Sidang Skripsi dan Hari Terpenting dalam Hidup

Law Keven - Days Better (flickr.com)

Law Keven - Days Better (flickr.com)

Pada hari Kamis, 5 Maret 2009, aku menjalani salah satu hari paling penting dalam hidupku, yakni Sidang Skripsi (Munaqasyah). Hari ini menjadi semakin penting karena aku mengalaminya setelah hampir 10 tahun kuliah: 1 tahun di UNJ dan 9 tahun di UIN Jakarta. Dan hari ini semakin istimewa karena terjadi satu hari sebelum 6 Maret, tanggal ulang tahunku.

Aku telah memberikan hadiah paling berarti untukku sendiri. Maka aku tak memerlukan hadiah apapun dan dari siapapun lagi, walaupun kalau ada tentu takkan kutampik.

Judul skripsiku ”Motivasi Menikah lagi pada Janda dan Duda Lanjut Usia”. Kukerjakan sejak pertengahan bulan Januari. Jadi aku menggarap skripsi sekitar satu setengah bulan.

Yang membimbing skripsiku Ibu Fadhilah Suralaga dan Ibu Solicha. Mereka baik sekali dan pengertian. Meski aku seringkali berjalan sendiri, mereka tak menyalahkanku. Malah, meski bimbingan belum selesai, keduanya memberikan tanda tangan di lembar pengesahan skripsi agar aku dapat ikut sidang pada batas akhir hari pendaftaran tanggal 27 Februari 2009.

Yang mengujiku adalah Ibu Zahrotun Nihayah dan Bapak Ikhwan Luthfi. Keduanya memberikan masukan berharga yang mengena sekali pada titik-titik lemah skripsiku, kritikan yang tak bisa kubantahkarena sejak awal aku memang sudah merasakannya.

Bu Nihayah memasalahkan kriteria lanjut usia yang kugunakan, yakni karena aku memulai masa lanjut usia dari usia 55 tahun. Seharusnya 60 tahun. Maka dia menyuruhku mengeluarkan subjek di bawah 60 tahun dari penelitian. Alternatif lain, judul penelitian diubah menjadi masa dewasa madya, sehingga responden di atas 60 tahun yang dikeluarkan.

Aku akan memilih yang pertama. Hal ini sebenarnya sudah kusadari sejak awal, sayang sekali tidak kuantisipasi dengan betul.

Pak Luthfi menyarankan agar judul ”intensi” diganti, sebab intensi biasanya diteliti secara kuantitatif dan alat ukurnya sudah relatif terstandar. Kata dia, ”Baru kali ini saya menemukan intensi diteliti secara kualitatif.”

Sarannya, intensi diganti dengan motivasi.

Oke deh.

Hal lain, kedua penguji memasalahkan jumlah responden yang terlalu banyak (sampai 20 orang, 10 laki-laki dan 10 perempuan). Kata Bu Nihayah, ”Tidak usah banyak-banyak.” Kata Pak Luthfi, ”Baru kali ini saya melihat penelitian kualitatif dengan jumlah responden sampai 20 orang. Paling banyak saya melihat 7 orang.”

Selebihnya bersifat teknis dan tidak terlalu penting diangkat di sini.

Yang jelas, dengan tiga saran itu saja, revisiku akan cukup banyak. Pertama, mengganti teori intensi dengan teori motivasi. Kedua, membuang subjek yang tidak memenuhi kriteria lanjut usia. Artinya, aku nyaris harus membuat ulang laporan penelitianku. Ketiga, menyempurnakan dan menyelaraskan metode penelitian.

Bab 2, bab 4, dan bab 3.

Lumayan.

Tapi aku tetap berucap, ”Syukur deh.”

Jika dikerjakan, segala hal akan beres dengan sendirinya. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sidang Skripsi dan Hari Terpenting dalam Hidup

  1. ngulile says:

    selamat!!! akhirnya memperoleh gelar S1 juga…smg untuk S2nya tidak selama ini..

    Asep:
    Terima kasih. Kira-kira begitu.

  2. hani says:

    hmmmm…. hahaha….
    buku be a cat ya?
    apa pun yang terjadi, syukur deh.

    “boleh saja ia menegurku atau memukulku. jawabanku selalu: ‘syukur deh’ ”
    “boleh saja ia mengasihaniku atau mengagumiku. Jawabanku selalu: ‘syukur deh’ ”

    (be a cat, Tsai Chih Chung)

    Asep:
    Ya begitulah, kuharap kamu pun begitu, selalu “syukur deh” atas apapun yang kamu terima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s