Cathar PK11: Selera Makan, Berteriak

Ciputat, Ahad 25 Januari 2009

Kembali ke Selera Asal atau Menyesuaikan Diri?

Siang ini aku dikecewakan warung nasi langgananku. Dia memberiku ikan sisa kemarin yang bumbunya sudah basi sehingga hanya sanggup kumakan beberapa suap. Setelah itu kusembunyikan piring berikut lauk dan nasi yang masih utuh di bawah bangku panjang, lalu aku membayar dan pergi.

Ini bukan kejadian pertama kali. Maka untuk seminggu ke depan mungkin aku tidak akan makan di situ. Inilah cara seorang pelanggan menghukum warung langganannya. Seandainya warung nasinya tidak terlalu dekat dari kosanku, dan hubunganku dengan pemilik warung belum terlalu akrab, mungkin aku tak akan memikirkan soal ini sama sekali alias tidak akan kembali untuk selamanya.

Semoga dia ngeh akan hal ini.

Tindakanku ini sebetulnya membikin susah diriku sendiri. Aku jadi susah mencari tempat makan karena sekarang ini aku tidak bisa lagi makan di sembarang warung.

Dulu waktu awal-awal kuliah, rasanya aku bisa makan di mana saja. Asalkan aku lapar, aku tinggal masuk ke warung terdekat dan termurah yang kujumpai (biasanya warteg). Sepertinya, dulu semua masakan sama rasanya; yang membedakan hanya masalah harga.

Sekarang tidak lagi. Aku sudah bisa membedakan rasa makanan, aku sudah punya selera, tapi “kemajuan” ini justru menyusahkan diriku sendiri.

Dulu, makan di warung pecel lele kuanggap sebagai suatu kemewahan sehingga pernah selama beberapa waktu aku dan teman sekosku menjadwalkan makan di pecel lele tiap malam minggu, seolah-olah itu suatu hiburan yang menyenangkan. Dulu, makan di pecel lele berarti status sudah naik dari kelas bawah ke kelas menengah.

Sekarang, kurasakan betapa naifnya anggapan itu. Makan di pecel lele tak ada istimewanya sama sekali, dan kelasnya pun kini tak lagi kubedakan dengan warteg.

Sekarang mungkin aku dapat dikatakan sudah naik kelas atau status, tapi sekaligus aku kehilangan fleksibilitas dalam memilih makanan.

Sungguh, ini bukan suatu hal yang menyenangkan.

Rasanya, saat ini aku hanya ingin kembali kepada selera yang berasal dari tradisiku: Sunda (Banten termasuk Sunda). Menu standar untuk masakan Sunda adalah nasi (putih atau merah), lauk (tawar atau asin, tahu, tempe), sayur (sop, asem, bening), lalap (mentah atau rebus, dan yang paling istimewa adalah jengkol atau peuteuy), dan sambel (sambel goang atau sambel terasi).

Sambel tidak boleh sembarang sambel. Satu hal yang membuatku ilfil terhadap kebanyakan warung pecel lele adalah masalah sambelnya. Ada yang hambar, ada yang terlalu manis, memakai kacang atau campuran lain yang terkesan diada-adakan, atau digoreng.

Perlu kukatakan di sini, sambel kacang bukan tidak dikenal dalam tradisi kuliner Sunda, tapi peruntukannya bukan sebagai teman makan nasi. Sambel kacang cocoknya untuk pecel/karedok/gado-gado atau bakwan.

Sambel goreng pun cukup diakrabi masyarakat Sunda dan banyak dipakai sebagai teman makan nasi. Aku tidak menolak sambel goreng, tapi akan lebih baik kalau tidak digoreng.

Yang kumaksud sambel goreng adalah sambel yang digoreng ke dalam minyak sayur setelah seluruh bahan diulek. Kuberikan definisi ini untuk membedakannya dengan sambel yang bahan-bahannya digoreng dahulu sebelum diulek dalam coet (ulekan, lumpang). Yang terakhir ini lebih kusukai dengan kesukaan yang sama terhadap sambel mentah.

Sayang sekali bagiku, di Ciputat ini tidak banyak orang Sunda yang membuka kedai makan. Di antara yang sedikit itu, yang terbaik dan terenak adalah warung nasi Mang Sadi. Sayang, warungnya cukup jauh dari kosanku dan mesti menyeberang jalan raya. Aku tidak suka menyeberang jalan raya; seolah-olah aku melihat banyak malaikat maut di mana-mana.

Aku pun tidak ingin membiasakan untuk makan saja mesti mengeluarkan motor dari kandang. Ini kebiasaan kaum kaya yang menunjukkan betapa sesungguhnya hidup mereka dibikin susah oleh tingginya selera makan.

Seleraku sebetulnya belum dapat disebut tinggi, tapi aku sudah merasakan betapa merepotkannya jika untuk makan saja harus memilih-milih tempat. Pernah aku mengikuti seorang seniorku yang kaya saat dia hendak makan. Berputar-putar dengan mobil di tengah kota, sekian restoran mesti dilewati sebelum akhirnya masuk ke satu restoran.

Ketika kurenungkan hal ini, sesungguhnya orang-orang miskin lebih mudah untuk bahagia karena mereka bisa makan di mana saja tanpa banyak pikir.

Sekarang, meski aku telah memiliki selera ideal tertentu soal makanan, aku akan membiasakan diri untuk makan di tempat terdekat dan termurah ketika aku lapar. Aku akan membiasakan kembali makan di warteg karena tempat itulah yang biasanya paling banyak dan paling dekat.

Aku membayangkan, jika aku aku terlalu memilih-milih soal makanan dan terutama jika aku hanya menyukai masakan dari tradisi asalku, lalu suatu saat aku berkesempatan bersekolah di luar negeri atau bekerja di daerah dengan budaya berbeda, tentulah aku ingin lekas-lekas pulang saja.

Atau yang lebih fatal: jika istriku kebetulan bukan orang Sunda atau dia orang Sunda tapi tidak bisa masak, butuh lebih banyak kompromi agar aku dan keluargaku masih bisa bahagia.

Aku sendiri cukup bisa masak dan hanya butuh sedikit pembiasaan saja agar rasa masakan yang kubuat dapat stabil. Tapi si dia belum tentu suka dengan hasil karyaku🙂.

Berteriak Itu Menyehatkan

Malam Ahad (tadi malam) aku datang ke acara diskusi di padepokan Iwan Fals di Leuwinanggung, Cimanggis, Depok. Tema diskusi tentang konflik Israel-Hamas, menghadirkan tiga pembicara dan dua panelis. Dalam acara itu, hadir grup musik Debu yang penampilannya menghibur sekali. Di ujung acara, Bang Iwan menyanyi empat lagu, di antaranya Puing 1 dan Puing 2. Aku merangsek ke depan bersama orang-orang lain dan ikut bernyanyi-nyanyi dan berteriak-teriak sepuasnya.

Seharian ini, suaraku rasanya hampir habis dan aku hanya bisa berbicara dalam nada bas (suara rendah).

Tapi aku tidak menyesal.

Hal yang sama (suara habis) pernah kualami sehabis menonton bola di Gelora Bung Karno antara Indonesia lawan Arab Saudi di Piala Asia dan Indonesia lawan Bayern Muenchen.

Tapi aku puas.

Sangat jarang orang yang tinggal di kota beroleh kesempatan untuk berteriak keras-keras. Samping kita kiri kanan depan belakang dipenuhi oleh manusia-manusia yang akan terganggu jika kita berteriak-teriak seenaknya.

Hanya di stadion atau di konser musik atau di lapangan olah raga berteriak menjadi sesuatu yang wajar dilakukan.

Kurasakan, berteriak pun merupakan kebutuhan manusia.

Berteriak adalah sebentuk katarsis, pembersihan jiwa dari beban-beban hidup yang menekan.

Berteriak itu menyehatkan.

Hal lain. Satu minggu terakhir ini (persis 7 hari) aku sama sekali tidak merokok barang sebatang pun. Selamat kepada diriku. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Cathar PK11: Selera Makan, Berteriak

  1. ang says:

    Aku sangat menikmati liuk-liuk bahasamu
    aku sangat ingin meliuk-liuk
    bersamamu, tapi
    tak bisa lagi
    dunia kita kini berbeda
    tapi tetap dekat

    (tidak merokok juga menyehatkan)

    Asep:
    Kalau kita tidak bisa mengerjakan apa yang kita cintai, cintailah apa yang kita kerjakan.
    Cintailah duniamu, ang, dengan segala yang ada padanya. Baru kau bisa bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s