Cathar Psikologi Kesehatan

Nogadin-Flower (flickr.com)

Nogadin-Flower (flickr.com)

Ciputat, Selasa, 6 Januari 2009

Siang, Mendapat Tugas Mata Kuliah Psikologi Kesehatan

Siang ini di kelas Psikologi Kesehatan, sehabis menamatkan presentasi kelompok yang berjumlah 12, Ibu Guru Psikologi Kesehatan, Neneng Tati Sumiati, mengumumkan sebuah tugas yang harus dikerjakan tiap kelompok. Tugas ini sebenarnya sudah direncanakan di awal perkuliahan. Tadinya, tugas itu adalah membuat pamflet tentang promosi kesehatan untuk ditempelkan di area fakultas. Namun kali ini Ibu Guru memberikan lebih banyak pilihan. Mahasiswa boleh membuat pamflet (seperti rencana awal), atau membuat training tentang kesehatan, atau membuat proposal kegiatan di bidang kesehatan, atau apa saja.

Saya berkata (kata-kata saya sudah diedit), “Bu, rasanya saya belum pantas melakukan semua itu (promosi atau kampanye kesehatan). Saya ingin memerbaiki diri lebih dulu, karena mengajak orang lain itu pertanggungjawabannya berat.”

Artinya, dalam pikiran saya waktu itu, sebelum kita mengajak orang lain supaya berperilaku sehat, diri sendiri harus sudah sehat terlebih dahulu. Misalnya, saya harus sudah tidak merokok sebelum menyuruh orang berhenti merokok. Saya tahu sebetulnya tidak harus begitu. Kita bisa dan boleh mengajak orang lain sambil kita sendiri memerbaiki diri.

Ibu Guru menjawab (kata-katanya juga sudah diedit), “Ya terserah. Tapi saya membutuhkan sesuatu (sebuah tugas) yang bisa dibuktikan pelaksanaannya.”

Persoalannya jelas: bagaimana membuktikan kepada Ibu Guru bahwa saya telah melakukan upaya promosi kesehatan terhadap diri sendiri?

Bisa saja saya melakukan serangkaian program kesehatan untuk pribadi, misalnya berolahraga (lari, jogging, sepak bola, fitnes, dll) tiap pagi atau sore, berhenti merokok, tidur yang cukup (artinya, tidak berlebihan J), makan teratur, menghindari masakan bermecin, menghindari makanan berlemak tinggi (sebetulnya saya membutuhkan lemak dalam jumlah banyak J), minum susu tiap hari (biar 4 sehat 5 sempurna), selalu membuang sampah pada tempatnya, mengurangi memproduksi sampah, selalu memakai helm tiap kali naik motor, selalu mencuci tangan sebelum makan, mandi dua kali sehari, gosok gigi sebelum tidur dan sehabis makan, rajin menyapu dan membersihkan rumah, tidak membiarkan diri jatuh larut dalam stres, dll. Tapi bagaimana membuktikan kepada Ibu Guru bahwa saya telah melakukan semua itu?

Tapi ternyata sejak siang itu di hati saya sudah terniatkan untuk melakukan hal-hal yang sulit dibuktikan itu dan menjadikannya sebagai tugas pribadi untuk mata kuliah Psikologi Kesehatan. Pelaporannya adalah lewat tulisan: saya akan menghimpun catatan harian ini dan menyerahkannya kepada Ibu Guru pada harinya (31 Januari 2009).

Pembuktiannya?

Saya percaya kepada diri saya sendiri. Saya percaya bahwa saya tidak akan mencatat hal-hal yang tidak saya lakukan.

Tapi apakah Ibu Guru juga akan percaya?

Memang di sinilah masalahnya. Tapi selama saya tidak berdusta, saya tidak perlu merasa terganggu dengan apapun yang ada di hatinya (baik beliau percaya atau tidak).

Tapi ada yang lebih penting dari itu. Saya akan menerbitkan catatan harian tentang kesehatan ini di blog pribadi saya, https://bermenschool.wordpress.com, setiap kali saya mampir di warnet.

Jika inti dari tugas mata kuliah adalah melakukan promosi kesehatan, maka menerbitkan catatan harian ini di blog sudah termasuk bagian dari itu. Blog saya sekarang ini dikunjungi oleh rata-rata 50 orang setiap hari. Sebagian di antara mereka pastilah ada yang nyasar ke cathar ini. Saya akan mencantumkan tag-tag yang biasanya selalu ada yang mencari, antara lain: psikologi, kesehatan, psikologi kesehatan, promosi kesehatan, kampanye kesehatan, dll (selebihnya dipikirkan nanti, bergantung perkembangan istilah-istilah yang muncul dalam tulisan ini).

Pagi, Mengelap Kaca Jendela

Sebetulnya, beberapa jam sebelum tugas kelompok (saya menjadikannya tugas pribadi) diberikan, pagi harinya saya telah melakukan sesuatu yang tidak biasa: mengelap kaca jendela.

Seingat saya, terakhir kali jendela dan kaca jendela rumah (kontrakan) saya dilap adalah sekitar setahun lalu (pokoknya lama sekali). Selebihnya, paling-paling saya menyapu kaca jendela dengan sapu kalau sesekali saya menyapu sampai depan rumah. Tak heran kalau jendela, kaca, dan kusen-kusennya kotor sekali; debu-debu berkerak, jelaga, sarang laba-laba rumah, dan nyamuk.

Saya mengelap jendela sambil bernyanyi-nyanyi. Rasanya menyenangkan sekali melakukan satu hal yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Pada saat itu, saya berbicara kepada diri sendiri, “Aku akan melakukan hal-hal yang berbeda tiap hari.”

Melakukan hal-hal yang berbeda tiap hari.

Kalimat tersebut menyiratkan tiga poin penting (ini yang terpikir oleh saya saat menulis catatan).

Pertama, kreativitas. Ciri orang kreatif adalah mampu melihat secara berbeda terhadap suatu hal (berpikir out the box dan outward looking). Hasil penglihatan yang berbeda hanya mungkin jika tempat melihatnya berbeda. Misalnya kita melihat lukisan, antara melihat dari depan, dari samping kiri, dari samping kanan, dari sudut bawah, dari sudut atas, sudut kiri, sudut kanan, di tengah agak ke kanan, di tengah agak ke kiri, di kiri agak ke bawah, di kanan agak ke atas, dan dari belakang (masa?) pasti hasilnya berbeda. Minimal dalam hal berkas-berkas cahaya yang memantul ke mata kita.

Tindakan sehari-hari ibarat tempat saat melihat lukisan. Dalam hal ini, saya yakin tindakan memengaruhi pola pikir. Orang yang sehari-harinya duduk di belakang meja pasti berbeda pola pikirnya dengan orang yang sering mendaki gunung, berbeda dengan orang yang tiap hari duduk di belakang setir, berbeda dengan orang yang sehari-harinya main bola, berbeda dengan orang yang boleh masuk kantor tanpa perlu seragam kerja, berbeda dengan orang yang tidak melakukan apa-apa.

Melakukan hal-hal yang berbeda setiap hari akan meningkatkan kreativitas. Setidaknya begitulah yang saya harapkan.

Kedua, sebagai suatu taktik untuk mengurangi atau menghindari stres. Stres bisa timbul karena kebosanan akibat pola hidup yang monoton. Jika ingin pikiran kita lebih fresh, melakukan sesuatu yang baru dan berbeda dari sebelumnya adalah saran sederhana yang hasilnya cukup efektif.

Ketiga, iseng. Mungkin saja suatu hari, saking terobsesi gagasan bahwa hari ini harus berbeda dengan hari kemarin, saya akan mengendarai motor tanpa membawa SIM dan STNK lalu berhenti di depan polisi di pinggir jalan untuk minta ditilang. (Ide ini tidak orisinal; Pidi Baiq pernah melakukannya. Ia berhenti di depan polisi melaporkan bahwa ia lupa membawa SIM dan STNK, lalu kena tilang 50 ribu. Tapi beberapa puluh meter kemudian, ia balik lagi ke tempat si polisi dan berkata bahwa SIM dan STNK-nya telah ditemukan).

Mungkin saja suatu hari saya akan berloncat-loncatan di depan rumah saya seratus kali, atau berzikir membaca qulhu seribu kali, atau lari sejauh sepuluh ribu meter, atau naik ke atas atap menghitung perbandingan tanah kosong dengan tanah yang ada rumahnya.

Tapi sebisa mungkin iseng saya harus berguna, setidaknya bagi jiwa saya (artinya, perbuatan itu asyik bagi saya).

Oke. Kembali ke soal mengelap kaca jendela. Kegiatan ini saya yakin sangat baik ditinjau dari psikologi kesehatan. Rumah yang bersih, rapi, bebas debu dan sarang laba-laba, akan lebih menyehatkan bagi penghuninya dan menyenangkan untuk ditinggali.

Tak banyak yang ingin saya tuliskan soal mengelap kaca. Mengelap kaca ya mengelap kaca. Saya membasahi handuk yang sudah tidak terpakai lalu menggesek-gesekkannya di permukaan kaca dan jendela. Begitu saja. Bling-bling deh.

Setelah itu saya menggerak-gerakkan otot sambil ngaca. J

Sore, Naik Sepeda

Sehabis kuliah saya mengerjakan pekerjaan rutin saya, mengedit naskah buku ceramah untuk Masjid Agung Sunda Kelapa. Selesai sebelum magrib. Sehabis magrib, saya membawanya ke percetakan (CV. Makmur Abadi) di dekat pom bensin Ciputat. Jaraknya dari kosan saya hanya sekitar 700 meter.

Karena jalanan masih basah dan becek akibat hujan, saya pergi ke sana mengendarai sepeda kumbang merk Phonix keluaran tahun 80-an. Sudah beberapa hari ini saya berpikir, kalau hari hujan (atau habis hujan) dan jaraknya tidak terlalu jauh, lebih baik memakai sepeda daripada motor.

Ditinjau dari sudut psikologi kesehatan, saya rasa pemikiran ini dapat disetujui. Pertama, saya tidak mau motor saya kotor. Kalau motor saya kotor, sedikit banyak hal ini akan menimbulkan beban di pikiran saya.

Kalau yang kotor adalah sepeda, beban pikirannya relatif tidak ada.

Kedua, kendaraan bermotor menimbulkan polusi udara berupa gas CO2 dan gas-gas lain dari knalpot motor. Gas-gas ini tidak baik bagi kesehatan.

Ketiga, kalau saya mengendarai motor, bensin motor saya akan berkurang. Pemborosan merugikan kesehatan, yakni kesehatan keuangan.

Malam, Menulis Catatan

Saya menulis catatan harian ini. Mulai pukul setengah delapan, berakhir pukul setengah sepuluh. Dua jam.

Untuk berikutnya, saya mungkin akan mengalokasikan waktu satu jam saja setiap hari. Atau mungkin tidak usah setiap hari, melainkan bergantung ada tidaknya kegiatan saya yang patut dicatat berkaitan dengan psikologi kesehatan.

O ya, satu hal penting: seharian ini saya tidak merokok satu batang pun. Kemarin saya merokok dua batang (rekor merokok saya dalam satu bulan terakhir), hari kemarinnya satu batang, dan hari-hari sebelumnya satu atau dua batang.

Oke. Selamat malam. Sekarang saya akan tertawa bersama Budi Anduk di Tawa Sutra XL ANTV. J J J

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s