Tragedi Perempuan yang Melebihi Laki-laki

677057

Di bagian akhir novel Medali Wasiat karya Chin Yung, terdapat dialog antara Ciok Jing (seorang lelaki) dengan Bwe Hong-koh. Bwe Hong-koh adalah seorang wanita yang hebat dalam banyak hal. Ia menanyakan kenapa dulu Ciok Jing tidak menerima cintanya, malah memilih Bin Ju yang kalah cantik dan dalam hal-hal lain juga kalah darinya.

Beginilah dialog itu:

“Kau… kau merusak wajah sendiri, buat apa sih?” Ciok Jing menggumam haru.

“Buat apa? Buat apa? Wajahku dahulu dengan wajah Bin Ju sebenarnya siapa lebih cantik?” tanya Bwe Hong-koh.

Untuk sejenak Ciok Jing menjadi ragu-ragu sambil memegangi tangan sang istri, akhirnya ia menjawab, “Pada 20 tahun yang lalu engkau adalah wanita cantik yang termasyhur di dunia persilatan. Meski wajah istriku tidaklah jelek, tapi tak dapat menandingi kau.”

Bwe Hong-koh tersenyum dan mendengus satu kali. “Lalu tentang ilmu silatku dahulu kalau dibandingkan Bin Ju siapa yang lebih tinggi?” tanya Hong-koh pula.

“Bwe-hoa-kun keluargamu ditambah dengan macam-macam ilmu silat aneh dari keluarga Ting, sudah tentu kepandaian istriku yang belum sempurna waktu itu tak dapat menandingi engkau,” sahut Ciok Jing.

“Dan tentang ilmu kesusastraan siapa lagi yang lebih pandai?” tanya Hong-koh lagi.

“Engkau pandai mengarang dan mahir bersyair, kami suami-istri mana dapat menandingi kau,” sahut Ciok Jing.

Dalam pada itu dengan tertawa dingin Bwe Hong-koh telah berkata, “Jika begitu, mungkin pekerjaan tangan dan kepandaian di dapur adik Bin ini lebih mahir daripada diriku?”

“Tidak, memegang jarum saja istriku tak bisa, menggoreng telur saja dia juga tidak mahir, mana dia dapat menandingi keterampilanmu,” sahut Ciok Jing sambil menggeleng.

“Habis apa sebabnya bila bertemu dengan aku sedikit pun kau tidak memperlihatkan sikap yang ramah, sebaliknya jika berada bersama Bin-sumoaymu lantas banyak omong banyak tertawa? Sebab apa… sebab apa…?” sampai di sini suara Hong-koh sampai gemetar.

“Aku sendiri pun tidak tahu, Nona Bwe,” sahut Ciok Jing perlahan. “Segala apa engkau melebihi Bin-sumoay, bahkan melebihi aku. Bila berada bersama kau aku merasa rendah dan merasa tidak sesuai mempersunting dikau.”

Untuk sekian lamanya Bwe Hong-koh termangu-mangu, mendadak ia menjerit terus berlari ke dalam rumah gubuk.

(Tak lama kemudian, ia ditemukan mati bunuh diri -pen).

Tragis. Alasan Ciok Jing tidak memilih Bwe Hong-koh justru karena Bwe Hong-koh terlalu hebat.

Dialog di atas bukan merupakan persoalan pokok dalam novel. Tetapi beberapa kali saya tertegun saat membaca dialog ini. Ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang menyedihkan tentang nasib perempuan yang melebihi laki-laki.

Saya sama sekali tidak menangkap kesan bahwa Chin Yung seorang misoginis (suka merendahkan perempuan). Dia hanya melukiskan dan menyarikan sebuah fakta tentang suatu persepsi yang umum di masyarakat, bahwa perempuan tidak boleh melebihi laki-laki, sebab hal itu akan membuat laki-laki jadi minder dan meskipun kagum tetap tidak akan jatuh cinta kepadanya.

Laki-laki tidak mau dilebihi oleh perempuan karena laki-laki merasa dirinya harus menjadi pemimpin bagi perempuan. Sebagai pemimpin, ia harus lebih hebat, lebih kuat, lebih pandai, lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih kaya, dsb.

Oleh karena itu, jika seorang perempuan ingin menarik hati seorang laki-laki, hendaknya ia tidak menempatkan dirinya melebihi si laki-laki dalam hal-hal yang bisa membuat si laki-laki merasa rendah diri. Laki-laki lebih suka mencari istri yang lebih rendah levelnya (pendidikannya, kekayaannya, status sosialnya, dsb), atau maksimal setara dengan dirinya.

Begitulah persepsi di masyarakat. Persepsi semacam ini berdampak negatif. Misalnya, perempuan akan merasa mendingan tidak usah sekolah tinggi karena akan susah mendapatkan jodoh. Perempuan akan memilih tidak meneruskan karir ke jenjang lebih tinggi daripada jadi perawan tua.

Akhirnya perempuan tidak termotivasi untuk maju. Perempuan akan selalu memosisikan diri di bawah atau di belakang laki-laki.

Memang sekarang ini semakin banyak kaum perempuan yang bersekolah atau berkarir hingga mencapai gelar atau status yang tinggi. Namun karena persepsi di atas masih terpelihara di masyarakat, tampaknya kebanyakan dari perempuan semacam itu terpaksa harus mengalami nasib tragis dalam percintaan (antara lain susah mendapatkan jodoh).

Sayang sekali.[]

This entry was posted in Gender, Sosial and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tragedi Perempuan yang Melebihi Laki-laki

  1. ezi says:

    Hal penting yang harus digarisbawahi adalah keadilan gender untuk perempuan dan mendistorsi patriarki yang selama ini mengkotak-kotakan peran perempuan…

    numpang lewat bozzz…

  2. animusparagnos says:

    Saya pikir sama sekali tidak tepat bila perempuan yang sejajar atau melebihi laki-laki disebut sebagai tragedi. Dengan pendidikan atau karir yang mampu dicapai perempuan masa kini walaupun berbanding terbalik dalam masalah jodoh, tetaplah sebuah pencapaian. Jodoh bukan harga mati, dan walaupun perempuan menemukan kebahagiaannya dalam ketiadaan jodoh itulah eksistensinya.

    Sebuah pemikiran yang egois ketika laki-laki tidak bisa menghargai pencapaian seorang perempuan. Kekuatan dan kedewasaan laki-laki bukan muncul dengan menjadikan perempuan di posisi kedua. Tapi kekuatan, kedewasaan, dan kebijaksanaan adalah potensi manusia.

    Seharusnya judul yang tepat adalah “Tragedi Laki-laki yang Takut Dilebihi Oleh Perempuan”

  3. hani says:

    yup, betul, judulnya ganti aja: tragedi laki-laki yang takut dilebihi oleh perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s