Membaca al-Quran sebagai Seni

Mungkin kita pernah mendengar ada orang bertanya, ”Untuk apa membaca al-Quran kalau tidak memahami artinya?”

Pertanyaan ini menyiratkan problem umum kaum muslim di negara-negara yang tidak berbahasa Arab. Terkadang pertanyaan tersebut dilontarkan oleh orang yang kemudian meninggalkan sama sekali membaca al-Quran. Tetapi ada juga yang setelah bertanya begitu, dia menjadi terdorong untuk belajar memahami bahasa al-Quran.

Terlepas dari itu, betulkah membaca al-Quran tanpa memahami maknanya itu tidak berguna?

Dalam Islam ada ajaran bahwa membaca al-Quran merupakan ibadah. Mengerti atau tidak mengerti, pembacanya tetap akan mendapatkan pahala. Bahkan biarpun ia membacanya dengan susah payah dan banyak salah, tetap ada pahalanya. Dan pahala membaca al-Quran bukan dihitung per ayat, melainkan per huruf.

Ini adalah kegunaan pertama membaca al-Quran, yakni mendapatkan pahala.

Tapi bukan itu yang saya maksud. Saya ingin mengaitkan pertanyaan di atas dengan fungsi seni. Apakah fungsi seni? Setidaknya ada dua jawaban besar: menghibur dan mengajarkan sesuatu. Horace, penyair Yunani kuno, menyebutnya dulce (indah) dan utile (berguna). Dua fungsi ini paling mudah dilihat dalam karya sastra. Pada karya sastra yang baik, ia terasa indah sekaligus memberikan pencerahan atau wawasan tertentu bagi pembacanya. Pada karya seni jenis lain, seperti musik, lukis, dan tari, fungsi kedua mungkin agak tertutupi oleh yang pertama. Namun pandangan tradisional biasanya selalu berupaya mencari makna di balik setiap nada, gerak, garis, dan warna.

Pada zaman modern ini, ketika eksperimentasi atau pembaruan bentuk seni mencapai taraf yang tidak terbayangkan sebelumnya, fungsi didaktis (utile) dari karya seni banyak menuai kritik. Perdebatan yang mengemuka adalah antara ”seni yang bertendensi” dan ”seni untuk seni”. Meski doktrin seni untuk seni mungkin tidak banyak pengikutnya, para seniman dan kritikus kontemporer biasanya memandang rendah seni yang bertendensi. Kini sudah banyak dimaklumi bahwa seni tidak mesti mengajarkan sesuatu. Asalkan ia terasa indah, nikmat, dan menghibur, cukuplah.

Apakah al-Quran merupakan karya seni?

Pertama dan terutama, al-Quran tentulah kitab suci atau buku petunjuk bagi orang-orang yang mengimaninya. Sebagai buku petunjuk, al-Quran mengajarkan sesuatu, antara lain nilai-nilai moral, hukum kemasyarakatan, wawasan sejarah, hingga ramalan masa depan. Namun al-Quran adalah kitab suci yang sangat nyeni (artistik) dan indah (estetis). Unsur seni dalam al-Quran setidaknya terasa pada dua hal: gaya bahasa (seni sastra) dan rima atau persajakan (seni musik).

Orang yang tidak mengerti bahasa Arab tidak akan mampu memahami dan mencapai keindahan dari gaya sastra al-Quran. Tapi rima atau pengulangan bunyi akhir adalah soal lain. Kata-kata dalam aksara Arab terdiri dari suku kata-suku kata yang mesti dibaca dengan tempo tertentu, ada yang pendek ada yang panjang. Ini saja sudah menimbulkan irama tersendiri. Ditambah dengan penataan rimanya yang sangat apik, menjadi sempurnalah unsur musikal pada ayat-ayat al-Quran.

Pada aspek inilah orang yang tidak paham bahasa Arab masih bisa mendapatkan sesuatu dari membaca al-Quran, yakni keindahan. Memang dia tidak mengerti artinya, tapi rasanya nikmat, syahdu, menggetarkan, sekaligus melembutkan jiwa. Dan karena al-Quran merupakan wahyu Tuhan, terasa ada yang gaib di sana, sesuatu yang religius dan spiritual.

Karya seni modern biasanya menuntut diapresiasi dengan sikap ini. Sepanjang orang merasa terhibur, cukuplah. Memaksakan memahaminya malah bisa membuat rasa keindahan itu menjadi pudar.

Al-Quran bukanlah karya seni modern dan mungkin bukan karya seni. Tapi kita bisa mendekatinya sebagaimana kita mengapresiasi karya seni modern. Al-Quran, sepanjang ia dibaca secara tartil (sesuai tajwid), pembacanya akan merasakan aura keindahan menyelimuti dan merasuk ke dalam dirinya. Jika suaranya tidak buruk, atau malah tergolong merdu, maka orang di sekelilingnya yang mendengar pembacaan itu akan merasakan pula keindahannya.

Keindahan al-Quran akan lebih menjadi-jadi manakala ia dibaca dengan teknik tertentu yang disebut qiraat atau seni membaca al-Quran. Terlebih jika qari-nya memiliki suara yang merdu. Contoh terbaik dari pembacaan jenis ini adalah sebagaimana dilakukan Muammar Z.A., qari bertaraf internasional asal Indonesia. Bagi yang ingin membuktikan, biasanya suara Muammar mengudara di banyak masjid menjelang magrib atau jumatan.

Membaca al-Quran sebagai seni berarti membaca al-Quran dengan maksud untuk menikmati keindahan rimanya. Membaca al-Quran sebagai seni tidak menuntut pemahaman. Siapapun, asalkan menguasai cara membaca aksara Arab, bisa mengakses keindahan musikal dari al-Quran.

Mencintai al-Quran, memelajari, dan mengamalkan ajarannya, saya yakin bisa dimulai dan dipupuk dengan cara ini: membacanya sebagai seni.

This entry was posted in Agama, seni and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Membaca al-Quran sebagai Seni

  1. zen cool says:

    saudaraku sy merasa senang membaca seklas ttg seni baca al-Qur’an. Kalo berkenan boleh sy minta artikel atao apa saja seputar seni baca al-Qur’an. trmksh

    Asep:
    Artikel yg sy tulis hanya ini. Lainnya ada transkrip dari ceramah Muammar, bisa dibaca di Belajar Seni Baca al-Quran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s