Keperempuanan, Kemanusiaan, Jilbab

jPerempuan yang bekerja dengan mengandalkan kemolekan tubuhnya atau mengumbar auratnya untuk mendapatkan uang, tidak tepat jika dikatakan “merendahkan derajat keperempuanannya”. Justru dengan berbuat demikian, ia telah “meninggikan derajat keperempuanannya”. Setidaknya perempuan itu memiliki harga tertentu yang dikuantifikasikan dalam bentuk uang. Orang lelaki rela mengeluarkan sejumlah uang untuk menikmati keindahan tubuhnya.

Perempuan yang demikian lebih tepat jika dikatakan “merendahkan derajat kemanusiaannya”. Sebab jika esensi manusia terletak pada pikirannya [sebuah tesis yang memerlukan pengujian lebih lanjut, namun tidak akan diuraikan di sini], seharusnya ia berusaha agar orang memandangnya lebih karena kemampuannya dalam berpikir, bukan karena keindahan tubuh atau kecantikan wajah. Sedangkan pekerjaan yang bermodalkan tubuh, tidak atau sedikit sekali mensyaratkan kemampuan berpikir.

Keperempuanan, juga kelaki-lakian, adalah aspek fisik. Kita mengenal seseorang sebagai perempuan atau laki-laki karena secara fisik menunjukkan demikian. Harga keperempuanan diukur dari kualitas fisik. Semakin bagus fisiknya, semakin tinggi harga yang bisa ditawarkan. Primadona di rumah pelacuran adalah perempuan dengan wajah paling cantik, senyum paling menarik, kulit paling halus, dan servis paling bagus. Dibutuhkan kocek tebal dan dalam untuk mendapatkan pelayanannya, dan seorang pria hidung belang mesti bersaing pula dengan hidung belang-hidung belang lain. Sedangkan jika kelebihan-kelebihan fisik itu tidak ada, atau jika perempuan itu jelek atau cacat atau hidungnya bengkok, dibayar pun takkan ada laki-laki yang selera, kecuali terpaksa.

Kemanusiaan adalah aspek non-fisik. Kita tidak dapat menentukan seseorang lebih baik daripada yang lainnya hanya dengan melihat ia ganteng atau cantik atau kulitnya licin. Harga kemanusiaan dilihat dari ketinggian ilmu, integritas moral, kekuatan emosional, atau derajat spiritual yang dimiliki. Kemampuan memecahkan masalah, kekuatan imajinasi, dan kepekaan memahami penderitaan orang lain, adalah indikator lain dari kemanusiaan. Hal-hal tersebut sama sekali tidak berhubungan dengan persoalan jenis kelamin. Kemanusiaan tidak mengenal perbedaan laki-laki dan perempuan. Yang ada adalah maskulinitas dan femininitas. Namun antara keperempuanan dan kelaki-lakian di satu sisi, dengan femininitas dan maskulinitas di sisi yang lain, adalah dua hal yang berbeda. Femininitas tidak hanya dimiliki perempuan, sebab banyak juga laki-laki yang feminin. Maskulinitas pun tidak hanya milik laki-laki, sebab banyak juga perempuan yang maskulin.

Kaitannya dengan jilbab, ini adalah pakaian yang sangat baik bagi perempuan karena jilbab membebaskan orang lain (laki-laki) dari cara pandang materialistik. Secara teoretis laki-laki lebih terangsang melihat perempuan dengan betis dan dada terbuka daripada perempuan yang sekujur tubuhnya tertutup, meski tidak selalu demikian. Dengan memakai jilbab, seorang perempuan lebih terlindung dari penilaian yang sifatnya fisik-material semata. Jilbab memertinggi kualitas kemanusiaan karena perempuan yang memakainya, ketika menyadari bahwa kehalusan kulit dan kilau rambutnya tidak lagi dilihat orang, akan berusaha agar dirinya tetap punya nilai di mata orang lain. Karena aspek fisiknya telah tertutup, nilai-nilai itu mesti diperoleh dari aspek yang lain. Di sinilah terjadi bahwa mau tak mau seorang perempuan harus belajar lebih giat, memertinggi intelektualitas dan kualitas moralnya.

Tetapi jilbab, dalam ukuran yang disepakati mayoritas ulama, tidak sepenuhnya menyembunyikan aspek fisik. Perempuan masih bisa memerlihatkan sebagian kelebihan fisiknya. Wajah tidak mesti ditutup, dada dan pinggang masih bisa dibedakan, bernyanyi tidak dilarang, sehingga aspek fisik tetap masuk kategori penilaian. Inilah barangkali satu di antara kelebihan Islam sebagai wasith, agama moderat atau pertengahan, agama yang memberikan porsi seimbang antara lahir dan batin, kelembutan dan kekerasan, bekerja dan beribadah, dunia dan akhirat, serta dikotomi-dikotomi lain.

This entry was posted in Agama, Gender and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s