Kebenaran Itu Satu ataukah Banyak?

421027Pada tingkat partikular, terkadang kita menyaksikan dua hal yang berlawanan tetapi kedua-duanya benar.

Misalnya: Cahaya adalah gelombang, itu benar. Cahaya adalah partikel, itu juga benar. Tingkat kebenarannya sama.

Ada pula dua hal yang berbeda, dua-duanya benar namun dengan tingkat kebenaran yang berbeda.

Misalnya: Si A berjualan nasi goreng secara keliling, si B berjualan nasi goreng dengan mangkal di perempatan. Nasi goreng si A terjual, nasi goreng si B juga terjual. Tapi kemungkinan tingkat penjualannya tidak sama.

Fakta pertama menunjukkan bahwa kebenaran itu lebih dari satu. Fakta kedua menunjukkan bahwa ada gradasi atau rentangan dalam kebenaran. Dalam skala Likert, rentangan kebenaran itu dapat disusun sebagai: Sangat Tidak Benar (STB), Tidak Benar (TB), Ragu-ragu, Benar (B), Sangat Benar (SB).

Tetapi fakta kebenaran banyak itu terjadi pada tingkat partikular (bagian-bagian, juz’iy). Apakah pada tingkat universal (keseluruhan, kulliy) pun demikian?

Entahlah.

Adakah cara untuk mengetahuinya?

Dialektika Hegel?

This entry was posted in Filsafat and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kebenaran Itu Satu ataukah Banyak?

  1. kusmardiyanto says:

    Istilah yang digunakan al-qur’an untuk kebenaran adalah ash-shidqu dan al-haq. Ash-shidqu adalah kebenaran dalam arti sesuai sebagaimana “ada”nya. “Ada” itu meliputi segala yang ada baik yang nampak maupun yang ghoib. Cahaya adalah partikel dan juga gelombang, jika ini menyatakan sebagaimana adanya maka itu adalah benar. Apakah dengan demikian kebenaran lebih dari satu? tidak juga, karena ini berarti cahaya memiliki dua sifat yaitu di satu sisi sebagai partikel dan pada sisi yang lain sebagai gelombang, sifat yang tidak terpisahkan dari cahaya. Adapun al-haq adalah kebenaran dalam arti bermanfaat di dunia dan di akherat. Siapa yang tahu? tidak ada seorangpun yang tahu. Maka dari itu dikatakan al-haq itu dari Alloh. Alloh tidak akan mungkin membiarkan manusia dalam keadaan tidak tahu al-haq dan Dia telah menurunkan al-haq itu kepada manusia yakni al-qur’an. Prinsip dasar al-haq, yang saya tahu dari al-qur’an, adalah engkau mengabdi kepada Alloh dan tidak mensekutukan Dia dengan sesuatu. Ini yang diserukan oleh para Nabi dan Rosul dari Adam as hingga Muhammad SAW, jadi bersifat universal. Jika kita mengabdi kepada Alloh maka kita harus tahu apa yang diperintahkan oleh Alloh dan apa yang dilarang, dan kita tidak mungkin mengatahui hal ini tanpa melalui wahyu. Sebagai contoh, Alloh memerintahkan kita untuk menegakkan sholat, kita tegakkan sholat sebagai bentuk pengabdian kepada Alloh dan itu kita lakukan karena Alloh semata, ini adalah salah satu contoh al-haq, contoh yang lain, misalnya, zakat, puasa, haji, berbuat baik kepada kedua orang tua, nikah, makan dan minum yang halal dan baik, membaca ayat-ayat Alloh, tolong menolong dalam kebaikan, jujur , adil, dan lain-lain yang semuanya itu ada di dalam al-qur’an dan as-sunnah semuanya baru bisa dinamakan dengan al-haq jika dilakukan karena Alloh semata. Semuanya berpulang kepada diri manusia itu sendiri menerima al-haq itu atau menolaknya. Al-haq tidak akan berubah dengan banyaknya orang yang menolaknya.
    Jadi kebenaran itu sesungguhnya mudah dan se derhana.

    Asep:
    Saya yakin kebenaran itu sebetulnya sederhana. Yang tidak sederhana adalah cara mencapainya. Inilah yang menimbulkan pluralitas kebenaran, di mana kita tidak bisa mengklaim pencapaian siapakah yang paling benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s