Mengapa Politikus Suka Berkilah?

110008Bulan November ini Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membuat iklan yang menayangkan tokoh-tokoh pahlawan nasional. Tokoh-tokoh itu dipilih dari mereka yang dianggap mewakili kelompok-kelompok masyarakat utama di Indonesia. NU dan Muhammadiyah, dua ormas besar yang tokoh “milik”nya ditampilkan, merasa keberatan. Keduanya menuduh PKS telah memanfaatkan nama besar tokoh-tokoh itu untuk menjaring massa NU dan Muhammadiyah. Berikutnya muncul bantahan dari PKS bahwa iklan itu dibuat dengan tujuan untuk mengajak masyarakat agar mengambil inspirasi dari hidup dan perbuatan para pahlawan nasional itu.

Pertanyaannya, mengapa PKS harus berkilah? PKS adalah partai politik. Segala hal yang dilakukannya, langsung atau tidak langsung, tersurat atau tersirat, pastilah bermotif politik. Apalagi berupa iklan. Hal-hal semacam itu terlalu mudah untuk dinalar sehingga kilah atau bantahan hanya akan berujung pada debat kusir.

Sebelumnya, Sutrisno Bachir dengan iklan kebangkitan nasionalnya pernah berkilah saat iklan itu dikaitkan dengan keinginan dirinya mencalonkan diri sebagai presiden. Bahkan Wiranto dan Prabowo yang jelas-jelas membuat partai politik, pada awalnya tidak mengaku pendirian partai itu sebagai kendaraan mereka menapaki jalur menuju tangga presiden.

Mengapa para politikus suka berkilah? Mengapa kebiasaan berkilah seakan-akan telah menjadi budaya dalam politik kita?

Pada umumnya, seseorang akan membantah atau berkilah ketika ia dituduh dengan sesuatu yang merugikan dirinya. Jika seorang terdakwa berkilah di pengadilan, hal itu dapat dimaklumi mengingat posisinya tengah terpojok. Memang jika tuduhan yang dibantah itu terlalu jelas, misalnya Bulyan Royan yang lupa suara sendiri, hal itu akan menjengkelkan sekali. Bulyan Royan adalah anggota dewan, yang berarti seorang politikus. Tetapi kasusnya di luar konteks artikel ini.

Tampaknya ada kemunafikan (ambivalensi) di kalangan para politikus kita dalam memandang nilai politik dan kekuasaan. Di satu sisi, mereka adalah politikus yang cita-citanya tentu saja meraih kekuasaan, terlepas kekuasaan itu kemudian dipakai untuk tujuan apa. Tetapi jika kegiatan mereka ada yang menyebut “politis” atau “bermuatan politis”, mereka menjadi tersinggung dan marah, lalu sibuk membantah seakan-akan anak gadis mereka diisukan hamil di luar nikah.

Apa yang salah dengan “bermuatan politis” jika pelakunya adalah partai atau tokoh politik?

Masyarakat pun melihat, kegiatan-kegiatan yang dikatakan bermuatan politis itu pada umumnya merupakan kegiatan yang baik. Minimal bukan kejahatan. Mengajak masyarakat menghayati kebangkitan nasional dan mengambil inspirasi dari para pahlawan, mendirikan partai politik, hingga kegiatan-kegiatan yang sering kita lihat di masyarakat seperti bagi-bagi sembako, khitanan massal, baksi sosial, dan sebagainya, semuanya adalah kegiatan yang pada dirinya sendiri sudah bernilai positif.

Jika di balik kegiatan itu ada motif politik, nilai positifnya tidak berkurang karena motif politik bukanlah sesuatu yang buruk. Ingin meraih banyak suara, ingin menjadi anggota dewan atau menjadi presiden bukanlah hal yang memalukan. Tetapi tampaknya para politikus itu selalu ingin menampilkan diri sebagai sosok yang tulus dan suci. Mereka seolah takut mengakui kebenaran. Inilah keanehan. Padahal membantah hal-hal yang menurut akal sehat begitu gamblang seperti itu justru hanya menimbulkan kekesalan di hati para penonton.

Jadi tidak ada gunanya PKS membantah. Akui saja bahwa iklan mereka memang bertujuan untuk meraih massa sebanyak-banyaknya dari berbagai kalangan yang simbol-simbolnya dicitrakan lewat tokoh-tokoh itu. Pertama, memang begitulah partai politik. Kedua, substansi iklan mereka pada dasarnya baik. Ketiga, apa yang mereka lakukan tidak melanggar hukum. Keempat, jika hal itu disebut melanggar etika, dasarnya pun tidak jelas. Iklan itu tidak menyiarkan kebohongan dan tidak pula pemelintiran kata-kata. Yang bertarung dan diperebutkan di sana “hanyalah” simbol atau citra, sesuatu yang memang amat penting dalam politik. Dan tampaknya orang-orang PKS menyadari betul mengenai hal ini.

Justru dengan membantah atau berkilah, sebuah partai atau seorang tokoh politik berpotensi melakukan kebohongan terhadap publik. Jika partai politik atau tokoh politik mengatakan bahwa mereka tidak memiliki maksud politik, bukankah itu suatu kebohongan?

Maka terhadap tuduhan-tuduhan semacam itu, jawaban terbaik adalah mengakui secara jantan lalu balik bertanya: memangnya kenapa? Gitu aja kok repot. []

This entry was posted in Politik and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Mengapa Politikus Suka Berkilah?

  1. Ahmad Makki says:

    Jangan-jangan politikus kita memang terlalu sibuk membantah, sampai-sampai mereka lupa bahwa rakyatnya kelaparan semua.

  2. Pingback: Disorientasi Nilai-nilai Politik Kita « Ahmad Makki

  3. BABAB says:

    Ada pepatah melayu yang berbunyi ” TIBA DI MATA DIPICINGKAN, TIBA DI PERUT DIKEMPISKAN, TIBA DIDADA DIBUSUNGKAN”. (terhadap hal yang akan merugikan tidak mengakui, tetapi jika menguntungkan segera mengakui).
    Semoga pepatah ini tidak sedang menimpa petinggi pks…

    Asep:
    Ya, semoga tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s