Menjadi Guru Ternyata Tidak Membosankan

Sabtu, 22 Agustus 2009

Menjadi guru bukanlah cita-citaku. Tapi setelah kujalani, ternyata pekerjaan ini tidaklah buruk. Buruk dalam arti: membosankan. Pekerjaan ini tidak membosankan.

Yang membosankan justru dua rekan kerjaku. Dua-duanya perempuan dan masih perawan, maksudku belum bersuami. Dengan status itu, seharusnya keduanya bisa menjadi rekan kerja yang menyenangkan. Tapi mereka menganut mazhab fikih yang menghalangi mereka untuk sekadar duduk berdampingan atau berjalan beriringan dengan seorang pria nonmuhrim. Sepertiku. (Soal ini akan kuceritakan nanti).

Dibanding tiga pekerjaanku sebelumnya, menjadi guru lebih menyenangkan. Tiga pekerjaanku sebelumnya adalah:

Pertama, mengamen di bis kota. Pekerjaan ini kujalani dari tahun 2000 s.d. 2004. Saat menyanyi sih enak, tapi rasa jenuh sering muncul di kala terlalu lama menunggu bis. Belum lagi kalau dapat bis yang berisik atau saat pendapatan sedikit.

Kedua, surveyor LSI. Pekerjaan ini tingkat stresnya tergolong tinggi. Harus mencari sepuluh orang tidak dikenal dan mewawancarai mereka, perasaan bahwa kita mengganggu orang lain, menghadapi mereka yang sulit memahami pertanyaan, atau orang yang tidak mau diwawancara, adalah beberapa sumber stres. Tidak jarang surveyor yang belum berpengalaman harus terjatuh pada rekayasa jawaban.

Pekerjaan ini kujalani mulai Agustus 2003 dan terakhir April 2009. Upahnya sih lumayan. Tapi tidak bisa dijadikan pekerjaan tetap.

Ketiga, transkriptor dan editor pengajian di Masjid Agung Sunda Kelapa. Pekerjaan ini kujalani sejak tahun 2002, kuperoleh dari Suwendi, pengurus masjid tsb. Stres tertinggi dihadapi saat harus mengedit hasil transkrip yang buruk. Berikutnya saat harus mentranskrip ceramah yang ngalor-ngidul, juga yang terlalu panjang. Upahnya kecil, tapi rutin. Lumayan bisa diandalkan untuk hidup karena rutinnya.

Pekerjaan ini masih kujalani sampai sekarang, dan menjadi sumber penghasilan utama di samping menjadi guru.

Kenapa menjadi guru lebih menyenangkan?

Pertama, karena yang kuhadapi adalah anak-anak kelas 1 dan kelas 2 MI, usia antara 5 s.d. 7 tahun. Bekerja bersama anak-anak kecil ternyata penuh dengan kehangatan dan kesegaran. Hangat dan segar adalah dua kata yang berlawanan. Hangat adalah bentuk moderat dari panas, segar bentuk moderat dari dingin. Keduanya menyatu pada diri kanak-kanak.

Kehangatan diperoleh dari sikap mereka yang manis, penuh hormat, penuh kagum, penurut, dan –mungkin, entah kata ini tepat atau tidak- penuh cinta.

Kesegaran diperoleh dari tingkah mereka yang lucu, ekspresi yang selalu baru (setidaknya bagiku, karena aku belum lama jadi guru), wajah yang riang dan senang bermain.

Salah satu hal yang menyenangkan adalah jika aku masuk ke dalam kelas, atau sekadar melongok di pintu, anak-anak itu akan berebutan memanggil namaku dengan nada minta diperhatikan.

Beberapa anak (perempuan) telah cukup percaya padaku sehingga tatkala aku duduk di pinggir lapangan, mereka dengan enaknya duduk di pahaku sambil bersender ke dadaku.

Dalam beberapa hal, pikiranku dipengaruhi bayangan romantis hubungan guru dan murid-murid sekolah dasar sebagaimana pernah kubaca dalam buku-buku cerita waktu di SD, kumpulan cerpen Guru, novel 12 Pasang Mata karya Tsakai Tsuboi, Sheila Luka Hati Seorang Gadis Kecil karya Torey Hayden, dan Laskar Pelangi dari Andrea Hirata.

Membaca buku-buku cerita itu membuatku kadang membayangkan, seandainya aku menjadi guru sekolah dasar di sebuah desa terpencil, menghadapi bocah-bocah berwajah polos bermata bening, mengajari mereka membaca dan menulis dan berhitung, bermain-main dengan mereka di bawah pohon kelapa; semuanya sungguh indah dan menyenangkan. Mungkin aku akan sedikit kebingungan saat ada anak yang menangis, atau ada yang ngompol di kelas, atau menghadapi anak yang sukar belajarnya, atau suka mengganggu temannya, tapi itu semua diperlukan layaknya warna-warni pada bunga.

Mungkin aku akan mendapat gaji yang kecil dan sampainya kerap terlambat, tapi bayaran untukku yang sesungguhnya adalah tatapan penuh cinta dari bocah-bocah itu dan sorot penuh terima kasih dari orangtua-orangtua mereka. O ya, juga tentunya dari Allah, yang akan kurasakan berupa ketenangan batin dan kedamaian jiwa.

Tapi yang kuhadapi sekarang bukanlah anak-anak desa. Sekolah tempatku bekerja adalah Madrasah Pembangunan UIN Jakarta, sebuah sekolah elit di kawasan Ciputat. Uang pangkalnya saja mencapai 13 juta, SPP 350 ribu per bulan, lebih mahal ketimbang kuliah di UIN (kecuali jurusan Kedokteran).

Meskipun demikian, anak-anak di MP tetaplah menyenangkan. Namanya anak-anak, di manapun berada, tampaknya wajah mereka sama: manis, polos, dan matanya bening. Yang berbeda dari bayanganku dengan anak-anak di sekolah terpencil, anak-anak MP ini manja-manja. Tapi kemanjaan bukanlah sesuatu yang negatif pada anak-anak. Hal ini malah menambah warna tersendiri pada pola hubunganku dengan mereka. (Patut dicatat: aku menulis ini tidak dengan nada mengeluh).

Kedua, karena aku bukan guru kelas, melainkan guru bimbingan dan konseling (BK). Sebetulnya aku belum tahu mana yang lebih menyenangkan: menjadi guru kelas atau guru BK. Tapi bayanganku adalah begini: seorang guru kelas menghadapi anak-anak yang sama setiap hari, mengajar penuh waktu dari jam 7 s.d. 11.25, dan harus mengoreksi hasil pekerjaan murid-muridnya. Sementara guru BK sepertiku bebas masuk-keluar kelas mana saja (aku menangani 16 kelas di kelas 1 dan 2 MI), tidak harus mengajar dan bahkan boleh pula sekadar duduk di kantor, dan tidak harus mengoreksi pekerjaan murid-murid.

Tapi bayangan sebaliknya begini: seorang guru kelas dapat terlibat dalam hubungan yang lebih intens dengan murid-muridnya, sementara peluangku untuk itu lebih kecil karena harus menghadapi sekian jumlah murid dan pertemuanku dengan mereka hanya sesekali atau beberapa kali dalam seminggu.

Hal lain, seorang guru kelas memiliki program kerja dan tugas yang jelas serta ukuran keberhasilan yang jelas. Guru BK tidak seperti itu. Tugas guru BK harus dikreasi sendiri, begitu pula targetnya. Hal ini bisa menimbulkan stres dalam bentuk lain yang disebabkan tidak jelasnya beban pekerjaan atau beban yang terlalu ringan. Tidak jelasnya target atau ukuran keberhasilan pun membuat guru BK kehilangan umpan balik yang dibutuhkan untuk mengevaluasi dan memerbaiki kinerja.

Tapi untuk sementara, bolehlah aku menganggap menjadi guru BK lebih menyenangkan dibanding guru kelas disebabkan kebebasannya lebih besar dan waktu luangnya lebih banyak. Entah nanti.

Seperti kukatakan di awal, menjadi guru bukanlah cita-citaku. Cita-citaku adalah pengarang cerita (novel, cerpen) dan penulis esai. Pendeknya, menjadi sastrawan. Untuk itu aku membaca buku dan menulis setiap hari. Dalam seminggu, kusisihkan waktu satu hari untuk menggarap novel. Aku yakin, kedua profesi tersebut bisa kujalani bersamaan. Aku pun berharap, interaksiku setiap hari dengan jiwa-jiwa murni dari anak-anak itu dapat mengaliri pikiran dan hatiku dengan ilham yang jernih dan melimpah. Semoga. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s