Menimbang Novel Ayat-ayat Cinta

ayat-ayatcintaw300h455Ayat-ayat Cinta, novel karya Habiburrahman El-Shirazi, tampaknya telah menduduki tempat tersendiri di kalangan penghayat sastra Islami. Ada daya gugah yang amat kuat pada novel ini. Siapapun yang membacanya pasti menginginkan agar orang lain, teman atau kerabatnya, ikut membacanya pula, dan ikut merasakan perubahan seperti dialami pembaca pertama. Jadilah novel ini virus yang menular: dipinjamkan sana-sini atau dihadiahkan kepada orang-orang tercinta.

Bagi saya sendiri, novel ini sangat menghanyutkan. Pikiran saya seolah hilang saat membaca novel, dan baru pulang setelah usai. Begitu masuk ke arusnya, saya kesulitan untuk menepi dan lebih memilih membiarkan diri terseret arus hingga ke muara. Untungnya, arus yang menghanyutkan ini sangat menyenangkan.

Sebelumnya, arus yang serupa, dengan kadar yang berbeda, pernah saya rasakan saat membaca novel Magdalena (Al-Manfaluthi), Gadis Garut (S. Abdullah Ahmad Assegaf), Gadis Jakarta (Najib Kailani), dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck (Hamka). Tiga nama pertama adalah pengarang berkebangsaan Arab-Mesir. Hamka dikenal sebagai ulama sekaligus pengarang yang banyak dipengaruhi karya sastra Arab.

Melihat gaya novelnya, besar kemungkinan Habiburrahman juga banyak mengapresiasi karya sastra Arab. Apalagi ia pernah belajar di al-Azhar Mesir. Pengaruh itu tampak pada karakteristik Ayat-ayat Cinta, antara lain realis, alur yang mengalir, cinta yang idealistik (dan karenanya sangat romantis), dan nuansa religius (Islami) yang kental.

Tetapi ciri-ciri demikian tampaknya hanya berlaku untuk novel-novel yang tradisional, karena novel-novel Arab dari generasi yang lebih modern tidak seperti itu. Novel-novel Najib Mahfudz (Lorong Midaq, Pengemis) atau Nawal al-Saadawi (Perempuan di Titik Nol, Memoar Seorang Dokter Perempuan) menurut saya tidak menghanyutkan. Meski sama-sama realis, novel-novel belakangan ini terasa lebih berat dan sulit dibaca. Karya Mahfudz dan Nawal kental dengan nuansa sosial-politik. Dan kisah cintanya (kalaupun ada) sangat tidak romantis.

***

Kekuatan novel Ayat-ayat Cinta terletak pada keberhasilannya meramu unsur-unsur novel sehingga menjadi utuh dan koheren. Tema pokoknya jelas dengan subtema-subtema yang mengarah kepada fokus, penyusunan alurnya padu, penggambaran latarnya cermat, dan pengembangan karakternya kuat sehingga masing-masing saling mendukung dan terasa wajar berada di tempatnya.

Penyajian bahasanya pun hidup dan mengalir. Sebagai novel realis, logika yang dipakai cukup setia pada kenyataan. Kita jadi lancar membacanya karena hampir tidak ada bagian-bagian yang mengganjal logika pikiran kita. Pesan-pesan yang disampaikannya pun kita terima tanpa merasa digurui, renyah seperti snack dan lembut seperti es krim.

Saya terkagum-kagum oleh pandangan dan tingkah laku Fahri, tokoh utama novel, dan begitu ingin menirunya. Jika sebelum membaca saya agak mencemooh label “Novel Pembangun Jiwa” yang diterakan di sampul, setelah membacanya mau tak mau saya harus mengiyakan bahwa memang begitulah efek yang mungkin diperoleh pembaca.

Meskipun novel ini sarat dengan pesan, bahkan disertai dalil-dalil dari Alquran dan Hadis, pesan-pesan itu sama sekali tidak mengganggu kenikmatan membaca cerita. Arus yang kita arungi ini memang sangat deras, tetapi tak ada batu-batu yang akan membuat kepala atau tubuh kita benyok-memar. Batu-batu itu banyak sebetulnya, tetapi semuanya telah larut dalam air, menjadi arus yang deras mengalir. Inilah menurut saya novel berkategori Islami yang berhasil menyampaikan dakwah tanpa terjebak pada slogan dan khotbah.

Satu lagi, dibandingkan dengan novel-novel Islami lainnya yang lebih banyak ditujukan untuk segmen remaja, Ayat-ayat Cinta cocok untuk kalangan yang lebih luas, yang lebih dewasa.

***

Novel Ayat-ayat Cinta indah, memikat, dan laris, tetapi saya belum mendapati ada kritik ditujukan untuknya, terutama yang ditulis oleh ahli-ahli sastra ternama. Yang ada baru komentar beberapa kalimat. Bisa jadi mereka belum membaca. Atau secara tekstual, novel ini mungkin belum memenuhi kapasitas untuk dikritik.

Ada tiga faktor yang mendukung dugaan ini.

Pertama, karakter tokoh utama, Fahri, terlalu diidealisasikan secara berlebihan. Ia begitu suci tanpa cacat, seperti malaikat. Jika itu dimaksudkan sebagai teladan, saya tidak yakin ada manusia zaman sekarang yang mampu menirunya. Dalam beberapa hal, kesucian Fahri itu terasa naif, bahkan kejam. Misalnya saat Maria sakit dan pingsan, Fahri tetap bersikukuh tidak mau menyentuhnya, padahal itulah satu-satunya cara agar Maria bisa siuman. Saya ragu apakah keteguhan Fahri yang dilandasi syariat itu patut mendapat pujian.

Kesucian Fahri ini juga tergambar dari keluguannya dalam urusan cinta. Ia diceritakan tidak ngeh kalau ada beberapa perempuan yang jatuh hati padanya, padahal sinyal-sinyal ke arah itu cukup nyata. Ini aneh karena dalam kesehariannya Fahri adalah seorang yang piawai menyenangkan hati orang, artinya ia bisa mengetahui isi hatinya. Tetapi hati perempuan tidak.

Kedua, meski sudah cukup teliti, novel ini ternyata tidak luput dari penyakit yang umum menjangkiti novel realis: adanya peristiwa kebetulan atau adegan yang dipaksakan. Titik lemah novel ini, yang menurut saya agak dipaksakan, adalah pada adegan persidangan kasus zina yang dituduhkan kepada Fahri. Saksi kunci, yakni Maria, dibuat sakit teramat parah sehingga ia tidak bisa hadir di persidangan, kecuali setelah mendapat pertolongan amat dramatis (adegan pertolongan ini juga terkesan dipaksakan, sampai ada pernikahan segala) dari Fahri.

Ketiga, novel ini kuat dalam menggambarkan latar (setting), tetapi lemah dalam menampilkan latar belakang (background). Latar belakang di sini adalah kondisi sosial-politik-budaya Mesir waktu cerita terjadi. Pintu masuk ke sana sudah terbuka sebetulnya, yakni saat Fahri dijebloskan ke penjara. Sayang, ia hanya dituduh berzina, bukan dituduh teroris atau terlibat gerakan Ikhwanul Muslimin, misalnya.

Dengan melibatkan sang tokoh ke dalam konteks politik semacam itu, entah sebagai aktivis atau sekadar korban, novel ini akan lebih meraksasa, bahkan mungkin bisa menyamai novel Bumi Manusia karya Pramoedya. Kekurangan latar belakang ini menjadikan Ayat-ayat Cinta urung menjadi novel besar, dan tak lebih dari kisah cinta biasa.

***

Novel Ayat-ayat Cinta telah naik setingkat lebih tinggi dari umumnya novel-novel Islami di Indonesia. Novel ini pantas disejajarkan dengan novel-novel tradisional Arab, yang di Indonesia menampakkan pengaruhnya pada Hamka. Di samping berpotensi kuat menggugah dan mengubah pribadi pembacanya, novel ini kemungkinan bisa memengaruhi pula gaya penulisan pengarang-pengarang Islami lainnya. Meskipun demikian, dibandingkan dengan, misalnya, novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck, karya Hamka itu menurut saya masih lebih kuat karena relatif terbebas dari kelemahan pertama dan ketiga.

Karena itu, saya jadi memaklumi apa yang menyebabkan novel ini belum bisa menggerakkan pena para ahli sastra, terutama kritikus elit, untuk menulis kritik, sebagaimana telah mereka lakukan pada novel Saman (Ayu Utami) dan Cala Ibi (Nukila Amal). Kritik sastra zaman sekarang menuntut novel dengan kualitas estetis yang berbeda. Yang aneh, eksperimental, itulah yang disenangi kritikus.

Novel realis, meskipun kualitasnya setara dengan Bumi Manusia, untuk saat ini akan susah merebut perhatian kecuali temanya baru dan menarik, seperti tema spiritualitas dan fisika pada novel Supernova (Dewi Lestari), atau, tentu saja, tema yang kontroversial. Sedangkan tema cinta seperti pada Ayat-ayat Cinta adalah tema yang biasa.

Jangankan Habiburrahman, yang novelnya Islami dan karena itu (kata orang) kualitas estetisnya kurang, pengarang yang novelnya banyak dan tebal-tebal pun, yakni Remy Sylado, termauk jarang mendapat kritik. Tetapi novelnya laris.

Jadi, kritikus bukan segalanya. Mereka mungkin bisa menilai karya anda, tetapi mereka tak bisa membuat karya anda menjadi laku dan digemari. Daripada pusing, ucapkan saja selamat tinggal pada kritikus. Atau: ucapkan selamat tinggal pada estetika. Buat apa novel estetis kalau tidak berguna apa-apa, malah menjauhkan kita dari Yang Maha Esa. []

Esai ini pernah dimuat di Republika Ahad 4 September 2005.

This entry was posted in Esai Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s