Perempuan yang Menunggu [1 dari 3]

Hari ini satu batalyon prajurit dari Aceh dijadwalkan tiba di pelabuhan. Kapal mereka akan tiba siang, atau sore, atau paling lambat malam. Sejak pagi kami sudah bersiap-siap mengadakan penjemputan. Sebuah truk toronton telah menunggu di depan gerbang. Kami baru akan naik ke atas truk ketika tiba-tiba dari arah perempatan terdengar sebuah teriakan.

“Tunggu, aku ikut!”

Seorang perempuan muncul dengan bayi di gendongan. Jazilah, nama perempuan itu, berjalan setengah berlari sambil sesekali mengacung-acungkan payungnya ke arah kami. “Kalian curang!” serunya. “Aku juga ingin menjemput suamiku.”

Kami, istri-istri dari para prajurit yang hari ini pulang, saling berpandangan.

“Jangan,” bisik seseorang. “Dia tak akan tahan melihat kita menyongsong dan memeluk suami-suami kita.”

“Kasihan. Dia sangat mencintai suaminya,” ucap yang lain.

Saya lekas menghampiri Jazilah. Tapi kata-katanya menyembur lebih cepat.

“Kenapa kau tak bilang-bilang kalau hari ini suamiku pulang?”

“Bayi kamu masih kecil.”

“Dia ingin bertemu ayahnya. Ayahnya juga ingin melihatnya.”

“Di sana panas.”

“Aku bawa payung.”

“Benar, nak,” sela Ibu Danyon (istri Komandan Batalyon) yang melepas keberangkatan kami. “Kamu di sini saja temani ibu. Nanti kita masak makanan yang enak untuk menyambut para pahlawan kita.”

“Tidak. Aku sudah menunggu bertahun-tahun. Aku tak sabar lagi. Suamiku juga tak sabar ingin segera bertemu denganku.”

“Mereka ke sana tak sampai sehari,” kata ibu komandan lagi. “Sore juga pulang. Sehari tak ada artinya dibanding tahun-tahun yang telah lalu. Lihat anakmu. Pelabuhan itu panasnya enggak ketulungan. Ayahnya tentu akan marah kalau kamu biarkan dia kepanasan.”

Jazilah meraung. “Kenapa kalian melarangku? Kalian istri prajurit dan akan menjemput suami kalian. Aku juga istri prajurit, tapi kenapa aku tak boleh menjemput suamiku?”

Jazilah menangis. Bayinya pun menangis.

Orang-orang kebingungan. Padahal dalam rapat tadi malam sudah diputuskan Jazilah tidak akan diikutkan.

“Saya khawatir,” ucap seorang ibu, “sementara kita melihat suami-suami kita di atas kapal, lalu suami-suami kita turun dan kita berlari menyongsong dan memeluk mereka, apa yang dia lakukan? Saya takut terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan.”

“Iya, menurut saya juga jangan. Nanti repot kita menjaganya.”

“Beberapa waktu lalu tetangga saya ribut dengan suaminya gara-gara Jazilah.”

“Ah, sudahlah, soal itu jangan dibahas di sini.”

“Jadi kesimpulannya, ibu-ibu, kita berangkat besok pagi. Paling lambat jam tujuh harus sudah jalan. Sebuah truk telah disiapkan untuk membawa kita ke Tanjung Priok. Tak apa-apa kan kita ke sana pakai truk? Ingat, kita ini istri tentara. Suami kita sering naik truk, jadi kita pun harus terbiasa.”

“Tapi bagaimana dengan Jazilah?”

“Untuk pertemuan ini pun dia tidak diundang. Jadi acara besok itu jangan sampai dia tahu.”

Ternyata Jazilah tahu, entah dari mana. Dan kini ia merengek-rengek minta diajak.

“Sudahlah, ibu-ibu,” kata seseorang, “ajak saja, jangan sampai kita terlambat.”

Jazilah menghentikan tangisnya. “Benar, ayo kita berangkat. Jangan khawatirkan aku. Justru aku juga gembira seperti kalian. Tadi malam suamiku bilang akan datang ke pelabuhan. Dia rindu sekali padaku. Dia ingin sekali melihat anaknya. Aku yakin dia datang. Suamiku tak pernah berbohong. Seperti kalian, aku juga akan menyongsong dan memeluk suamiku.”

Orang-orang saling melirik. Ibu Danyon berkata kepada saya, meminta saya membujuk Jazilah agar tidak ikut. “Siapa yang akan menjaganya di sana?” katanya. “Kalian pasti sibuk memikirkan diri sendiri.”

Jazilah sewot. “Kenapa aku harus dijaga? Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Tapi saya tak yakin. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada atau dilakukan Jazilah di pelabuhan. Yang jelas, kami semua tak ingin pertemuan kami di sana menambah kesedihannya. Jika ia melihat kami bergembira dan menangis memeluk suami kami masing-masing, tak terbayangkan bagaimana perasaannya. Apalagi ketika tadi malam Ibu Danyon memberikan gambaran yang cukup masuk akal.

“Jazilah mungkin akan menyangka seorang tentara sebagai suaminya. Lalu ia akan berlari dan memeluknya. Saat tentara itu mengatakan dia bukan suaminya, atau jika istri tentara itu datang, tentu Jazilah akan sulit menerima kenyataan.”

Orang-orang mengangguk. Selama ini pun Jazilah sudah sering berbuat demikian. Tiap hari dia duduk depan rumahnya, menggendong anaknya atau membiarkan anaknya bermain-main, sembari menunggu suaminya pulang. Tapi dia sering salah sangka. Hampir semua tentara yang berjalan sendirian melewati rumahnya pernah disapa sebagai suaminya. Saya sering menemani Jazilah, tapi tidak tiap saat. Hingga suatu siang Jazilah saya temukan tergeletak di ruang tengah rumahnya dengan rambut acak-acakan dan pakaian bertebaran.

“Suamiku datang,” wajahnya tampak sumringah saat saya bangunkan. “Tapi sayang dia terburu-buru. Dia harus segera kembali ke medan perang.”

Lalu dia bercerita:

Siang tadi anakku baru saja kutidurkan di kamar. Aku duduk di teras. Tak berapa lama, tiba-tiba suamiku datang. “Istriku, aku pulang,” serunya.

“Oh suamiku, akhirnya kau datang juga,” kataku.

Suamiku merentangkan tangannya dan kami berpelukan dengan erat. Aku segera membimbingnya masuk rumah.

“Kau pasti lapar, suamiku. Ayo kita makan. Aku sudah siapkan hidangan kesukaanmu.”

“Istriku,” kata suamiku seraya menutup pintu dan jendela, “aku kangen sekali padamu.”

“Makan dulu,” kataku. Dia hendak membopongku ke kamar, tapi aku berhasil memaksanya makan. Lalu dia duduk di kursi dan kusuapi. Dia menciumku dengan panas. Beberapa butir nasi menempel di pipiku. Kuusap lalu kumasukkan ke mulutku. Berkali-kali dia mengatakan rindu padaku. Tapi aku berhasil menahan diri, walaupun rinduku juga amat tak tertahan. Sambil makan suamiku bercerita tentang keadaan di medan perang. Aku mendengarkan dengan penuh kekaguman. Suamiku sangat gagah berani. Banyak sekali musuh yang tewas ditembaknya.

“Istriku, aku kangen sekali padamu. Hidupku sengsara di medan perang. Jarang ada makanan. Tak ada perempuan. Aku sangat rindu padamu.”

“Aku mengerti, suamiku. Aku juga sangat kangen padamu. Tiap hari aku menunggumu di depan pintu. Aku selalu masak pagi-pagi dan menyiapkan hidangan di meja makan. O ya, ada anakmu di kamar, sedang tidur. Kamu ingin melihatnya, kan?”

“Tentu, istriku. Tapi aku kangen sekali padamu. Ayolah.”

“Tapi, suamiku, nanti anak kita terbangun.”

“Di sini juga tak apa-apa. Ayolah.”

Dia menarik pinggangku lalu merebahkanku di lantai. Aku tak berdaya. Oh, rasanya indah sekali. Dia begitu bertenaga. Sayang dia tergesa-gesa. Tapi aku memahaminya. Aku istri prajurit. Aku tahu tugas-tugasnya.

“Dia bukan suamimu!” bentak saya begitu dia selesai bercerita.

“Dia suamiku,” Jazilah bersikeras. “Akan kukatakan kepada orang-orang bahwa suamiku pulang.”

“Orang-orang tak akan percaya,” kata saya lagi. “Kalau suamimu pulang, seharusnya suamiku pun pulang dan suami orang-orang pun pulang.”

“Suamiku sangat rindu padaku.”

“Jangan ceritakan ini pada siapa-siapa,” akhirnya saya hanya bisa berpesan.

Tapi Jazilah terlalu bahagia untuk menyimpannya sendirian.

Tak lama kemudian saya dengar beberapa pasang suami-istri terlibat pertengkaran. Dalam hati saya mengutuk bajingan itu. Semoga dia bukan prajurit di asrama ini. Semua prajurit di sini baik-baik. Orang itu pasti pemuda kampung sebelah yang suka memanfaatkan keadaan.

Sejak peristiwa itu saya tak pernah meninggalkan Jazilah sendirian. Rumah kami bersebelahan. Tepatnya, berimpitan. Tiap pagi saya membantunya memasak dan menyiapkan hidangan. Saya menemaninya duduk di bangku depan rumahnya. Saya juga sering menyuruh anak-anak untuk sering main ke tempat adik kecil, anak Jazilah.

“Jalan-jalan yuk,” ajak saya satu ketika.

“Tidak. Aku tak mau suamiku datang sedang aku tak di rumah.”

“Kamu perlu hiburan. Pikiranmu perlu disegarkan.”

“Kau pernah mendengar cerita tentang seorang istri yang ditinggal suaminya ke medan perang?”

Saya mengangguk. Entah sudah berapa kali Jazilah menceritakan itu. Dan kali ini pun dia bercerita lagi. Untungnya dia selalu bercerita dengan gaya yang berbeda-beda.

“Tiap hari,” Jazilah mulai bercerita, “dia menunggu suaminya pulang. Pagi-pagi sekali perempuan itu membuka pintu pagar, pintu rumah, jendela, dan baru menutupnya ketika malam sudah tiba. Dia ingin ketika suaminya pulang, dia bisa segera melihatnya. Tiap hari dia juga menyiapkan hidangan di meja makan. Dia berpikir bahwa suaminya pasti lapar saat pulang. Dia tidak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama untuk makan.

Tapi aku tak ingin seperti perempuan itu. Ohh, malang sekali dia. Suaminya datang satu ketika, dan saat itu dia mungkin sedang tidur atau di dapur. Melihat pintu dan jendela terbuka dan bau masakan tercium dari dalam rumah, suaminya menyangka istrinya sudah menikah lagi dengan laki-laki lain. Rupanya aku terlalu lama pergi, pikir suaminya. Sambil mencoba memaklumi kemarahan dan sakit hatinya, ia pun berlalu dari rumah itu.

Kemudian saat perempuan itu ke luar rumah sore harinya, dia menjerit mengenali bau suaminya menghambur dari jejak kaki yang ditinggalkan di pintu pagar. Dikutuknya kelengahannya. Lalu pergilah dia mencari suaminya dengan menyusuri jejak kaki dan bau tubuh yang ditinggalkan suaminya sepanjang perjalanan. Namun suaminya sudah pergi jauh, teramat jauh. Dia terus mencari. Dan dia terus mencari.

Begitulah ceritanya.

Tapi aku tak ingin seperti dia,” Jazilah mendesah. “Makanya aku akan terus menunggu suamiku di depan rumah. Aku tak akan lengah. Aku takut ketika suamiku pulang benaknya dihinggapi pikiran yang bukan-bukan.”

“Suamimu tak akan pulang,” saya menggumam.

“Suamiku akan pulang. Ia berjanji tak lebih dari setahun di medan perang.”

Jazilah selalu menyebut Aceh dengan istilah medan perang.

“Suamimu tak akan datang hari ini.”

“Siapa tahu? Kemarin pun ia pulang. Untung saat itu aku ada di depan rumah. Jadi dia bisa langsung memastikan keberadaanku.”

“Medan perang itu jauh di perbatasan negeri. Sangat jauh.”

“Kita harus selalu berjaga-jaga, menanti dan setia.”

“Bagaimana kalau setelah setahun suamimu tak pulang?”

“Tidak mungkin. Ia merindukanku, seperti halnya aku merindukannya. Kau pernah membaca surat-suratnya, kan? Tapi kalaupun ia tak pulang, aku akan menyusulnya ke medan perang.”

Saya menghela nafas panjang. Pukul tujuh sudah lewat. Saya dengar bisik-bisik di antara angin pagi melayangkan nada tak keberatan Jazilah disertakan. Matahari mulai terasa panas, dan terasa hawa tak sabar mengudara dari wajah-wajah di sekeliling. Berapa jam perjalanan ke Priok? Mungkin tiga atau empat jam. Sebelum siang kami mesti sudah sampai di sana.

“Saya tak bisa membujuknya,” kata saya kepada Ibu Danyon. “Mungkin lebih baik ia diizinkan ikut menjemput. Kita juga tak tahu apa yang akan terjadi padanya di sini selama menunggu.”

“Lalu siapa yang bertanggung jawab menjaganya?”

“Kami akan menjaganya,” kata ibu-ibu serentak. [Bersambung]

This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Perempuan yang Menunggu [1 dari 3]

  1. aniekn says:

    yah…bersambung…
    nunggu selesai dulu baru baca, biar ga penasaran :))

    Asep:
    Udah selesai kok. Cuma dicicil aja🙂

  2. rarajuli says:

    ijinn ngelink cerpen ini d-fb saya ya, ,, 🙂
    saya pernah baca cerpen ini d majalah horison edisi XI-XII 2007
    ceritanya baguss. .. . .
    :))

    @Ya, silakan. Saya sangat senang anda telah membaca.

  3. lanjutannya mana nih?

    @Ada di tulisan selanjutnya. Terima kasih udah baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s