Hegel tentang Moralitas dan Struktur Sosial

Pengantar

george-wilhelm-friedrich-hegelPemikiran etika Hegel merupakan sintesis dari etika Aristoteles dan etika Kant. Menurut Aristoteles, hidup etis terlaksana dalam partisipasi dalam kehidupan polis (negara kota). Jadi berpolitik, dalam arti partisipasi, dan beretika adalah sama. Sedangkan Kant membedakan secara tajam antara hukum (legalitas) dan moralitas. Bagi Kant, hukum adalah tatanan normatif lahiriah masyarakat. Dalam arti bahwa ketaatan yang dituntut olehnya adalah ketaatan lahiriah, sedangkan motivasi batin tidak termasuk. Maka taat hukum belum mencerminkan moralitas. Sedangkan moralitas adalah pelaksanaan kewajiban karena hormat terhadap hukum yang tertulis dalam hati manusia. Suatu tindakan hanya dianggap bermoral kalau diambil secara otonom, berdasarkan kesadaran sendiri tentang kewajiban. Kriteria mutu moral seseorang adalah kesetiaannya terhadap suara hatinya sendiri. Setiap orang tidak hanya berhak, melainkan berkewajiban untuk senantiasa mengikuti suara hatinya.

Hegel menempatkan diri atas paham moralitas otonom yang dikembangkan Kant. Namun ia sekaligus kritis terhadap Kant. Baginya posisi Kant adalah abstrak karena tidak memperhatikan bahwa manusia dengan otonominya selalu sudah bergerak dalam ruang yang ditentukan oleh struktur sosial yang mewadahi tuntunan moral. Namun ia tidak sekadar kembali ke Aristoteles. Ia kembali, tetapi di satu level dialektis lebih tinggi. Dengan menempatkan fenomen moralitas ke dalam kerangka sebuah filsafat sejarah yang luas, Hegel mampu mengatasi keabstrakan Kant dan sekaligus menempatkan legitimasi struktur sosial itu ke tingkat yang lebih tinggi. Sittlichkeit dipahaminya sebagai tatanan sosial moral yang terwujud dalam lembaga-lembaga kehidupan kemasyarakatan manusia. immanuel-kant

Tiga Lembaga Kehidupan

Inti filsafat sejarah Hegel adalah gerak perkembangan ke arah kebebasan yang semakin besar. Kebebasan manusia bukan sekadar sikap otonomi batin, melainkan merupakan hakikat seluruh kerangka sosial di dalamnya manusia merealisasikan diri. Ini berarti bahwa kebebasan harus terungkap dalam tiga lembaga yang satu sama lain berhubungan secara dialektis, yaitu hukum, moralitas individu, dan tatanan sosial-moral (sittlichkeit). Tiga lembaga ini merupakan tiga tahap pengembangan gagasan kehendak yang pada dirinya sendiri dan bagi dirinya sendiri bebas.

Hukum adalah eksistensi langsung (pertama) yang diambil kebebasan secara langsung. Contoh utamanya adalah hak milik pribadi. Dalam hak milik pribadi kebebasan kehendak diakui oleh karena benda yang merupakan milik seseorang diakui dan dijamin sebagai itu. Namun hukum adalah hal yang semata-mata formal dan lahiriah karena tidak melihat kekhususan pribadi yang bersangkutan, seperti motivasi, kehendak dan maksud-maksud pribadi.

Moralitas adalah negasi dialektik hukum. Subjek yang bermoral tidak tunduk kepada hukum yang dipasang dari luar, melainkan kepada hukum yang disadari dalam hati. Dalam moralitas manusia bebas dari heteronomi, menjadi otonomi. Moralitas adalah lingkaran kehendak subjektif yang mempertahankan diri secara otonom berhadapan dengan dunia luar. Maka kebebasan sekarang tidak lagi terikat pada benda, hak milik, melainkan hanya dapat menjadi nyata dalam kehendak sebagai kehendak subjektif.

Tetapi moralitas pun bagi Hegel masih abstrak karena hanya ada dalam kebatinan murni dan tidak mengacu pada struktur-struktur objektif dunia luar. Tidak cukup mengatakan kepada seseorang, ikutilah suara hatimu, karena suara hati sendiri masih memerlukan orientasi. Suara hati hanya membunyikan perintah untuk melakukan apa yang benar. Tapi yang benar sendiri itu apa? Menurut Hegel yang benar adalah yang rasional, dan yang rasional itu digariskan melalui struktur realitas sosial, yang oleh Hegel disebut sittlichkeit (diartikan Frans Magnis Suseno sebagai tatanan sosial-moral).

Sittlichkeit pada dasarnya ditentukan oleh tiga lingkup hidup manusia: keluarga, masyarakat luas, dan negara. Ketiganya menentukan, melalui adat istadat, kebiasaan, dan hukum, bagaimana individu harus bertindak sebagai makhluk moral. Namun tatanan sosial yang berhak menjadi acuan bagi moralitas individu adalah tatanan yang bersyarat: yaitu rasional, tatanan yang sudah mewadahi otonomi dan martabat manusia, mengakui kebebasan penuh subjektivitas manusia. Individu baru mencapai kemerdekaannya secara penuh apabila setiap hendak bertindak tidak selalu harus mengadakan pertimbangan baru tentang tindakannya. Individu yang bertindak sesuai dengan struktur-struktur itu berarti merealisasikan kebebasannya sendiri. Namun bila tatanan itu merosot ke otoritarianisme, tidak mengindahkan kebebasan dan otonomi individu, maka manusia harus tetap mempertahankan moralitasnya yang otonom dalam dirinya. Hegel tetap mengakui bahwa suara hati adalah hukum terakhir bagi individu. Tak ada jalan kembali ke moralitas hukum yang legalistis. Dalam hal ini Hegel kembali kepada Kant. []


[Diringkas dari Franz Magnis-Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta: Kanisius, 1998, hal. 104-116]

This entry was posted in Filsafat and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Hegel tentang Moralitas dan Struktur Sosial

  1. zali says:

    hegel….
    dari sinilah komunisme berawal….
    terkadang komunisme jadi sebuah pilihan terbaik bagi mereka yang berada dalam kemunduran moral mungkin apabila pemerintah indonesia tidak mengantisipasi hal ini maka komunisme bukanlah tidak mungkin tumbuh kembali atau bahkan di cintai oleh para penerus bangsa , seperti yang telah kita ketahui sebuah partai berpaham komunis pada akhir 2004 telah tumbuh di indonesia yang segera bubar entah karena apa?? di bubarkan atau memang membubarkan diri atau memang sedang membentuk kekuatan dan embrio yang baru!!!

    Asepso:

    Komunis… Biasa aja lagi.

  2. Yans says:

    Bung Asep, saya juga copy tulisan yang ini. Makasih banyak ya. Tulisannya tentang filsafat bagus2.

    Asepso:
    Sama2. Smg kuliahnya lancar.

  3. Susan says:

    @Zali, jangan terlalu terburu-buru mengaitkan Hegel dengan komunisme. Kalau Hegel masih hidup, dia bakal marah besar kamu mengaitkannya dengan Komunisme. Hegel itu Idealisme, Komunisme itu Materialisme. Kalau mau bicara Komunisme lebih baik bicara Marx yang mengadopsi sekaligus menentang hampir semua pikiran2 / teori Hegel.

    Asep:
    Kok tahu Hegel bakal marah besar? Kalau aku jadi Hegel, aku akan bangga pikiranku dicabangkan ke mana-mana. Aku akan bangga orang2 membicarakanku dengan beragam tafsiran. Jika ada orang salah paham terhadap pikiranku, aku hanya akan tersenyum dan tidak akan menyalahkannya.

  4. jemo says:

    komunisme iti apa sech???????? biar kita gk asal latah

  5. 804424 says:

    jadi archelogi adalah ilmu yang mempelajari antara hubungan kebudayaan ide dengan dunia jasmani/kebudayaan fisik dan pengaruh hubungan tersebut dengan lingkungannya.Menurut craw ford adalah cabana dari ilmu peninggalan massa lampau. Manfaat dan relevensi studi archelogi massa kini tlg bedakan dan dijelaskan?????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s