Aplikasi Teknik Psikoterapi Islam dalam Keluarga

snowmen-family-in-tx-by-dai

Semua orang sepakat bahwa kehidupan berkeluarga bukanlah suatu hal yang mudah. Berbagai permasalahan dapat muncul setiap saat. Kadang kejujuran dengan kesetiaan menjadi taruhan terhadap ukuran kelanggengannya, sehingga ketika kedua hal tersebut tidak tampak, maka kecurigaan dan kecemburuan akan muncul, sebagai akibatnya perseteruan dan perceraian akan menjadi hal yang wajar di zaman ini.

Dari berbagai problem kerumahtanggaan/keluarga, tujuan konseling perkawinan/keluarga yaitu agar klien dapat menjalani kehidupan berumah tangga secara benar, bahagia dan mampu mengatasi problem yang timbul dalam kehidupan perkawinan. Oleh karena itu, maka konseling perkawinan pada prinsipnya berisi dorongan untuk menghayati kembali prinsip-prinsip dasar, hikmah, tujuan dan tuntunan hidup berumah tangga menurut ajaran Islam. Konseling diberikan agar suami/istri menyadari kembali posisi masing-masing dalam keluarga dan dorongan mereka untuk melakukan sesuatu yang terbaik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk keluarganya.

I. KELUARGA

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Keluarga sekurangnya terdiri dari satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang hidup bersama sebagai suami istri lewat ikatan pernikahan. Dalam skala lebih besar (keluarga inti, nuclear family), terdiri dari suami, istri, dan anak-anak keduanya. Dalam skala yang lebih besar lagi (keluarga besar), terdiri dari suami dan istri, anak-anak keduanya, dan sanak keluarga lainnya (seperti paman, keponakan, cucu, dll).

Keluarga menurut konsep Islam adalah kesatuan hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dilakukan dengan melalui akad nikah meurut ajaran Islam. Dengan kata lain, sebuah keluarga disebut keluarga menurut ajaran Islam hanya manakala telah dibentuk lewat akad pernikahan yang sah. Islam tidak mengakui kehidupan bersama antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan. Status laki-laki sebagai “suami” dan perempuan sebagai “istri” hanya sah jika telah melalui perjanjian nikah.

Perlu pula dibedakan antara keluarga menurut konsep Islam (sebagaimana disebut di atas) dengan istilah keluarga islami. Keluarga yang dibentuk lewat syarat-syarat Islam belum tentu merupakan keluarga islami. Keluarga islami ialah keluarga atau rumah tangga yang di dalamnya ajaran-ajaran Islam diterapkan dan berlaku. Dengan kata lain, seluruh anggota keluarga berperilaku sesuai dengan ketentuan dan petunjuk dari Allah Swt.

A. Ciri Keluarga Islami

Keluarga yang islami mempunyai ciri-ciri sebagai berikut[1]:

1. Dibentuk lewat akad pernikahan menurut ajaran Islam.

2. Yang dinamakan keluarga sekurang-kurangnya terdiri dari seorang laki-laki yang berstatus sebagai suami dan seorang perempuan yang berstatus sebagai istri. Ini adalah keluarga pokok yang dapat menjadi keluarga inti jika ditambahi anak-anak.

3. Dalam keluarga islami, terdapat nilai-nilai dan norma-norma yang dianut. Nilai dan norma ini bersumber dari ajaran Islam.

4. Setiap anggota keluarga memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan status dan kedudukannya, menurut ajaran Islam.

5. Tujuan pembentukan keluarga islami ialah kebahagiaan dan ketentraman hidup berumah tangga dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

B. Tujuan Pembentukan Keluarga menurut Islam

Adapun tujuan dari dibentuknya keluarga menurut ajaran Islam adalah[2]:

1. Nafsu seksual tersalurkan sebagaimana mestinya dan secara sehat (jasmani maupun rohani, alamiah maupun agamis).

2. Perasaan kasih sayang antarjenis kelamin dapat tersalurkan secara sehat.

3. Naluri keibuan seorang perempuan dan naluri kebapakan seorang laki-laki dapat tersalurkan secara sehat, yakni dengan memperoleh dan memelihara keturunan.

4. Kebutuhan laki-laki dan perempuan akan rasa aman, memberi dan memperoleh perlindungan dan kedamaian, terwadahi dan tersalurkan secara sehat.

5. Pembentukan generasi mendatang (penerus kelangsungan jenis manusia) akan terjamin pula secara sehat, baik kuantitas maupun kualitas.

C. Pembinaan Keluarga Islami

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad Saw bersabda mengenai keluarga yang baik yang dikehendaki oleh Allah:

“Apabila Allah menghendaki suatu keluarga menjadi keluarga yang baik (bahagia), dijadikannya keluarga itu memiliki penghayatan ajaran agama yang benar, anggota keluarga yang muda menghormati yang tua, berkecukupan rezeki dalam penghidupannya, hemat dalam membelanjakan nafkahnya, dan menyadari cacat-cacat mereka dan kemudian melakukan taubat. Jika Allah Swt menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya mereka dalam kesesatan.” (HR. Dailami dari Anas)

Dari hadis Nabi di atas, dapat disarikan ada lima aspek atau fondasi yang perlu diperhatikan dalam pembinaan keluarga islami, yaitu[3]:

1. Penghayatan ajaran agama Islam

Keluarga islami adalah keluarga yang seluruh anggota keluarganya memiliki kecenderungan yang besar untuk selalu mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Sejak kecil, anak dalam keluarga dibiasakan untuk mengenal ajaran agama sebagai pedoman dasar kehidupannya, termasuk ketika dalam berumah tangga di kemudian hari. Ajaran agama bukan saja berisikan aspek-aspek ubudiyah, tetapi juga mencakup aspek-aspek muamalah atau hubungan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Tanpa bekal agama yang memadai, sendi-sendi kehidupan kekeluargaan dan kemasyarakatan akan runtuh.

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا َ.

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. at-Tahrim [66]: 6)

2. Sikap saling menghormati

Hubungan dalam keluarga yang harmonis, serasi, merupakan unsur mutlak terciptanya kebahagiaan hidup. Hubungan yang harmonis akan tercipta manakala dalam keluarga dikembangkan sikap saling menghormati, dalam arti satu sama lain memberikan penghargaan (respek) sesuai dengan status dan kedudukannya dalam keluarga. Hal ini tercermin dalam ungkapan, “Yang muda menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda.”

3. Kemauan berusaha untuk mencari rezeki

Dalam hidup manusia memerlukan pemenuhan berbagai kebutuhan. Untuk itu manusia harus berusaha, bekerja, agar dalam kehidupannya ada rezeki yang bisa diperoleh. Dalam keluarga, seorang ayah, karena tanggung jawabnya menghidupi anak istrinya, akan terpacu untuk berusaha mencari rezeki lebih banyak dari yang sekadar dibutuhkan untuk dirinya. Seorang istri atau ibu pun, ketika menyadari misalnya bahwa penghasilan suaminya tidak mencukupi, akan terdorong pula untuk mencari rezeki. Begitu pula seorang anak, terutama ketika ayah ibunya sudah tua dan tidak mampu lagi mencari rezeki, akan terdorong pula untuk mencukupi kebutuhan ayah ibunya.

Tetapi dalam upaya mencari rezeki itu, tidak boleh menghalalkan segala cara. Islam hanya membolehkan kita mengonsumsi makanan dari rezeki yang diperoleh secara halal dan baik. Rezeki yang halal lagi baik itulah yang akan mendukung terciptanya keluarga yang harmonis, yang diridai oleh Allah.

4. Sikap hidup efisien dalam penggunaan rezeki

Rezeki yang diperoleh sebisa mungkin dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kebutuhan hidup keluarga, tidak berlebihan (boros) dan tidak pula kikir. Hidup dalam keluarga tidak dimaksudkan untuk saat ini saja, tetapi untuk masa mendatang, untuk anak-anak, dan untuk hari tua.

5. Sikap suka mawas diri

Dalam sebuah keluarga mungkin saja terjadi kesalahpahaman, perselisihan, atau keributan. Dalam keadaan seperti ini, dibutuhkan sikap mawas diri di antara tiap-tiap anggota keluarga, mau menyadari kesalahan dan mohon maaf atas kesalahannya itu. Keluarga bukanlah sebuah hubungan sesaat, yang bila ada ketidakcocokan lantas bubar. Keluarga dibangun untuk masa yang panjang dan juga untuk generasi mendatang. Oleh karena itu keutuhan dalam keluarga dan kepentingan bersama sebisa mungkin lebih diutamakan daripada kepentingan diri sendiri.

Mawas diri berarti menyadari kesalahan dan bertaubat kepada Allah atau mohon maaf atas kesalahan itu, juga adanya sikap saling menasihati dan mengingatkan di antara sesama anggota keluarga. Situasi dan kondisi inilah yang dibutuhkan oleh sebuah keluarga agar tetap rukun dan awet selamanya.

D. Problem dalam Keluarga

Problem dalam keluarga adalah hal biasa dan tidak mungkin dihindari. Yang diharapkan adalah bagaimana menangani problem atau masalah itu dengan baik sehingga tidak menimbukan kerugian atau masalah yang lebih besar.

Menurut Achmad Mubarok, problem di seputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga biasanya berada di sekitar[4] :

a. Kesulitan memilih jodoh/kesulitan mengambil keputusan siapa calon suami/isteri

b. Ekonomi keluarga yang kurang tercukupi

c. Perbedaan watak, temperamen dan perbedaan kepribadian yang terlalu tajam antara suami/isteri

d. Ketidakpuasan dalam hubungan seksual

e. Kejenuhan rutinitas

f. Hubungan antar keluarga yang kurang baik

g. Ada orang ketiga, atau yang sekarang populer dengan istilah WIL (wanita idaman lain) dan PIL (Pria Idaman Lain)

h. Masalah Harta dan warisan

i. Menurunnya perhatian dari kedua belah pihak suami isteri

j. Dominasi orang tua/mertua

k. Kesalahpahaman antara kedua belah pihak

l. Poligami

m. Perceraian

II. KONSELING ISLAM DALAM KELUARGA (KONSELING KELUARGA ISLAMI)

A. Pengertian Konseling Keluarga Islami

Konseling keluarga islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya dalam menjalankan hidup berumah tangga selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[5]

Konseling menekankan pada fungsi kuratif, pada pemecahan atau pengobatan masalah. Pencegahan atau preventif merupakan wilayah bimbingan. Konseling diberikan kepada individu yang tengah mengalami masalah. Konselor membantu individu tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

B. Tujuan Konseling Keluarga Islami

Tujuan konseling keluarga islami adalah[6]:

1. Membantu individu mencegah timbulnya problem-problem yang berkaitan dengan kehidupan berumah tangga, antara lain dengan:

a. Membantu individu memahami hakikat kehidupan berkeluarga menurut islam

b. Membantu individu memahami tujuan hidup berkeluarga menurut Islam

c. Membantu individu memahami cara-cara membina kehidupan berkeluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, menurut Islam

d. membantu individu memahami pelaksanaan pembinaan kehidupan berumah tangga sesuai ajaran Islam

2. Membantu individu memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan berumah tangga, antara lain dengan:

a. Membantu individu memahami problem yang dihadapinya

b. Membantu individu memahami kondisi dirinya dan keluarga serta lingkungannya

c. Membantu individu memahami dan menghayati cara-cara mengatasi masalah rumah tangga menurut ajaran Islam

d. Membantu individu menetapkan upaya menetapkan pilihan upaya pemecahan masalah yang dihadapinya sesuai dengan ajaran Islam

3. Membantu individu memelihara situasi dan kondisi rumah tangga agar tetap baik dan mengembangkannya agar jauh lebih baik, yakni dengan cara:

a. Memelihara situasi dan kondisi rumah tangga yang semula terkena problem dan telah teratasi agar tidak menjadi permasalahan kembali

b. Mengembangkan situasi dan kondisi rumah tangga menjadi lebih baik (sakinah, mawaddah, dan rahmah).

C. Asas Konseling Keluarga Islami

Dalam pelaksanaannya, konseling keluarga islami didasarkan pada asas-asas sebagai berikut[7]:

1. Asas kebahagiaan dunia dan akhirat

Bimbingan dan konseling keluarga Islami, seperti halnya bimbingan dan konseling Islam umumnya, ditujukan pada upaya membantu individu mencapai kebahagiaan hidup didunia dan akhirat. Dalam hal ini kebahagiaan di dunia harus dijadikan sebagai sarana mencapai kebahagiaan akhirat.

Firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 201:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya:

Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. al-Baqarah [2]: 201)

2. Asas sakinah, mawaddah, dan rahmah

Pernikahan dan pembentukkan, serta bimbingan keluarga Islami dimaksudkan untuk mencapai keadaan keluarga atau rumah tangga, yang “Sakinah Mawaddah wa Rahmah” (Keluarga yang tenteram, penuh kasih dan sayang).

Firman Allah Swt dalam surat ar-Rûm ayat 21:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

Artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (QS. ar-Rûm [30]: 21)

3. Asas komunikasi dan musyawarah

Ketentraman keluarga yang didasari rasa kasih dan sayang akan tercapai manakala dalam keluarga itu senantiasa ada komunikasi dan musyawarah. Dengan memperbanyak komunikasi segala isi hati dan pikiran akan bisa dipahami oleh semua pihak, tidak ada hal-hal yang mengganjal dan tersembunyi. Bimbingan dan konseling keluarga islami, disamping dengan komunikasi dan musyawarah yang dilandasi rasa saling hormat menghormati dan disinari rasa kasih sayang, sehingga komunikasi itu akan dilakukan dengan lemah lembut.

Firman Allah Swt dalam surat an-Nisâ ayat 35:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا.

Artinya:

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. an-Nisâ [4]: 35)

4. Asas sabar dan tawakal

Bimbingan dan konseling keluarga Islam membantu individu pertama-tama untuk bersikap sabar dan tawakkal dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan berumah tangga, sebab dengan bersabar dan bertawakkal akan diperoleh kejernihan dalam pikiran, tidak tergesa-gesa, terburu nafsu mengambil keputusan, dan dengan demikian akan terambil keputusan akhir yang lebih baik.

Sebagaimana Firman Allah Swt dalam surat An Nisa ayat 19:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا.

Artinya:

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. an-Nisâ [4]: 19)

5. Asas manfaat (maslahat)

Dengan bersabar dan tawakkal terlebih dahulu, diharapkan pintu pemecahan masalah rumah tangga maupun yang diambil nantinya oleh seseorang, selalu berkiblatkan pada mencari manfaat (maslahat) yang sebesar-besarnya, baik bagi individu anggota keluarga, bagi keluarga secara keseluruhan, dan bagi masyarakat secara umum termasuk bagi kehidupan kemanusiaan.

Firman Allah Swt dalam surat an-Nisâ ayat 128:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ.

Artinya:

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka). (QS. an-Nisâ [4]: 128)

D. Kriteria Konselor Keluarga Islami

Kriteria seorang konselor yang khusus menangani masalah-masalah keluarga sebetulnya tidak berbeda jauh dengan kriteria konselor pada umumnya. Sebagai profesional, tentu saja yang pertama seorang konselor harus memahami dan menguasai ilmu konseling Islam. Selain itu, karena yang ditangani adalah masalah keluarga, maka seorang konselor juga harus memahami ketentuan dan peraturan agama Islam mengenai pernikahan dan kehidupan berumah tangga.

Selain kemampuan profesional semacam itu, tentu saja dari yang bersangkutan dituntut kemampuan lain seperti kemampuan kemasyarakatan (mampu berkomunikasi, bergaul, bersilaturahmi dengan baik) dan kemampuan pribadi (menjalankan ajaran Islam dengan baik dan berakhlak mulia).

E. Metode dan Teknik Konseling Keluarga Islami

Dalam pelaksanaannya, proses konseling harus memperhatikan asas-asas dan tujuan konseling itu sendiri. Mengenai metode dan teknik bimbingan konseling Islami di bidang keluarga ini pada dasarnya sama dengan bimbingan konseling Islami yang umum. Perbedaan terletak dalam praktiknya saja yang tentu harus disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi klien.

Contoh kasus:

Salah satu pemicu perceraian dan banyak didapati dalam masyarakat dewasa ini adalah perselingkuhan. Seperti halnya yang dialami oleh Tita (nama samaran), seorang dokter gigi yang bersuamikan seorang pengusaha yang tampan. Pada awalnya Tita merasa suaminya telah mengkhianati kepercayaannya. Hal ini terjadi ketika datang kepadanya seorang perempuan yang mengaku telah hamil dan anak yang dikandungnya adalah anak Dodi yang tidak lain adalah suaminya. Kekecewaan dan rasa marah tentu bergemuruh dalam hati Tita. Kegelisahan ini yang mendorong Tita menemui psikoterapis yang dikemudian diikuti oleh suaminya. Kemudian Dodi mendatangi psikiater untuk menceritakan perihal masalahnya. Ternyata Dodi merasa istrinya tidak mudah berinteraksi dengan lingkungannya dan juga istrinya cenderung selalau mengkritik semua perilaku yang dilakukan oleh Dodi, sehingga Dodi jarang pulang dan sebenarnya Dodi telah menikah tanpa sepengetahuan istrinya.

Terapi Islami dalam menghadapi konflik keluarga di atas di antaranya :

1. Terapi Islami dalam menyelesaikan problem keluarga adalah memberikan bantuan kepada klien agar menyadari hak dan kewajibannya sebagai suami dan isteri. Serta menyadarkannya kembali agar senantiasa menjalankan perannya sebagai hamba Allah dengan senantiasa menjalankan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA.

2. Adanya keimanan dalam masing-masing pasangan sehingga terjalin keharmonisan dalam rumah tangga atas dasar ketaatan kepada Allah dan Rasul NYA. Menciptakan rasa saling mengerti, menghargai dan percaya serta selalu menjaga komunikasi yang baik.


DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiah, Psikoterapi Islami, Jakarta: Bulan Bintang, 2002.

Hawari, Dadang, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Yogyakarta: PT. Dana Bakti Prima Jasa, 1999.

Mubarok, Ahmad, Konseling Agama Teori dan Kasus, Jakarta: PT. Bina Rena Pariwara, 2002.

Musnawar, Thohari, et al., Dasar-Dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Yogyakarta: Press UII, 1992.


[1] Prof. Dr. H. Thohari Musnamar, Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Penerbit UII Press, Yogyakarta, 1992, hal. 56-59

[2] Prof. Dr. H. Thohari Musnamar, Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Penerbit UII Press, Yogyakarta, 1992, hal. 59-61

[3] Prof. Dr. H. Thohari Musnamar, Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Penerbit UII Press, Yogyakarta, 1992, hal. 64-68

[4]DR. Achmad Mubaro, MA, Konseling Agama Teori dan Kasus, Penerbit Bina Rena Pariwara. Jakarta. 2002. hal. 96

[5] Prof. Dr. H. Thohari Musnamar, Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Penerbit UII Press, Yogyakarta, 1992, hal. 70

[6] Prof. Dr. H. Thohari Musnamar, Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Penerbit UII Press, Yogyakarta, 1992, hal. 71-72

[7] Prof. Dr. H. Thohari Musnamar, Dasar-dasar Konseptual Bimbingan dan Konseling Islami, Penerbit UII Press, Yogyakarta, 1992, hal. 72-76

This entry was posted in Psikologi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Aplikasi Teknik Psikoterapi Islam dalam Keluarga

  1. NIYACANTIK says:

    I Like It…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s