Cathar PK3: Warung Makan Mang Sadi

Ciputat, Kamis, 8 Januari 2009

Hal berbeda yang saya lakukan hari ini ada dua:

Pertama, membersihkan kamar mandi. Ini adalah kegiatan yang belum tentu dilakukan satu bulan sekali. Tapi sekarang saya akan melakukannya lebih sering seperti halnya mengepel lantai.

Kedua, makan siang di warung Sadi. Warung makan ini tidak berpapan nama. Orang-orang kadang menyebutnya Warsun karena yang dijual di situ masakan Sunda. Pemiliknya berasal dari Bogor. Warung makan milik Mang Sadi terletak di ujung jalan Semanggi II, dekat Aula Insan Cita HMI.

Warung Sadi selalu laris. Walaupun sekarang di sekitarnya ada 4-5 warung makan, warung Sadi tetap tak tergantikan dan tak terkalahkan kelarisannya. Menunya beragam, sayurannya macam-macam, dan sambelnya keren. Kalau saya makan di situ, menu favorit saya adalah jengkol, leunca pake oncom, dan terong. Ikannya bisa apa saja, dan apapun enak. Ada juga lalab mentah berupa daun-daunan, lupa daun apa namanya, rasanya asem-asem sepet (rasanya mirip kemangi), gratis.

Nilai plus lain: harganya murah. 5000 bisa makan nasi plus ayam, 4000 pake ikan bandeng atau tongkol. Sering terjadi Mang Sadi memberi harga asal sebut saja dan lebih murah dari patokan kita, walaupun kadang-kadang lebih mahal.

Warung Makan Mang Sadi hanya buka setengah hari, kira-kira pukul 2 atau 3 sudah habis. Hari Minggu dan hari libur tutup. Pemiliknya tidak begitu ngoyo dalam mencari rezeki. Di hari-hari libur, Mang Sadi sering terlihat mancing di empang-empang sekitar Situkuru. Kelihatannya dia sudah mendapatkan apa yang dia cita-citakan dalam hal duniawi. Menurut sejarah, Mang Sadi sudah membuka warung makan di tempat itu sejak tahun 80-an. Orang-orang terkenal semacam anggota DPR Ade Komaruddin konon pernah ngutang di warung ini. Alumni-alumni HMI dan terutama HMB (Himpunan Mahasiswa Banten) rata-rata punya ikatan emosional khusus dengan Warung Sadi. HMB kalau mengadakan acara, kateringnya pasti dari Warung Sadi.

Bagi saya, masakan Sadi adalah yang paling enak se-Ciputat. Istimewanya warung ini dapat digambarkan dalam satu kalimat: “Seandainya warung Sadi dekat dengan kosan saya, saya pasti akan lebih bahagia.”

O ya, sehari-hari saya makan di warung Bu Romlah, persis di belakang Asrama Putra UIN. Rasa masakannya cukup bisa diterima lidah.

Kok jadi ngomongin warung makan?

Ya, memang tidak banyak yang bisa saya ceritakan hari ini berkaitan dengan psikologi kesehatan. Olahraga hanya pemanasan rutin: gerak badan dan push up belasan kali. Coba lompat ubin, otot perut saya masih sakit bekas kemarin.

Tambahan: hari ini saya tidak merokok sehisap pun. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s