Mencegah Kemunkaran?

Jl. Sedap Malam, Sabtu dini hari, 27 Juni 2009

”Orang yang beriman, tatkala melihat kemungkaran, dia akan mencegah dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangan, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Itulah selemah-lemahnya iman.”

Hadis inilah yang saya ingat ketika pada suatu malam menjelang pagi saya mendapati empat orang tengah bermain gaple di depan sebuah warung rokok di pinggir jalan dekat kosan saya. Di depan tiap-tiap mereka teronggok lembar-lembar uang pecahan seribu, lima ribu, dan sepuluh ribu. Setiap habis satu putaran, lembaran-lembaran uang itu akan berpindah, bergantung siapa yang menang. Onggokan uang itu membuat saya tak ragu bahwa mereka tengah berjudi.

Tapi bukannya mencegah, saya malah menonton aktivitas mereka. Saya mencoba memelajari permainan gaple jenis apa yang mereka mainkan. Tapi sampai hampir setengah jam saya perhatikan, saya tetap tidak paham. Permainan mereka bukan dari jenis yang biasa saya mainkan dengan teman-teman kalau sedang iseng.

Gambaran permainannya begini: satu orang mengocok kartu, membagikan sejumlah lima kartu kepada tiap peserta, lalu masing-masing akan membuka semua kartunya sambil menyebutkan jumlah angka yang mereka dapatkan. Ini membuat saya bisa ikut menghitung angka perolehan mereka. Tidak selalu yang terbesar menjadi pemenang. Saya mendengar beberapa kali mereka mengucapkan istilah ”nyuk”. Ada nyuk empat, nyuk lima, nyuk enam, dsb. Saya bertanya-tanya apa itu ”nyuk”, dan sepertinya istilah itu merujuk angka 20. Tapi selebihnya saya tidak mengerti atas dasar apa mereka menentukan pemenang.

Sebelum ini saya sudah beberapa kali memergoki mereka main judi kartu. Tapi baru kali ini saya memerhatikan dengan lebih saksama.

Salah satu dari pemain adalah pemilik warung. Tiga lainnya tidak saya kenal. Di samping mereka ada satu orang menjadi penonton. Tapi saya yakin mereka bukan dari jenis orang berpunya. Kalau mereka orang kaya, mereka tidak akan bertaruh uang di pinggir jalan.

Terus terang, untuk mencegah dengan tangan, saya merasa tidak mampu. Melarang dengan lisan pun saya tidak berani. Sempat terpikir oleh saya untuk melapor ke polisi, tapi saya tidak yakin polisi akan menanggapi. Dan orang-orang itu pun tentu akan tahu siapa yang melapor, sebab saya sering belanja di warung tersebut.

Saya sadar iman saya ternyata sangat lemah. Saya hanya bisa diam.

Paling jauh, yang saya bisa hanya menulis catatan ini, lalu memuatnya di blog dan facebook.

Ah. []

This entry was posted in Cathar, Sosial and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s