Cathar PK6: Empat Kebaikan Satu Keburukan

Ciputat, Jumat 16 Januari 2009

Empat Kebaikan

Asalkan kita tidak berbuat buruk, terlebih kalau kita berbuat baik, maka kita sudah pantas untuk merasa bahagia, bahkan walaupun kita tidak memiliki apapun lagi.

Dimulai dari niatku membeli nasi uduk, pagi ini sampai sebelum jumatan, aku melakukan empat kebaikan.

Pertama, memberi pinjaman uang kepada Ibu tukang nasi uduk. Ibu tukang nasi uduk bercerita bahwa saudaranya sakit dan sedang dirawat di RS Fatmawati serta butuh sejumlah uang. Dia bilang 200 ribu. Uang di tanganku sebetulnya tak lebih dari 40 ribu. Tapi aku punya seorang bos. Kubilang padanya, saya hubungi bos saya dulu, kalau ada nanti saya pinjami.

Ternyata bisa. Namanya bos, kemungkinan besar selalu ada uang. Maka aku datang ke rumahnya di Kampung Utan, berjarak sekitar 2 km dari kosanku. Di sana, istri si bos minta tolong padaku untuk menyetorkan uang ke BNI Syariah. Maka inilah kebaikan kedua, membantu istri si bos menyetorkan uang ke BNI Syariah.

BNI Syariah terletak di lantai atas gedung BNI UIN Jakarta. Di tempat parkir, ada seorang laki-laki membagikan amplop kosong bertulisan permintaan infak untuk anak yatim. Kuisikan uang 10 ribu ke amplop itu, dan ini menjadi kebaikan ketiga.

Setelah urusanku di BNI Syariah selesai, di dekat tangga turun aku dicegat oleh seorang mahasiswa perempuan. Dia mahasiswa jurusan Perbankan Syariah dan katanya sedang mengerjakan skripsi. Dia anggap aku seorang nasabah Bank Syariah karena aku terlihat keluar dari kantor Bank Syariah, padahal aku tidak punya tabungan di sana. Dia memintaku mengisi angket.

Aku bersedia. Sampai di sini, kesediaanku mengisi angket belum kuanggap kebaikan. Kulihat angketnya mengandung beberapa kekeliruan. Misalnya, ada opsi jawaban seperti ini: Tidak pernah – Pernah – Kadangkadang – Rutin – Rutin Sekali.

Kutanya padanya, apa bedanya rutin dan rutin sekali? Kalau saya tidak pernah tertinggal melakukan salat lima waktu, itu disebut rutin atau rutin sekali?

Dalam pikirku, kategori rutin itu tidak memiliki gradasi. Dan kubilang padanya, biasanya opsi jawaban untuk pertanyaan semacam ini adalah: Tidak Pernah – Pernah – Kadangkadang – Sering – Selalu.

Kelemahan lain, ada sejumlah item yang dalam pandanganku, kalau orang mengisi item-item itu, jawabannya pasti seragam. Opsi jawabannya adalah: Sangat Bagus – Bagus – Cukup Bagus – Tidak Bagus – Sangat Tidak Bagus.

Dari segi opsi jawaban, sebetulnya pilihan di atas tidak bagus karena tidak simetris. Opsi “Cukup Bagus” yang ada di tengah tidak mewakili sikap pertengahan. Mestinya, kalau ada opsi “Cukup” maka ada lawannya, yaitu “Kurang”.

Tapi aku tidak protes ke dia soal ini.

Yang kuprotes ke dia adalah redaksi item-itemnya yang cenderung normatif. Item yang normatif cenderung membuat orang menjawab setuju (bagus). Salah satunya misalnya begini: “Office Channeling membuat masyarakat lebih mudah mengakses perbankan syariah.

Office Channeling itu kira-kira merupakan pengembangan dari konsep dual banking, yaitu bank konvensional dapat membuka layanan bank syariah.

Masalahnya, siapa yang akan tidak setuju dengan pernyataan ini? Justru dibuatnya aturan tentang Office Channeling memang bertujuan untuk memudahkan akses masyarakat terhadap perbankan syariah.

Mengisi angket sekaligus memberikan kritik dan saran terhadap isi angket, itulah yang kuanggap kebaikanku yang keempat pagi ini. Semoga Tuhan menganggapnya demikian.

Ulama bilang, menyebut-nyebut kebaikan bisa menghapus nilai dari kebaikan itu.

Sabda Nabi, “Sedekah paling mulia adalah ketika tangan kiri tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan.”

Tapi ulama yang sama juga bilang, memerlihatkan kebaikan kepada orang lain dengan maksud agar orang lain melakukan kebaikan merupakan kebaikan.

Artinya, yang dilarang oleh agama sebetulnya bukan soal memerlihatkan atau menyembunyikan kebaikan, melainkan sikap riya (ingin dipuji). Dan riya itu urusan hati.

Apakah aku riya atau tidak dengan menyebut-nyebut kebaikanku pagi ini, siapa yang tahu kecuali Allah?

Mungkin aku pun tidak tahu.

O ya, kenapa aku menuliskan soal-soal ini di kategori Psikologi Kesehatan?

Karena berbuat baik itu menyehatkan.


Satu Keburukan

Sebaliknya, berbuat buruk itu menyakitkan (merusak kesehatan).

Di samping kebaikan, hari ini aku pun berbuat setidaknya satu keburukan.

Sehabis Jumat, aku tidur dan bangun waktu asar. Sehabis asar, aku duduk di depan komputer dan baru beranjak tengah malam. Memang ada beberapa selingan, antara lain salat magrib dan isya serta makan. Tapi selebihnya aku duduk saja dengan mata memelototi layar komputer.

Yang kulakukan adalah membaca. Yang kubaca adalah sebuah novel. Novel itu berjenis cersil (cerita silat). Judulnya “Pendekar Baja”, pengarangnya Khu Lung, diterjemahkan dari bahasa Cina oleh Gan K.L.

Aku telah mulai membaca cersil ini sejak tahun 2007, tapi bab per bab. Minggu lalu aku mendapat naskah utuhnya, dan kini kubaca kontan.

Jika ada sesuatu yang sanggup membuatku terpaku seharian, maka itu adalah cersil.

Di dunia ini, tidak ada jenis novel yang digemari orang secara fanatik melebihi cersil.

Membaca adalah baik. Membaca cersil juga baik.

Yang buruk dari perbuatan ini adalah karena membuatku tidak bergerak dalam waktu yang lama, padahal aku tidak sedang tidur. Duduk terlalu lama bikin otot pegal-pegal dan zat-zat gula menumpuk tidak terolah sehingga mengakibatkan kegemukan. (Untuk saat ini, kegemukan bukan sesuatu yang menakutkan bagiku).

Apalagi aku membaca versi e-book di layar komputer, tentu mata pun akan ikut terugikan.

Hal lain, barangkali seharusnya aku mengerjakan pekerjaan lain, misalnya mencari uang atau menyelesaikan skripsi, tetapi semua itu terabaikan.

Hal ini mengingatkanku pada sebuah diskusi di kelas Psikologi Kesehatan, saat sebuah kelompok mempresentasikan tema “Health-Enhancing Behavior dan Health-Compromising Behavior”.

Health-enhancing behavior adalah perilaku yang dilatih atau dipraktikkan oleh individu utuk meningkatkan kesehatannya sekarang dan di masa depan. Perilaku ini meliputi antara lain olahraga, pencegahan kecelakaan, konsumsi diet sehat, dan pendeteksian penyakit.

Health-compromising behavior adalah suatu pola tingkah laku yang menyimpang dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya merokok, seks bebas, mengonsumsi narkoba, dan minum alkohol. (Yang tidak kumengerti dari konsep ini adalah kenapa istilahnya memakai kata compromising?)

Tentang yang kedua ini, ada sebuah pertanyaan dari mahasiswa, mengapa main game dan nonton tivi tidak dimasukkan sebagai bagian dari health-compromising behavior? Bukankah main game dan nonton tivi kalau berlebihan bisa berbahaya bagi kesehatan? Apalagi sekarang, banyak anak-anak sekolah sering membolos dari pelajaran gara-gara ingin main game (PS), dan sekali nongkrong di PS bisa berjam-jam bahkan seharian.

Rasanya, waktu itu jawaban yang muncul baik dari pemakalah maupun dosen tidak memuaskan. Aku ikut menanggapi pertanyaan ini, dan menjawab bahwa main game dan nonton tivi pada dirinya sendiri bukanlah perbuatan buruk. Dalam kadar tertentu kita butuh main PS dan nonton tivi. Ia menjadi buruk ketika dilakukan berlebihan. Berbeda dengan merokok, alkohol, seks bebas, dan narkoba yang pada dirinya sendiri adalah buruk; sedikit ataupun banyak tetap buruk.

Yang lupa kukatakan waktu itu ialah, “Jika main game dan nonton tivi dimasukkan ke dalam kategori health-compromising behavior, tentulah membaca buku pun demikian. Sebab membaca buku, kalau berlebihan, dapat merusak kesehatan.”

Seharian ini aku membaca buku secara berlebihan. Dan meski perbuatan ini bukan merupakan health-compromising behavior, aku tetap menganggapnya berakibat buruk bagi kesehatan. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Cathar PK6: Empat Kebaikan Satu Keburukan

  1. wilda says:

    Aku suka banget baca tulisan-tulisan kamu mengenai psikologi. apalagi mengenai kebaikan. soalnya aku lebih banyak keburukan. aku berharap dengan membaca mengenai kebaikan aku akan menjadi baik.

    Asep:
    Terima kasih. sama-sama. saya senang kalau apa yang ada di sini bermanfaat.

  2. i’m adding your blog’s rss feed so that i can see your new posts. Keep up the good work!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s