Cathar PK5: Kecemasan dan Psikoneuroimunologi

Bayah, Senin 12 Januari 2009

1

Jalan bareng cewek itu menyenangkan. Tapi juga menimbulkan sesuatu yang lain, sesuatu yang dapat menggerogoti kesehatanku.

Kegelisahan.

Kecemasan.

Penyebabnya sederhana: karena jalan bareng cewek pada hari Jumat itu adalah jalan bareng yang pertama.

Kalau jalan bareng yang kedua sudah datang, mungkin rasa cemas dan gelisah ini akan segera hilang.

Tapi entah juga. Manusia hidup tak pernah henti dilanda cemas. Mungkin akan datang kecemasan yang lain, kecemasan yang belum kuketahui bentuknya.

Mungkin pula kecemasan yang serupa, karena manusia kerapkali pelupa.

Sepertinya hanya ada satu jenis orang yang tidak pernah cemas, yaitu orang yang yakin.

Bahkan sekalipun keyakinan itu palsu, tak jadi soal baginya sepanjang dia tidak tahu.

Kadangkala tidak tahu lebih baik daripada tahu.

Jika suami selingkuh, seorang istri akan tetap bahagia jika ia tidak tahu.

Seorang pelaku bom bunuh diri akan tetap yakin dirinya masuk surga walaupun tindakannya itu sebetulnya hasil rekayasa pihak intelijen musuh, asalkan ia tidak tahu.

Hanya orang yang yakin yang masih mungkin untuk bahagia. Orang yang ragu tidak.

Sialnya, aku termasuk golongan kedua.

2

Jika kecemasan dan kegelisahan ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin aku akan mengalami sakit. Sakit fisik.

Dari sebuah diskusi di kelas Psikologi Kesehatan, aku mengenal satu istilah yang disebut “psikoneuroimunologi”. Kurasa istilah ini terlalu panjang dan agak susah dilafalkan. Tapi maksudnya kira-kira bahwa ketahanan tubuh (sistem imun) menghadapi penyakit dipengaruhi oleh kondisi psikis. Jika kondisi psikis buruk (cemas, gelisah, stres), sistem imun akan melemah sehingga fisik akan lebih mudah dihinggapi penyakit. Jika kondisi psikis baik (senang, gembira, nyaman, damai), walaupun di sekitarnya sumber penyakit berseliweran bagai sms lebaran, yang bersangkutan tidak akan sakit.

Ide dasar psikoneuroimunologi dikemukakan oleh Martin (1938), bahwa sistem kekebalan ditentukan oleh status emosi. Stres dapat meningkatkan kerentanan tubuh terhadap infeksi penyakit. Selain itu, karakter, perilaku, dan pola coping (penyesuaian) berperan pula pada sistem imun.

Untuk saat ini, aku cukup yakin sistem imunku masih kuat dan normal sebab rasa cemasku belum seberapa. Lagi pula, hal ini bukan pertama kali kualami dan aku dapat belajar dari pengalaman masa lalu. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Cathar PK5: Kecemasan dan Psikoneuroimunologi

  1. dewa adi says:

    Pencetus Psikoneuroimunologi di Indonesia yaitu Prof Taat Putra…guru besar Fakultas Kedokteran Unair…bisa dibaca buku-2 beliau..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s