Berpikir Positif

192078

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Membaca ayat tersebut, mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya, benarkah Allah tidak akan membebani manusia dengan beban yang melebihi kesanggupannya untuk menanggung beban itu? Sebab dalam hidup sehari-hari, kita melihat banyak kasus yang mencerminkan ketidaksanggupan manusia tatkala ditimpa suatu cobaan.

Setidaknya ada tiga tanda seseorang tidak mampu menahan cobaan yang menghimpitnya: berbuat dosa, bunuh diri, dan menjadi gila.

Jika seseorang mencuri agar dia tidak mati kelaparan, artinya dia tidak sanggup menahan beban laparnya. Begitu pula orang yang berbuat zina, korupsi, menipu, membunuh, dan sebagainya. Jika dia mampu menahan beban itu, tentulah dia tidak akan berbuat dosa.

Tidak jarang kita pun mendengar seseorang yang melompat dari atas gedung, gantung diri, atau terjun ke sungai deras, mungkin karena ditolak cinta, dikejar utang, bahkan hanya karena sebab sepele seperti nilai rapor yang anjlok. Semua itu menandakan bahwa bagi yang bersangkutan, beban yang dideritanya itu tidaklah ringan.

Berbuat dosa dan bunuh diri tergolong perbuatan yang dilakukan dalam keadaan sadar. Tidak demikian halnya dengan menjadi gila. Rasanya tidak ada seorang pun yang menghendaki dirinya kehilangan kewarasan. Namun orang tidak waras di dunia ini amatlah banyak. Apapun masalah yang menimpa dirinya, yang jelas masalah itu pastilah begitu berat.

Lalu bagaimana kita mesti menafsirkan ayat di atas? Apakah Allah telah keliru dengan firman-Nya?

Tampaknya ayat tersebut sebaiknya tidak kita artikan sebagai fakta, sebab akan bertentangan dengan kenyataan sehari-hari, atau kelihatannya demikian. Ayat tersebut lebih baik kita maknai sebagai suatu cara yang digunakan Tuhan untuk membesarkan hati hamba-hamba-Nya, suatu dorongan agar manusia terus berjuang dan jangan menyerah pada keadaan, suatu ajakan agar manusia menghargai hidup, suatu motivasi agar manusia berpikir positif dalam menghadapi segala situasi.

Makanya ayat tersebut dilanjutkan dengan pernyataan, masih pada ayat yang sama, bahwa, ”Seseorang mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. Lanjutan ayat ini menegaskan suatu hukum alam (sunnatullah) bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan sesuai sifat perbuatan itu.

Kemudian, ayat ini ditutup dengan sebuah doa yang sangat indah: (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Kalimat doa di atas menunjukkan bahwa beban yang berat itu ada, dan sesuatu yang tidak sanggup dipikul itu ada. Namun manusia diminta untuk berdoa agar tidak diberikan beban yang tidak sanggup dipikul itu. Doa merupakan refleksi dari kelemahan manusia, namun sekaligus mencerminkan harapan dan pikiran positif bahwa kelemahan-kelemahan itu dapat ditanggulangi.

Demikian. []

This entry was posted in Agama, Psikologi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s