Cara Mengada Manusia

Pengertian Ada

Secara bebas, “ada” dapat diartikan sebagai keadaan tercapainya segala esensi (kodrat atau fungsi) yang sudah melekat pada sesuatu sejak sebelum diciptakan. Ada merupakan keadaan akhir, ketika kodrat atau fungsi telah dipenuhi dengan sempurna. Kursi, misalnya, oleh pembuatnya sejak awal sudah diatur untuk memunyai fungsi sebagai tempat duduk. Ketika kursi itu dipakai sebagai tempat duduk, berarti kursi tersebut telah mencapai “ada” – ada sebagai kursi. Kursi yang masih terpajang di toko meubel adalah belum kursi. Kursi yang tidak dipakai sebagai tempat duduk, misalnya kursi mainan atau hiasan, adalah bukan kursi.

Ungkapan Descartes yang terkenal: aku berpikir maka aku ada, bisa dipahami dengan logika sederhana sebagai: aku ada karena aku berpikir. Jika aku tak berpikir maka aku tidak ada. Artinya, esensi manusia terletak pada pikirannya. Karena itu jika manusia tidak menggunakan pikirannya, kehadirannya di dunia ini sama dengan tidak ada. Tak beda manusia dengan kuda atau batu, sama-sama tak berpikir, dan karena itu ia tidak layak disebut manusia. Manusia adalah makhluk berpikir. Mengikuti definisi ini, maka untuk mencapai “ada”, manusia harus berpikir. Itulah cara-mengada (cara mencapai “ada” atau cara memenuhi esensi) manusia.

Tiga Realitas

Dalam lapangan filsafat dikenal tiga macam realitas: Tuhan, alam (makrokosmos), dan manusia (mikrokosmos). Ketiga realitas ini berhubungan satu sama lain dalam bentuk yang berbeda-beda. Hubungan inilah yang menentukan esensi tiap-tiap realitas tersebut. Biasanya ketiga realitas itu dihubungkan oleh tiga buah garis yang membentuk segitiga samakaki, dengan Tuhan di sudut atas, alam dan manusia sejajar pada dua sudut bawah. Menurut saya, hubungan ketiganya lebih tepat digambarkan dengan sebuah garis vertikal yang berisi tiga buah titik. Tuhan pada titik atas, manusia pada titik tengah, dan alam pada titik bawah.

Esensi manusia, karenanya, tidak lepas dari kedudukannya di hadapan dua realitas yang lain itu. Begitu pula cara-mengadanya.

Dua Cara-Mengada Manusia

Berhadapan dengan alam, manusia adalah merdeka. Inilah esensi manusia yang pertama. Dengan status merdeka yang disandangnya ini manusia memunyai kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri, menaklukkan dan memerlakukan alam sekehendaknya, dan terbebaskan dari sikap pembudakan diri terhadap sesuatu yang lebih rendah. Alquran menyebut status ini dengan sebutan “khalifah” (QS. 2: 30), dengan wewenang menggantikan Tuhan mengelola bumi (alam semesta). Bahwa kedudukan manusia lebih tinggi daripada alam dan makhluk-makhluk lain selain Tuhan, dapat diperiksa pada QS. 2: 31-34, ketika Tuhan membandingkan pengetahuan Adam (manusia) dengan malaikat, dan ketika malaikat disuruh sujud di hadapan Adam.

Esensi manusia yang kedua: berhadapan dengan Tuhan, manusia adalah hamba (QS. 51: 56). Sudah menjadi fitrah bahwa manusia membutuhkan zat yang kepadanya ia bisa menghambakan diri. Zat itu tentunya harus mahakuasa, setidaknya lebih kuasa daripada manusia. Zat itu tentunya harus berbeda dengan manusia dan dengan segala hal yang dikenal manusia. Dan zat yang paling mewakili ciri-ciri itu adalah Tuhan. Setiap manusia pada dasarnya teis (bertuhan). Tak ada manusia yang benar-benar ateis, bahkan yang mengaku ateis sekalipun. Kepada zat yang mahakuasa ini manusia menyerahkan semua kehendaknya, menundukkan segala keangkuhannya, meluruhkan segenap perasaannya.

Kedua cara-mengada manusia itu terangkum dalam kalimat tauhid: la ilaha illallah (tiada Tuhan  kecuali Allah). Dalam kalimat yang pertama, la ilaha (tiada tuhan), terkandung sikap penegasian atau pengingkaran terhadap segala sesuatu yang bisa dan mungkin dianggap tuhan. Ini suatu sikap yang mampu membebaskan manusia dari segala macam belenggu yang memerbudak kemanusiaannya. Dengan la ilaha, manusia menjadi “merdeka”.

Namun keadaan tanpa Tuhan itu berpotensi membuat manusia mabuk kebebasan tanpa batas. Manusia memang tidak boleh terbelenggu, namun status merdeka penuh ini bisa menciptakan belenggu baru, tuhan-tuhan baru, karena pada dasarnya manusia membutuhkan zat di luar dirinya yang bisa dijadikan lindungan atau tempat bergantung. Manusia bisa memertuhankan kebebasan dan kemerdekaannya sendiri. Karena itu setelah dibebaskan dari segala tuhan-tuhan palsu dengan la ilaha, manusia harus mencari Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang benar-benar Tuhan, Tuhan itu sendiri, yaitu dengan kalimat illallah (illa Allah – kecuali Allah). Dengan illallah, manusia menjadi “hamba”.

Kembali ke awal, ketika kita mengatakan “manusia adalah makhluk yang berpikir”, perlu diingat bahwa dalam proses definisi ada yang disebut substansi (pokok, zat) dan aksidensi (sifat, pemberian, tempelan). Makhluk adalah substansi, sedangkan berpikir adalah aksidensi. Sebagai sesuatu yang ditempelkan, aksidensi itu suatu saat bisa lepas, dan substansi kembali menjadi zat yang sendirian, tanpa ciri-ciri, dan dengan demikian tak bisa dikenali. Demikian pula halnya dengan dua status manusia sebagai merdeka di hadapan alam dan hamba di hadapan Tuhan. Kedua status tersebut adalah aksiden, sifat yang diberikan Tuhan pada manusia. Bila tidak dijaga, aksidensi itu akan terlepas dan manusia pun tak berbeda lagi dengan makhluk-makhluk lain semacam kuda dan kayu, bahkan lebih rendah lagi.

Mungkinkah “ada” sebagai keadaan akhir itu bisa dicapai oleh manusia? Mungkinkah manusia mampu memenuhi kodratnya dengan sempurna? Orang bilang kesempurnaan itu hanya milik Tuhan Yang Absolut, pemilik Kebenaran Sejati. Manusia itu serba kekurangan, jauh dari sempurna, banyak kelemahan, dan mudah tergelincir. Kaum eksistensialis berpendapat bahwa manusia selalu dalam keadaan menjadi (becoming), atau mengada (being), tak pernah mencapai keadaan jadi atau ada. Jadi manusia tidak wajib mencapai “ada”. Yang harus dilakukannya hanyalah berusaha mencapai keadaan sedekat mungkin dengan “ada”.

Dengan demikian, barangkali suatu saat kita akan berdiri di puncak gunung, tengadah ke bintang-bintang, dan berteriak: “Aku merdeka maka aku ada!”. Lalu sambil tertunduk dalam sujud, kita pun bergumam lirih: “Saya menghamba maka saya ada”. []

Catatan:

Ditulis pada tahun 2004. Semoga tulisan ini tidak dibaca oleh orang yang paham filsafat.

This entry was posted in Filsafat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Cara Mengada Manusia

  1. sedjatee says:

    saya belum faham filsafat… pantesan gak mudheng baca artikel ini…. hehehe… salam sukses…

    sedj

    Asep:
    Atau karena soal lain: tulisannya memang buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s