Tiga Motif Ber-HMI

Cateyes - Motivation (flickr.com)

Cateyes - Motivation (flickr.com)

Seandainya David McClelland, psikolog sosial asal Amerika, diundang ke Ciputat untuk men-screening calon-calon peserta LK-1 dan menanyakan pertanyaan ini: “Apa motivasi Anda masuk HMI?”

Jawaban calon-calon peserta pasti tidak sama satu sama lain. McClelland akan menimbang jawaban-jawaban itu dan memasukannya ke dalam “kotak-kotak” yang telah ia sediakan. Jika calon peserta LK-1 menjawab: “Saya ingin memperbanyak teman dan memperluas pergaulan,” maka McClelland akan menggolongkannya sebagai “rendah dalam need for achievement, tinggi dalam need for affiliation“.

Need for achievement adalah kebutuhan untuk berprestasi, sedangkan need for affiliation adalah kebutuhan untuk berhubungan sosial.

Sedangkan calon peserta yang mengatakan: “Saya ingin seperti Jusuf Kalla,” atau “Saya ingin memiliki jaringan yang luas agar mudah dalam mencari pekerjaan nanti”, atau: “Saya ingin menjadi ketua cabang”, maka McClelland akan menyebutnya sebagai “rendah dalam need for achievement, tinggi dalam need for power“.

Need for power adalah kebutuhan untuk berkuasa.

Dan jawaban semacam ini: “Saya ingin mengaktualisasikan segala potensi yang ada pada diri saya lewat aktivitas dan sarana-sarana yang ada di HMI”, mungkin akan menghasilkan ucapan selamat dari McClelland dan ia akan menepuk-nepuk pundak sang calon peserta karena jawaban tersebut menunjukkan need for achievement yang tinggi.

Anda mungkin akan bertanya, kenapa need for achievement selalu disebut dalam kesimpulan McClelland?

Need for achievement (biasa disingkat n-ach) adalah ibarat anak kandung yang lama diidam-idamkan McClelland, sedangkan dua need yang lain sebagai anak pungut yang tak sengaja ditemukan McClelland ketika menyimpulkan hasil penelitiannya. Jadi wajar kalau n-ach menjadi anak paling disayang dan paling sering disebut. Awalnya McClelland melakukan penelitian dengan tujuan untuk mencari tahu faktor apa yang menimbulkan semangat enterpreneurship (wirausaha) pada para pekerja di berbagai bangsa di Eropa, Amerika, dan Asia. Jawabannya adalah need for achievement, anak kandungnya itu.

Teori tiga kebutuhan dari McClelland ini kemudian berkembang menjadi teori motivasi yang sangat terkenal dengan sebutan achievement motivation theory (teori motivasi berprestasi). Pemakaian teori kebutuhan untuk menerangkan motivasi kiranya tidak susah dipahami. Kebutuhan adalah suatu perasaan kekurangan atau keadaan tidak seimbang. Keadaan tersebut menggerakkan orang untuk bertindak menutupi kekurangan itu agar keadaan dirinya kembali seimbang. Hal “menggerakkan untuk bertindak” itulah yang disebut motivasi. Kita butuh makan, maka kita bertindak mencari makan. Motif yang menggerakkan kita mencari makan berasal dari kebutuhan kita akan makan. Jadi kebutuhan menimbulkan motivasi, dan teori kebutuhan menjadi teori motivasi.

Dengan demikian, tiga kebutuhan di atas bisa disebut juga tiga motivasi atau motif.

Motif Berprestasi

Max Havelaar, asisten residen Lebak abad ke-19 dalam novel karangan Multatuli, pernah mengungkapkan sebuah pesan yang amat indah saat berpidato di hadapan para kepala-negeri di wilayah itu. Katanya: “Sebab kita bersuka cita bukan karena memotong padi; kita bersuka cita karena memotong padi yang kita tanam. Dan jiwa manusia bukan tumbuh karena upah, tetapi karena kerja yang membikin ia berhak menerima upah.”

Tepat sekali. Seorang mahasiswa bisa saja bergembira atas hasil ujiannya yang tinggi. Tetapi jika dalam ujian dia nyontek, kegembiraannya pasti terganggu oleh sebutir kerikil yang terselip dalam benaknya. Kita senang dikasih uang oleh orang tua, tetapi kita akan bangga jika uang itu diperoleh dari usaha kita sendiri.

Motif berprestasi menunjukkan kecenderungan yang lebih besar pada proses dibanding hasil. Prinsipnya: kerja dulu, baru upah. Orang yang tinggi dalam motif berprestasi senang mendapat imbalan, tetapi imbalan yang diperoleh dari usaha, bukan yang didapat secara tiba-tiba. Ia juga menyukai tantangan, namun bukan tantangan yang tidak mungkin ditaklukkan. Tantangan yang realistis, tidak terlalu mudah tapi juga tidak terlalu susah, dengan peluang berhasil 50-50 (fifty-fifty), lebih disukai daripada tantangan yang bersifat spekulasi (gambling) meskipun hasilnya lebih besar. Tipe orang seperti ini mencari kesempatan-kesempatan di mana ia dapat memiliki tanggung jawab pribadi dalam menemukan jawaban terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Ia selalu bergairah untuk bekerja lebih baik dan efisien dibanding sebelumnya.

Motif Berkuasa

Gejala sebaliknya terjadi pada orang yang tinggi dalam motif berkuasa, yakni lebih berorientasi pada hasil daripada proses. Bedakan dua ungkapan berikut: “Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa saya seorang intelektual,” dan “Saya ingin agar orang-orang menyebut saya sebagai intelektual.” Ungkapan pertama menandakan motif berprestasi, ungkapan kedua menandakan motif berkuasa. Dalam kalimat pertama, tersirat juga keinginan untuk disebut intelektual. Tetapi hal itu ingin didapatkan setelah yang bersangkutan menunjukkan karya-karya yang membuat ia berhak disebut intelektual. Ungkapan kedua menunjukkan keinginan untuk disebut intelektual, tetapi tak diungkapkan bagaimana caranya. Pokoknya saya disebut intelektual, apapun caranya. Begitu kira-kira.

Motif kedua ini tampaknya cukup banyak dianut orang Indonesia. Kita mendengar ada pegawai yang membeli gelar akademik dari sebuah “universitas antah berantah” di luar negeri agar ia bisa naik jabatan dengan cepat. Ada juga politikus (dari nama “pekerjaannya” saja jelas mengharuskan yang bersangkutan punya motif berkuasa yang tinggi) yang ujug-ujug punya titel “Dr.” (Doktor) di depan namanya, padahal dia tidak punya reputasi akademis sedikit pun, apalagi sampai bikin buku. Contohnya seperti dapat kita lihat pada nama seorang pemimpin partai Islam di negeri ini. Sindrom gilagelar ini bahkan menimpa pula beberapa kiyai yang seharusnya punya sikap tawadhu dan rendah hati.

Motif Berafiliasi

Tampaknya motif inilah yang paling banyak dimiliki orang Indonesia. Setiap hari raya ‘idul fitri puluhan juta orang bergerak menyebar ke berbagai daerah di Indonesia untuk mudik melepas rindu dengan keluarga, sanak kerabat, dan para tetangga. Mereka rela menyisihkan pendapatan mereka sehari demi sehari agar pada saatnya cukup untuk mengongkosi perjalanan ke kampung halaman. Tingginya motif afiliasi orang Indonesia juga terartikulasi dalam filsafat hidupnya. Pepatah Jawa “mangan ora mangan ngumpul” atau ungkapan Sunda “riung mungpulung bongkok ngaronyok” menunjukkan hal itu.

McClelland tidak meneliti orang Indonesia. Tetapi, kata Jalaluddin Rakhmat, tampaknya orang Indonesia tidak jauh berbeda dengan tipikal orang Iran: tinggi dalam need for power dan need for affiliation. Tipe bangsa seperti ini cenderung melahirkan sistem yang otoriter. Rakyatnya pun lebih senang diperintah oleh rezim yang totaliter. Oleh karena itu jangan heran kalau kini rakyat Indonesia bosan dengan pemerintahan Orde Reformasi dan mulai menunjukkan gejala-gejala terinfeksi penyakit SARS (Sangat Amat Rindu Soeharto).

Dalam konteks organisasi, umumnya anggota yang hanya tinggi dalam motif afiliasi tidak akan mencapai tingkatan puncak dalam struktur. Mereka hanya mengisi bagian bawah sebagai massa yang diperlukan saat ada pemilihan ketua umum, atau paling banter dilibatkan dalam kepanitiaan-kepanitiaan untuk kerja-kerja yang bersifat operasional lapangan. Mereka memang lebih membutuhkan suasana persahabatan dan kekeluargaan (kooperatif) daripada situasi kompetitif dan mereka sangat menghindari konflik.

Sebagai organisasi perkaderan, HMI jelas membutuhkan kader dengan motif berprestasi lebih tinggi dibanding motif lainnya. Motif berkuasa tetap diperlukan, namun dalam kadar yang sedang-sedang saja. Motif berafiliasi juga harus ada karena sebuah organisasi memerlukan sesuatu yang dapat mengikat anggota-anggotanya secara emosional. Ketiganya diperlukan dengan kadar yang berbeda-beda. Berorganisasi akan menjadi pengalaman yang menggairahkan dengan need for achievement; menjadi pengalaman yang seru dengan need for power; dan menjadi pengalaman yang indah dengan need for affiliation.

Hirarki Kebutuhan Maslow

Ketiga kebutuhan yang disebut McClelland di atas bukan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai syarat pokok untuk hidup (kebutuhan dasar). Ketiganya merupakan kebutuhan tingkat tinggi atau need for growth (kebutuhan pertumbuhan). Jika dibandingkan dengan teori hirarki kebutuhan yang dikembangkan Abraham Maslow, tiga kebutuhan McClelland ini kiranya mirip dengan kebutuhan tingkat ketiga sampai kelima. Dalam teorinya, Maslow menyebut ada lima kebutuhan manusia. Dua yang pertama merupakan kebutuhan dasar, yakni kebutuhan fisiologis (seperti makan, minum, dan berhubungan seksual), dan kebutuhan akan rasa aman (misalnya pakaian dan tempat tinggal).

Tingkat ketiga adalah kebutuhan sosial, yakni kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta. Manusia butuh berteman, berkeluarga, dan mempunyai identitas dalam suatu kelompok. Kebutuhan ini senada dengan need for affiliation dalam teori McClelland. Tingkat keempat adalah kebutuhan akan harga diri, bahwa setelah manusia hadir dalam kehidupan kelompok, ia ingin kehadirannya dihargai oleh orang-orang lain. Meski tidak persis, need for power-nya McClelland kiranya tak jauh berbeda dengan kebutuhan ini. Tingkat tertinggi adalah kebutuhan untuk beraktualisasi-diri. Di sini manusia mencurahkan segala potensi yang dimilikinya seoptimal mungkin sehingga ia dapat menjadi manusia yang berfungsi secara penuh. Kebutuhan ini analog dengan Need for achievement.

Dari perbandingan di atas tampak bahwa need for achievement atau kebutuhan berprestasi merupakan kebutuhan yang paling tinggi tingkatnya dibanding dua kebutuhan lainnya. Kebutuhan beraktualisasi-diri kategori Maslow hanya mungkin jika diisi oleh motif berprestasi yang tinggi. Oleh karena itu, sekali lagi, jika HMI ingin maju, rekrutlah kader-kader dengan motif berprestasi yang tinggi dan didiklah kader-kader yang ada untuk meningkatkan motivasi ini.

Insan Kamil

Saat membaca bab II dari NDP HMI (Pengertian-pengertian Dasar tentang Kemanusiaan), sesampainya di paragraf empat dan lima yang menerangkan tentang manusia sejati (insan kamil), saya tersenyum mendapatkan bahwa ciri-ciri insan kamil yang disebutkan di situ ternyata persis sama dengan ciri-ciri Maslow tentang orang yang telah mencapai tingkat aktualisasi-diri (lihat misalnya buku Duane Schultz, Psikologi Pertumbuhan, Jakarta: Kanisius, 1991). Saya kutipkan berikut ini paragraf empat secara lengkap dan kalimat pertama dari paragraf lima.

Manusia sejati (insan kamil) ialah yang kegiatan mental dan fisiknya merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan kerja rohani bukanlah dua kenyataan yang terpisah. Malahan dia tidak mengenal perbedaan antara kerja dan kesenangan. Kerja baginya adalah kesenangan dan kesenangan ada dalam dan melalui kerja. Dia berkepribadian, merdeka, memiliki dirinya sendiri, menyatakan keluar corak perorangannya dan mengembangkan kepribadian dan wataknya secara harmonis. Dia tidak mengenal perbedaan antara kehidupan individual dan kehidupan komunal, tidak membedakan antara perorangan dan sebagai anggota masyarakat, hak dan kewajiban serta kegiatan-kegiatan untuk dirinya adalah juga sekaligus untuk sesama umat manusia. Baginya tidak ada pembagian dua (dikotomi) antara kegiatan-kegiatan rohani dan jasmani, pribadi dan masyarakat, agama dan politik ataupun dunia akhirat.

Kita tahu NDP disarikan dari al-Quran. Meski tidak menutup kemungkinan Cak Nur, sang perumus utama, mengutip dari teori Maslow, keterangan tentang insan kamil itu diikuti oleh ciri-ciri selanjutnya yang diambil dari al-Quran: “Kesemuanya dimanifestasikan dalam suatu kesatuan kerja yang tunggal pancaran niatnya, yaitu mencari kebaikan, keindahan dan kebenaran (al-Bayyinah: 5). Dia adalah seorang yang ikhlas, artinya seluruh amal perbuatannya benar-benar berasal dari dirinya sendiri dan merupakan pancaran langsung dari kecenderungannya yang suci dan murni (al-Baqarah: 207). Suatu pekerjaan dilakukan karena keyakinan akan nilai pekerjaan itu sendiri bagi kebaikan dan kebenaran, bukan karena hendak memperoleh tujuan lain yang nilainya lebih rendah (pamrih) (al-Insan: 8-9). Kerja yang ikhlas mengangkat nilai kemanusiaan pelakunya dan memberinya kebahagiaan (al-Baqarah: 263)… dst.

Saya tidak hendak mengritik Cak Nur dengan pembandingan ini. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa orang yang hidupnya digerakkan oleh motif berprestasi (McClelland), dan motif aktualisasi-diri (Maslow), adalah sejalan dengan ciri-ciri insan kamil dalam al-Quran.

Wallahu a’lam.

Catatan: Tulisan ini diambil dari buku Asep Sofyan, Mengislamkan HMI Meluruskan Niat dalam Berorganisasi (eLSAK, 2003).

This entry was posted in Psikologi, Sosial and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Tiga Motif Ber-HMI

  1. hmi merupakan harapan masarakat indonesia maka apa pun persoalan yang di hadapkan kader hmi harus berperan aktif.

    Asep:
    Betul.

  2. isnur says:

    senangnya menemukan blog ini…..

    Asep:
    Sama-sama, senang juga ditemukan oleh Isnur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s