Membuat SIM

Pandeglang, Jumat, 19 Desember 2008

Saya mengajukan permohonan membuat SIM (Surat Izin Mengemudi) di Polres Pandeglang. Saya datang pukul 9 pagi, ada belasan orang sedang mengantri.

Di dinding depan ruang pembuatan SIM, terpampang pengumuman tarif resmi membuat SIM, yakni Rp. 75.000 untuk SIM baru dan 60.000 untuk perpanjangan. Di dinding dan kaca sekitar situ, ada sejumlah tulisan “Awas Calo”, “Kami Tidak Menerima Suap”, “Mohon untuk Tidak Menyuap Petugas”, dan semacamnya.

Dokumen yang diperlukan untuk membuat SIM mudah saja, yakni 2 lembar fotokopi KTP dan surat keterangan sehat dari dokter. Fotokopi KTP sudah saya siapkan, sedangkan surat dokter bisa dibuat di pos kesehatan di dalam komplek kepolisian. Tarifnya 25 ribu.

Setelah dua macam dokumen itu diserahkan kepada petugas, saya dan beberapa orang lain digiring ke sebuah ruangan untuk melaksanakan tes tertulis. Di sana sudah ada belasan orang sedang mengisi soal-soal. Tanpa banyak kesulitan, saya mengisi soal-soal itu dan menyerahkannya ke petugas.

Setelah itu saya disuruh menunggu panggilan.

Saya duduk di deretan kursi pengunjung.

Hampir sejam kemudian, nama saya dipanggil bersama seorang lagi. Berdua kami duduk di depan meja seorang petugas polisi. Kepada kami, petugas itu bertanya apakah kami akan mengikuti tes mengemudi? Kalau iya, tesnya dilaksanakan besok (Sabtu). Kalau tidak, SIM bisa diambil hari itu juga (Jumat), biayanya 150 ribu.

Orang di sebelah saya memilih jalan cepat. Saya juga. Maka kami disuruh masuk ke ruang foto, dan tak lama kemudian kartu SIM kami selesai dibuat.

Total proses menghabiskan waktu sekitar 2 jam.

Total biaya adalah 175 ribu. 150 ribu untuk SIM dan 25 ribu untuk surat dokter. (Dibandingkan tarif SIM di Jakarta dan sekitarnya yang mencapai 310 ribu, biaya pembuatan SIM di kabupaten Pandeglang relatif jauh lebih murah).

Dihitung dari tarif resmi, saya rugi 75 ribu rupiah.

Kalau saja saya memilih mengikuti tes driver, mungkin saya hanya akan membayar sejumlah tarif resmi.

Tapi di situlah saya melihat kecerdikan para petugas. Mereka tahu mayoritas para pemohon, terutama yang datang dari jauh, pasti menginginkan SIM bisa diambil hari itu juga. Maka mereka memberikan dua pilihan: tarif resmi tapi ikut tes mengemudi dan tesnya dilakukan besok, atau SIM jadi saat itu juga tapi tarif dinaikkan dua kali lipat.

Psikologi masyarakat adalah ingin cepat. Dan polisi berhasil memanfaatkan hal itu dengan tepat. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Membuat SIM

  1. SERSAN ENTOT says:

    Bravo INDONESIA tanah air ku, gimana mahu anti korupsi, kalau tarif dan ketentuannya yang demikian, kalau begitu 10 tahun mendatang akan muncul tarif baru di PUSKESMAs yang bunyinya : SEMUA KOSNYA RP30.000 TAPI AMBIL OBATNYA BESOK, KALAU MAHU OBATNYA INI HARI TARIFNYA RP100.000

    coba kalian pikir…..kalau polisi sebagai benteng keadilan bisa makan uang sedemikian rupa bagaimana pula karyawan puskesmas…jawabnya MATI KAU ORANG MISKIN

    Asepso:
    Memang menyedihkan sekali ya, negeri kita ini dan orang-orangnya. Saya pun termasuk ke dalamnya: memilih bayar lebih mahal agar SIM selesai lebih cepat.
    Sayangnya waktu itu saya punya uang.
    Kalau tidak, tentu saya tidak akan membuat pak polisi korupsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s