Takdir Izrail

Salvador Dali - Gallery the Rose

Salvador Dali - Gallery the Rose

Izrail, malaikat maut itu, adalah makhluk paling sakti di jagat raya. Tak ada yang mampu membunuhnya selain takdirnya sendiri. Ia mati paling akhir setelah semua makhluk dipaksa melepaskan nyawa akibat tiupan sangkakala Israfil di hari penghabisan. Izrail harus tetap hidup, meski bunyi sangkakala itu juga begitu mengerikan di telinganya, karena masih ada satu tugas lagi yang harus ia selesaikan, yaitu mencabut nyawa sang peniup sangkakala. Setelah itu, barulah Izrail boleh mati dengan cara menghunjamkan cakar-cakarnya sendiri ke jantungnya.

Tetapi ternyata Izrail tak selalu mulus dalam menjalankan tugasnya sehari-hari mencabut nyawa manusia. Terkadang ia mengalami kesulitan juga, terutama saat menghadapi manusia yang terobsesi pada keabadian, seperti pada cerita berikut ini:

Tersebutlah di suatu negeri, ada seorang dukun sakti yang usianya hampir mencapai 150 tahun. Menurut kitab takdir, hidup dukun itu seharusnya sudah berakhir pada saat usianya mendekati sembilan puluh. Tetapi ia telah bekerja sama dengan iblis dan berhasil mengembangkan suatu ilmu gaib yang membuatnya mampu memerangkap roh sedemikian rupa sehingga rohnya itu tidak bisa dilepaskan dari jasad. Ketika takdirnya sampai, sebenarnya Izrail telah mendatangi dukun itu untuk mencabut rohnya. Namun segala ilmu dan teknik yang dimiliki Izrail ternyata tak cukup mumpuni untuk menjinakkan ilmu gaib sang dukun, sehingga terpaksa malaikat maut kembali ke langit dengan rasa malu tak terkira.

Sejak kegagalan itu, kegagalan yang pertama baginya, Izrail terus-menerus mengurung diri di kamarnya yang pengap. Ia bahkan tak pernah beranjak dari pembaringan. Luka-lukanya telah diobati, dan atasannya di Kemalaikatan Pencabut Roh menyarankannya untuk beristirahat beberapa lama. Tapi ada satu luka yang tak bisa disembuhkan begitu saja. Ia telah gagal, dan rasa berdosa yang mencengkramnya akibat kegagalan itu terus-menerus menghantuinya.

Suatu ketika, atasannya datang ke kamarnya.

“Umur dukun itu hampir 130 tahun sekarang,” kata Izrail atasannya itu.

Izrail kita tersentak. Rasanya baru beberapa hari ia beristirahat. Tapi rupanya hitungan waktu di bumi tidak sama dengan di langit.

Lalu atasannya melanjutkan, “Baru saja kantor kita menerima surat dari Kemalaikatan Pemberi Rezeki yang mengeluhkan bahwa rakyat di suatu negeri semakin sedikit yang meminta rezeki kepada Tuhan. Mereka memuja dukun dan setan-setan. Malaikat Mikail mengatakan bahwa ia tidak suka mengabulkan permohonan orang-orang itu, karena jika mereka diberikan rezeki, kemusyrikan akan semakin merajalela di muka bumi.”

Izrail melenguh mendengar berita itu.

“Aku masih memberimu kesempatan untuk memperbaiki kegagalan. Jika kamu merasa tak sanggup, katakan segera biar aku bisa menugaskan Izrail lain. Aku khawatir Tuhan akan menegur kita karena kelalaian ini. Dan cepat atau lambat pasti Ia menegur kita.”

“Baiklah!” Izrail kita bangkit dari pembaringan. “Aku akan mencoba sekali lagi.”

“Tunggu. Kamu harus kubekali dulu dengan ajian paling sakti dari malaikat maut.”

***

Dukun sakti itu memberi isyarat agar murid-muridnya, yang juga adalah dukun-dukun ternama di kampungnya masing-masing, menyingkir ke tepi ruangan. Ia sendiri bangkit lalu melangkah ke hadapan Izrail.

“Kau datang lagi, Izrail? Masih belum cukupkah pelajaran yang kuberikan tempo dulu?”

Sang dukun tertawa, diikuti oleh tawa riuh murid-muridnya.

“Kau telah melampaui batas, dukun sesat. Kali ini kau takkan selamat.” Izrail menjulurkan tangannya ke depan. Cakar-cakarnya terpentang, siap merobek-robek tubuh mangsanya.

Dukun sakti mundur sedikit. “Kau mau ambil nyawaku? Tak mungkin. Dulu pun kau tak mampu, apalagi sekarang. Ilmuku sudah sempurna. Nyawaku sudah sepenuhnya menyatu dengan Iblis. Iblis tak bisa mati. Jadi aku pun tak bisa mati.”

“Aku akan memisahkan iblismu itu dari roh dan tubuh kasarmu.”

“Itu pun percuma. Iblis sudah menyatu dengan nyawa dan tubuh kasarku. Dia ada di dengus napasku, mengalir bersama darahku, menggeliat bersama ototku. Iblis adalah aku. Aku adalah Iblis. Jika kau menghancurkan tubuhku, berarti kau menghancurkan pula iblisku. Tapi iblis tak dapat hancur. Jadi tubuhku pun tak dapat hancur.”

“Kita lihat saja.”

Tiba-tiba Izrail melesat masuk ke dalam tubuh sang dukun. Yang diserang terkejut ketika tiba-tiba tubuhnya terbanting-banting ke atas ke bawah tanpa bisa dikendalikan. Dilihatnya Sang Maut tengah bergulat hebat dengan iblis dalam tubuhnya, berusaha mengikat tangan dan kakinya. Namun si iblis melawan dengan ketat.

“Percuma Izrail, kamu takkan bisa mengikatku,” sinis iblis. “Kalaupun bisa, kamu takkan bisa membawaku keluar dari tubuh si dukun. Kekebalannya sempurna. Aku sendiri tak bisa keluar dari tubuhnya meskipun ingin.”

“Ternyata kau iblis yang malang,” tukas Izrail sambil kedua tangannya berkelebatan ke sana ke mari, berusaha menjangkau si iblis yang licin. “Tentu kau menderita sekali, berada di tubuh yang seharusnya sudah jadi bangkai ini. Bagaimana kalau kau ingin jalan-jalan keluar menghirup udara segar? Aku saja baru sebentar di sini sudah hampir muntah.”

“Tak masalah, Tuan Izrail, yang penting tujuanku tercapai, memperdaya manusia sebanyak-banyaknya untuk menemaniku di neraka. Dukun ini memenuhi harapanku dengan sangat sempurna. Muridnya banyak, dan murid-muridnya mempunyai murid-murid lagi, dan tiap-tiap muridnya mempunyai pengikut di seluruh negeri. Kalau sekadar jalan-jalan, kapan pun aku bisa menyuruhnya pergi ke mana suka.”

“Dasar laknat! Aku bersumpah akan membunuh dan mencincang mayatmu.”

“Ha ha, jangan terburu nafsu, Tuan. Kamu tahu, bahkan Tuhan pun tak mampu membuatku mati.” Iblis berkata dengan senyum penuh logika. “Ia telah terikat perjanjian dengan leluhurku bahwa kaum iblis baru akan mati saat kiamat tiba.”

“Mahasuci Tuhan dari keterikatan dengan sesuatu.”

“Tuan benar. Tapi Tuhan juga Mahasuci dari ingkar janji, bukan? Aku percaya Tuhan yang Mahaadil itu tidak mungkin ingkar janji.”

“Tuhan Mahakuasa melakukan segala sesuatu.”

“Ha ha, Tuan benar lagi. Tapi kalau Tuhan ingkar janji, dengan sangat terpaksa aku dan teman-temanku akan berhenti menganggap-Nya sebagai Tuhan. Akan kukerahkan semua jin dan iblis dan setan di seluruh dunia agar berdemonstrasi, menuntut Ia turun dari jabatan Tuhan.”

“Tuhan tetap Tuhan dengan atau tanpa iblis setan sepertimu.”

“Terserah apa kata Tuan. Iblis juga tetap iblis dengan atau tanpa Tuhan. Apalagi tanpa malaikat bodoh sepertimu.”

“Kau memang bangsat! Iblis! Setan!”

“Ha ha…, terima kasih telah memuji. Kukasih tahu, kalau ingin memaki iblis pakailah kata-kata yang lembut. Tadi itu makian buat manusia.”

Sampai lama Izrail tak juga dapat mengikat Iblis.

Dukun yang tubuhnya menjadi arena pertempuran itu tak tahan terbanting-banting terus. Tiba-tiba ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan kuat. Dan Izrail pun membal ke atas lalu turun di hadapannya dengan napas terengah-engah.

“Sudah cukup kau mengaduk-aduk isi tubuhku. Sekarang giliranku!”

Lalu mahaguru dari para dukun itu merapal jampi-jampi, memanggil para jin dan iblis marakayangan dari segala penjuru. Tiba-tiba tempat itu jadi riuh oleh bermacam suara aneh mengerikan, hingga para murid sang mahaguru yang rata-rata sudah terbiasa bergaul dengan makhluk halus pun merinding bulu kuduknya.

“Cincang malaikat lancang ini! Masukkan dalam botol lalu pendam di dasar laut.”

Ribuan makhluk halus bermacam jenis menyerbu Izrail. Yang diserang terpaksa mengamuk sejadi-jadinya sehingga banyak di antara jin itu roboh terkena pukulannya. Kalau saja makhluk-makhluk sesat itu bisa mati sebelum kiamat, tentu tugasnya akan selesai lebih cepat. Tetapi mereka, meskipun sudah terpukul jatuh, beberapa saat kemudian bisa bangkit lagi dan menyerangnya seperti tak pernah terjadi apa-apa. Lama-kelamaan serangan-serangan yang bergelombang dari para jin itu membuatnya kelelahan dan terdesak.

“Atid, bantu aku!” Teriak Izrail kepada para malaikat Atid yang dilihatnya duduk-duduk saja di pojok ruangan.

Malaikat yang bertugas mencatat amalan-amalan buruk manusia itu menjawab, “Maaf kawan, kami sibuk sekali. Kejahatan orang-orang ini terus membanjir minta dicatat.”

“Tokek kalian! Mana Rakib?”

“Kami di sini, kawan.” Para malaikat Rakib ternyata sedang bergelantungan main ayun-ayunan di pepohonan di luar rumah si dukun. “Kami seratus persen nganggur sejak ditugaskan mengawasi para dukun ini. Habis mereka tak ada amal baiknya.”

“Jangan ngomong saja. Bantu aku.”

“Wah, kamu kerepotan ya. Tapi maaf, kami tak bisa berkelahi. Keahlian kami cuma administrasi. Lagi pula kami ngeri dekat-dekat kamu. Hiyy, takut.”

Izrail yang terdesak akhirnya loncat ke belakang. Dia berdiri tegak. Kedua kakinya terpentang. Kuku-kuku di tangannya mencuat. Matanya mencorong merah. Lalu sepasang sayap di punggungnya melebar, berkibas-kibas menebarkan hawa panas. Dan tiba-tiba ukuran tubuhnya membesar puluhan kali lipat.

Para malaikat Atid dan Rakib yang ada di sekitar tempat itu berhamburan menjauh. Demikian pula para dukun yang berada di dalam ruangan, semuanya berlari ke luar. Sementara para jin dan iblis tergetar. Mereka ingin lari, tapi tak kuasa karena perintah sang dukun sakti teramat kuat pengaruhnya. Ragu-ragu mereka menyerang Izrail. Namun dengan satu rengkuhan saja sayap-sayap Izrail berhasil menyedot para jin dan iblis itu masuk ke dalamnya.

Dukun sakti tercekat. Pucat.

“Itu sayap neraka,” bisik iblis dalam tubuhnya, “ajian yang paling ditakuti kalangan jin. Hawa di dalam kedua sayapnya sama panasnya dengan neraka. Sayap itu akan menyedot zat apa saja yang bukan materi fisik, termasuk roh dan kaum jin.”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Tubuh kasar Tuan tak akan tersedot. Roh Tuan dan saya juga tak akan tersedot karena sudah menyatu dengan tubuh kasar Tuan. Jangan khawatir.”

Sayap Izrail berkibas, berkibas, dan berkibas berkali-kali. Namun ajian pamungkasnya ini pun sia-sia belaka. Lalu tangannya yang besar itu meraih tubuh dukun sakti, meremas-remasnya hingga roh sang dukun dan iblis menjerit-jerit, namun kedua mangsanya itu tak juga mati. Dimasukkannya tubuh sang dukun ke mulut, digigit-gigitnya penuh nafsu, namun tubuh dukun itu tak juga putus. Lalu ia menelan tubuh mangsanya, namun akibatnya malah fatal. Di dalam perutnya, sang dukun mengamuk sejadi-jadinya menendang dan memukuli lambungnya hingga ganti ia yang menjerit-jerit. Terpaksa Izrail memuntahkan makanan yang pahit itu. Ia menghentikan serangannya, dan tubuhnya pun mengecil seperti sediakala.

“Ha ha ha, kau capek, kuli angkut nyawa?” Ganti mahaguru dukun yang melesat menyerang Izrail. Pertarungan seru kembali terjadi. Namun akhirnya Izrail yang sudah kelelahan tak kuasa bertahan. Lagi-lagi ia pulang ke langit tanpa membawa barang buruan.

***

Karena takut dimarahi atasan, Izrail tidak kembali ke kantornya. Ia berjalan-jalan di langit terendah tanpa tentu arah. Terpikir olehnya untuk menghadap Tuhan memohon petunjuk-Nya secara langsung. Tapi ia tak punya muka untuk menemui-Nya.

Ia berjalan tersaruk-saruk. Batu-batu kerikil beterbangan ke mana-mana tersentuh ujung kakinya yang kasar. Kepalanya terasa berputar-putar karena pusing, dan ketakutan akan dihukum membuat pikirannya buntu. Jalanan yang dilaluinya sepi, dan memang selalu sepi karena segala makhluk langit, bidadari, dan para malaikat langsung menyingkir begitu hawa mautnya dihembus udara.

Ia sampai di sebuah telaga dan duduk di tepiannya. Termenung. Tertunduk. Dilihatnya sama sekali tak ada ikan di telaga itu. Semuanya bersembunyi begitu ia datang. Kembali ia mengeluh. Tak satu makhluk pun mau berteman denganku, batinnya. Berdekatan pun mereka tak mau. Semuanya takut kedatanganku akan mencabut nyawanya. Bahkan makhluk-makhluk langit pun menyingkir melihatku, padahal keabadian mereka telah dijamin oleh Tuhan.

Izrail menunduk lebih dalam hingga ia dapat melihat mukanya tergambar di permukaan telaga. Tetapi keterkejutannya melihat rupa mengerikan di bawah air membuat air itu beriak keras, menyurut lalu membenamkan diri di dasar telaga.

Izrail bangkit dan memaki-maki segala hal. Ia meneruskan perjalanan. Tetapi kelelahan yang amat sangat memaksanya untuk beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Ia duduk lalu menyempatkan diri mendongak. Dilihatnya daun-daun pohon itu meronta-ronta ke atas seolah ingin melepaskan diri dari tangkainya. Bahkan daun pohon pun tak mau kudekati, keluhnya. Tapi untungnya pohon tak bisa lari, pikirnya menenangkan diri. Lalu tanpa terasa ia pun terlelap.

Sang Pencabut Roh terjaga ketika dirasakannya sebuah benda keras menjatuhi kepalanya. Ia hendak tengadah, tapi tiba-tiba matanya berbinar dan ia berseru.

“A ha! Aku tahu! Setiap kesaktian pasti ada kelemahannya. Ini takdir.”

Tapi tak lama ia diam kembali. Gagasan yang datang itu seperti tak ada kelanjutannya. Kelemahan ilmu kebal dukun itu apa ya? Ia berpikir dan terus berpikir.

Tiba-tiba terdengar suara tawa.

“Dasar bodoh. Sudah kukasih ilham masih saja kelimpungan.”

Izrail mendongak ke atas pohon. Jibril!? Dilihatnya malaikat pengantar wahyu itu tengah duduk di sebuah cabang, tersenyum-senyum sambil melontarkan beberapa biji apel berputar-putar di antara kedua tangannya seperti tukang sulap.

au heran? Sepertinya malaikat maut perlu ditatar lagi. Seharusnya kau berterima kasih padaku. Jangan kira gagasan itu otak udangmu yang menemukan. Tak satu pun di jagat ini, di seluruh langit dan bumi, ada ilham yang muncul tanpa perantaraanku.”

Sehabis berkata demikian, Jibril melemparkan butiran-butiran apel di tangannya ke arah Izrail. Yang dilempar berloncatan menghindar sambil memaki-maki, tapi tak urung satu dua butir buah itu ada juga yang menimpa kepalanya.

“Kurang ajar! Rupanya kau jadi kurang kerjaan sejak Muhammad kucabut rohnya. Kau terkena postpower syndrom, ha ha…. Pergilah. Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Aku akan mencari senjata sakti yang bisa menaklukkan ilmu kebal dukun sesat itu.”

“Mau kau cari ke mana senjata sakti itu? Ingat, kau telah terlalu banyak membuang waktu. Gara-gara kau tidur tadi, umur dukun itu sudah bertambah lagi 20 tahun. Kerjamu sungguh teledor.”

Izrail tercenung. Ditatapnya buah-buah apel yang berserak di bawah pohon. Seharusnya tadi kubiarkan saja apel-apel itu menggetok kepalaku, pikir Izrail. Tapi si Jibril itu memang memberi petunjuk dengan cara yang terlalu menghina kepadaku. Awas kau nanti.

Terdengar lagi suara tertawa Jibril. “Sudah, aku pergi. Dasar dungu. Kalau bukan Sang Pengasih yang menyuruh, tak sudi aku bertemu makhluk menjijikkan macam kau.”

“Tuhan?”

“Tentu saja. Apa pun yang kusampaikan, ilham atau wahyu, tak lain dan tak bukan hanyalah pikiran Tuhan. Aku malaikat Jibril, tak pernah setengah-setengah menyampaikan amanat. Kau boleh takut pada Tuhan, tapi ketahuilah, sesungguhnya Dia amat peduli padamu.”

“Baiklah, terima kasih atas bantuanmu. Tapi ingat, kau makhluk yang selalu merasa pintar, segala penghinaan yang berulang-ulang kau lakukan padaku ini akan kubalas. Pada saatnya nanti, aku akan membuatmu sekarat lebih lama ketimbang makhluk lain.”

Jibril bergidik, lalu pergi dari situ meninggalkan tawa panjang.

***

Di istananya yang indah, sang pangeran menggigil saat rohnya merasakan hawa maut Izrail.

“Kau…, mau apa kau datang?”

Izrail menyeringai.

“Menurutmu, apa tujuanku mendatangimu?”

“Tidak. Pergi kau!”

“Heh heh.., dengan cara apa kau mengusirku?”

“Jangan bunuh aku. Minggu depan aku akan dilantik menjadi raja.”

“Raja kok pengecut! Ha ha…, baik, nyawamu tak akan kucabut saat ini. Tapi kau harus mengerjakan sesuatu untukku.”

“Aku akan lakukan apapun untukmu. Tapi jangan cabut nyawaku.”

Izrail tertawa terbahak-bahak. Ia selalu gembira melihat manusia mengerut ketakutan di dengus nafasnya.

“Aku ingin kau mengambil keris luksembilan berlapis emas yang tersimpan di gudang pusaka kerajaanmu. Lalu kau tusukkan keris itu ke tubuh dukun paling sakti yang menebar kesesatan di negerimu ini.”

***

Mahaguru dukun terkejut ketika suatu hari sang pangeran datang membawa sejumlah pendekar istana. Tergopoh-gopoh ia menyambut dan mempersilakan pangeran masuk.

“Kudengar ilmu kebalmu tak terkalahkan di negeri ini,” kata sang pangeran.

Sang dukun tersenyum bangga.

“Aku ingin menguasainya untuk melindungiku dari para pengkhianat yang tiap saat bisa menyergap,” kata sang pangeran, lalu ia menyuruh pengiringnya meletakkan peti penuh emas dan permata.

Sang dukun tak kuasa menahan binar matanya.

“Tapi aku ingin mengujimu lebih dulu. Jangan-jangan ilmu kebalmu dusta belaka.”

Sang dukun menyanggupi. Ia berdiri dengan dada terbuka dan tangan terentang. Satu per satu pendekar yang dibawa sang pangeran membacokkan dan menusukkan senjatanya ke beberapa bagian tubuhnya. Sekian senjata lewat, namun sang dukun tetap tegak. Ia hanya terkekeh-kekeh seolah kegelian. Terbayang di matanya kekayaan dan pengaruh yang lebih besar akan dimilikinya jika ia berhasil mempermurid calon raja itu. Iblis dalam tubuhnya pun tersenyum lebar membayangkan sebuah kerajaan tergenggam di tangannya.

Setelah semua pendekar menyatakan takluk, sang pangeran mendekati calon gurunya itu yang masih saja tertawa-tawa. Ia mencabut keris luksembilan dari pinggangnya, lalu menusukkannya ke perut sang dukun. Tiba-tiba terdengar raungan dahsyat seperti serigala digorok. Darah pekat muncrat. Terbelalak mata sang dukun melihat sebilah keris dan darah di perutnya.

Izrail yang mengintip peristiwa itu dari kejauhan lekas melesat menangkap roh sang dukun yang keluar lewat luka di perutnya, berikut iblisnya yang menjerit-jerit minta dilepaskan. Saat itu juga tubuh dukun sakti yang bersekutu dengan iblis itu pun ambruk tergeletak.

“Terima kasih, Pangeran,” kata Izrail. “Jasa besarmu akan kulaporkan kepada Tuhan.”

“Bagaimana dengan janjimu?”

“Jangan khawatir. Aku tak akan mencabut nyawamu sampai kau menginginkannya sendiri.”

Izrail melompat ke angkasa dan tertawa-tawa. Didengarnya sang pangeran mengucap terima kasih berkali-kali. Hihihi, anak bodoh. Takdir tak dapat diubah. Aku memang tak akan mencabut nyawamu, karena itu bukan tugasku. Tapi Izrail lain yang akan melakukannya. Hihihi…, ia terus mengikik sambil menenteng roh sang dukun dan iblis terbang ke langit.[]

Ciputat, 2005-2006

This entry was posted in Cerpen and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Takdir Izrail

  1. rina says:

    klo menurutku sih, cerpen ini tdk layak disebarkan. ini penghinaan untuk malaikat allah dan terlalu memuja iblis. baca cerpen ini malah ngrusak iman. maha suci allah semoga allah mengampuni si pembuat cerpen

    @Amin, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya. Terima kasih telah ikut mendoakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s