Mencari Tema Baru Psikologi Islam

Para Pencipta Tradisi
Sejarah psikologi diramaikan oleh tumbuh dan berkembangnya aliran atau mazhab yang berbeda-beda. Di Barat, mazhab-mazhab yang besar antara lain psikoanalisis, behaviorisme, dan humanistik. Psikoanalisis didirikan oleh Sigmund Freud pada awal abad ke-20. Mazhab ini membuka ruang baru dalam pemahaman mengenai manusia, yakni dengan tereksplorasinya aspek ketidaksadaran yang sebelumnya hanya terlihat samar dalam endusan filsafat.

Psikoanalisis banyak menyoroti sisi gelap kejiwaan manusia. Lewat analisis mimpi dan penyelidikan tentang penyakit histeria, Freud menemukan insting-insting tak sadar yang berperan besar membentuk kepribadian manusia. Yang paling dominan adalah insting seksual. Meski menimbulkan banyak kontroversi, ide-ide Freud segera memeroleh banyak pengikut.

Berbeda dengan psikonalisis, behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov, J.B. Watson, dan B.F. Skinner sama sekali tidak berurusan dengan konsep kesadaran maupun ketidaksadaran. Mazhab yang mampu memosisikan diri sebagai tandingan psikoanalisis ini menggarap tema yang berbeda, yaitu proses belajar dan perubahan perilaku manusia. Mazhab ini berpandangan netral tentang kodrat manusia, bahwa baik-buruknya perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya.

Psikologi humanistik, setelah memelajari dan merasakan ketidakpuasan atas aliran-aliran sebelumnya, menemukan bidang baru yang belum digarap, yakni manusia-manusia sehat. Abraham Maslow, pelopor mazhab ini, melakukan penelitian terhadap orang-orang besar seperti Max Wertheimer dan Albert Einstein. Ia menemukan bahwa pada mereka terdapat motif-motif yang luhur. Ia menyebut motif itu aktualisasi-diri.

Ada lagi corak lain dalam psikologi yang mempunyai ciri khas karena menggarap bidang yang belum disentuh oleh aliran psikologi yang ada. Misalnya psikologi gestalt yang meneliti persepsi inderawi manusia, berhasil membuktikan bahwa persepsi manusia adalah pada keseluruhan (gestalt), bukan bagian-bagiannya. Psikologi kognitif meneliti pikiran, bahasa, dan kemungkinan membuat kecerdasan buatan.

Mengapa orang-orang seperti Freud, Skinner, dan Maslow itu bisa melahirkan pandangan dan tradisi baru yang berbeda dengan sebelumnya? Tidak lain karena mereka bisa menemukan bidang baru yang realistis untuk dibahas, atau sudah dibahas tetapi belum sempurna, dan memfokuskan penelitiannya pada bidang itu. Bagaimana mereka bisa menemukan bidang baru itu? Karena mereka telah memelajari ilmu-ilmu psikologi yang ada pada masanya, dan telah mencapai tingkat tertentu di mana mereka bisa melihat bidang penyelidikan baru.

Penguasaan khazanah keilmuan saja tidak menjamin yang bersangkutan menjadi penemu. Diperlukan kreativitas tertentu untuk mencapai tingkatan semacam Freud dan Maslow. Tetapi bahwa untuk menjadi penemu orang harus menguasai khazanah keilmuan, iya. Dengan kata lain, tidak semua ilmuwan bisa menjadi penemu, tetapi setiap penemu pasti seorang ilmuwan. Seorang penemu atau pencipta tradisi adalah puncak dari kumpulannya.

Mencari Tema Baru

Oleh karena itu, ketika sejak akhir abad lalu para psikolog Muslim diliputi kegairahan untuk mengembangkan psikologi mazhab baru yang berwawasan Islam, pertanyaan yang timbul di benak saya adalah, seberapa tinggi penguasaan para psikolog Muslim itu atas khazanah psikologi secara umum? Melihat fakta sejarah bahwa untuk menjadi pencipta tradisi diperlukan penguasaan khazanah keilmuan, adakah di antara psikolog Muslim itu yang sudah mencapainya? Jika ada, bisakah ia menemukan ladang baru yang realistis untuk digarap sehingga menumbuhkan psikologi berwawasan Islam?

Selama ini harus diakui para ilmuwan Muslim selalu kalah cepat oleh ilmuwan Barat dalam mengolah suatu ide menjadi teori ilmiah. Misalnya, di kalangan Muslim sudah lama diyakini bahwa kodrat manusia adalah baik. Namun konseptualisasinya secara ilmiah lebih dahulu ditangani para psikolog humanistik. Kalangan Muslim meyakini bahwa manusia memiliki potensi ketuhanan, namun lagi-lagi pembuktian empirisnya keduluan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall dengan ditemukannya God-spot (titik-Tuhan) dalam otak manusia. Tentu saja hak paten penemuan ini dipegang kedua orang itu.

Lalu masih adakah ruang yang tersisa bagi ilmuwan Muslim untuk membuktikan keyakinannya secara ilmiah? Setelah potensi ketuhanan ditemukan, masih adakah potensi manusia yang lebih tinggi?
Pencarian tema baru. Inilah menurut saya tugas yang perlu diprioritaskan oleh para perintis psikologi berwawasan Islam. Jika tema atau bidang itu sudah ditemukan, baru dipikirkan metodologinya. Tetapi penemuan tema baru mustahil dicapai tanpa didahului penguasaan atas khazanah keilmuan psikologi yang ada. Sebagai gambaran, untuk menciptakan alat tes inteligensi yang lebih baik dari sebelumnya, seseorang tentu harus sudah menguasai dengan baik seluruh alat tes inteligensi yang ada, baru ia bisa mengadakan revisi atau menciptakan alat yang baru. Jadi, yang dilakukan adalah membaca, menguasai, lalu melakukan kategorisasi untuk memastikan tiga hal: tema apa yang telah tergarap dengan baik, tema apa yang telah tergarap tetapi perlu penyempurnaan, dan tema apa yang sama sekali belum tergarap.

Pada tema yang telah tergarap dengan baik, yang dilakukan hanyalah langsung memakainya tanpa perlu merasa risih atau malu meski itu buatan Barat. Ilmu adalah ilmu, dari manapun datangnya. Kerja keras dimulai pada tema kedua dan terutama yang ketiga.

Menemukan tema kedua relatif mudah. Ada banyak penemuan, teori, atau metode psikologi yang perlu disempurnakan. Contohnya ketidakpuasan Malik B. Badri, dalam buku The Dilemma of Muslim Psychologists, terhadap alat tes proyektif seperti tes menggambar manusia (DAP) boleh ditindaklanjuti. Di Barat sendiri validitas alat tes tersebut hanya dinilai sekitar 60 persen. Oleh karena itu penggunaannya tidak bisa sendirian, melainkan harus dibarengi dengan pemberian alat-alat tes lain.
Jika anda melakukan penelitian dan berhasil meningkatkan validitas tes DAP ini hingga mencapai 90 atau mendekati 100 persen, tentu ini penemuan yang sangat berharga. Yakinlah, dalam buku teks pelajaran tes proyektif, nama anda akan dicatat sebagai salah satu tokoh yang mengembangkan alat tes ini. Jika tidak mau melakukan ini, anda bisa menciptakan alat tes yang berbeda. Dan ini jelas lebih hebat.

Yang paling sukar tentu melakukan yang ketiga. Di sinilah tantangan untuk penciptaan tradisi baru dimulai. Tetapi saya percaya yang ketiga ini bisa dicapai secara bertahap dari yang kedua. Untuk bisa menemukan bidang keilmuan baru, kita harus, meminjam bahasa Isaac Newton, berdiri di pundak para raksasa terdahulu sehingga pandangan kita mampu menjangkau horison yang lebih luas. Artinya, kita harus sudah menguasai ilmu tokoh-tokoh sebelum kita.

Sekadar menyebut contoh, salah satu tema yang sama sekali belum tergarap oleh psikologi adalah mengenai kehidupan jiwa manusia setelah kematian. Tema tersebut selama ini baru dibahas dalam agama dan filsafat, itu pun dengan pendapat yang berbeda-beda. Dalam beberapa buku karangan psikolog Muslim, tersurat keinginan untuk menjadikan tema ini sebagai bidang kajian psikologi berwawasan Islam.

Persoalannya mungkin terletak di metodologi. Tetapi sebagaimana diusulkan Hanna D. Bastaman, bukankah psikologi berwawasan Islam juga menerima metode keyakinan (tenacity), metode otoritas, dan metode intuisi, di samping metode ilmiah? Tinggal diterapkan saja. Atau jika kita menerima pendapat Mulyadhi Kartanegara, bahwa dalam epistemologi Islam pengalaman mistik juga sah sebagai metode keilmuan, kenapa tidak kita mencari orang yang pernah mengalami atau menyaksikan kehidupan jiwa manusia setelah kematian, lalu kita minta ia melaporkan hasil penelitiannya dalam bentuk buku atau jurnal? Bisakah kita memercayainya? Buktikan saja sendiri.

Tentu masih ada ada tema-tema yang lain. Kalau saat ini kita masih bingung, itu karena kita belum menguasai khazanah pengetahuan yang ada. Kita belum sampai di pundak para raksasa. Kita masih berada di bawah sehingga pandangan kita, ke manapun arahnya, selalu terbentur pada wilayah yang telah diberi nama. #

This entry was posted in Psikologi and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Mencari Tema Baru Psikologi Islam

  1. Harry says:

    Great !
    teori tentang kehidupan masa lalu atau masa depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s