Aku Mencari Jaz

577027Aku mencari Jaz di jalan raya. Kutanyai orang-orang apakah mereka Jaz, atau apakah mereka melihat Jaz; semuanya menggeleng. Tak ada Jaz di jalan raya. Tapi sesekali dia tentu pernah lewat jalan raya, hanya saja aku tak melihatnya. Tapi kenapa orang-orang yang kutanya tak mau mengaku Jaz atau pernah melihat Jaz? Tak adakah di antara mereka yang Jaz?

Tidak mudah menemukan Jaz di antara kerumunan orang. Tapi aku pernah mencoba. Di suatu konser musik aku naik ke panggung mengambil mik dan bertanya adakah di antara penonton yang Jaz, tapi mereka malah melempariku dengan botol dan batu hingga aku berdarah, hingga aku tiba di rumah sakit.


Kucari Jaz di rumah sakit, namun tak kutemukan. Para perawat tak ada yang mengaku Jaz atau melihat Jaz, juga dokter-dokternya. Aku berlari-lari sepanjang lorong rumah sakit meneriakkan Jaz. Orang-orang menoleh padaku. A ha! Mereka atau satu di antara mereka pasti Jaz. Buktinya mereka menoleh ketika kupanggil Jaz.

Tapi tiba-tiba beberapa orang baju putih-putih menangkapku dan mengikatku lalu membawaku ke ruang serba putih. Rumah sakit memang serba putih, termasuk rumah sakit di mana aku bertemu dengan banyak orang yang, seperti halnya aku, hobi berteriak-teriak tak karuan, seperti orasi tapi dilakukan di depan tembok. Mungkin lebih tepat dikatakan bersajak karena mereka kadang melakukannya di depan bunga.

Kucari juga Jaz di sini. Setelah berhari-hari, kutemukan ia: seorang gadis berpita bunga di rambutnya. Ia tersenyum manis dan menari-nari berputar-putar di depanku hingga senyumnya mengembang ke manapun aku memandang.

Kau Jaz? Ia mengangguk. Aku melonjak. Ia mengajakku menari, lalu kami menari bersama-sama. Kami menari hingga senja, hingga malam, hingga pagi, hingga dunia menjadi diam dan tiba-tiba kami mendapati diri kami menari di sebuah taman. Kami berhenti.

Aku lapar, kata Jaz. Yuk kita cari buah-buahan.

Ternyata di tempat ini buah-buahan tak perlu dicari. Mereka merunduk sendiri dan berseru-seru minta dipetik lebih dulu hingga kami menjadi bingung tapi juga senang. Lalu kami merasa haus. Dan tiba-tiba kami mendapati ada sungai di depan kami. Airnya bening hingga kerikil di dasarnya tampak berkilau-kilau seperti berlian. Jaz berjongkok dan minum air itu seperti kucing. Manis sekali, decapnya, ini benar-benar madu. Dan aku mengikuti minum di sampingnya.

Wah, bahagia sekali ya hidup di sini. Ayo kita menari lagi.

Jangan, kataku. Tak baik menari habis makan.

Di sini tak ada pantangan, katanya lalu ia mulai menari. Aku pun ikut menari. Kami menari lama sekali tapi kami tak merasa capek sedikitpun. Kami melihat taman berputar-putar sekeliling kami, semakin lama semakin cepat hingga kami tak merasakan lagi gerak putarannya. Kami merasa taman itu diam kini dan kami tak melihat apa-apa kecuali putih. Aku tak tahu berapa lama kami menari. Tak ada petunjuk waktu di taman ini. Barangkali di sini juga tak ada malam karena hingga lama tak jua kujumpai hitam.

Jaz berhenti menari.

Aku lapar, katanya. Lalu kami makan buah-buahan lagi. Kami berkeliling taman dan pohon-pohon berebutan minta dipetik. Di suatu tempat Jaz melihat suatu pohon yang tidak mau merundukkan buahnya.

Aku ingin buah itu, pinta Jaz. Buah pohon itu tentu paling enak karena ia tidak mau memberikannya pada kita. Ayolah, tolong ambilkan.

Aku mendekati pohon itu dan menggapaikan tanganku ke dahan terbawah. Tak terjangkau. Jaz memintaku memanjat pohon. Tapi saat aku hendak memanjat, di akar pohon itu ada seekor ular melingkar. Aku terkejut dan melompat mundur.

Wahai ular melingkar, kata Jaz yang rupanya sudah berada di sampingku. Tolong minggir sebentar, dia mau memanjat pohon ini.

Ini buah terlarang, ular melingkar menjawab. Kalian tidak boleh memakannya.

Kutarik Jaz untuk pergi. Masih banyak buah-buahan lain yang bisa dimakan, kataku. Tapi Jaz bertahan.

Kenapa kami tidak boleh memakannya? tanya Jaz. Apakah rasanya tidak enak, atau buah itu beracun?

Tuhan yang melarang kalian.

Tuhan? Kenapa Dia melarang kami makan buah itu?

Kuberi tahu, kalau kalian memakan buah ini, kalian akan terlempar keluar dari taman.

Aku mengajak Jaz berlalu dari tempat itu. Kita sudah enak di sini, kataku. Segala keinginan kita selalu terpenuhi. Biarkan kita abadi di sini.

Tunggu dulu. Ular tak bisa dipercaya. Aku yakin dia dusta. Justru kalau kita memakan buah itu, kita akan abadi di sini. Selamanya.

Apa kau tak ingat apa yang terjadi pada Adam dan Hawa? kataku mengingatkan. Mereka jatuh ke bumi setelah memakan buah terlarang.

Justru aku juga teringat itu, Jaz bersikeras. Si ular mengatakan buah itu adalah buah keabadian. Tapi ternyata Adam dan Hawa terlempar setelah memakannya dan menjadi manusia biasa yang bisa mati. Berarti ular itu pembohong. Sekarang ular itu berkata kalau kita memakan buah itu kita akan keluar dari taman. Kukatakan, tak ada ular yang bisa dipercaya.

Jadi apa yang akan kau lakukan? Bagaimana kalau perkataan ular itu benar?

Pokoknya aku ingin buah itu. Rasanya pasti sangat enak. Tolong ambilkan untukku.

Baiklah. Demi cintaku aku mendekati ular itu dan meminta izin padanya untuk memanjat pohon.

Aku hanya memperingatkan akibat yang akan terjadi, kata ular melingkar. Tapi kalau kalian memaksa, biar kuambilkan. Lalu ia merayap ke atas dan menjatuhkan buah dua biji.

Jaz memakan satu. Aku juga. Waw! Dahsyat sekali. Rasanya seperti cengkeh dan pala negeri Ternate yang pernah membuat orang-orang Portugis blingsatan ketagihan dan berbondong-bondong datang berikut pasukan dan meriam.

Lagi, teriak Jaz. Dan ular itu menjatuhkan dua biji. Semakin banyak kami makan, semakin dahsyat rasanya. Kami kepedasan. Kepanasan. Dan kami semakin terbakar oleh rasa yang tak terungkapkan.

Jaz mengipas-ngipas mukanya dengan gaunnya yang panjang. Tapi tahu-tahu gaunnya terbakar dan habis. Kulihat Jaz mulai menari. Indah sekali. Matanya merem melek. Cantik sekali.

Aku juga merasakan bajuku terbakar dan habis. Kulihat Jaz menari sempoyongan hampir jatuh. Kutangkap lengannya dan pinggangnya lalu kami menari bersama, berputar-putar tak beraturan melingkari pohon terlarang itu. Kami menari hingga habis segala tenaga, tak ada lagi yang tersisa hingga kami tak bisa lagi melihat diri kami ada. Aku adalah Jaz. Jaz adalah aku. Satu.

Dan kami masih saja menari hingga datang sang hitam. Malam. Sekonyong-konyong kekosongan menyeruak di satu bagian diriku. Jaz tak ada. Jaz hilang.

Jaz, di mana kau? Aku berteriak ke segala arah. Namun kegelapan memantulkan gema suaraku. Aku berlari ke sembarang arah. Kulihat beberapa orang berlari di kejauhan, mendekatiku. Aku berlari, menembus pohon, menembus bunga-bungaan, menembus pagar, dan sebuah kendaraan mengerem mendadak waktu aku melintas.

Pengemudi mengumpat. Aku tertawa, dan terus berlari. Tak ada yang bisa menangkapku. Tak ada yang bisa menghalangi niatku mencari Jaz. Akan kucari Jaz di manapun berada.

Aku menggelandang di jalan-jalan, mencari Jaz di antara seliweran orang-orang. Adam saja bisa menemukan Hawa, padahal mereka terpisah ribuan mil dan tak ada satu pun manusia waktu itu. Jadi aku pun pasti bisa menemukan Jaz. Banyak Jaz di dunia ini. Tak seperti dulu.

Tapi seperti biasa orang-orang yang kutanyai tak ada yang mengaku Jaz. Berarti Jaz hanya satu, Jaz yang pernah menemaniku mengecap kebahagiaan surga. Tak ada dua Jaz di dunia ini.

Itu dia orangnya, Bu. Kudengar suara seorang anak. Rupanya ada seseorang mencariku.

Kau Jaz? tanyaku.

Bukan, jawabnya. Tapi aku bisa menemukan Jaz untukmu. Ayo pulang.

Aku dibawa pulang ke rumah. Keluargaku gembira melihatku kembali. Dengan cekatan mereka mencarikanku Jaz. Dan saat aku bercermin di kamar, kulihat bayanganku jadi kembar.

Kaukah Jaz? Bayangan itu mengangguk. Ia memelukku dari belakang, erat dan kuat hingga kulihat bayanganku satu kembali. Kurasakan diriku penuh. Kamar ini penuh. Tak ada lain yang kurasa dan kulihat kecuali Jaz. Semuanya Jaz. Juga aku.

Di mana aku? Jaz bertanya dan Jaz menjawab, tak ada. Yang ada hanyalah Jaz.

Lalu Jaz mencari aku di setiap tempat dan sudut rumah. Aku tak ditemukan. Jaz meraba hatinya. Ada setengah bagian yang kosong. Aku hilang. Jaz menangis dan berteriak-teriak di tepi jalan. Jaz berlari dan mencariku kian-kemari.

Kau kehilanganku, Jaz? Aku di sini. Kau mencariku? Benarkah? Terima kasih, Jaz. Aku juga tengah mencarimu. Aku mencarimu dengan pikiranku.

Aku mendesah. Nafasku panjang. Di dinding kamar tampak kursiku bergoyang-goyang. Atau mataku yang berkunang-kunang?

Jaz, kurasa sudah jelas bahwa aku benar-benar mencintaimu. Hanya saja kau belum tahu. Oleh karena itu aku akan tetap mencarimu hingga kita benar-benar bertemu. Kau tetap di hatiku dan akan selalu di hatiku.

Hingga kita benar-benar bertemu. #

Ciputat, 5 April 2005

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s