Di Kampungku, di Gunung

Malam selalu berkata, peluk aku.
Lalu aku memeluknya.
Tapi saat ia berubah menjadi pagi, ia berseru, lepaskan, lepaskan.
Aku tak mau, malah memeluknya lebih nafsu.
Ia meronta, menendangku ke sudut kamar, lalu berlari keluar.
Aku mengejar.
Tapi sesampainya di pintu, aku terpana.
Pagi tersenyum di depanku. Di telinganya sekuntum mawar. Di tangannya bunga matahari. Rambutnya berderai, berkilauan oleh embun.
Dan ia berkata, mandi sana, lekas. Habis itu baru kita bermain lagi.

This entry was posted in Puisi and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Di Kampungku, di Gunung

  1. sulaiman says:

    kecerahan sinar matahari pagi menguatkan harapan untuk menyongsong masa depan, kesegaran embun pagi menguatkan otot dan tulang, kejernihan udara pagi menguatkan paru-paru untuk bekerja keras.

    Asep:
    Betul. Terima kasih. mari bangun pagi.

  2. Budaya Pop says:

    Puisimu punya twist yang asyik banget.

    Asep:
    Makasih. Twist itu ada bahasa Indonesianya gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s