Menanti Sebuah Jawaban

1014551541

Aku ingin memberikan sesuatu padamu. Sesuatu yang mungkin akan berharga bagi hidupmu. Tapi aku takut kau menolaknya.

Apa itu?

Kau akan menerimanya, kan?

Katakan saja.

Berjanjilah untuk menerima apa yang kuberikan.

Baiklah, aku berjanji.

Terima kasih. Sesuatu itu adalah aku. Seluruhku. Sepenuhku.

Kau diam. Kuberanikan diri menatapmu. Kau menunduk.

Maaf, mungkin kata-kataku mengganggu perasaanmu. Tapi telah lama aku menunggu saat ini. Saat keberanianku telah cukup kuat untuk mendengar apapun jawabanmu. Aku menginginkan seseorang yang bisa menggembirakanku dan aku bisa menggembirakannya. Kalau kau bisa menggembirakanku dan menurutmu aku bisa menggembirakanmu, terimalah aku.

Samar kurasakan kaki meja bergetar. Lalu kau bertanya:

Aku bisa menggembirakanmu?

Kau bisa menggembirakanku, jawabku.

Sungguh?

Aku mengangguk. Lalu tanyamu selanjutnya:

Kau bisa menggembirakanku?

Kau lebih tahu.

Kalau begitu beri aku waktu.

Akan kutunggu. Tapi kau telah berjanji.

Kau mendongak. Sorot matamu di mataku membulat. Aku terkesiap.

Hey, makanannya kok didiamkan saja! katamu tiba-tiba. Aku tersentak. Dan kudapatkan lagi wajahmu yang semula, segar dan ceria.

Kulirik jam di ponsel: 01.44. Malam selalu melambat jika kau datang. Sekiranya aku tidur lebih awal, mungkin saat ini sudah pukul 9 pagi. Teman sekamarku masih lelap dalam mimpi. Tampaknya ia sama sekali tak terganggu. Aku memang tak mengeluarkan suara apa-apa. Hanya desah napas, seruput kopi yang hampir habis, dan tombol keyboard yang terlalu lembut untuk bikin ribut. Bahkan lagu-lagu pengantar malam yang biasanya mengalun lewat program winamp pun lupa kumainkan.

Layar komputerku bergerak-gerak. Seperti naik turun. Atau mataku yang mulai rabun.

Kalau saja percakapan ini nyata. Kau harus tahu, aku telah memikirkanmu cukup lama. Sepanjang waktu saat terjaga, meraba-raba hati apakah jatuh cinta. Tak berani kusimpulkan itu dengan segera sebab aku tak percaya pada cinta pandangan pertama. Barangkali aku tengah berada di perjalanan menuju ke sana, pada jalan yang gerbangnya telah sama-sama kita buka – lewat perjumpaan itu.

Saat ini aku hanya bisa berjalan pelan. Berulang-ulang aku menengok belakang. Kalau kau hendak ikut, lekaslah. Atau berlarilah agar kesunyianku segera sirna. Kalau tidak maka tutuplah kembali gerbang itu dan biarkan jalan yang kulalui hilang bersama jiwaku yang malang.

Tahukah kau, saat malam-malam jadi panjang karena memikirkanmu, hatiku selalu digayuti keraguan. Mengapa mengingatmu mesti mendatangkan rasa yang tak beraturan? Aku tahu hanya ada dua cara untuk menghentikan ini: melenyapkanmu dan namamu dan wajahmu dari ruang hatiku, atau mengungkapkan langsung apa yang kurasakan. Tapi kedua-duanya berat kulakukan. Tampaknya yang paling kubutuhkan adalah kata-katamu. Katakanlah sesuatu. Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai kebenaran.

Sejak mula bertemu, aku sudah memperhatikanmu, meski kau takkan tahu. Dan akhir-akhir ini aku semakin yakin akan pilihanku. Sering aku memimpikanmu, walaupun, yah, kadang-kadang ada juga perempuan lain yang menyelip di mimpiku. Pilihanku padamu mungkin digerakkan oleh mimpi, mungkin pula bukan. Lagi pula kebanyakan mimpi hanyalah pemenuhan harapan. Bahwa aku memutuskan memilihmu, rasanya tak perlu kujelaskan. Bukankah cinta tak selalu memerlukan alasan?

Tapi kau memang begitu cantik, baik, dan ramah pada semua orang. Cantik? Tentu saja, meski setiap orang bisa menunjukkan gadis-gadis lain yang lebih cantik. Baik? Tapi dia pernah menolakku, kata seorang kawan, jadi dia tidak baik. Ramah pada semua orang? Di depanku dia selalu cemberut, kata kawanku yang lain (mungkin pernah ditolak juga). Tapi setidaknya itulah kesanku padamu saat kita beberapa kali bertemu dan saat aku melihatmu di antara teman-temanmu.

Ternyata kusebutkan pula alasan itu, walaupun terlalu umum. Alasan khususnya belum akan kuungkapkan saat ini. Aku takut kau tak percaya, dan kau akan menertawakanku.

Dan hingga malam ini aku masih mengingat setiap percakapan kita. Masih terbayang saat bibirmu bergerak-gerak membuka dan mengatup. Aku suka senyummu yang terurai setiap kali aku menatapmu lama tanpa berkedip. Apakah senyum itu hanya untukku? Aku tak yakin. Kurasa kau tergolong jenis perempuan yang gampang memakan korban. Sehabis percakapan yang cukup lama denganmu waktu itu, aku merasa bahwa suatu ketika aku pasti akan menjadi salah satu korbanmu. Tapi dengan senang hati aku akan menjalaninya, dan tersenyum seraya berharap kau pun akan sama-sama menjadi korban sepertiku.

Berapa laki-laki yang telah menjadi korbanmu? Tambahkan satu lagi: aku.

Jangan risau, aku tak akan cemburu kepada laki-laki yang mencintaimu. Aku hanya akan cemburu kepada laki-laki yang kau cintai, kecuali jika laki-laki itu aku sendiri.

Saat kusadari aku telah terseret dalam jeratmu, aku mulai sering menghubungimu, mengirimmu sms mengajak ke satu acara, diskusi atau nonton atau sekadar lari pagi. Sayang waktunya tak pernah tepat. Begitulah setidaknya aku bisa menganggap. Atau memang kau tak suka acara-acara itu? Seharusnya aku tahu apa saja kesukaanmu.

Lalu kutanya teman sekosanmu, bagaimana menyenangkan hati perempuan. Tapi ia malah balik bertanya, siapa gadis yang sedang kusuka. Waktu itu aku tak menjawab karena malu berterus-terang. Tapi sekarang ingin sekali kuberikan informasi itu kepadanya agar ia bisa menjawab pertanyaanku. Aku ingin tahu bagaimana menyenangkan hatimu.

Dan aku jadi sering berkunjung ke tempatmu. Aku merasa teman-temanmu menyetujuiku. Tiap kali aku datang, mereka menyingkir memberi kita ruang dan waktu untuk berdua. Aku jadi geer. Atau begitukah yang mereka lakukan terhadap siapapun yang mengunjungimu? Ingin sekali aku bicara dengan mereka tentangmu. Mereka tentu tahu apa yang kau rasakan terhadapku, seperti halnya teman-temanku tahu apa yang kurasakan terhadapmu. Aku yakin, siapapun kita, laki-laki perempuan, tak pernah tahan memendam rahasia sendirian.

Tahukah kau, saat acara kampanye pemilu mahasiswa di kampus kita waktu itu, aku terus mencari-cari sosokmu di antara kerumunan. Di manakah kau berdiri, kuingin ada di sampingmu. Tapi tatkala kita bertemu pandang, aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Tak berani aku mendekatimu dan mengajakmu berbincang-bincang. Tentang keramaian. Atau tentang apa saja. Bagaimana menurutmu peluang calon presiden dari partai kita? Kau yakin kita menang lagi tahun ini? Tentu saja. Lihatlah massa yang mengikuti kampanye ini. Meruah. Tumpah. Simak juga wajah-wajah mereka: semuanya gembira.

Tapi setidaknya tetaplah kau di situ. Setelah orasi-orasi para politisi kampus ini habis, aku akan naik pentas dan kau harus mendengarkanku bernyanyi.

Kupersembahkan lagu ini khusus buat seseorang, kataku saat berada di panggung sembari memeriksa setelan gitar. Sebutkan, sebutkan, seru orang-orang. Tapi rasanya tak perlu menyebut nama di tempat terbuka seperti ini. Dan lagu terbaru dari grup band Padi, Menanti Sebuah Jawaban, langsung meluncur bersama dentingan gitar.

Aku tak bisa luluhkan hatimu

Dan aku tak bisa menyentuh cintamu

Seiring jejak kakiku bergetar

Aku t’lah terpagut oleh cintamu

Ah, kalau tadi kusebutkan namamu, mungkin banyak perempuan akan cemburu, hehehe. Tapi biarlah. Yang penting kau tahu siapa yang kumaksudkan. Terima kasih pinjaman kasetnya. Kukembalikan setelah ini.

Setelah membawakan dua lagu lagi, aku turun dan berdiri di dekat panggung, mencari sosokmu dari kejauhan. Tadi kulihat kau, bersama para penonton yang lain, menari mengikuti nyanyianku. Pindah ke mana kau sekarang? Musik berubah menjadi rock metal (jenis musik yang tak kupahami bagaimana menikmatinya). Di depan panggung, para penonton berjingkrak-jingkrak. Terpikir olehku untuk ikut berjingkrak-jingkrak. Barangkali begitulah cara menikmatinya. Tapi aku menemukanmu. Kau melirikku, dan tersenyum. Aku merasa diundang. Kuputuskan untuk menghampirimu. Tapi tiba-tiba acara terhenti sejenak, dan kulihat seseorang tergeletak. Ia terjatuh dari panggung karena keasikan berjingkrak. Tulang kakinya retak. Bersama beberapa orang, aku menggotongnya ke klinik depan kampus untuk pertolongan darurat.

Ada-ada saja kamu ini, kataku saat menjenguknya di ahli patah tulang. Ia ditemani kekasihnya yang setia.

Mungkin ini tumbal untuk kemenangan presiden kita, katanya. Tapi untung sakitnya sekarang. Coba kalau tahun kemarin, tentu tak ada yang merawat dan menungguiku.

Sialan! Tapi dia betul. Saat ini aku jangan sakit, apalagi sampai dirawat inap. Aku tak bisa bayangkan kalau itu terjadi. Mungkin aku akan terbaring sendiri di rumah sakit. Tak ada yang menghiburku. Keluargaku tentu akan menungguiku. Teman-temanku juga pasti menjenguk. Tapi aku ingin kau… Aku jangan sakit kalau belum ada kau.

Kenapa harus begitu? tanyamu.

Karena aku menginginkanmu.

Kenapa kau menginginkanku?

Selama ini aku seperti berjalan bolak-balik dalam lingkaran setengah, dalam huruf C. Aku ingin berjalan dalam lingkaran penuh, dalam huruf O. Kau punya huruf C juga, dan aku ingin huruf C-mu disatukan dengan C-ku. Menjadi O. Kita akan bertemu di satu titik dan bisa berjalan bersama-sama.

Kau tertawa. Jadi kita jalannya muter-muter terus dong.

Eh, iya ya. Memang tidak ada perumpamaan yang sempurna. Singkatnya, aku membutuhkanmu.

Kenapa kau membutuhkanku?

Selama ini aku selalu bernyanyi dan bermain gitar sendirian. Aku ingin kau yang bernyanyi dan gitarku akan mengiringi. Lagu apa yang kau suka? Akan kupelajari kunci-kuncinya.

Bikin saja grup band.

Aku ingin kau yang jadi vokalisnya. Aku sering membayangkan senja, saat matahari separuh terbenam dan langit memerah keemasan, kau dan aku duduk di teras rumah di lantai dua. Ya, rumah kita nanti akan kubikin dua lantai. Aku mainkan gitar dan kau bernyanyi. Orang-orang yang lewat di depan rumah menoleh ke atas dan kita terus bernyanyi. Aku menatapmu dan kau tersenyum. Aku tersenyum dan matamu berbinar. Lalu pipimu merona, lebih merah dan lebih keemasan daripada senja. Dan keindahan itu pun sempurna.

Dan khayalanmu pun sempurna, ucapmu tandas.

Tak mungkinkah ini jadi kenyataan? Keindahan yang sempurna dan khayalan yang sempurna, tak mungkinkah jadi kenyataan? Adakah yang sempurna dalam kenyataan? Semoga kau menganggapnya ada.

Setidaknya aku bisa berkhayal tentang sesuatu yang indah. Meski hingga kini aku belum tahu sama sekali perasaanmu padaku. Kau belum mengatakannya, dan aku pun tak merasakan sinyal apapun darimu, tanda-tanda yang benar-benar tegas. Aku sering sms, tapi kadang-kadang saja kau balas. Aku tahu tentu kau harus berhemat. Tak apa-apa. Untuk meneleponmu pulsaku juga tak banyak.

Tapi kau mengerti, kan, apa yang kurasakan? tanyaku.

Yah, mungkin. Kau sering sms malam-malam.

Apa yang kau rasakan saat membaca sms-smsku?

Entahlah. Tapi sebaiknya kau jangan terlalu banyak begadang.

Terima kasih. Tapi aku begadang karena kau. Kau bikin aku terjaga terus hingga pagi. Tapi apa yang tersisa dari kesadaran di malam hari? Sunyi. Hanya sunyi. Aku sedikit terbantu oleh gitar dan lagu dan puisi. Tapi mereka tak bisa benar-benar membawamu ke sini.

Sekarang aku ingin tahu bagaimana hatimu. Katakanlah segera. Kalau terlalu lama kau diamkan aku, putus asa bisa datang dan aku akan kian tenggelam dalam kesunyian. Rasanya apa yang kulakukan dan kukatakan sudah terang. Tak perlu diterjemahkan lagi. Kau juga perlu memberi batas waktu pada dirimu sendiri, jangan sampai lagu Rossa terngiang-ngiang di telingamu.

O ya? Matamu membeliak. Lagu Rossa yang mana?

Itu, yang “Aku menyesal…”[1]

Mmh.. yang itu. Rupanya kau mengancamku.

Maaf. Aku hanya tak mau kehilanganmu.

Memangnya aku sudah jadi milikmu?

Aku tergeragap. Ada yang salah rupanya. Tapi kenapa ucapanmu begitu tak berperasaan? Untungnya kalimat itu hanya ada di layar komputer. Semoga kenyataannya tidak demikian. Tapi mungkin dialog ini seharusnya kubuang. Aku tak mau pikiranku terus terganggu, karena kau memang bisa lakukan apapun terhadapku. Kau bisa hancurkan hatiku, dan kau bisa membuat jiwaku terkatung-katung di antara langit dan bumi.

Ah, perumpamaan yang berlebihan. Klise pula. Kubaca lagi dari awal. Kuperbaiki beberapa kalimat dan kata-kata yang kurang tepat. Sudah baguskah cerpenku ini? Pikiranku tak bisa kutahan untuk tak menilai. Padahal emosiku masih tertanam di alurnya. Sabar, ceritanya juga belum rapi. Kalau sudah, nanti kutunjukkan padamu. Bacalah, tentu kau lebih jernih dalam menilainya bagus atau tidak. Atau barangkali kau yang harus lanjutkan cerita ini? Ya, betul, kau yang harus lanjutkan! Bacalah, dan terserah padamu mau kau apakan nasibku. Aku pasrah, jika aku tak bisa luluhkan hatimu dan menyentuh cintamu. Aku akan terus menunggu, menanti sebuah jawaban.

Tapi sampai kapan aku harus menunggu?

Seandainya aku punya sedikit saja keberanian.

Aku ingat ayahku pernah berkata, kalau kamu mencintai perempuan, katakan saja terus terang dan minta dia segera kasih jawaban. Perempuan senang diberi bunga. Mereka mencintai keindahan, tetapi mereka lebih membutuhkan kepastian. Itu yang kuberikan pada ibumu.

Ayahku berhasil. Tapi itu dulu, saat laki-laki masih berkuasa seperti raja dan perempuan hanyalah sekumpulan anak ayam yang menanti dikeluarkan dari kurungan. Zaman telah banyak berubah. Perempuan sekarang lebih bebas memilih, termasuk memilih untuk tidak memilih. Mereka pun ingin hanya menikah dengan laki-laki yang mereka cintai, bukan sekadar laki-laki yang mencintai mereka.

Sementara posisiku justru terbalik: aku adalah laki-laki yang mencintai keindahan dan membutuhkan kepastian. Jadi bagaimana mungkin kuberikan kepastian kepada orang lain kalau untuk diriku saja belum yakin?

Dasar peragu! Kumaki juga kau.

Masih tak berani? Rasakan! Mampus kau dikoyak-koyak sepi![2]

Tapi memang, apapun yang terjadi, aku harus tumbuhkan keberanianku. Biarpun nanti akan berakhir seperti seorang kawanku. Hampir setahun ia membidik. Lalu nembak. Lalu ditolak. Lalu semalaman ia berlari-lari berputar-putar berteriak-teriak di puncak gedung kampus dengan hanya memakai kolor. Lalu paginya ia terkapar. Mungkin pingsan mungkin tidur. Lalu sorenya ia terbangun dengan perut lapar. Lalu berhari-hari ia mengurung diri dalam kamar. Tapi sekarang toh ia segar bugar.

Dan pula, kiamat apa yang akan kualami kalau ditolak? Aku cukup beriman untuk terjun dari lantai ketujuh. Aku tak mau mati bunuh diri. Apalagi bunuh diri karena cinta, atau nama baikku akan jatuh di mata dunia. Di akhirat pun nasibku tak bakal selamat karena kata agama bunuh diri itu tindakan sesat. Bunuh diri itu menentang takdir dan menghina Tuhan karena menolak umur yang diberikan-Nya. Sebenarnya aku tak yakin benarkah Tuhan terhina karena pemberian-Nya ditolak? Kurasa kalau manusia bisa menolak Tuhan, berarti manusia telah merealisasikan kebebasannya yang paling besar. Berarti manusia itu makhluk yang paling sempurna dan karena itu sempurnalah pula Tuhan sebagai pencipta. Tapi kenyataannya bunuh diri dikutuk oleh agama. Atau mungkin Tuhan tidak suka manusia bebas?

Sudahlah. Yang jelas, aku tak akan bunuh diri cuma gara-gara kau. Kalau aku mati, belum tentu kau akan bersedih. Malah mungkin kau akan menari-nari kegirangan dan berteriak di depan orang-orang: inilah aku, gadis paling cantik sedunia hingga banyak pemuda tergila-gila dan bunuh diri karena kutolak cintanya.

Padahal yang bunuh diri hanya aku seorang.

Itu pun kalau jadi. Itu pun kalau aku mati. Kalau aku tidak jadi mati, tentu namaku lebih terpuruk lagi. Malu aku. Belum kalau tulangku ada yang patah dan aku jadi cacat, meranalah aku sampai kiamat. Jangankan cinta, sekadar simpati pun belum tentu kau berikan. Soal cinta, jelas masih banyak laki-laki yang tidak cacat dan tulangnya tidak patah.

Satu-satunya hiburanku adalah: kalaupun kau tak memberikan hatimu, setidaknya malam-malam bersama bayangmu telah banyak melahirkan ilham. Setidaknya beberapa puisi telah lahir dari senyumanmu. Setidaknya sebuah cerpen kini tengah kukarang.

Saat ini harapanku masih penuh padamu. Kau mau bicara denganku dan sikapmu masih manis padaku.

Beberapa waktu lalu harapan itu sempat anjlok saat kutahu naskah yang kusertakan dalam sebuah lomba cerpen tidak masuk sebagai pemenang. Jauh-jauh hari aku sudah bilang padamu bahwa aku mengikuti lomba itu, dan aku sangat yakin akan menang. Cerpenku cukup bagus dan unik. Kau pun telah kuminta membantuku dengan doa. Tapi ternyata namaku tak disebut dalam pengumuman. Lemas rasanya hatiku. Hilang harapanku untuk mencatatkan satu kebanggaan di hadapanmu. Tanpa pikir panjang, kuambil buku harian dan kucorat-coret namamu. Lalu kuhapus namamu yang kutulis di atas pintu, di lemari dan cermin di kamarku. Aku tak pantas untukmu. Aku tak berharga untukmu.

Malamnya kulayangkan sms: Sebenarnya aku ingin sekali memberikan sesuatu yang berharga bagi hidupmu. Tapi sepertinya keinginan itu harus kutunda sementara waktu, entah sampai kapan, karena aku gagal menang lomba cerpen.

Ingin kulanjutkan sms itu dengan menuliskan bahwa sesuatu itu adalah aku sendiri.

Ah, lihatlah, betapa aku telah begitu merendahkan diri di hadapanmu. Biasanya perempuan yang menyerahkan dirinya kepada lelaki. Lelaki meminta, bahkan memaksa, dan perempuan harus rela. Tetapi aku, lelaki, ingin menyerahkan diriku kepadamu. Apanya dari diriku ini yang dapat kuberikan, dan apakah itu cukup berharga untuk kau terima?

Terus terang saat ini aku tak punya apa-apa, belum jadi apa-apa. Seringkali aku tak punya uang, tak ada pulsa, dan tak bisa ke mana-mana. Dan aku hanya bisa diam di kamar, berkhayal, sambil berkata-kata sendirian, dalam hati atau di tulisan.

Lalu apa yang bisa kuberikan padamu?

Hidupku sendiri masih jauh dari jelas, dalam bidang apapun. Saat kita bercakap tentang cita-cita, aku pernah mengatakan ingin jadi pengarang atau penyair. Tapi semua itu baru keinginan. Jalanku terhalang kabut bermacam warna. Sulit sekali menatap ke depan.

Sepertinya kau salah jurusan, katamu waktu itu. Kenapa tak ngambil sastra, malah ngambil psikologi?

Aku teringat Goenawan Mohamad. Dulu ia masuk jurusan Psikologi karena berharap ilmu psikologi akan membantunya dalam bersastra, karena psikologi mempelajari kejiwaan manusia. Tapi aku belum membaca Goenawan waktu aku memilih Psikologi.

Mungkin begitu, jawabku. Makanya hampir sebelas semester belum lulus juga. Tapi kurasa tak perlu kuliah sastra kalau ingin jadi sastrawan. Jurusan apapun bisa. Tidak kuliah juga bisa. Lagi pula jurusan sastra itu lebih dimaksudkan agar orang jadi ahli sastra atau kritikus. Yah, biarpun tidak banyak kritikus yang kuliahnya di jurusan sastra, atau lulusan sastra yang jadi ahli sastra. Sama seperti jurusan politik, bukan bikin orang jadi politikus tapi jadi pengamat politik, karena untuk jadi politikus orang tidak perlu kuliah.

Jadi sastra itu lebih karena bakat ya, seperti musik, seperti dagang…

Ya. Sastra bisa kita pelajari dari kehidupan, karena sastra adalah kehidupan itu sendiri. Tapi tentu kita harus banyak berlatih menulis karya sendiri dan membaca karya orang lain. Juga memperhatikan apa yang ada di sekeliling kita.

Tapi aku pernah ikut pelatihan menulis, kata pembicaranya bakat itu cuma satu persen. Sembilan puluh sembilan persen adalah latihan dan latihan.

Ah, itu hanya untuk menghibur para pemula, biar semangat mereka tidak lekas jatuh karena merasa tidak punya bakat. Untuk jadi penulis, mungkin siapapun bisa. Tapi untuk jadi penulis yang baik, apalagi jika ingin menghasilkan karya besar, perlu bakat yang besar juga.

Berarti aku tak akan jadi penulis yang baik dong.

Merasa tak berbakat, gitu? Kalau kau merasa senang dan bergairah saat melakukan sesuatu, artinya kau berbakat dalam bidang itu. Memang ada juga orang yang tidak tahu bakatnya bahkan minatnya apa. Makanya dalam psikologi, minat dan bakat itu tesnya selalu digabungkan.

Kau mengangguk-angguk. Kau sendiri bagaimana? tanyamu.

Ya begitu. Aku merasa senang dan bergairah saat menulis.

Berarti kau akan jadi penulis yang baik.

Mudah-mudahan, kataku pelan.

Yakin usaha sampai dong.

Semuanya membutuhkan totalitas.

Lakukanlah itu.

Bantulah aku.

Apa yang bisa kubantu?

Mungkin seharusnya aku menjawab: jadilah kekasihku, dan garis-lekuk tubuhmu akan menjelma sungai yang terus mengalirkan inspirasi hingga ke muara, hingga ke tengah samudera. Tapi aku berpikir, mengarang adalah kerja sendirian. Sudah takdir pengarang untuk selalu berada dalam kesepian.

Huh, aku berpikir seolah-olah aku sudah jadi pengarang. Padahal mengarang satu cerpen saja bisa kuhabiskan waktu berbulan-bulan. Itu pun belum tentu selesai, belum tentu bernilai, dan belum tentu dimuat di media massa. Media massa? Kenapa harus dimuat di media massa? Ah, itu satu soal pula. Novel-novelku sampai saat ini baru sketsa saja. Dan puisiku, betapa tak karuan bentuknya. Bagaimana bisa hidup dengan produktivitas seperti itu? Padahal para pengarang top yang tiap minggu cerpennya muncul di koran pun banyak yang hidupnya masih pas-pasan. Mungkin ini takdir pengarang juga: hidup pas-pasan.

Sayang memang, aku mendesah. Kalau saja aku menang lomba cerpen itu, aku akan punya cukup uang untuk sekadar mengajakmu jalan-jalan, nonton film, atau nonton teater di kampus kita.

Sudahlah, tak setiap lomba mesti kita menangkan, hiburmu.

Terima kasih. Kau betul. Mungkin saat ini aku harus lebih memikirkan diriku sendiri, menyelesaikan kebutuhan dasarku sendiri, baru memikirkan orang lain. Kalau aku sungguh-sungguh ingin jadi pengarang, aku harus belajar sendirian dan berlatih menaklukkan kesepian.

Tapi bagaimana menghapus namamu dari hatiku?

Sementara senyummu masih saja menyiratkan harapan.

Sebetulnya kamu tak benar-benar cinta, tuduh teman sekamarku satu ketika. Kamu hanya inginkan inspirasi darinya untuk mengarang. Bukan sekali dua kulihat kamu melarutkan diri seperti ini, malam-malam main gitar dan bernyanyi keras-keras atau sampai pagi duduk depan komputer. Kamu suka melebih-lebihkan perasaanmu untuk sebuah lagu, cerpen, atau sajak. Padahal pernahkah perempuan yang kamu khayalkan itu kamu tembak? Sampai sekarang kamu tak punya pacar. Atau jangan-jangan kamu selalu ditolak.

Aku diam. Tidak tahu dia kalau sekadar punya pacar, tentu aku pernah. Dia nyerocos terus tapi tak kudengarkan. Aku ingin berkonsentrasi pada nada lagu yang baru saja kutemukan. Kupeluk gitar erat-erat, kuulang-ulang nada baru itu agar tak hilang. Tapi lama-lama ocehannya membuatku tak tahan.

Mungkin kamu benar, kataku. Tapi aku tak bisa mencipta tanpa inspirasi, dan inspirasi tak akan muncul tanpa cinta. Aku punya ukuran sendiri soal ini. Jika aku merasa mencintai seseorang, namun tak satu puisi kuhasilkan, atau lagu atau cerpen, maka cintaku pantas diragukan.

Omong kosong! tukasnya. Lagi pula apa inspirasi hanya muncul dari cinta? Katamu perasaan apapun bisa jadi inspirasi. Benci dan sakit hati juga bisa.

Ya, tapi benci itu bikin sesak, dan sakit hati itu tak enak. Aku tak mau membenci siapapun, juga tak mau disakiti. Aku ingin selalu gembira dan bisa tetap tersenyum.

Tapi ternyata keinginan tak selalu sama dengan kenyataan. Malah kini aku lebih banyak gelisah, hampir tiap malam. Aku seperti matahari di ujung senja, separuh siang separuh malam, terbenam antara asa dan putus asa, harapan dan kegagalan. Sebagian karena kau, sebagian lagi karena kegelisahan itu sengaja kupelihara.

Oh, bagaimana caraku menjalani hari-hari setelah bertemu denganmu?

Coba engkau katakan padaku

Apa yang seharusnya aku lakukan

Bila larut tiba wajahmu terbayang

Kerinduan ini semakin dalam[3]

Seandainya kau ada di sini, saat ini, betapa hatiku akan bahagia.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Sekali. Dua kali. Siapa ya?

Di ketukan yang ketiga aku beranjak ke pintu dan membukanya.

Kau?!

Ya, aku. Kau heran aku bisa ke sini? Semalaman ini aku merasa kau terus memikirkanku. Jadi aku tak bisa tidur dan memutuskan untuk menemuimu.

Jantungku berdegup. Déjà vu!

Kukasih tahu ya, kalau kau kangen dan memikirkanku malam-malam, datang saja ke tempatku.

Mana boleh? Lagi pula belum tentu kau masih terjaga. Aku tak mau membangunkanmu.

Setidaknya kau bisa memandangi jendela kamarku.

Sialan! Aku pura-pura menggerutu dalam hati. Masuklah, kataku akhirnya.

Tak usah. Tak baik seorang wanita di kamar pria malam-malam begini.

Ini sudah pagi. Hampir pagi. Ayolah. Tidak baik tuan rumah membiarkan tamunya berdiri di luar.

Kau masuk. Kau bertanya apa yang kulakukan. Menulis cerpen, jawabku, tentang kita. Tanpa disuruh kau duduk di depan komputer dan membaca.

Ceritanya kita lagi di rumah makan ya? Pandai sekali kau mereka-reka dialog kita. Aku suka biar tak semua kata-kata ini pernah kuucapkan. Tapi mungkin akan lebih bagus kalau kata-kataku aku sendiri yang menuliskan. Bagaimana?

Justru itu! Aku sedang menunggumu untuk meletakkan ending pada cerita ini. Tulislah apa yang kau pikirkan. Nanti kutuliskan apa yang ingin kukatakan.

Lalu kau menulis, meneruskan kalimat terakhir:

Untuk apa kau pelihara kegelisahan?

Aku pun menulis:

Mungkin sudah takdir pengarang untuk selalu gelisah.

Wah, kau sudah jadi pengarang sekarang, tulismu selanjutnya.

O ya? Aku berhenti sejenak, memikirkan kata-kata yang harus kutuliskan berikutnya. Kata orang kegelisahan bisa melahirkan inspirasi, tulisku. Tapi aku lebih suka kau yang menjadi inspirasiku. Maukah kau?

Maksudmu?

Kau menjadi orang yang setiap kali aku melihatmu, aku jadi tergugah untuk mencipta.

Apa aku bisa?

Tinggal kau mau atau tidak.

Kalau begitu tulislah apa saja tentang aku, sebanyak yang kau mau.

Tentu. Tapi maukah kau jadi inspirasiku seumur hidup?

Maksudmu?

Kau selalu pura-pura. Dasar perempuan. Baru tahu rasa kalau laki-lakinya mundur dan mencari hati yang lain. Tapi apa benar karena kau perempuan? Mungkin aku juga yang dari tadi berputar-putar saja, tidak langsung ke inti persoalan. Tapi masa kau tak mengerti? Baiklah kalau begitu, sekaranglah saatnya kukatakan terus terang:

Aku mencintaimu. Aku ingin kau jadi kekasihku dan aku jadi kekasihmu.

Lega dadaku. Kau diam. Aku menunggu. Beberapa waktu berlalu dalam lengang. Kupusatkan perhatian ke wajahmu. Kau menatapku. Mata kita bertemu. Kau tersenyum. Tenang. Cantik sekali.

Ya cantiklah. Kan, perempuan.

Hey, jangan tulis begitu, kataku. Ucapan itu hanya ada di hati.

Oh. Kenapa tak kau katakan saja?

Boleh. Dengar baik-baik: kau cantik sekali.

He he…, basi tahu. Eh, lihat, siapa tuh yang datang! Tiba-tiba matamu menunjuk ke arah pintu.

Spontan aku menoleh. Tak ada siapa pun yang masuk. Ada satu orang sedang berdiri di dekat pintu, tapi itu yang punya warung. Aku berbalik kembali. Tiba-tiba kau tertawa dengan lepas.

Aku terheran-heran. Tawamu semakin keras. Orang-orang menengok. Dan saat kulihat piringku, rupanya tak ada ikan lagi di situ. Ia lompat ke piringmu. Kau terus tertawa. Dulu tawa perempuan seperti ini akan dianggap tidak sopan. Tapi aku tak peduli. Dan aku pun ikut tertawa.

Habis dari tadi tak dimakan sih, katamu.

Ternyata kau bisa memberiku kegembiraan. Dan melihat tawamu, sepertinya aku pun dapat memberimu kegembiraan. Kalau sudah begini, masih perlukah jawaban?

Semuanya kukembalikan padamu. Tapi kerikil itu masih akan mengganjal di benakku jika kau tak menjawab dengan terang. Jangan permainkan aku. Hatiku akan terus meronta-ronta jika pertanyaanku selalu kau diamkan.

Kumohon, jawablah aku. Biar cerita ini berakhir. Biar nanti kukirim ke majalah atau koran. Biar kalau dimuat, honornya bisa kita gunakan untuk membuat cerita ini menjadi kenyataan. []

Catatan:

Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Horison edisi Juni 2006.


1 Larik lengkapnya, “Aku menyesal tlah membuatmu menangis/ Dan biarkan memilih yang lain“, dari lagu yang dinyanyikan Rossa, Aku Bukan Untukmu.

2 Ah, hatiku yang tak mau memberi/ mampus kau dikoyak-koyak sepi// dari sajak Chairil Anwar, Sia-sia.

[3] Bait pertama lagu Nyanyian Rindu, digubah dan dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade.

This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Menanti Sebuah Jawaban

  1. rarajuli says:

    numpang bikin jempol disini deh. . .😀
    😀 Makasih

  2. Pingback: Menanti Sebuah Jawaban « ceritaviola

  3. Pingback: Menanti Sebuah Jawaban « ceritaviola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s