Poligami dalam Perspektif Lain

jdsj787

Poligami sudah ada sejak zaman yang sangat tua. Para raja dan bangsawan zaman dahulu, entah itu di Mesir, Arab, Eropa, Cina, maupun Jawa, jamak memunyai beberapa istri dan ratusan selir. Nabi Ibrahim yang hidup 2000 tahun SM memunyai dua istri. Nabi Daud konon memunyai 99 istri. Nabi Muhammad punya belasan istri.

Daftar di atas bisa ditambahkan menjadi tidak terbatas.

Yang jelas, semua fakta itu menunjukkan bahwa poligami merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Bukan hanya itu, poligami juga merupakan kebudayaan manusia yang bertahan sangat lama, bahkan sampai sekarang. (Ada jenis kebudayaan yang sudah punah, setidaknya secara normatif, misalnya perbudakan).

Dan masyarakat kita mewarisi kebudayaan yang memuat poligami sebagai salah satu bagiannya.

Argumen Pendukung Poligami

Kenapa sekarang poligami masih bertahan dan dipraktikkan oleh sebagian laki-laki?

Bagi orang Islam, bolehnya poligami secara legal dinyatakan secara tersurat dalam Alquran (An-Nisa ayat 3: Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.).

Meskipun ayat tersebut menyertakan syarat yang berat (berlaku adil), tak urung sebagian orang mengabaikan syarat tersebut atau memaknai adil hanya dalam arti lahiriah.

Selain itu pengambilan hukum tidak hanya mengandalkan Alquran, melainkan juga hadis dan tradisi Nabi.

Bahwa Nabi sendiri melakukan poligami, begitu pula para sahabat, adalah argumen yang kuat bahwa poligami memang tidak dilarang dalam Islam.

Yang dilakukan Nabi bukan melarang poligami, melainkan membatasinya menjadi maksimal empat.

Maka kemudian dalam kebudayaan Islam, poligami menjadi praktik yang diterima sebagai sesuatu yang wajar. Dari dulu sampai sekarang, banyak kaum bangsawan, orang-orang kaya, para ulama, atau tokoh-tokoh masyarakat yang melakukan poligami. Bukan hanya kaum laki-laki yang menganggap itu wajar, kaum perempuan pun menganggapnya wajar.

Itu argumen dari segi normatif (ajaran Islam).

Bagi seorang muslim yang taat, ayat Alquran dan tradisi Nabi serta para sahabat sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan bagi dilaksanakannya suatu aturan. Apalagi aturan yang menyenangkan (bagi laki-laki) seperti poligami.

Sekarang ini, karena penentang poligami juga banyak, maka para pendukung poigami mengembangkan argumen-argumen lain di luar Alquran dan hadis mengenai bolehnya poligami. Argumen tersebut antara lain:

  • Jumlah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki
  • Poligami dimaksudkan untuk mencegah terjadinya perselingkuhan.
  • Sebagai solusi bagi keadaan2 tertentu, misalnya istri mandul atau sakit keras sehingga tidak dapat melayani kebutuhan seksual suami. Atau jika suami sering bekerja di tempat yang jauh dalam waktu lama (misalnya sebagai pelaut, pedagang lintas negara, prajurit).
  • Hasrat seksual laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.

Perspektif Lain

Mari kita lihat dari perspektif yang lebih seimbang:

Satu kalimat yang sering didengungkan pendukung poligami adalah bahwa “poligami adalah solusi”.

Solusi terhadap apa?

  • Solusi terhadap lebih banyaknya jumlah perempuan dibanding laki-laki.

Hal ini sebetulnya perlu diteliti lebih lanjut. Benarkah perempuan lebih banyak? Jika benar, seberapa besar lebih banyaknya?

Jika tidak ada peristiwa tertentu yang luar biasa (misalnya perang, bencana alam), normalnya jumlah perempuan dan laki-laki di dunia ini mestilah seimbang karena peluang secara genetis antara kelahiran anak laki-laki (XY) dan anak perempuan (XX) adalah 50:50. Kalaupun ada eror, selisihnya paling2 hanya sekitar 1 % (katakanlah 49,5:50,5). Tapi yang jelas, selisihnya tidak mungkin sampai satu banding dua (33% laki2 dibanding 67% perempuan) atau dua banding tiga (40% laki-laki dibanding 60% perempuan).

Anggaplah jumlah perempuan lebih banyak, tapi teliti lagi usia berapa yang lebih banyak itu? Fakta kasar menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang lebih banyak itu ada di usia tua, janda-janda dan nenek-nenek jompo. Biasanya suami lebih cepat meninggal ketimbang istri, sehingga di dunia ini lebih banyak janda ketimbang duda. Tetapi hal ini tidak menunjukkan bahwa perempuan memiliki harapan hidup lebih tinggi dibanding laki-laki. Penyebabnya sederhana: biasanya usia suami lebih tua dibanding usia istri. Jadi jamak saja jika suami lebih dulu mati.

Maka argumen bahwa perempuan lebih banyak dibanding laki-laki dan karena itu poligami menjadi keniscayaan adalah mitos belaka.

Untuk lebih jelasnya, tentu kita perlu melihat data kependudukan.

  • Solusi terhadap praktik perselingkuhan.

Dalam tradisi Islam, perempuan biasanya dipandang sebagai makhluk yang lemah, pasif, tidak punya kehendak, pasrah, termasuk dalam aktivitas seksual. Oeh karena itu tidak ada atau sedikit saja kekhawatiran bahwa perempuan (istri) akan selingkuh. Yang dikhawatirkan selingkuh hanyalah laki-laki (suami).

Poligami diajukan sebagai solusi atas kekhawatiran itu.

Apakah poligami dapat mengurangi perselingkuhan yang dilakukan oleh suami?

Untuk menjawabnya dengan lebih tepat tentu perlu penelitian. Tetapi secara nalar, tampaknya bisa dimengerti jika poligami dapat mengurangi perselingkuhan. Jika suami sudah punya dua atau tiga atau empat istri, kemungkinan dia akan melakukan hubungan seks dengan perempuan selain istri-istrinya akan lebih kecil.

Kecuali: bagi laki-laki yang rakus, seratus perempuan pun takkan cukup untuk menghentikan petualangan seksnya. Satu-satunya yang dapat menghentikan si rakus adalah sipilis atau AIDS.

Untuk zaman sekarang, asumsi tentang sifat perempuan yang pasif harus direvisi. Asumsi itu hanya berlaku untuk zaman pertengahan. Dengan semakin meluasnya arus informasi, meratanya tingkat pendidikan, dan terbukanya berbagai jenis pekerjaan bagi perempuan, kini perempuan pun memiliki kesempatan yang hampir sama dengan laki-laki untuk berselingkuh.

Jika untuk suami sudah ditawarkan solusinya, apa solusi untuk mengurangi perselingkuhan istri?

Poliandri? Rasanya itu solusi yang hampir tidak terbayangkan. Masalah yang ditimbulkannya bisa lebih besar ketimbang masalah yang ingin dipecahkan.

Lalu apakah hanya laki-laki yang boleh mendapat solusi, perempuan tidak?

Baik secara nalar maupun emosi, hal itu tidak adil.

Maka daripada membolehkan istri melakukan poliandri, lebih baik mencegah suami melakukan poligami.

Tambahan lagi, selingkuh bukanlah perbuatan yang bisa dilakukan sendirian. Jika seorang suami berselingkuh, pada saat yang sama pasti ada seorang perempuan yang juga berselingkuh, minimal berzina. Perempuan itu bisa jadi seorang gadis, seorang istri, atau pelacur. Siapapun itu, yang jelas perbuatan di pihak perempuan juga bukanlah sesuatu yang boleh ditoleransi sehingga dibiarkan tanpa solusi.

Maka daripada menganjurkan “poligami sebagai solusi”, lebih baik jika orang berkampanye tentang pembinaan keluarga yang sehat atau yang semacam itu.

Satu lagi yang jarang dilihat oleh pendukung poligami: istri yang dipoligami berpeluang lebih besar untuk selingkuh daripada istri yang tidak dipoligami. Jika seorang istri memiliki satu madu, dalam seminggu setidaknya ia punya “waktu luang” tiga hari. Jika madunya ada dua, waktu luangnya minimal empat hari. Jika madunya tiga, waktu luangnya minimal lima hari seminggu.

Jika selama waktu luang itu si istri “kelaparan”, sementara suaminya tengah berada di rumah madunya, segala hal buruk bisa terjadi dan lebih mudah terjadi dibanding jika suaminya tiap hari ada di rumahnya.

Maka walaupun poligami di satu sisi mungkin bisa mengurangi peluang selingkuh suami, di sisi lain, poligami justru menaikkan peluang selingkuh istri. Ingat, sekarang bukan lagi zaman pertengahan di mana istri dikurung di harem dan harus meminta izin untuk keluar rumah.

  • Solusi terhadap keadaan tertentu (sakit, mandul) yang diderita pihak istri.

Kelemahan mendasar terhadap argumen ini adalah bahwa tidak pernah dipikirkan keadaan sebaliknya: bagaimana jika yang mandul atau sakit parah itu pihak suami? Apakah istri perlu menceraikan suaminya dan mencari suami baru, atau poliandri? (Lagi-lagi poliandri adalah solusi yang sulit dibayangkan).

Dalam hal ini pertimbangan utama seharusnya adalah kemanusiaan. Istri mana yang tidak sedih jika ia mandul (ingat lagu Rhoma Irama) atau tidak dapat melayani suaminya karena sakit parah?

Haruskah kesedihan sang istri ini diperberat dengan melihat suaminya mengambil istri lagi?

Atau sebaliknya: suami mana yang tidak akan kehilangan harga diri jika ia mandul? Betapa hancur hatinya jika saat itu sang istri minta cerai untuk dapat menikah lagi dengan laki-laki lain yang lebih perkasa?

Pertimbangan kemanusiaan seringkali tidak memunyai ukuran yang tetap.

Setiap istri pasti ingin memberikan anak buat suaminya. Seorang istri yang baik, ketika dia mendapati dirinya tidak bisa memberikan anak, kemungkinan akan rela (meskipun hatinya tetap sakit dan sedih) jika suaminya tercinta mengambil seorang istri lagi.

Seorang suami yang baik, ketika dia mendapati istrinya mandul, tidak akan menambah kesedihan istrinya dengan mengambil istri lagi. Dia mungkin akan lebih memilih untuk mengadopsi anak.

Seorang suami yang baik, jika mendapati dirinya mandul, dia mungkin akan memersilakan istrinya untuk bercerai dan memilih suami lain. Tetapi seorang istri yang baik akan menolak tawaran itu. Seorang istri yang baik akan menerima keadaan suaminya dengan ikhlas dan memilih untuk menghibur hati suaminya.

Dalam hal ini, kerelaan kedua belah pihak sangat menentukan kelangsungan kebahagiaan rumah tangga.

  • Solusi terhadap hasrat seksual laki-laki yang lebih besar ketimbang perempuan.

Mungkin ini benar, mungkin juga tidak. Tapi kalaupun benar, solusinya tidak harus sampai poligami. Kalau seorang suami hasratnya sangat besar, ya sering-sering saja “main”nya dengan istri.

Pernyataan bahwa hasrat seksual laki-laki lebih besar ketimbang perempuan sangat sulit digeneralisasikan untuk dijadikan dasar bagi aturan umum. Karena dalam kenyataan kita dapat dengan mudah menjumpai suami yang hasrat seksualnya lebih kecil daripada istri atau istri yang gairah seksualnya sangat tinggi.

Jika terjadi sebaliknya, yaitu istri lebih besar hasrat seksualnya daripada suami, apakah lantas istri juga boleh punya suami lagi? Kan tidak lucu.

Prinsip Perkawinan

Satu yang perlu kita ingat, prinsip perkawinan adalah monogami. Pada dasarnya, bentuk perkawinan yang ideal adalah satu istri satu suami, plus anak-anak. Jadi, poligami merupakan sesuatu yang menyimpang atau menyalahi prinsip perkawinan.

Dalam keadaan normal, poligami seharusnya tidak dilakukan. Alasannya, poligami cenderung membawa kepada perbuatan zalim dan dosa-dosa lain. Zalim adalah lawan dari adil. Sejak awal ketika suami berniat poligami, kezaliman sudah terjadi (yaitu dengan sakitnya hati sang istri). Berikutnya, dosa-dosa lain akan menyusul, misalnya sering berbohong (ini pasti).

Simpulan

Yang patut disesalkan dari para pendukung poligami adalah mereka berkampanye seolah-olah poligami itu sesuatu yang hukumnya sunah. Sunah dalam arti berpahala jika dikerjakan dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Sunah seperti halnya salat tahajud atau puasa senen-kamis.

Puspowardoyo, Raja Poligami Indonesia, misalnya sampai mengarang buku Indahnya Poligami, yang dari judulnya saja jelas mengiming-imingi setiap muslim laki-laki untuk berpoligami.

Mana ada sunah yang membuat pelakunya cenderung berbuat zalim?

Boleh-tidaknya poligami, menurut saya, harus dilihat secara kontekstual. Dilarang mutlak mungkin akan merupakan kekeliruan, karena bisa jadi poligami ada gunanya untuk keadaan tertentu. Misalnya, di daerah di mana sebagian besar laki-laki terbunuh oleh perang, barangkali poligami bisa menjadi solusi. Kasihan juga jika banyak perempuan jadi janda dan tidak mendapat suami pengganti, atau jumlah gadis terlalu banyak karena para pemudanya banyak yang mati.

Di Indonesia jelas tidak ada perang. Kondisi semacam ini mungkin berlaku untuk daerah seperti Palestina, Irak, dan beberapa negara di Afrika.

Jadi, membolehkan poligami sebenarnya ibarat mengharapkan terjadi perang di Indonesia. Sebuah harapan yang sungguh tidak baik.

Jika kita bermaksud mencari hukum yang berlaku untuk semua orang, itu akan sangat sulit. Tapi kita bisa mencari hukum yang setidaknya berlaku untuk diri kita sendiri. Dan hukum untuk diri sendiri ini boleh jadi berbeda dengan hukum yang berlaku untuk kebanyakan orang.

Artinya, jika kita tidak setuju poligami, bagi laki-laki berarti tidak akan melakukan poligami, dan bagi perempuan berarti tidak akan mau dipoligami. []

This entry was posted in Gender, Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Poligami dalam Perspektif Lain

  1. Fauzan says:

    mantap artikelnya

  2. Muslim says:

    Manusia tdk boleh membuat hukum sendiri,karena hukum itu dimaksudkan agar adil utk “semua manusia” dg brbagai konteks hdupnya. Karena itu, hanya Tuhan yg brhak membuat aturan utk manusia,krn Dialah yg telah mnciptakan dan yg paling tahu ttg ciptaannya.

  3. Muslim says:

    Hukum utk semua manusia ya itulah hukum dari Pencipta manusia.

    Manusia tdk boleh membuat hukum sendiri,karena hukum itu dimaksudkan agar adil utk “semua manusia” dg brbagai konteks hdupnya. Karena itu, hanya Tuhan yg brhak membuat aturan utk manusia,krn Dialah yg telah mnciptakan dan yg paling tahu ttg ciptaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s