Cathar PK10: UAS Psikologi Kesehatan

Ciputat, Kamis 22 Januari 2009

Ocean Motion by Hogne (flickr.com)

Ocean Motion by Hogne (flickr.com)

Aku baru saja menyelesaikan program rutinku pagi hari, olahraga ringan di depan rumah. Terdiri dari pelemasan seluruh bagian otot dari kepala sampai kaki, loncat-loncat, push-up puluhan kali (awalnya minimal 20, sekarang kutambah menjadi 30), pernafasan, dan kuda-kuda. Semua rutinitas ini bagian dari health-enhancing behavior.

Setelah itu aku jalan ke tukang nasi uduk. Aku sudah hampir beli ketika tiba-tiba telepon berbunyi. Dari teman sekelasku, yang memberi tahu, “Sekarang lagi UAS Psikologi Keluarga.”

Aku tak punya waktu untuk terkejut. Saat itu pukul 08.20 menit. Katanya, UAS sudah dimulai sejak pukul 08.

Tadinya kupikir UAS akan dimulai pukul 13 atau paling cepat pukul 11 siang, sesuai jadwal kuliah mingguan. Ternyata dilebihpagikan.

Sialnya, aku belum baca sama sekali. Untungnya, soal-soal UAS Psikologi Keluarga semuanya berisi wacana dan lebih meminta daya nalar untuk menjawabnya, bukan hafalan. Jumlah soal ada 11. Soal semacam ini adalah bagianku, meski tetap saja aku terdesak oleh waktu yang menyempit.

Jadilah aku hari ini pukul 8 lewat ¾ ikut UAS Psikologi Keluarga, selesai pukul 9 lewat ¾.

Setelah itu aku bertanya jadwal UAS Psikologi Kesehatan kepada seorang pengawas. “Sekarang,” jawabnya, “di lantai 3.”

Sungguh aku tidak punya waktu lagi untuk membaca bahan apa yang kira-kira bakal di-UAS-kan.

Tadinya, persiapan untuk UAS (baik Psikologi Keluarga maupun Psikologi Kesehatan) baru akan kumulai pagi ini. Setelah makan uduk, aku baru akan membuka-buka makalah, lalu berangkat ke kampus pukul 10-an.

Tapi ya sudah, waktu telah menghukum kelalaianku.

Seperti halnya waktu ke UAS Psikologi Keluarga, kali ini pun aku terlambat lebih dari setengah jam. Soal-soal UAS Psikologi Kesehatan berjumlah 5, separuh lebih menuntut daya hafal, sebagiannya daya nalar.

Tak sampai sejam kemudian, ujianku selesai juga. Naskah soal dikumpulkan bersama lembar jawaban. Seingatku, soal-soal UAS Psikologi Kesehatan (redaksi kalimat pasti banyak berubah, mungkin pula maksudnya) adalah sebagai berikut:

1. Hal-hal/faktor-faktor psikologis apakah yang menjadi dasar pertimbangan individu dalam menggunakan pelayanan kesehatan?

2. Mengapa penanganan penyakit kronis pada anak lebih sulit daripada orang dewasa? Berikan contohnya.

3. Jelaskan tahap-tahap seseorang menghadapi penyakit menurut teori Kubler-Ross. Berikan contohnya.

4. Apa perbedaan health-compromising behavior dan health-enhancing beharior? Berikan contoh.

5. Mengapa kondisi psikis berpengaruh pada kondisi fisik (detak jantung, dsb)? Berikan contoh.

Aku mulai menjawab soal dari nomor 4, karena itulah yang paling kuingat. Soal ini pernah kuangkat dalam catatan harian psikologi kesehatan yang ke-6 (Lihat Cathar PK6: Empat Kebaikan Satu Keburukan). Jawabanku tidak jauh berbeda dengan di cathar tersebut.

Lalu aku melanjutkan ke soal nomor 5. Kukatakan bahwa ada kesejajaran (paralelism) antara fisik dan psikis (entah benar atau tidak istilahnya). Aku jawab begitu karena rasanya soal ini bisa kuhubungkan dengan konsep psikoneuroimunologi yang pernah kubahas juga di cathar (lihat Cathar PK5: Kecemasan dan Psikoneuroimunologi).

Dari nomor 5, aku mengisi nomor 2. Seingatku, masalah ini ada di bab tentang terminal illness (sekarat). Mengapa penanganan penyakit kronis pada anak lebih sulit ialah karena anak-anak sering kesulitan memahami keadaan, dan orang dewasa pun (dokter, orangtua) tidak mudah memberikan penjelasan yang dapat dipahami anak namun tanpa membuatnya lebih stres. Atas pertimbangan ini, anak-anak sakit parah seringkali diberi lebih sedikit informasi langsung tentang keadaan mereka. Jika anak tahu tentang keadaan penyakitnya, reaksinya bisa sangat mengejutkan. Jangankan anak-anak, kita pun merasa mereka seharusnya belum waktunya mati.

Jawabanku di UAS untuk nomor 2 tidak persis seperti ini, tapi sepertinya tidak terlalu jauh melenceng.

Soal nomor 3 adalah sasaranku berikutnya. Soal ini pun masih terkait dengan tema terminal illness. Tapi kurasa istilah dalam soal kurang tepat. Bukan tahap-tahap menghadapi penyakit, tapi tahap-tahap menghadapi penyakit yang berujung pada kematian. Maksudnya kira-kira, bagaimana reaksi pasien ketika ia divonis mati oleh dokter akibat penyakitnya tak mungkin tersembuhkan.

Kubler-Ross mengajukan lima tahap, yaitu: [1] penolakan, [2] marah, [3] perundingan, [4] depresi, [5] penerimaan.

Dalam jawabanku, aku tidak memberikan penjelasan sama sekali tentang kelima tahap tersebut. Rasanya istilah-istilah itu dan urutannya sudah jelas dengan sendirinya. Tapi saat kulihat kembali makalah (sambil menulis cathar ini), penjelasannya memang ada, namun tak akan kumuat di sini.

Terakhir, aku menjawab soal nomor 1. Tapi malang, jawabanku untuk soal ini salah semua. Makanya tak akan aku kutipkan jawabanku di sini. Persoalan ini ada di makalah kelompok yang membahas tentang “The Patient in the Treatment Setting”. Sambil menulis cathar ini, kubolak-balik makalah tersebut namun tidak menemukan konsep apapun yang patut dijadikan jawaban. Maksudku, makalahnya begitu buruk. Rasanya, biarpun saat UAS tadi aku mencontek, jawabanku akan tetap salah.

Yang kutemukan di sub-bab “Menggunakan Pelayanan Kesehatan” ialah sejumlah istilah yang sulit dihubungkan satu sama lain, yaitu [2] pengakuan dan interpretasi gejala, [2] pengakuan gejala, [3] perbedaan kebudayaan, [4] perbedaan perhatian, [5] faktor situasional, [6] stres, [7] suasana hati, [8] interpretasi gejala, [9] pengalaman terdahulu, [10] dugaan, dan [11] representasi kognitif dari keadaan sakit.

Mungkinkah jawabannya istilah-istilah ini?

Mungkin jawaban sebenarnya ada pada saat diskusi kelas. Sayang, waktu itu aku tidak hadir.

Soal nomor 2, 3, 4, dan 5 semuanya meminta contoh. Nomor 4 rasanya kuberikan contoh, tapi selebihnya tidak. Aku bingung, perlukah soal-soal begitu diberi contoh?

Apapun, aku memang tidak tahu. Seharusnya aku belajar jauh-jauh waktu. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Cathar PK10: UAS Psikologi Kesehatan

  1. herbaqu says:

    layak bener nih coba liat artikel yang lebih seru di http://www.herbaqu.co.cc
    kalau ada manfaatnya sila kunjung lagi.

    Asep:
    Terima kasih komentar dan undangannya. Saya sudah kunjungi, tapi weblog anda kebanyakan iklan.

  2. ezzz says:

    thanks, anak psikologi mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s