Parfum Rasa Bawang

111409697

Suatu hari mamah beli bawang banyak sekali sampai papah terheran-heran.

“Buat apa itu, mah, beli bawang banyak begitu?” tanya papah.

“Papah, kan, suka nasi goreng.”

“Nasi goreng? Asik! Tiap hari, ya, bikin nasi gorengnya.”

“Iya, jangan khawatir. Ini buat persediaan juga. Maklumlah harga-harga mamah dengar mau naik, jadi sekalian saja beli banyak. Mudah-mudahan cukup untuk beberapa bulan.”

“Wah, sebanyak ini sih buat tujuh turunan juga cukup. Tapi, bawang, kan, lama-lama bisa busuk.”

“Makanya semuanya sekarang mau mamah goreng, terus disimpan di toples. Tapi sebelumnya harus diiris-iris dulu.”

“Tapi nasinya mana, mah?”

“Sekarang bikin bumbu dulu. Nasinya nyusul.”

Mamah pergi ke dapur untuk mengiris bawang. Papah duduk di sofa membaca koran.

Sorenya.

“Mana, mah, nasi gorengnya? Kok harumnya belum tercium juga?”

“Yah, papah, bawangnya, kan, masih diiris. Nanti yah, setelah ini.”

Papah pergi lagi ke ruang tengah.

Besok paginya papah masuk lagi ke dapur.

“Mah, mana sarapannya? Nasi goreng, kan?”

“Nanti, pah, mamah belum selesai ngiris bawang. Habis banyak sekali sih.”

“Ya sudah, kalau begitu papah berangkat, ya.”

Sorenya sepulang dari kantor.

“Hmmh, wangi bawang, ya,” kata papah di pintu dapur. “Tapi nasi gorengnya kapan?”

Mamah menoleh ke belakang.

“Lihat nih, pah, mata mamah.”

“Wah, mamah nangis, ya. Aduh kasihan. Sini papah usap.”

Papah berjalan mendekati mamah, tetapi kakinya terpeleset. Rupanya ia menginjak lantai yang sudah lembab oleh air mata irisan bawang.

Besoknya papah menagih lagi, tetapi mamah masih sibuk mengiris bawang. Kini sambil terisak-isak. Mukanya sembab dan air mata bening mengalir melalui pipinya dan turun ke dagu dan menitik di baju terus jatuh di lantai. Kini lantai dapur telah basah oleh air mata mamah dan air mata itu mengalir ke pembuangan air dan bergabung dengan air lainnya di selokan.

Seantoro dapur semerbak aroma bawang.

Sampai beberapa hari mamah belum juga selesai mengiris bawang. Wajahnya semakin sembab dan terlihat menyedihkan namun ia terus saja mengiris bawang. Air matanya terus mengalir dan lantai dapur telah tergenang air dan air itu mengalir ke selokan bergabung dengan air-air lainnya dan dapur serta selokan itu memancarkan aroma bawang. Seisi rumah pun meruapkan wangi bawang.

Tiap pagi dan sore papah datang ke dapur menanyakan nasi goreng.

“Mah, papah kangen nih. Kita sudah lama tidak…, tidak…”

“Ah, papah, kok jadi malu-malu. Lakukan saja.”

“Di sini?”

Sambil terus mengiris bawang mamah menungging lalu menyingsingkan roknya. Hati-hati papah melangkah ke belakang mamah. Ia menurunkan kain terdalam mamah lalu membuka celananya sendiri.

“Mah, jangan-jangan anak kita nanti tubuhnya bau bawang, ya.”

“Tak apa-apa, biar pintar masak nasi goreng nantinya.”

Sementara itu orang-orang yang berjalan sepanjang selokan mau tak mau harus mencium bau bawang. Mulanya tiada yang memperhatikan. Tetapi karena aroma itu semakin hari semakin menyengat maka orang-orang pun ramai memperbincangkan.

“Bau bawang ini dari rumah mamah. Lagi apa dia yah?”

“Mungkin dia mau bikin pesta.”

Orang-orang itu beramai-ramai datang ke rumah mamah.

Mamah terus mengiris bawang. Papah keluar menjelaskan kepada orang-orang.

“Mamah mau bikin nasi goreng.”

“Nasi goreng? Asik! Apa kita akan kebagian?”

“Jangan khawatir, seluruh dunia pun pasti kebagian.”

Orang-orang itu pulang. Tetapi setiap hari mereka datang ke rumah mamah menanyakan nasi goreng sampai papah kewalahan menjawab pertanyaan mereka. Jika pertanyaannya sulit, papah pergi dulu ke dapur menanyakan langsung jawabannya pada mamah.

Mamah yang wajahnya semakin parah biasanya berkata dengan ketus, “Bilang sama

mereka, sebentar lagi selesai.”

“Sebentar lagi selesai,” ulang papah kepada orang-orang.

Irisan bawang menumpuk memenuhi dapur dan seluruh kamar. Kamar mandi juga penuh irisan bawang. Setelah semua kamar tak muat, irisan bawang itu dijejalkan di ruang makan, ruang tivi, ruang tamu, sesak hingga ke langit-langit dan akhirnya luber ke halaman. Seisi kampung jadi bau bawang.

Air mata mamah semakin deras mengalir membanjiri dapur dan memenuhi selokan yang bermuara di sungai kecil di pinggir kampung. Penduduk kampung lain pun jadi mencium bau bawang lalu semuanya datang ke rumah mamah.

“Mau bikin nasi goreng,” papah menjelaskan.

“Banyak sekali. Apa kami semua kebagian?” tanya orang-orang itu.

“Jangan khawatir, seluruh dunia pun pasti kebagian.”

Wajah mamah semakin terlihat sengsara. Tetapi untunglah masa mengiris bawang pun berakhir. Binar kelegaan yang terpancar di wajahnya membuat papah langsung bergairah.

“Papah tidak takut anak kita jadi bau bawang?” tanya mamah.

“Bawang itu wangi, mah, bukan bau. Buktinya orang-orang pada ngiler.”

Kikikik..

Dan tibalah saat menggoreng bawang. Mata mamah perlahan-lahan berhenti meneteskan air. Lantai dapur jadi kering dan tak ada lagi suplai air mata ke selokan. Aroma irisan bawang pelahan-lahan menghilang, berganti aroma goreng bawang yang ternyata lebih dahsyat dan menyengat. Mamah berkali-kali tersedak, berkali-kali bersin, berkali-kali batuk. Wajahnya merah oleh panas penggorengan dan reaksi fisiologis syaraf-syarafnya. Mula-mula aroma goreng bawang yang wangi menerbitkan selera itu hanya memenuhi dapur. Kemudian terus merembet ke seisi rumah dan akhirnya dibantu hembusan angin aroma goreng bawang itu memenuhi seluruh kampung. Semua orang mengendus-enduskan hidungnya.

“Hmmm, enak sekali.”

“Jadi lapar nih, pengen nasi goreng.”

Orang-orang berdatangan ke rumah mamah. Semakin dekat aroma itu semakin sedap dan semakin menusuk dan semakin membuat tersedak lalu semuanya bersin-bersin. Tetapi semuanya tertawa riang.

“Nasi gorengnya sebentar lagi, ya?”

“Iya, pulang saja dulu, nanti kalau matang dikasih tahu,” jelas papah.

Mamah semakin bersemangat menggoreng bawang. Wajahnya semakin merah dan hidungnya sudah tak terhitung bersin berapa kali.

“Mah, kalau lagi menggoreng bawang mamah jadi tambah cantik deh.”

“Pakai merayu lagi, kalau mau, ya, langsung saja, pah,” kata mamah sambil menurunkan roknya.

“Papah ingin dari depan, mah. Masa dari belakang terus.”

“Tapi nanti goreng bawangnya hangus.”

“Oh…” dan haccihh! Papah bersin.

Sementara itu aroma goreng bawang semakin menyebar melewati kampung-kampung terus ke kota hingga semua orang berlalu lalang di jalan-jalan dan di kendaraan dengan hidung mengembang.

“Hmmh, sedapnya. Betapa ingin aku ngemil bawang goreng.”

“Bawang goreng itu mau dibikin nasi goreng, tahu, bukan buat ngemil.”

“Nasi goreng? Wah, lebih yahud lagi kalau begitu.”

Dan orang-orang semakin banyak berdatangan ke rumah mamah. Tiap hari ada saja serombongan orang yang datang sehingga papah semakin kerepotan.

“Sebentar lagi nasi gorengnya jadi. Jangan khawatir, jangankan satu kota, seluruh dunia pun pasti kebagian.” Begitu kata papah selalu.

Akhirnya setelah berbulan-bulan orang-orang di kota dan desa dicekam aroma bawang, pada suatu hari semuanya berkumpul di depan rumah mamah, berteriak-teriak dan berorasi layaknya demontrasi.

“Mana nasi gorengnya??? Kami tak tahan lagi!!!”

Papah merasa tak sanggup menghadapi orang sebanyak itu dan ia lari ke dapur.

Dengan wajah membara merah dan baju yang kumal dan lecek serta rok yang awut-awutan, juga perut yang kembung membusung, mamah pergi ke depan rumah lalu berkacak pinggang di depan orang-orang.

Seseorang yang cekatan mengangsurkan toa kepadanya.

“Kalian ingin nasi goreng buatanku?” Suara mamah lantang mengatasi dengus nafas orang-orang yang tertahan. “Tapi kenapa kalian diam saja? Aku tak habis pikir, tak seorang pun dari orang sebanyak ini yang bantu aku. Apa kalian pikir bikin nasi goreng itu tugas perempuan saja?”

Dan orang-orang itu tertunduk semuanya. Dan mamah memarahi mereka semuanya. Dan orang-orang itu pulang semuanya. Sampai di rumah mereka menyuruh istri-istri mereka membuat nasi goreng. Tetapi istri-istri mereka tak satu pun yang mau membuatkan nasi goreng.

“Memangnya itu pekerjaan perempuan?” kilah para istri. “Lihat tukang nasi goreng yang sering lewat depan rumah kita, semuanya laki-laki.”

***

Di kantin sebuah SMA.

“Kikikik.., cerita kelahiran kamu lucu sekali, ya. Pantesan kamu bau bawang.”

“Enak saja. Ini parfum rasa bawang, tau.”

“Parfum rasa bawang? Beli di mana? Merk apa?”

“Parfumnya buatan mamah. Enggak ada merknya dan gak dijual. Kalau kalian mau, ngemil bawang goreng saja banyak-banyak, pasti harumnya meresap ke sekujur tubuh.”

“Kikikik…, terus kamu bisa masak nasi goreng, enggak?”

“Enggak.”

“Terus masak apa yang bisa?”

“Masak air doang sama mie instan, itu pun pernah kejadian pancinya tumpah.”

“Kikikik …, sama dong, kayak kita-kita.”

“Kayaknya semua perempuan gak ada yang bisa masak ya, sekarang.”

“Lucu ya, adikku yang laki malah pintar masak.”

“Kikikik …” #

Ciputat, 2003-2007

This entry was posted in Cerpen and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Parfum Rasa Bawang

  1. iwan, your youngbrother says:

    wah!!! cerita’y lucu, tapi sangat tidak masuk akal.
    buat lagi yang lain’y ya bang??

    Asep:
    Ada kok. Cari aja di kategori cerpen.

  2. jiaeffendie says:

    absurd :)) huahahaha

    Asep:
    Niatnya begitu. Semoga sampai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s