Tak Ada Pinang, Pisang Pun Jadi

Ahad, 9 Agustus 2009

Tak ada pinang, pisang pun jadi. Toh bedanya cuma satu huruf. Jadinya memang bukan lagi panjat pinang, tapi panjat pisang.

Karena batang pisang tak cukup tinggi untuk ditanam, dan di RT kami hampir tak tersisa lagi tanah kosong yang bebas dari beton, maka batang pisang tersebut bukan ditanam di tanah melainkan digantung pada sebuah balok kayu yang dipalang di atas jalan. Kedua ujung balok kayu dicantolkan pada lantai dua sebuah rumah dan dahan pohon. Di tengah-tengahnya, batang pisang digantung terbalik dengan bagian akar mengarah ke atas. Aneka hadiah (ada makanan, topi, layangan, uang, dll) dipasang di bagian ini. Di bagian bawah, ujung batang pisang itu tidak mencapai tanah, melainkan tergantung-gantung pada jarak sekitar satu meter lebih dari tanah.

Karena tinggi total batang pisang tidak terlalu tinggi dari tanah, hanya sekitar tiga meter, panjat pisang ini diperuntukkan bagi anak-anak, berusia kira-kira 9 s.d. 13 tahun. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok. Per kelompok tiga orang. Ada juga yang dua orang untuk anak-anak yang agak besar.

Cara mainnya, satu anak berdiri di bawah sambil berpegang pada ujung batang pisang, satu anak naik di atasnya, dan satu anak naik di atasnya lagi. Secara teoretis, gabungan tinggi tiga anak ini mampu menjangkau hadiah. Begitu pula gabungan tinggi dua anak yang agak besar. Namun tidak mudah bagi anak-anak untuk melakukan itu, sebab batang pisangnya diolesi minyak sayur sehingga licin sekali dan berdiri mereka jadi tidak stabil.

Namun lama-lama ada juga kelompok anak yang berhasil meraih dua-tiga hadiah yang tergantung di atas batang pisang. Puluhan penonton yang memadati arena jalan Sedap Malam bersorak-sorak dan bertepuk tangan memberi semangat setiap kali ada anak yang tangannya mampu menjangkau hadiah dan menjatuhkannya ke tanah.

Saya pun ikut bertepuk tangan dan bersorak. Saya mengagumi kreativitas yang muncul di arena perayaan tujuh belasan di RT saya, RT. 08 RW. 08 Kelurahan Pisangan, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.

Satu bentuk dari kecintaan anak negeri pada Indonesia. []

This entry was posted in Cathar and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s