Aktif di Pers Tidak Harus Jadi Wartawan

Military Press by Zeke K (flickr.com)

Military Press by Zeke K (flickr.com)

Tidak jarang jenis profesi seorang mahasiswa lebih ditentukan oleh aktivitas yang digelutinya semasa kuliah ketimbang oleh jurusan atau bidang studi yang dipelajarinya, kecuali mungkin bagi mahasiswa yang tidak aktif di mana-mana. Ini karena aktivitas luar kuliah merupakan bentuk penyaluran langsung dari minat-bakat atau hobi yang dimasuki secara sadar atas kemauan sendiri. Berbeda dengan jurusan atau fakultas yang kadang-kadang dimasuki karena desakan orangtua atau karena tidak ada pilihan lain.

Khusus bidang pers, bagi seorang mahasiswa yang serius menggelutinya, stereotip umum masa depannya sudah tergambar: jadi wartawan. Wartawan itu tidak kaya, malah pada umumnya miskin. Jelas hal ini bisa menciutkan hati mahasiswa yang bercita-cita menjadi orang kaya. Oleh karena itu aktif dalam dunia pers mahasiswa membutuhkan, seperti juga kalau mau berhasil dalam bidang-bidang yang lain, kemauan dan keseriusan yang tinggi, di samping kesesuaian dengan minat-bakat yang dimiliki.

Dua Bidang Pers

Secara umum aktivitas dalam dunia pers mahasiswa bisa dikelompokkan menjadi dua bidang, yakni kejurnalistikan dan keilmuan. Dua bidang ini disatukan oleh satu kemampuan khusus: menulis. Yang pertama berfokus pada kegiatan mencari dan menyebarkan berita, umumnya disajikan dalam media berbentuk mulai dari mading, newsletter, buletin, koran, hingga majalah (berita). Sedangkan yang kedua berfokus pada kegiatan pengembangan wacana dalam bidang ilmu tertentu, umumnya disajikan dalam majalah (keilmuan) dan jurnal.

Pada praktiknya kedua bidang ini sering disajikan dalam satu media. Dalam mading dan buletin kita bisa menemukan tulisan tentang wacana keilmuan, dalam jurnal pun kita bisa menemukan tulisan yang mengandung berita, meskipun sifat tulisannya lebih reflektif. Media yang lazim menyajikan keduanya adalah majalah. Umumnya sebuah lembaga pers mahasiswa menerbitkan dua bentuk media ini sekaligus, meskipun bisa jadi bentuk yang satu lebih dominan dibanding bentuk lainnya.

Keseriusan dalam menekuni dua bidang ini menentukan jenis profesi mahasiswa setelah lulus. Bidang kejurnalistikan mengantarkan mahasiswa menjadi wartawan (pencari berita) atau redaktur, bekerja di lembaga surat kabar atau majalah. Bidang keilmuan bisa membawa peminatnya menjadi penulis atau pengamat masalah tertentu, tergantung jenis keilmuan yang digelutinya, dan bekerja di lembaga penelitian, kampus, LSM, atau bekerja sendirian. Jadi gambaran umum bahwa aktif di pers berujung pada profesi wartawan tidak sepenuhnya tepat.

Stereotip wartawan mungkin menjadikan lembaga pers mahasiswa sepi peminat, khususnya di kampus-kampus swasta. Tapi sesungguhnya hal ini bukanlah sesuatu yang perlu disesalkan. Pertama, sinyalemen itu belum tentu benar. Sebagai sebuah hobi, saya kira jumlah peminat dunia tulis-menulis tak beda jauh dengan peminat hobi-hobi lain semacam olahraga, panjat tebing, palang merah, teater, atau paduan suara. Tengoklah perbandingan jumlah anggota di UKM-UKM kampus. Bahkan jika ditambah dengan aktivitas pers yang dilakukan di kelas-kelas dan tingkat fakultas dan jurusan, juga di organisasi-organisasi mahasiswa ekstrakampus, dunia pers boleh dikatakan banyak peminatnya. Hobi yang tidak pernah sepi peminat mungkin hanya senang-senang dan hura-hura. Kedua, kalaupun sinyalemen itu benar, kata-kata Isabela Ziegler berikut ini kiranya bisa jadi pelipur: writing is lonely profesion (menulis adalah kerja sendirian). Jadi, organisasi penulis, termasuk pers, memang tidak usah terlalu banyak orang.

Kuantitas dan Kualitas

Setiap kampus memunyai lembaga UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) bidang pers dan umumnya memunyai satu atau lebih nama media yang sudah tetap. Selain UKM, lembaga kemahasiswaan di tingkat fakultas dan jurusan, bahkan lingkup kelas, juga lembaga-lembaga kemahasiswaan ekstrakampus, rata-rata memunyai media penerbitannya sendiri, minimal berbentuk mading. Jadi secara kuantitas, media pers mahasiswa tidak bisa dikatakan kurang.

Kelemahan khas media-media terbitan lembaga mahasiswa itu adalah rutinitas penerbitannya yang tidak terjaga. Malah banyak yang hanya terbit perdana, setelah itu hilang entah ke mana. Ini karena lembaga mahasiswa selalu berganti kepengurusan tiap tahun sehingga tidak jarang kebijakan pengurus baru berbeda dengan sebelumnya.

Nah, kalau yang kita keluhkan kemudian adalah soal kualitas, lain masalahnya. Harus diakui bahwa penerbitan media yang dikelola mahasiswa tidak begitu sesuai dengan harapan. Baik dalam bidang berita maupun keilmuan, kita jarang menemukan media yang benar-benar berbobot, terjaga rutinitas penerbitannya, dan penyebarannya tidak hanya di kalangan mahasiswa, tetapi bisa juga diakses masyarakat di luar kampus. Umumnya media mahasiswa kita masih seperti katak dalam tempurung. Di antara yang jarang itu, mungkin hanya majalah filsafat Driyarkara, keluaran senat mahasiswa STF Driyarkara, terbit sejak tahun 1973, yang terjaga kualitasnya dan dibaca oleh umum.

Tapi kita memang jangan berharap kualitas lebih untuk ukuran pers yang dikelola oleh orang-orang yang sedang belajar. Jangankan pers mahasiswa, pers umum saja banyak yang rendah kualitasnya. Jadi untuk ukurannya, nasib pers mahasiswa sampai saat ini bisa dikatakan baik-baik saja. Oleh karena itu para aktivis pers mahasiswa tak perlu berkecil hati. Yang penting, tetap belajar, terus berkarya, jaga semangat dan idealisme. []

This entry was posted in Sosial and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s