Hijrah Niat

677098

Setiap amal bergantung pada niatnya. Seseorang hanya akan memperoleh sebatas yang ia niatkan. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang berhijrah karena urusan dunia atau wanita, maka sebatas itulah yang ia dapat.”

Pesan Nabi Saw. menjelang dilaksanakannya hijrah ke Madinah itu terasa masih relevan untuk kita renungkan saat ini, terutama di tengah menguatnya kecenderungan materialisme di kalangan masyarakat kita. Banyak orang bekerja, namun niat material membuat hasil akhirnya berhenti pada hal-hal duniawi saja. Nilai hidup pun akhirnya menjadi sangat rendah dan minimal. Padahal, seperti kata Nabi di atas, seseorang hanya memperoleh sesuatu sebatas yang ia niatkan. Jadi, niat menentukan batas tertinggi yang mungkin dicapai seseorang. Batas tertinggi berarti pada kenyataannya bisa lebih rendah dari itu, atau malah tidak mendapat apa-apa sama sekali. Jika niatnya rendah, maka hasilnya pun rendah pula.

Kekeliruan niat bisa terjadi pada segala perbuatan, dalam segala tingkatan, dan bukan hanya terjadi pada perbuatan-perbuatan yang secara eksplisit tampak berupa pengejaran terhadap kenikmatan dunia, tetapi juga pada perbuatan yang bersifat altruistik (semisal membantu korban bencana alam). Penyimpangan niat tidak akan tampak dari luar, melainkan hanya dapat dirasakan oleh yang bersangkutan. Oleh karena itu kita sendirilah yang harus terus-menerus melakukan introspeksi, adakah di antara perbuatan kita yang tidak karena Allah. Kalau ingin usaha kita mencapai hasil yang maksimal, niatkanlah karena Allah. Allah itu Al-‘Aliy (Mahatinggi). Tidak ada yang lebih tinggi daripada Allah. Jika Nabi menyuruh kita berniat karena Allah, dapat dikatakan beliau mengijinkan kita menjadi orang paling ambisius. Masih adakah yang lebih ambisius selain keinginan mencapai Allah?

Niat yang benar diwujudkan dalam bentuk ibadah, yakni mengabdikan seluruh diri dan hidup hanya karena dan kepada Allah. Segala jerih payah kita tidak akan sia-sia karena Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang saat ini mungkin tidak bisa kita bayangkan. Dengan kesadaran ibadah, kita berbuat segalanya hanya karena Allah. Allah menjadi alasan utama kenapa kita melakukan sesuatu, dan menjadi sumber inspirasi mengenai apa yang kita lakukan. Bukankah maksud diciptakannya manusia ke dunia adalah untuk beribadah? Coba tengok ayat 56 surat adz-Dzariat (51), “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku“.

Hijrah niat berarti mengubah niat yang tadinya tidak baik menjadi baik, niat yang minimal menjadi maksimal, niat duniawi menjadi ukhrawi, niat non-ibadah menjadi niat ibadah, niat karena bukan Allah menjadi niat karena Allah. Inilah yang akan membawa hidup kita menjadi lebih berharga. Juga bangsa Indonesia secara keseluruhan akan menjadi bangsa bermartabat tinggi karena warganya menghendaki dan berniat untuk mencapai Kemuliaan Tertinggi. []

This entry was posted in Agama, Psikologi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Hijrah Niat

  1. Bayhaki Ramli says:

    niat memang menjadi basic dari segala hal, kekuatan seseorang juga bisa diukur sebesar apa niatnya. nawaitu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s