Dua Puisi Palestina

Ceritakan kepadaku tentang kekejaman, kata Alina kepada juru cerita. Maka berceritalah juru cerita itu:

Di sebuah negeri bernama Palestina, kekejaman adalah peristiwa sehari-hari. Bagi orang Palestina, kekejaman bukanlah berita, bukan pula cerita, melainkan pengalaman nyata. Kita yang ada di sini, yang tidak mengalami atau melihatnya secara langsung, mengetahui semua itu lewat cerita; cerita yang kita dapat dari orang-orang, yang kita baca di koran-koran, yang kita dengar sambil lalu lewat orasi-orasi para demonstran, atau cerita yang setiap hari kita jadikan bumbu canda di meja makan.

Cerita adalah reproduksi pengalaman.

Cerita-cerita itu sampai kepada kita melalui dua cara; sebagai sekumpulan fakta dan sebagai sekumpulan makna. cerita yang lahir tanpa penghayatan, dan cerita yang lahir melalui proses penghayatan. Contoh terbaik dari yang pertama adalah berita-berita di media, yang menyajikan peristiwa hanya sebagai kumpulan fakta. Contoh terbaik dari yang kedua adalah karya sastra (puisi, prosa, drama), yang menyajikan peristiwa melampaui fakta.

Apakah ceritaku terlalu ilmiah, Alina?

Baik. Di Palestina, kekejaman adalah peristiwa sehari-hari. Kuceritakan padamu dua puisi dari Samih al-Qasim, seorang penyair Palestina.

Bibir yang Tersayat

Ingin kuceritakan kepadamu
Kisah tentang seekor bulbul yang mati
Ingin kuceritakan kepadamu
Kisah …
Kalau saja tak mereka sayat bibirku

(Samih al-Qasim)

Oh…, betapa kejamnya mereka, rintih Alina, tak membiarkan dia usai bercerita.

Memang, kata juru cerita. Tapi dalam puisi berikut ini sang penyair masih ingin berbaik hati kepada si pembunuh:

Tiket Perjalanan

Pada hari kau bunuh aku
Kan kautemukan di sakuku
Tiket perjalanan
Ke kedamaian
Ke huma dan hujan
Ke nurani manusia
Jangan sia-siakan tiket itu.

(Samih al-Qasim)

Seolah-olah sang penyair berkata kepada (bangsa) pembunuhnya:

Untuk apa kau membunuh, bila yang kau dapatkan hanyalah dendam, kemarahan, kekhawatiran, dan segala perasaan yang mengganggu nurani kemanusiaan. Takkan kau jumpai huma penuh tanaman, dan tak ada hujan yang kan menyuburkan. Kau hanya akan terdampar di gurun pasir yang tandus, di tengah terik matahari yang kian membakar hangus.

Maka ketika kau dapatkan tiket itu, jangan sia-siakan. Jangan membunuh lagi. Sudahi permusuhan. Berhentilah menjajah. Kami ingin damai… ingin merdeka…#

This entry was posted in Esai Sastra and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Dua Puisi Palestina

  1. wallahi….lemahnya israel bagaikan rumah laba-laba, yg dengan mudah kita menghancurkannya. save palestina..!! wallahi billahi kejam \nya israel…..sumpah kalau kita diam atas semua ini, maka tak ada bedanya kita ama hewan yg paling hina diantara hewan yang lainnya, dan bahkan lebih hina…g masuk akal tindakan israel terhadap palestina.
    kami juga nulis artikel tentang palestina. judulnya “aku anak palestina” liat aja di sini lngng klik aja
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/
    jgn lupa tinggalkan komentar juga ya…!!

    Asep:
    Oke. Makasih. Sudah berkunjung.

  2. Man2 says:

    Israel dlah sbagian kcil dr dnia ini …..hnya brmodalkan kberanian mbuat orang gmtar….tp kita dlah kkuatan yg tak trtandingi nmun kita terpcah…..BERSATULAH U/ UMAT ISLAM…brhentilah mmbicarakan ISRAEL tp BICARAKANLAH MASA DEPAN UMAT ISLAM………MERDEKA….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s