Lu Xun: Kiri Yang Bukan Komunis

Sabtu, 22 Agustus 2009

Baru saja kubaca tulisan I. Wibowo tentang Lu Xun berjudul ”Lu Xun, Kiri yang Bukan Komunis”. Tulisan ini dimuat di jurnal Kalam tahun 2001 bertema Kiri di Asia. Lu Xun, sebagaimana ditulis Wibowo, adalah seorang kiri dalam dua maknanya yang fundamental: anti-kemapanan dan membela mereka yang tertindas.

Lu Xun memiliki nama asli Zhou Shuren, lahir di desa Saoxing, provinsi Zhejiang, pada tahun 1881, dan meninggal pada tahun 1936 karena penyakit TBC.

Menurut I. Wibowo, Lu Xun tidak percaya pada revolusi dan sastra revolusioner. Lu Xun membedakan tiga tahap hubungan sastra dan revolusi. Menurutnya, hanya pada masa sebelum revolusi saja dapat dihasilkan sastra yang revolusioner, yaitu ketika dalam masyarakat muncul kemarahan terhadap ketidaksamaan dan kenistaan. Baik selama maupun sesudah revolusi, tidak mungkin dihasilkan sastra revolusioner karena selama revolusi orang sangat sibuk dengan kegiatan revolusi sehingga tidak ada waktu bagi penulisan sastra, adapun sesudah revolusi orang terjebak atau menghasilkan sastra yang memuji-muji keberhasilan revolusi atau sastra yang meratapi hilangnya masa lampau.

Lu Xun juga mengkritik politikus. Dalam pandangannya, para politikus tidak punya tujuan lain kecuali memertahankan status quo dan kepentingan sendiri. ”Sesudah revolusi, politikus yang dulunya revolusioner berubah memakai metode-metode lama yang pernah mereka lawan.” Sastra, karenanya, tidak perlu terlibat dengan politik, revolusi ataupun bukan. ”Selama revolusi, penulis-penulis membayangkan betapa indahnya dunia setelah revolusi. Tapi setelah revolusi, mereka menemukan perkaranya jadi berbeda dari yang mereka bayangkan. Lalu mereka pun kecewa lagi.”

Meskipun demikian, Lu Xun dikenang publik masa kini sebagai seorang komunis radikal dan seorang sastrawan revolusioner yang besar. Hal ini berkat propaganda Jiang Qing, istri Mao, yang menghidupkan kembali namanya untuk melawan pengaruh sastra anti-revolusi pada dekade 1960-1970. []

This entry was posted in Esai Sastra and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s