Cathar PK2: Nasi Bungkus, Rokok, dan Hal2 Lain

Ang... I miss u..!

Aang... I miss u..!

Ciputat, Rabu 7 Januari 2009

Pagi; Nasi Bungkus, No!

Saya sarapan nasi uduk di perempatan Sedap Malam (belakang Asrama Putra UIN). Saya duduk di bangku panjang, makan seraya menyaksikan orang-orang berlalu-lalang. Beberapa di antara mereka saya kenal dan saya sapa.

Di dekat nasi uduk ada tukang sayuran yang biasa mangkal. Saya sudah ngambil selunjur peuteuy (pete), tapi setelah tahu harganya 1500 rupiah, saya letakkan lagi. Masalahnya, nasi uduk plus oreg tempe yang saya makan saja harganya cuma 2500. Masa harga lalab (bunga) lebih dari setengah harga nasi (pokok)?

O ya, biasanya saya beli nasi uduknya dibungkus, makan di depan tivi sambil nonton serial kartun-kartun lain dan Avatar. (Sengaja saya sebut “kartun-kartun lain dan Avatar” karena setelah Avatar saya tidak menonton acara lain lagi). Sekarang serial Avatar tidak jelas lagi jadwalnya, dan hanya mengulang-ulang episode-episode lama. Entah kapan selesainya?

Sejak beberapa bulan ini, saya menghindari beli nasi dibungkus, kecuali terpaksa. Bekas bungkus nasi adalah sampah. Kalaupun saya harus beli nasi bungkus, saya usahakan membawa kantong plastik sendiri dari rumah. Kantong plastik bekas juga sampah. Saya tidak suka. Kantong plastik dan bungkus nasi (yang juga mengandung plastik) kalau sudah jadi sampah bisa merusak lingkungan, sukar diurai, dan tidak bisa didaur ulang.

Mengurangi memproduksi sampah termasuk program pribadi saya dalam bidang kesehatan.

Dalam konteks yang lebih luas, hal ini juga merupakan bagian dari upaya mencegah/mengurangi global warming (pemanasan global).

Sehabis sarapan, saya mengepel lantai kamar dan ruang tengah. Ini sesuatu yang jarang saya lakukan, tapi mulai sekarang saya akan melakukannya lebih sering. Sebelum ini, biasanya rumah saya paling-paling hanya disapu ringan.

Satu hal yang membuat mengepel menjadi berat dilakukan adalah karena saya tahu tak lama lagi ruang tengah itu akan kotor kembali oleh orang-orang yang beraktivitas di situ (nonton tivi, ngobrol, makan mie rebus, ngopi, merokok, dll), yaitu kawan-kawan satu kontrakan, termasuk saya sendiri.

Sore; Lompat-lompat di Ubin

Hal berbeda yang saya lakukan hari ini, selain ngepel di pagi hari, adalah melompati ubin di ruang tengah. Dulu saya sering melakukannya, tapi tidak istiqamah. Dulu saya mampu melompati delapan ubin, sekarang prestasi saya tidak beranjak. Satu ubin lebarnya 30 cm. 8 ubin berarti 240 cm, sama dengan 2,4 meter. Itulah jarak lompatan kaki saya tanpa ancang-ancang.

Saya melakukan lompatan hingga belasan kali. Awal-awalnya kurang dari 8 ubin, tapi lama-lama lewat sedikit. Satu saat saya ingin memecahkan rekor pribadi ini, menjadi 9 atau 10 ubin. Artinya, mulai sekarang saya akan istiqamah melompati ubin tiap hari. Rasanya lumayan. Pinggang dan sekitarnya jadi lebih liat dan otot betis jadi lebih kuat.

Tapi akibatnya juga lumayan. Lewat magrib hingga malam, saya merasa pergelangan kaki saya kram dan terasa sakit kalau kaki saya diputar. Saya tahu, rupanya saya tidak melakukan pemanasan yang cukup sebelumnya, ditambah ini adalah lompat-lompatan yang pertama setelah absen beberapa bulan.

Pelajaran untuk hari ini: pertama, jika hendak melompati ubin, lakukan pemanasan secukupnya. Kedua, untuk awal-awal, lakukan sedikit kali saja, jangan sekaligus banyak.

Kasusnya sama seperti kalau kita sudah lama tidak pernah lari, lalu suatu pagi kita lari keliling lapangan, jangan langsung lima putaran. Cukup satu putaran dulu, besok tingkatkan jadi dua putaran, dan seterusnya. Kalau langsung banyak, rasakan saja besok pagi tidak bisa bangun dari tidur.

Malam; Dua Batang Rokok

Saya pergi ke warnet al-Biruni di Kertamukti untuk mem-posting catatan hari kemarin di blog. Di warnet, saya ketemu teman yang bawa rokok, maka saya tidak bisa menolak tawarannya.

Saya merokok satu batang Marlboro. Tidak enak. Tapi habis juga.

Hal positif dari aktivitas ini, saya mulai merasakan bahwa merokok itu tidak enak.

Sialnya, sepulangnya dari warnet, di rumah saya ada seorang teman tengah berkunjung, dia membawa sebungkus rokok Avolution. Kembali saya mengutip sebatang rokok yang diameternya tak lebih besar dari lidi itu. Lagi-lagi rasanya tidak enak.

Seharian ini total saya menghabiskan dua batang rokok.

Rokok itu benar-benar benda yang aneh. Pada dirinya sendiri ia tidak enak, tapi banyak orang mencintainya.

Selain rokok, ada beberapa benda yang pada dirinya sendiri tidak enak, tapi tetap disuka oleh sebagian orang. 1] arak; 2] kopi; 3] teh; 4] pete; 5] jengkol; 6] sambel; 7] jamu; 8] narkoba.

Benda-benda itu disukai orang bukan karena rasanya enak, tapi karena efek yang ditimbulkannya. Jika ada yang tidak setuju dengan ungkapan ini, mungkin karena orang itu sudah terbiasa sehingga lupa saat pertama kali merasakannya.

Saya tidak pernah minum arak setetespun, tapi dari cerita-cerita yang pernah saya dengar atau saya lihat, seorang pemula akan tersedak muntah saat meminumnya. Barulah setelah efek arak merasuki otaknya, dia lupa akan rasanya yang pertama kali.

Kopi dan teh itu pahit. Makanya orang harus menambahkan gula.

Jamu juga pahit. Tapi sebuah obsesi akan kesehatan dapat mengalahkan kepahitan.

Pete dan jengkol, kalau dimakan langsung sendirian, rasanya hanya segelintir orang yang terbiasa. Barulah kalau dicampur nasi dan apalagi pakai sambel, makan yang biasanya satu piring bisa nambah jadi tiga piring (kecuali orang yang takut kegemukan). Pete, jengkol, dan sambel adalah penyedap makan alamiah.

Narkoba tidak perlu saya bahas.

Membeli Obat Sariawan

Saya percaya setiap orang dilahirkan dengan bakat tertentu yang berbeda dengan orang-orang lainnya. Penyakit juga termasuk hal yang mungkin merupakan bakat. Ada orang yang tampaknya mudah terkena penyakit tertentu, sementara orang lainnya mudah terkena penyakit tertentu lainnya.

Penyakit yang menjadi bakat saya adalah sariawan. Sepertinya, sejak saya mulai memiliki kesadaran dan ingatan, saya telah dihinggapi penyakit sariawan dan tidak pernah berhenti hingga sekarang.

It’s a tragedy of life.

Untungnya penyakit-bakat saya bukan sakit kepala atau sakit gigi atau flu, dan terlebih bukan thalasemia atau AIDS.

Sariawan relatif tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Memang kalau sedang parah sekali, bicara pun tidak bisa. Kalau sedang-sedang saja, menyanyi jadi terganggu. Tapi selebihnya tidak masalah.

Untungnya lagi, karena sariawan tampaknya saya relatif kebal terhadap penyakit-penyakit lainnya. Sepanjang tahun 2008, saya tidak pernah demam barang sehari pun, tidak pernah sakit gigi, tidak pernah flu. Bahkan saya belum tahu bagaimana rasanya sakit kepala karena seumur hidup saya tidak pernah sakit kepala, migrain, atau yang semacamnya (dan saya tidak ingin tahu). Sakit lambung (maag) pernah sekali saya alami berbarengan dengan saat saya terkena tipes yang juga sekali.

Saya hampir yakin bahwa sariawan saya telah mengusir potensi penyakit-penyakit lain dari tubuh saya.

Terima kasih sariawan. Tapi saya tetap ingin menjauhkanmu dariku.

Makanya sepulang dari warnet saya mampir di klinik UIN, beli sebotol boraks gliserin (GOM). Harganya 1600 rupiah. Obat ini berupa cairan bening yang diteteskan ke bagian mulut yang luka. Di sampul obat tertera logo bulatan hijau, kalau tidak salah merupakan tanda obat luar. Tapi saya sering menelannya, habis rasanya manis sih.

Orang-orang menyarankan agar saya mengonsumsi buah-buahan tiap hari, vitamin C, dsb. Semua itu sudah saya lakukan. Boleh dikatakan, konsumsi harian saya sudah memenuhi 4 sehat 5 sempurna (nasi, ikan, sayuran, buah-buahan, dan susu). Ditambah suplemen seperti tablet hisap vitamin C. Tapi bahwa saya tetap sariawan, itulah yang membuat saya berkesimpulan bahwa penyakit ini merupakan bakat alamiah atau bawaan saya sejak lahir, meski bukan berarti penyakit turunan.

Ok coy. Hari ini cukup. Sudah pukul 12 malam. Waktunya tidur. Zzzzzz…

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Cathar PK2: Nasi Bungkus, Rokok, dan Hal2 Lain

  1. Pingback: Environment and nature » Blog Archive » Cathar Psikologi Kesehatan 2

  2. astriani says:

    Blog yang keren. Kunjung balik ke blog saya di http://www.astriani.wordpress.com. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s