Pungguk Merindukan Bulan

Sesampainya di puncak langit, bulan tampak kian purnama. Cahayanya berpendar merata ke segenap penjuru malam, memantulkan kilau lembut pada segala bentuk dan permukaan yang berada dalam jangkauannya. Di sela-sela rerumputan, tertutup oleh bayang-bayang gelap dari dedaunan dan pepohonan, hewan-hewan merayap menyembunyikan diri dari incaran para pemangsa malam yang selalu siap menyergap. Desir angin menggoyangkan bayang-bayang itu, memberikan sekilas kesempatan kepada para pemangsa untuk melihat incarannya. Tidak jarang kesempatan yang sekilas itu membuat hewan-hewan melata harus rela kehilangan nyawa. Yang kuat dan yang lemah memang sudah ditentukan nasibnya. Itulah takdir. Segala makhluk tunduk padanya.

Di tepi jalan setapak menuju ladang, di dahan sebuah pohon, dua ekor burung pungguk bertengger bersisian. Sosok mereka terlindung oleh gelap yang diberikan daun-daun pohon tempat mereka hinggap.

“Nak, kamu sudah paham apa yang ibu terangkan?” Terdengar salah seekor berucap. Dari ucapannya, nyata bahwa ia adalah seekor ibu dan yang diajaknya bicara adalah seekor anak.

Anaknya tak menjawab.

“Kamu dengar?” tanya ibu pungguk lagi. “Jadi kamu sudah paham bagaimana cara menangkap buruan?”

“Ibu, aku ingin ke bulan,” kata anaknya tiba-tiba.

Ibu pungguk menarik nafas panjang. Lain pertanyaan lain jawaban. Susah memang kalau melatih anak saat bulan purnama begini, batinnya. Tapi mau bagaimana lagi, malam ini umurnya sudah cukup untuk keluar sarang dan belajar mencari makan.

“Melihat bulan memang bisa menimbulkan rindu,” tukas sang ibu akhirnya.

“Rindu?” si anak menoleh. “Apa itu, bu?”

“Sudah, jangan tanya macam-macam. Lihat ke bawah, lihat rumput itu bergerak-gerak. Pasti ada hewan kecil di sana. Ayo tangkap.”

“Aku belum lapar, bu. Ayo jawab dulu, rindu itu apa?”

“Ah, kamu ini. Rindu itu ya, seperti yang kamu rasakan sekarang.”

“Oh, rindu itu seperti yang kurasakan sekarang. Ibu pernah rindu pada bulan?”

“Nak, kamu baru sekali ini keluar rumah, baru pertama kali melihat purnama, tapi kamu sudah langsung bilang rindu. Ibu ini entah sudah berapa ratus malam menyaksikan bulan dan selama itu ibu hanya bisa menikmati keindahannya dari sini. Tapi, sebenarnya apa yang kamu rindukan dari bulan, nak?” Tanpa sadar sang ibu terseret pula oleh perasaan anaknya.

“Aku..,” si anak terdiam sejenak, mencoba menyusun kata-kata yang pernah dipelajarinya untuk melukiskan perasaannya.

Sepi mencekam daerah pinggiran desa itu. Di bawah pohon bayangan daun tersibak oleh angin yang mendesir, dan seekor katak cepat meloncat dalam gelap.

Terdengar ibu pungguk berkata, “Bukankah dari sini kamu bisa menikmati keindahan wajahnya sepuas hati? Masih belum cukupkah?”

“Entahlah, bu. Rasanya aku ingin sekali berada di pangkuannya, tubuhku dibelai dan dipeluknya, kunikmati keindahannya, dan kuusap wajahnya yang halus dan lembut…”

Anak pungguk terus menatap bulan. Tersenyum bulan itu dalam pandang matanya yang bulat mencorong.

“Yah… ingin kusentuh bibirnya yang selalu tersenyum itu, kukecup..,”

“Kamu bilang bulan punya bibir?” sela ibu pungguk.

“Ada. Kulihat bulan selalu tersenyum. Bukankah yang tersenyum itu bibir?”

Sang ibu terdiam.

“Ingin kukecup, lalu kurangkul wajah itu, kususupkan di bulu-bulu dadaku. Aku yakin bulan pun akan merasa hangat dan kerasan. Lalu…”

Ibu pungguk mengusap-usap rongga matanya.

“Sudahlah, nak, simpan sajalah keinginanmu.”

“Kenapa? Tak bisakah kita pergi ke bulan? Ayo, bu, antarkan aku ke sana.”

“Anakku..,”

“Ibu, pernahkah ibu terbang ke bulan? Ceritakan, bu, bagaimana rasanya dipeluk bulan.”

Sang ibu kembali menarik nafas panjang. Anaknya masih tetap mendongak. Ia pun mendongak. Selapis awan menggenang sekeliling bulan, menimbulkan lingkaran halus seperti pelangi, menjadikan bulan itu tampak kian lembut dan menawan.

“Anakku, bulan itu jauh sekali. Sangat jauh. Tak satu pun bangsa kita yang pernah menjejakkan kaki di sana. Kita rindu pada bulan, tapi pertemuan kita hanya sebatas pandang.”

“Tapi, bu, aku benar-benar ingin ke sana.”

“Mungkin… hanya manusia yang bisa.”

“Manusia? Siapa itu, bu? Benarkah ia bisa terbang ke bulan?”

“Entahlah. Tapi kata nenekmu, manusia itu ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Mereka sangat hebat dan bisa melakukan apa saja. Mereka bisa membunuh harimau yang ganas, menaklukkan gajah yang besar, menebang pohon-pohon raksasa. Kamu tahu, nak, kata nenekmu, dulunya di depan sana itu ada gunung, tapi sekarang gunung itu tak ada lagi.”

“Kenapa gunung itu tak ada?”

“Siapa lagi kalau bukan manusia yang meratakan? Lalu manusia juga bisa membikin rumah yang besar dan kuat, tidak seperti rumah kita. Kata nenekmu, mereka bisa bikin pesawat yang terbang lebih cepat daripada elang, bahkan dengan pesawat itu mereka bisa pergi ke bulan.”

“Bu, bawa aku pada manusia, biar mereka bisa mengajakku ke bulan.”

“Tidak mungkin, nak.”

“Kenapa, bu?”

“Entahlah. Tapi kata nenekmu, kita tidak boleh dekat-dekat dengan manusia.”

“Kenapa?”

“Sudahlah, anakku, jangan memikirkan hal itu.”

Si anak pungguk terdiam. Keheningan kembali menjelang. Ibu pungguk mengisyaratkan anaknya untuk lebih banyak melihat ke bawah, tapi sepasang mata anaknya tak sedikit pun beranjak dari bulan.

“Ibu,” tanya anak pungguk tiba-tiba. “Ibu tahu kenapa kita begitu merindukan bulan?”

Ibunya mendesah. Tanpa sadar kepalanya pun menengadah kembali ke arah bulan.

“Kata nenekmu, karena bulan adalah kakak kita.”

“Kakak?”

“Ya, dan nenekmu pernah bercerita.”

“Ceritakan, bu.”

“Baiklah, anakku. Begini. Dulu, ada dua orang kakak-beradik. Mereka tinggal bersama ibu tiri yang kejam. Hidup mereka menderita karena tiap hari selalu disiksa dan dipukuli oleh ibu tirinya. Saking hebatnya siksaan itu, sampai-sampai bilah bambu yang dipakai untuk memukuli mereka pun hancur luluh. Karena tidak tahan lagi, pada suatu hari mereka kabur dari rumah. Ketika malam tiba mereka sampai di hutan. Mereka merasa lapar. Mereka ingin pulang, tapi takut ibu tiri akan memukuli mereka lagi dengan bambu.”

“Sebentar, ibu tiri itu apa, bu?”

“Ibu tiri itu…, pokoknya ibu yang jahat.”

“Untungnya aku tidak punya ibu tiri, ya, bu?”

“Ya. Ibu tiri itu hanya manusia yang punya.”

“Teruskan, bu.”

“Dengarkan yang baik. Dua saudara itu ingin pulang, tapi takut dipukuli oleh ibu tiri dan mereka juga tidak ingat lagi jalan ke rumah. Akhirnya karena takut binatang buas, keduanya naik ke sebuah pohon. Namun hanya si kakak yang bisa naik, sedangkan adiknya tidak. Si adik menangis meminta tolong kakaknya agar membantunya naik. Kakaknya mengulurkan tangan ke bawah, tapi tak sampai. Si adik mencoba melompat, tapi tangannya juga tak sampai.

Lalu tiba-tiba pohon itu meninggi, terus tinggi hingga sampai ke langit. Pohon itu membawa si kakak yang lalu berubah menjadi bulan. Si adik menjerit-jerit memanggil-manggil kakaknya. Ia terus memanggil-manggil nama kakaknya hingga akhirnya ia berubah menjadi burung. Sejak itu, bila bulan muncul, terutama saat purnama, burung itu akan bertengger di dahan pohon sambil tengadah, menatap dan memanggil-manggil kakaknya yang jauh menggantung di angkasa. Kakak…, kakak…, kakak…. Begitulah, nak, asal mulanya sehingga kita ada di dunia ini.”

Anak pungguk mengusap matanya. “Ibu, kenapa nasib kita begitu menyedihkan? Apakah cerita itu benar?”

“Anakku…,” sang ibu tiba-tiba terdiam, tak meneruskan kata-katanya ketika dari arah desa terdengar bunyi seperti sesuatu yang menderit. Bunyi itu terdengar dua kali, dan bangsa manusia akan mengenalnya sebagai bunyi daun pintu yang dibuka lalu ditutup kembali.

“Kenapa berhenti, bu?”

“Sebentar, nak.”

Sejurus kemudian, dari pengkolan jalan setapak muncul dua sosok tubuh berjalan mendekat.

“Itu manusia,” si ibu berbisik.

“Manusia? Yang bisa ke bulan itu?”

“Sstt, jangan bersuara.”

“Kenapa, bu?” si anak yang belum mengerti tetap saja bicara, namun suaranya dipelankan. “Bukankah ia bisa membawa kita ke bulan?”

“Diam, dan jangan bergerak!” bentak ibu pungguk masih dengan berbisik.

Dua manusia itu semakin dekat dan pada jarak tertentu keduanya berhenti. Yang di depan memegang sesuatu berbentuk batang di pundaknya. Yang satu lagi berdiri di belakangnya dengan tangan berpegangan pada ujung baju orang di depannya.

“Ayah, bulung hantunya mana?”

Dengan mata terpicing di pangkal senapan, orang yang dipanggil ayah berkata dengan suara rendah.

“Sstt, jangan bicara, nanti burungnya terbang.”

“Kalau bulungnya telbang nanti tidak kena ditembak ya?”

“Hiih, kamu ini. Diam!”

Sementara itu si anak pungguk yang penasaran terus bertanya pada ibunya.

“Manusia itu mau apa, bu?”

“Lihat sajalah dulu.” Ibu pungguk memegang tangan anaknya. Tetapi tiba-tiba matanya terbelalak. “Nak… kita harus pergi dari sini. Cepat terbang!”

“Pergi, bu? Kita akan ke bulan, kan?”

“Kamu ini.” Si ibu terpaksa menarik tangan anaknya.

Tapi terlambat.

Belum satu kepakan sayap, tiba-tiba satu letusan keras merobek keheningan. Dan sesosok burung melayang jatuh menuju rumput di tepi jalan.

“Ibu..!” teriak si anak pungguk sebelum tubuh kecilnya rebah di rumput.

“Holee.., dapat bulungnya.” Anak manusia bersorak seraya hendak berlari mendapatkan buruan, tapi tertahan oleh tangan ayahnya.

Dari balik kegelapan, ibu pungguk berlinang air matanya mendengar jerit sekarat sang anak.

“Ibu…, inikah…, inikah yang disebut…. manusia..?”

Terdengar lagi satu letusan. Beberapa helai daun melayang terkena tembakan.

“Burung hantu sial! Berisik terus, tak tahu orang cape mau tidur.”

“Ayah, ayah hebat. Tapi kok kenanya yang kecil?”

“Sudah, nak, ambil burung itu.”

“Iya, ayah.” Si anak manusia menghampiri anak pungguk yang menggelepar-gelepar di rerumputan. “Ayah, bulung ini kok belum mati? Nyawanya ada dua, ya, sepelti ayam…”

“Cepat ambil.”

“Ayah, bulungnya jelit-jelit telus. Kasihan, pelutnya beldalah…”

“Rewel kamu!”

Si ayah mengambil burung kecil dari rumput, lalu menarik tangan anaknya dan bergegas ke arah rumah.

Sesaat kemudian terdengar lagi dua larik bunyi daun pintu.

Dan hening kembali meliput malam. Lalu awan tebal datang, berarak menutup bulan, menyembunyikan air matanya yang menggenang.

Binatang-binatang melata pun bersorak, berteriak, dan meloncat. #

Ciputat, 2001-2008

· Cerpen ini telah dimuat di Harian Pelita, 18 Januari 2003

This entry was posted in Cerpen and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Pungguk Merindukan Bulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s