Label Halal atau Label Haram?

Ma’asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam dekade terakhir ini kesadaran beragama umat Islam semakin kuat. Bukan hanya umat Islam di pedesaan, tetapi lebih-lebih di perkotaan. Banyaknya artis-artis yang berjilbab, atau maraknya pengajian di hotel-hotel berbintang menunjukkan adanya penguatan kesadaran beragama itu. Menguatnya kesadaran beragama ini semakin memperkuat posisi daya tawar Islam di pemerintahan. Aspirasi-aspirasi mereka semakin didengar oleh pemerintah, termasuk aspirasi soal jaminan kehalalan suatu produk makanan. Hal ini juga sempat dipicu oleh sejumlah isu, seperti adanya lemak babi pada produk makanan tertentu, juga isu soal daging impor yang tidak jelas proses sembelihannya.

Maka kemudian kita menyaksikan kebijakan pemerintah, lewat LP-POM MUI, yang menganjurkan produsen makanan untuk memeriksakan produknya ke LP-POM, dan diberikan sertifikasi halal jika dinyatakan halal sesuai hukum Islam. Dengan adanya sertifikasi halal itu, umat Islam menjadi lebih tenang dalam mengonsumsi makanan yang beredar di pasaran.

Memang, dalam ajaran Islam seorang muslim tidak diperkenankan memakan sesuatu kecuali yang halal. Bukan cuma halal, tetapi juga thayyib (baik). Para ulama menafsirkan thayyib sebagai bergizi sesuai standar ilmu kesehatan. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا.

Artinya:

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. (QS. Al-Baqarah [2]: 168)

Sudah merupakan sesuatu yang jelas bahwa makanan mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan pertumbuhan mental-spiritual seseorang. Secara fisik, makanan yang bergizi akan membuat kesehatan lebih baik dibanding makanan yang tidak bergizi. Di sinilah, ayat Allah di atas mengandung suatu pengertian yang mendalam tentang kebutuhan manusia, yakni bukan sekadar makan, tetapi makan makanan yang halal dan bergizi.

Mengenai pengaruh makanan haram terhadap fisik dan mental, Nabi Muhammad sendiri menyatakan dalam sebuah hadis:

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُخْطٍ فَالنَّارُ اَوْلَ يِهِ

Artinya:

Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka neraka lebih berhak baginya.

Pengaruh makanan haram bagi mental-spiritual, yang pertama jelas dosa. Setiap dosa akan menimbulkan noda rohani yang bisa menghalangi sampainya doa dan ibadah seseorang kepada Allah. Jadi mengonsumsi barang haram itu merugikan baik secara fisik maupun spiritual, menjadikan rohani kita sakit.

Oleh karena itu, adanya kebijakan sertifikasi halal merupakan suatu jaminan perlindungan khususnya bagi konsumen muslim. Dengan mengonsumsi makanan yang jelas-jelas halal, bekerja dan beribadah pun dapat dilakukan dengan lebih tenang. Ini juga dalam rangka pengabdian kepada Allah.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Di samping diperintahkan untuk hanya memakan yang halal, umat muslim juga diperingatkan untuk menjauhkan diri dari barang-barang yang syubhat, alias yang tidak jelas halal-haramnya.

Nabi Muhammad bersabda dalam sebuah hadis:

Alhalalu bayyinun wal haramu bayyinun. Wa bainahuma umurun mutasyabihat. La ya’lamuha katsirun minannasi fa manittaqasy-syubuhati faqadistabroa li’irdhihi wa dinihi wa man waqa’a fisy-syubuhati wagiun fil harami karra’I yar’a haulal hima yusyiku an yaqa’a fihi.

Artinya:

“Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, di antara keduanya itu ada beberapa perkara yang belum jelas (syubhat). Banyak orang yang tidak tahu apakah dia itu masuk bagian yang halal ataukah yang haram? Maka barang siapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat. Dan barang siapa mengerjakan sedikit pun daripadanya hampir-hampir ia akan iatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah! Bahwa tiap-tiap raja mempunyai daerah larangan. Ingat pula, bahwa daerah larangan Allah itu ialah semua yang diharamkan.” (Riwayat Bukhari, Muslim dan Tarmizi, dan riwayat ini adalah lafal Tarmizi).

Menurut KH Ali Yafie, seorang ulama yang pernah menjadi ketua MUI di komisi fatwa, daging-daging impor itu termasuk barang yang syubhat karena tidak dapat dipastikan apakah cara penyembelihannya sudah sesuai Islam atau tidak. Bukan hanya soal penyembelihan, tetapi juga cara pengolahannya, apakah bercampur dengan bahan-bahan yang diharamkan atau tidak.

Dengan adanya pemeriksaan terhadap daging-daging impor itu, dan diberikan sertifikasi atau label halal jika sudah terbukti halal, maka umat Islam dapat mengonsumsinya tanpa keraguan. Ini bagian dari pelaksanaan ajaran Islam tentang perintah untuk selalu memperhatikan apa yang kita makan, sebagaimana firman Allah dalam Alquran:

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ.

Artinya:

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. (QS. Abasa [80]: 24)

Memperhatikan makanan artinya memastikan halal-haram-syubhatnya serta memperhatikan kandungan gizinya. Kalau jelas halal, maka boleh dimakan. Kalau haram, tidak boleh dimakan. Sedangkan kalau syubhat, maka kita diwanti-wanti oleh Nabi agar menjauhinya.

Di sinilah maka adanya labelisasi halal mempunyai signifikansi yang penting. Umat Islam sebagai mayoritas di bumi Indonesia ini harus mendapat jaminan perlindungan dalam hal makanannya. Halal itu merupakan standar makanan umat Islam. Label halal, dalam hal ini, dapat disetarakan dengan label ISO yang menyatakan kualitas sebuah produk.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Meskipun soal label halal itu sudah dirasakan manfaatnya secara luas oleh umat Islam di Indonesia, ternyata tidak semua ulama Indonesia sepakat dengan pemberian label itu. Persoalannya di sini bukan semata-mata manfaat, tetapi menyangkut banyak hal. Yang pertama adalah bahwa hak penentuan halal-haram itu sepenuhnya ada pada Allah. Manusia tidak berwenang menentukan ini halal atau itu haram. Jadi, oleh pihak yang tidak menyetujui pencantuman label halal itu, soal halal-haram sebaiknya tidak dimonopoli oleh satu pihak, termasuk pemerintah. Masyarakat tahu sendiri mana yang halal dan baik buat dirinya, berdasarkan ajaran yang dianutnya. Adanya MUI sebagai pihak yang menentukan kehalalan suatu produk dianggap mengambil alih hak Allah sebagai penentu halal-haram. Tetapi hal ini mungkin bisa dibantah, bahwa sebetulnya MUI tidak bermaksud mengambil hak itu dari tangan Allah. Keterangan mengenai halal-haram itu tetap berpatokan pada aturan Allah sebagaimana tercantum dalam Alquran dan hadis Nabi. MUI hanya menjelaskannya secara spesifik dan rinci agar umat tidak menjadi ragu.

Alasan kedua, bahwa yang halal itu jauh lebih banyak daripada yang haram. Jadi, alih-alih mencantumkan label halal, akan lebih mudah dan praktis jika yang dicantumkan adalah label haram. Dengan demikian, selain yang tidak berlabel haram, hukumnya halal. Hal ini didasarkan pada kaidah bahwa al-ashl fil asyâ’ al-ibahah hattâ yadullad dalîl ‘alâ tahrîmih (asal segala sesuatu adalah boleh, kecuali kalau ada dalil agama yang mengharamkan). Adanya label halal mengisyaratkan sebaliknya, bahwa asal segala sesuatu adalah haram kecuali ada dalil yang menghalalkan. Ini tidak sesuai dengan sifat kasih sayang Allah yang menghendaki kemudahan bagi manusia, sebagaimana dalam firman-Nya:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ.

Artinya:

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Lalu bagaimana hukum daging-daging impor yang banyak beredar di Indonesia, bolehkah kita memakannya? Menurut pihak yang tidak menyetujui labelisasi halal, daging impor itu halal dimakan, karena kita tidak boleh mendahulukan rasa curiga terhadap pihak lain (produsen). Sepanjang tidak ada keterangan yang nyata bahwa daging impor itu disembelih dengan cara haram atau diolah bercampur unsur haram, kita boleh mengonsumsinya.

Pendapat ini ada benarnya juga. Mencantumkan label haram akan jauh lebih mudah dan praktis dilaksanakan, serta tidak membutuhkan banyak biaya. Soal biaya ini juga yang menjadi keberatan pihak yang tidak menyetujui label halal, apalagi jika label itu berupa stiker yang ditempelkan pada kemasan suatu produk karena akan menambah harga jual produk yang ujung-ujungnya harus ditanggung konsumen.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Perdebatan mengenai hal ini cukup panjang dan tentu tidak cukup kalau harus diuraikan dalam forum yang singkat ini. Yang jelas, pencantuman label halal memberikan kita kepastian yang lebih besar ketimbang tidak dicantumkan label halal. Tetapi yang harus kita perhatikan sebenarnya bukan hanya materi yang kita makan, melainkan juga cara memperolehnya. Makanan yang halal, bahkan yang sudah diberi label, tidak ada artinya jika uang yang kita gunakan untuk membelinya diperoleh dari cara yang tidak halal, misalnya menipu, mencuri, merugikan orang lain, atau korupsi. Oleh karena itu, marilah kita berusaha dan berdoa agar kita dijauhkan dari segala yang haram, baik materi maupun cara memperolehnya.

Wallahu a’lam.

Catatan:

Naskah ini diniatkan sebagai bahan khutbah Jumat, dan awalnya saya tulis untuk sebuah instansi. Hak ciptanya sepertinya bukan pada saya. Tapi saya tampilkan di sini, semoga ada manfaatnya. (a.s.)

This entry was posted in Agama and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Label Halal atau Label Haram?

  1. sedjatee says:

    Kami menyampaikan selamat tahun baru, semoga senantiasa sukses dalam menjalani kehidupan… tetap semangat…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

    Asep:
    Terima kasih. Selamat tahun baru juga. Semoga lebih bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s