Enaknya Jadi Rakyat Jelata: Boleh Tidak Membantu (Tentang Tragedi Situ Gintung)

(Foto dari BBCIndonesia.com)

(Foto dari BBCIndonesia.com)

Jumat pagi, 27 Maret 2009, pukul delapan lewat seperempat, saya pergi ke Graha Insan Cita (GIC) di Depok untuk mengisi materi filsafat ilmu di LK-1 yang diadakan oleh HMI Komisariat Psikologi Cabang Ciputat. Saya belum mendengar tentang jebolnya tanggul Situ Gintung, bahkan belum menduga soal itu meski jalan Ciputat Raya ke arah Lebak Bulus macet dan di sekitar jembatan kali Pesanggrahan orang-orang berkerumun menyaksikan air kali yang meluap. Saya baru mendengar musibah tersebut dan kedahsyatannya justru setelah saya sampai di Depok, yakni dari cerita anak-anak komisariat dan berita di tivi yang diputar di situ.

Saya pulang dari Depok dan tiba di Ciputat sebelum magrib. Dari televisi di rumah, saya saksikan lagi berita itu.

Sabtu pagi, saya bersama seorang anak tetangga pergi naik motor untuk melihat lokasi musibah. Saya penasaran dengan kabar bahwa air Situ Gintung telah habis semua. Saya ingin melihat bagaimana rupa Situ Gintung tanpa genangan air. Saya membawa motor melalui jalan Cirendeu bagian belakang, dan memarkir motor dekat pintu air yang katanya jebol itu. Banyak sekali orang di situ. Kebanyakan tampaknya bertujuan serupa saya: sekadar ingin melihat-lihat.

Rupanya benar. Situ Gintung kini bagaikan empang habis dibedol. Yang tinggal hanyalah sisa-sisa lumpur di dasar situ serta sejumlah waring (jaring yang diikatkan pada potongan bambu berbentuk persegi, berfungsi sebagai tempat membiakkan ikan, biasanya tampak mengambang di permukaan air) yang kini tak mengambang lagi. Beberapa nelayan tampak tengah mengais ikan-ikan yang masih bisa diselamatkan.

Saya dan teman saya berjalan menyusuri tepian Situ. Baru kali itu saya melihat keseluruhan bentuk Situ Gintung. Waktu masih ada airnya, saya hanya pernah melihat Situ dari tiga tempat: pulau, kolam renang, dan belakang komplek Dosen UI. Dari tiap tempat itu, tak pernah saya bisa melihat keseluruhan areal Situ sehingga tak bisa saya bayangkan seperti apa bentuk Situ dan seberapa luasnya.

Ada yang bilang bentuk Situ Gintung seperti ular. Ucapan itu ada benarnya. Situ Gintung memang memanjang dan meliuk-liuk di ujung-ujungnya. Ujungnya ada tiga, sebab badan Situ dibelah oleh sebuah tanjung (tanah menjorok) yang kerap disebut ”pulau”. Salahnya, saya tidak pernah tahu ada ular ber”ujung” tiga.

Saya dan teman saya kemudian menuruni jalan menuju bagian bawah dari tanggul yang jebol. Yang pertama saya lihat adalah sebuah masjid yang tegak. Masjid Jabalur-Rahmah (Gunung/Bukit Rahmat). Masjid itu terletak persis di muka jebolan air dalam jarak sekitar 40 meter. Dalam sebuah video amatir yang diputar Metrotivi, saya lihat masjid itu dilimpahi arus bah setinggi jendela. Tapi ketika rumah-rumah di sekitarnya ambrol terseret arus dengan hanya menyisakan lantai, masjid itu tetap kukuh berdiri hingga atapnya. Hanya jendela-jendelanya yang hilang, dan mungkin beberapa genteng. Pikiran mistis akan menyebut, itulah kekuasaan Tuhan. Pikiran rasional akan mengatakan, kemungkinan besar fondasi dan struktur bangunan masjid itu memang lebih kuat daripada bangunan-bangunan di sekitarnya.

Orang-orang semakin banyak berdatangan. Saya tahu pada umumnya mereka adalah wisatawan, seperti saya dan teman saya. Agak tidak terbedakan dari mereka adalah penduduk sekitar Situ. Di antara mereka, sebagian asik menangkap ikan di surutan air campur lumpur yang terus mengalir. Selain itu, ada juga para relawan dari berbagai organisasi dan puluhan tentara.

Saya berjalan menyusur aliran air. Teman saya coba-coba menangkap ikan. Dapat. Saya juga coba ikut mencari ikan. Dapat juga. Ikan kecil-kecil: mujair, sejenis lele, patin kecil, sapu-sapu, dan udang. Asik juga nangkap ikan. Saya tidak punya rencana apa-apa dengan ikan yang berhasil ditangkap. Apalagi ikan sapu-sapu, si loreng penyedot debu. Bak mandi di kamar mandi saya tampaknya tidak terlalu membutuhkan jasanya.

Sekitar sejam lebih menyusur kali, cuma sedikit ikan yang berhasil ditangkap. Kami memang tidak serius. Ikan-ikan itu kami masukkan ke botol aqua ukuran satu liter yang ditemukan di sana. Bahwa ikan-ikan itu bisa masuk semua ke dalam mulut botol aqua, mengindikasikan ukuran terbesar dari ikan yang kami peroleh.

Sendal jepit teman saya copot sebelah. Sambil mencari ikan, saya menemukan banyak belahan sendal jepit tersangkut di lumpur atau dahan pohon yang tumbang. Saya ambil sepasang dua yang masih pantas, meski warna dan bentuknya berlainan. Sepasang dipakai teman saya, sepasang lagi saya bawa pulang. Sampai sekarang, saya masih memakai sendal jepit temuan dari Situ Gintung. Yang sebelah kanan warnanya warna-warni, yang sebelah kiri warnanya hijau dan ukurannya lebih besar. Biarin.

Sepanjang jalan, saya mensyukuri status saya yang hanya seorang biasa atau rakyat jelata. Seandainya saya seorang pejabat, entah itu pejabat negara, pejabat parpol, atau walau cuma pejabat organisasi mahasiswa semacam HMI, pikiran saya tentu akan terbebani oleh rasa semacam kewajiban untuk membantu orang-orang yang terkena musibah.

Bahkan karena saya hanya seorang rakyat jelata, saya juga tidak perlu risih memakai sendal jepit berlainan model.

Enaknya jadi rakyat jelata, ia boleh tidak membantu sesamanya yang terkena musibah, toh tidak kenal ini. Walaupun jika membantu akan lebih baik, tidak membantu pun tidak apa-apa. Tidak ada dosa. Tidak ada kewajiban moral untuk itu. Bahkan seorang jelata seperti saya masih bisa bergembira saat seekor ikan kecil menggelepar di telapak tangan.

Memang akan lain halnya jika si rakyat jelata itu orang yang terkena musibah. Lain halnya. Tapi semoga mereka tetap bisa mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan, apapun bentuknya, seandainya mereka masih hidup. Jika mereka meninggal dunia, semoga Tuhan berkenan menurunkan Gunungan Rahmat-Nya sehingga mereka tercatat di halaman akhir Kitab sebagai syuhada. Amin. []

This entry was posted in Cathar, Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Enaknya Jadi Rakyat Jelata: Boleh Tidak Membantu (Tentang Tragedi Situ Gintung)

  1. adefadlee says:

    Ujian dan bencana didatangkan Allah untuk penghapusan dosa dan meningkatkan darjat. Syukurlah Rasulullah telah bersabda bahwa dari Bumi sebelah Timur akan terjadi kebangkitan Islam kali kedua di akhir zaman sekarang ini………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s