamisasi pengetahuan, termasuk dalam psikologi. Psikologi yang berkembang saat ini, khususnya dari Barat, harus disesuaikan dulu sebelum dipakai di dunia Muslim. Di Indonesia, ada beberapa istilah yang sudah terdaftar sebagai bentuk Islamisasi, antara lain nafsiologi, psikologi ilahiah, psikologi Islam, psikologi Islami, dan psikologi pribumi (indigenous psychology).

Nafsiologi berasal dari kata nafs (bahasa Arab, artinya jiwa) dan logos (bahasa Yunani, ilmu). Penggabungan dua istilah dari dua bahasa ini, menurut saya, agak sulit dipertanggungjawabkan. Lagi pula nama usulan Sukanto MM ini terdengar aneh karena sehari-hari kita terbiasa menyebut psikologi.

Psikologi ilahiah, ditinjau dari perspektif yang mendasari rangkaian mazhab dalam psikologi, sebenarnya cukup tepat. Psikoanalisis, mazhab pertama, menyelidiki manusia dari perspektif sebagai makhluk yang digerakkan oleh insting-insting hewani, sehingga cenderung buruk atau jahat. Behaviorisme memandang manusia sebagai netral. Humanistik memandang manusia sebagai baik. Transpersonal memandang manusia memiliki potensi spiritual, tetapi tidak mesti dalam pengertian bertuhan. Dan psikologi ilahiah, yang dimaksudkan menjadi mazhab kelima, melihat manusia sebagai makhluk yang bertuhan. Tetapi nama yang digagas Zuardin Azzaino ini tidak menyediakan totalitas (rentangan dari jahat, baik, hingga bertuhan) sebagaimana terdapat pada kata yang dipakai oleh dua nama berikut: Islam(i).

Psikologi Islam dan psikologi Islami adalah dua nama yang paling populer. Di Indonesia, istilah psikologi Islam dipertahankan oleh Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir. Psikologi Islami dipakai oleh mayoritas penggagas integrasi psikologi dan Islam di negeri ini, seperti Fuad Nashori, Djamaluddin Ancok, dan Hanna Djumhanna Bastaman. Sedangkan para aktivis Imamupsi (Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia) sering menyebutnya secara bergantian.

Psikologi pribumi (indigenous psychology) adalah suatu konsep yang harus diisi, tidak spesifik. Pribumi apa? Karena kita berada di Indonesia, sepantasnya psikologi ini disebut psikologi Indonesia. Tetapi pribumi ini bisa pula diisi dengan Islam.

Misi Psikologi Profetik

Marilah kita beralih ke soal yang lebih substansial, apa yang ditawarkan oleh psikologi profetik. Ayat yang menjadi dasar ilmu ini berkenaan dengan misi yang harus diemban para penerima Alquran (umat Islam) agar bisa menjadi umat terbaik di kalangan manusia. Predikat umat terbaik (khairu-ummah) bukanlah hadiah yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma, tetapi diberikan berdasarkan prestasi tertentu. Prestasi itu adalah kemampuan melaksanakan tiga misi profetik, sebagaimana akan dijelaskan berikut, dalam kehidupan manusia.

Humanisasi adalah istilah Kuntowijoyo untuk menyebut ta’muruna bil ma’ruf (menyuruh kepada kebaikan). Humanisasi artinya memanusiakan manusia agar mencapai kemanusiaannya secara penuh. Kebalikannya disebut dehumanisasi. Liberasi adalah nama lain dari tanhauna ‘anil munkar (mencegah dari kejahatan). Liberasi bertujuan untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan, misalnya oleh hegemoni kebudayaan, pemiskinan struktural, dominasi politik, atau eksploitasi pasar. Sedangkan transendensi adalah tu’minuna billah (beriman kepada Allah). Transendensi bermaksud menambahkan dimensi transendental, yang ilahiah atau Tuhan, ke dalam kebudayaan.

Ketiga hal tersebut adalah misi Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Tetapi dengan istilah profetik (bahasa Inggris: prophetic), misi Islam itu tetap hadir tanpa harus disebut Islam. Ini adalah suatu bentuk objektivikasi dalam bahasa. Objektivikasi adalah strategi Kuntowijoyo untuk menjadikan keyakinan pribadi (misalnya Islam) dapat dirasakan manfaatnya oleh sebanyak mungkin manusia tanpa harus menyetujui keyakinan asal. Penyebutan humanisasi, liberasi, dan transendensi merupakan objektivikasi dalam bahasa. Begitu pula nama psikologi profetik. Sementara program jamsostek dan IDT, sebagai bentuk operasional dari perintah Islam untuk memerhatikan kaum lemah, merupakan objektivikasi dalam tindakan.

Misi profetik tersebut dilaksanakan di tengah-tengah manusia, tentu dengan memerhatikan konteksnya. Untuk saat ini, harus diakui bahwa peradaban dunia, termasuk Indonesia, tengah berada dalam hegemoni Barat. Kita semua telah memasuki, atau dimasuki, modernitas (bahkan pasca-modernitas) dengan segala eksesnya. Perkembangan teknologi mengubah struktur masyarakat yang tadinya agraris menjadi industrial. Tenaga manusia yang sebelumnya dominan diganti oleh mesin. Di samping manfaatnya, keadaan ini menjadikan dehumanisasi: manusia hidup seperti robot, serba mekanis dan otomatis. Sistem pasar dan globalisasi memerlakukan manusia sebagai gejala abstrak tanpa wajah kemanusiaan. Banyak orang menjadi semakin terasing (teralienasi), tak berarti, dan lebih agresif.

Munculnya sistem politik, sosial, dan ekonomi modern ternyata tidak sepenuhnya mampu menghapus penindasan, malah menggantinya dengan bentuk baru yang lebih canggih dan halus. Dulu orang kecil tertindas dan menyadari dirinya tertindas, lalu berusaha melawan. Sekarang orang bisa tertindas tanpa menyadari dirinya tertindas, dan oleh karena itu tidak melakukan apa-apa kecuali menjalani rutinitas.

Sistem pengetahuan yang ada pun memandang manusia tidak secara utuh, melainkan parsial. Ada satu dimensi yang dilupakan, yakni ketuhanan. Semuanya bercorak antroposentris. Misalnya dalam psikologi, psikoanalisis menganggap Tuhan sebagai ilusi. Behaviorisme tidak memberi tempat pada Tuhan. Humanistik memang memberi nilai baik pada manusia, tetapi manusia yang malah cenderung play-god (berperan sebagai Tuhan). Transpersonal menambahkan dimensi spiritual, namun yang dimaksud tidak selalu Tuhan.

Semua ini adalah persoalan-persoalan kemanusiaan yang kita semua terlibat, atau terseret, di dalamnya. Sebelum dampak-dampak negatif itu terwariskan ke seluruh dunia, psikologi profetik bisa ikut berperan dalam melakukan humanisasi, liberasi, dan transendensi. Tentu dalam batas kapasitasnya sebagai ilmu. Dengan psikologi profetik, ketiga misi ini digabungkan, satu sama lain tidak terpisah. Psikologi profetik tidak seperti liberalisme yang mementingkan humanisasi, marxisme yang mementingkan liberasi, atau kebanyakan agama yang mementingkan transendensi. Psikologi profetik adalah ketiganya.

Membangun Psikologi Profetik

Pada dasarnya, penciptaan sebuah ilmu atau mazhab baru di mana-mana sama, yaitu memelajari khazanah ilmu yang ada sambil mengujinya secara terus-menerus dalam realitas untuk menemukan persoalan baru dan pemecahan teoritis baru. Yang berbeda adalah pandangan dunia yang menjadi asumsi dasarnya. Psikologi profetik dimulai dari perumusan pandangan dunia berdasarkan Alquran. Agar diterima sebagai ilmu, pandangan Alquran ini harus diturunkan ke dalam pernyataan-pernyataan yang memenuhi kaidah keilmuan (observable, dapat diselidiki secara rasional dan empiris). Proses ini oleh Kuntowijoyo disebut pengilmuan Islam.

Berikutnya adalah penguasaan terhadap khazanah psikologi yang ada di dunia saat ini setinggi-tingginya. Tidak hanya Barat, tetapi juga tradisi Islam dan Timur. Yang sesuai dengan pandangan dunia kita, boleh langsung diambil. Yang tidak sesuai, dan ini ternyata sedikit, dibuang saja atau diganti dengan yang baru, tidak usah diislamkan. Dari Psikoanalisis Freud kita bisa mengambil banyak, kecuali ide fiksionalnya tentang Tuhan dan determinisme insting seksual. Begitu pula dari aliran yang lain, lebih banyak yang bisa diambil daripada yang harus dibuang.

Sambil terus memelajari khazanah keilmuan, pengujian dalam realitas akan menyibak kekurangan-kekurangan ilmu dan memunculkan tema-tema baru untuk penelitian dan pengembangan. Tema baru ini adalah persoalan-persoalan baru yang akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ilmu. Jika ujian ini terjawab dengan baik, teori baru pun lahir. Dan itulah, mudah-mudahan, yang disebut psikologi profetik. #

This entry was posted in Psikologi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Menggagas Psikologi Profetik

  1. Husnul Muttaqin says:

    Kunto memang salah satu dari sedikit ilmuwan sosial kita memiliki ide-ide besar. Gagasan ISP kini banyak dikembangkan orang, terutama setelah ia meninggal. Sosiologi profetiik misalnya. Ada blognya: sosiologiprofetik.wordpress.com

    Asep:
    Terima kasih komentar dan infonya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s