The Map of Love

the-map-of-love

Apa yang mesti dilakukan saat cinta datang menyerang? Anna Winterbourne dan Syarif Basya Al-Baroudi, tokoh utama novel The Map of Love, memilih untuk menyerah. Meski perbedaan keduanya begitu kontras – Anna seorang Inggris dan Kristen, Syarif seorang Mesir dan Islam, dan saat itu Inggris adalah penjajah Mesir – semua itu luruh. Demi cinta, Anna rela terasing dari pergaulannya dengan kalangan elit Inggris. Dan Syarif, sebagai seorang nasionalis yang menginginkan Inggris pergi, tetap mencintai Anna dengan sepenuh hati.

Tetapi novel karya Ahdaf Soueif, perempuan pengarang asal Mesir, ini bukan semata kisah cinta. Dengan tambahan judul untuk edisi Indonesia “Sebuah Novel tentang Kisah Cinta yang Menggugah”, dan tampilan kover yang juga menggugah, anggapan demikian bisa diterima pada pandangan pertama. Apalagi novel ini diterbitkan di tengah menjamurnya karya-karya sastra bertema cinta dan seksualitas, baik yang bercorak Islami maupun sekular. Kisah cintanya sendiri lurus-lurus saja. Anna, yang tengah berlibur ke Mesir pada tahun 1900, bertemu dengan Syarif, saling jatuh cinta, lalu menikah, punya anak dan bahagia.

Yang lebih menggugah pada novel ini, dan membuatnya pantas disebut sebagai novel besar, adalah karena kisah cinta itu digulirkan dalam konteks yang lebih luas, yakni sejarah dunia, khususnya Mesir, awal abad ke-20. Saat itu Mesir berada dalam jajahan Inggris, yang juga berbagi koloni dengan negara-negara Eropa lainnya di Afrika dan Asia. Sementara Zionis Israel mulai menggalang dukungan dari Eropa dan Amerika untuk mendirikan negara di tanah Palestina. Di lain pihak, ini adalah periode tumbuhnya kesadaran nasionalisme di kalangan bangsa-bangsa terjajah, runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani, dan lahirnya modernisasi di berbagai bidang, termasuk dalam pemikiran Islam yang di Mesir dipelopori oleh Muhammad Abduh.

Kisah cinta itu bergelora dalam arus sejarah sedemikian erat sehingga boleh dikatakan The Map of Love adalah kisah cinta sekaligus dokumen sejarah karena banyak peristiwa dan tokoh nyata di dalamnya. Hal ini tentu berkat riset yang dilakukan pengarangnya selama dua tahun sebelum penulisan novel. Unsur sejarah dalam novel ini hampir serupa dengan yang terdapat pada magnum opus Pramoedya Ananta Toer, tetralogi Bumi Manusia, yang menceritakan Indonesia dalam era kebangkitan nasional.

Tetapi potret Mesir awal abad ke-20 itu hanyalah satu latar dari dua kisah yang terdapat dalam novel berbentuk cerita berbingkai ini. Bingkainya adalah kisah kedua yang terjadi seratus tahun kemudian atau akhir abad ke-20. Kisah cinta itu kembali terulang, dengan latar waktu yang berubah. Kali ini antara Isabel Parkman, seorang jurnalis Amerika, dan Omar Al-Ghamrawi, musisi asal Mesir yang aktif berkampanye untuk pembebasan Palestina. Keduanya ternyata masih seketurunan dengan keluarga Syarif Al-Baroudi. Peta politik dunia telah bergeser, tetapi tak ada bedanya bagi Mesir, yang, meski telah merdeka, tetap berada di bawah pengaruh asing – yakni Amerika. Juga bagi Palestina yang kian kukuh dicengkram Israel.

Dua kisah itu disajikan bergantian, selang-seling, seperti mengajak pembaca melakukan perjalanan bolak-balik antara awal dan akhir abad ke-20. Rentang waktu yang cukup panjang, seratus tahun, dan dicantumkannya bagan silsilah keluarga di halaman awal, sekilas mengingatkan kita pada novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez. Novel ini disusun dalam empat bagian dengan nama judul yang unik. Diawali dengan Sebuah Awal (210 hlm.) yang menceritakan latar belakang Anna dan perkenalannya dengan Syarif, serta perkenalan Isabel dengan Omar; dilanjutkan dengan Akhir Sebuah Awal (180 hlm.) yang mematangkan getar-getar cinta di antara dua pasangan itu; lalu Awal Sebuah Akhir (304 hlm.) untuk pernikahan dan kebahagiaan mereka; diakhiri dengan Sebuah Akhir (12 hlm.) sebagai penutup. Tiap bagian dipecah dalam bab-bab lebih pendek yang ditandai dengan angka.

Terbit pada 1999, The Map of Love pernah masuk dalam daftar terpilih Booker Prize for Fiction. Ditulis dalam bahasa Inggris, Ahdaf yang orang Mesir itu begitu cermat melukiskan tempat, peristiwa, dan suasana batin tokoh-tokohnya, membuat kita seolah-olah hidup di dalamnya. Warna budaya Mesir pun terpelihara dengan tetap ditampilkannya ungkapan-ungkapan asli dalam bahasa Arab. Untuk itu pembaca akan dipandu oleh glosary di halaman akhir. Dengan bahasa yang jernih mengalir, didukung oleh kualitas terjemahan yang cukup sempurna, ketebalan novel ini tidak akan terasa sebagai beban, malah menjadi petualangan batin yang mengasikkan.

Nama Ahdaf Soueif relatif belum dikenal di kalangan publik sastra Indonesia. Dibandingkan pendahulu senegaranya semisal Najib Mahfudz atau Nawal El-Saadawi, mungkin novel ini adalah karya pertamanya yang diindonesiakan. Lahir di Mesir pada tahun 1950, Ahdaf meraih gelar doktor dalam bidang linguistik di Lancaster University, Inggris. Ia mengajar di Cairo University dan University of King Saud, dan sering menulis artikel di surat kabar dan majalah internasional. Buku pertamanya, Aisya (kumpulan cerpen, 1983), masuk dalam daftar terpilih Guardian Fiction Prize.

Tentu bukan kebetulan jika Ahdaf menakdirkan cinta pada tokoh-tokoh dengan latar belakang yang bukan hanya berbeda, tetapi berlawanan. Keinggrisan Anna dan persoalan kolonialisasi memang menjadi pikiran serius, namun hal itu tidak menghalangi keduanya untuk menyatukan cinta. Perbedaan agama, Kristen dan Islam yang sepanjang sejarahnya dipenuhi pertikaian, tidak dipersoalkan sama sekali, dan keduanya tidak pula saling mempengaruhi. Pada kisah cinta kedua antara Isabel dan Omar pun demikian. Lewat The Map of Love, seolah Ahdaf ingin mengatakan bahwa cinta lebih tinggi dari kategori apapun. Cinta mengalahkan segalanya, termasuk kepentingan yang bertentangan. Seandainya semua orang memilih jalan cinta, tentu takkan ada penjajahan dan penindasan terhadap sesama.

Yang menarik, semua persoalan itu dikemukakan dari sudut pandang perempuan. Tokoh-tokoh penting dalam novel ini umumnya perempuan (Anna, Layla, Isabel, Amal). Namun berbeda dengan tokoh perempuan dalam novel-novel Nawal El-Saadawi yang bereaksi terhadap sistem patriarki secara frontal, perempuan dalam novel Ahdaf adalah sosok-sosok lembut yang menanggapi ketidakadilan dunia secara halus. Bahkan terhadap cinta, reaksinya adalah penyerahan. Tetapi jangan salah, penyerahan dalam cinta bukanlah kelemahan, melainkan sebentuk kekuatan yang mendorong daya hidup dan perjuangan untuk meraih kebahagiaan. Dengan pemihakan yang gigih terhadap bahasa cinta, The Map of Love akan menjadi oase yang menyejukkan di tengah membudayanya kekerasan yang oleh sebagian kelompok dianggap sebagai solusi segala persoalan.[]

This entry was posted in Esai Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s