Perempuan yang Menunggu [2 dari 3]

Truk melaju dengan kecepatan sedang, tidak lambat, tidak juga terlalu cepat. Maklum, biarpun truk tentara, isinya perempuan semua. Biarpun perempuan-perempuan itu adalah perempuan yang rindu, yang rindunya nyaris tak tertahan, truk ini sama sekali tak punya perasaan. Kalau ada bis di belakang, sopir kami lebih memilih mengalah. Tahu sendiri, kata Jazilah suatu ketika, bis antarkota itu di mana-mana larinya suka seradak-seruduk seperti babi hutan.

Truk tertutup rapat, kecuali di bagian belakang yang terbuka separuhnya. Karena tidak leluasa melihat ke luar, istri-istri prajurit di bagian dalam lebih banyak mengobrol dan bercanda. Suara mereka dinaikkan volumenya untuk menandingi deru mesin truk. Saya dan Jazilah duduk bersebelahan agak di bagian belakang agar anaknya tidak terlalu kepanasan. Tadinya Jazilah akan ditempatkan di depan, di samping supir, bersama seorang istri prajurit lain yang juga punya bayi kecil. Tapi ia tak mau. Ia ingin bersama istri-istri prajurit yang lain dan mendengarkan ocehan mereka.

Jazilah lebih banyak diam, mendengarkan para istri itu bercakap tentang perpisahan mereka, hampir setahun lalu, dengan suaminya. Sesekali ia tertawa, lalu mencium bayinya.

“Aku nangis waktu suamiku pamitan,” ucap seseorang.

“Aku juga. Padahal malamnya kami sangat bahagia. Paginya aku juga masih gembira. Eh, waktu kupakaikan sepatu untuk suamiku, tak terasa air mataku menetes. Dan waktu kucium tangannya, tangisku meledak dan kupeluk ia sekali lagi tak mau lepas.”

“Ini kedua kalinya saya ditinggal suami,” kata seorang ibu yang lain. “Dulu ke Timtim, sekarang ke Aceh. Jadi saya mencoba untuk tak menangis. Lagi pula anak-anakku sudah besar, malu saya kalau mereka melihat ibunya menangis. Tapi setelah bapaknya anak-anak pergi, saya masuk ke kamar dan sesenggukan di kasur. Hik hik…”

“Aneh ya, kemarin-kemarin rasanya lama sekali kita menunggu, tapi sekarang rasanya perpisahan dulu itu seperti baru kemarin. Kita semua menangis dan bersedih. Sekarang sudah akan bertemu lagi. Dan kita mungkin akan menangis lagi. Tapi bahagia.”

Mereka tertawa-tawa. Saya tersenyum, saling pandang dengan Jazilah. Wajahnya tampak bahagia. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin ia pun terkenang waktu perpisahan dengan suaminya. Sebetulnya perpisahan bukanlah momen yang menyenangkan. Tapi sekadar mengenang perpisahan lain rasanya. Saya jadi malu sendiri kalau teringat bagaimana pagi itu saya menggukguk (itu istilah Jazilah) di dada suami saya. Tahu-tahu kepala Jazilah menyembul dari balik pintu, dan ia menertawai kami.

“Kamu tidak menangis?” Saya terheran melihat di wajahnya sama sekali tak ada bekas air mata. Saat itu para pahlawan kami baru saja berangkat.

“Justru suamiku yang menangis,” kata Jazilah. “Saat kukenakan baju seragamnya, kukatakan: aku bangga punya suami seperti kau, prajurit yang gagah berani, yang berjuang membela negeri. Lalu kulihat matanya basah. Ya, kataku lagi, kau prajurit yang berani terhadap musuh, tapi penuh kasih kepada istri. Dia tersenyum. Mimiknya lucu sekali. Lalu saat kukenakan sepatunya, aku berkata: saat kau di medan perang, jangan sekali-kali ingat pulang. Kejar dan tembaklah musuh sebanyak-banyaknya. Dia menatapku dengan air mata mengembang. Lalu ketika aku membuka pintu, kukatakan padanya: hapuslah air matamu, sambil tanganku sendiri mendahului menyeka wajahnya, air matamu hanya untukku, bukan untuk orang-orang. Lalu dia mencium bibirku, melumatnya, lama sekali. Pergilah, kataku setelah dia merasa puas. Tapi dia menciumku lagi, lebih lama dari yang tadi. Terpaksa pintu kututup kembali. Lalu aku berkata: jangan takut kau tak kuizinkan pergi. Aku istri prajurit. Sejak aku memutuskan menjadi istrimu, aku tahu suatu hari pasti aku ditinggal pergi. Itu takdirku. Dan aku sudah siap menghadapi hari itu.

Terima kasih, istriku yang baik, bisik suamiku. Suaranya agak basah. Aku akan merindukanmu. Juga anak kita. Lalu dia mengusap perutku. Aku akan menulis surat tiap minggu, katanya. Kan kuceritakan tentang medan perang, gunung dan hutan-hutan, biar kau merasa aku selalu di dekatmu.

Aku juga akan merindukanmu, suamiku, kataku agak berbisik. Aku akan menunggumu. Aku akan membalas surat-suratmu. Jika anakmu lahir, akan kukirimkan fotonya. Akan kutulis kelucuan-kelucuan dan kenakalannya.”

Begitulah Jazilah. Kadang-kadang saya merasa dia berlebihan dalam mengungkapkan sesuatu. Tapi dia memang begitu sejak dulu.

Namun siangnya, sehabis sembahyang zuhur, saya merasakan dinding di samping saya bergetar. Saya tempelkan telinga saya ke dinding. Ada suara mendenging, tertahan-tahan. Saya tersenyum sendiri. Lalu saya keluar, masuk ke rumahnya dan membuka pintu kamarnya perlahan-lahan. Diam-diam saya masuk lalu duduk di ranjang. Dia tengah bersandar ke dinding dengan muka ditutup bantal. Perlahan-lahan dari ujung bawah bantal itu menetes air bening, setitik-setitik. Ternyata kamu menangis juga, batin saya. Tiba-tiba saya terpekik. Saya merasa sesuatu yang basah merembesi kain sarung saya. Ternyata kasurnya telah kuyup oleh air mata.

Jazilah pun tersentak melihat saya di kamarnya. Ia menurunkan bantalnya, lalu tersenyum dan tersipu. “Aku juga wanita,” desisnya lemah.

“Ya, kita wanita,” kata saya pula. “Menangislah.”

Tiba-tiba hidung saya ditarik oleh Jazilah. Saya menjerit dan balas mencubit hidungnya. Kami tertawa. Ibu-ibu menoleh ke arah kami. Tadi sempat saya dengar mereka tengah berdebat tentang kenapa wanita lebih mudah menangis ketimbang pria. Mereka melihat bahwa suami-suami mereka hanya sedikit yang menangis waktu perpisahan dulu.

“Suami kita tentara,” kata seorang ibu. “Tentara tidak boleh cengeng.”

“Tapi tentara juga manusia,” timpal ibu yang lain. “Manusia punya air mata.”

“Air mata tentara tidak boleh dicucurkan. Kalau boleh, bagaimana bisa mereka membunuh lawan?”

“Tentara juga punya perasaan. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka mencintai kita?”

Ibu-ibu tercenung. Lama mereka diam. Mungkin mereka baru sadar bahwa laki-laki juga tidak mudah dipahami. Mereka kerap mendengar laki-laki yang mengeluh bahwa perempuan itu susah dimengerti, sehingga untuk mudahnya, laki-laki sering menyederhanakan sikap perempuan dengan rumus: diam berarti setuju. Dan para perempuan merasa istimewa dengan anggapan itu. Ternyata sebaliknya pun begitu. Mungkin.

“Begini menurutku,” kata seorang ibu seraya agak terlonjak dari duduknya karena truk berguncang. “Kita menangis bukan karena kita perempuan, tapi karena kita berada pada posisi yang ditinggalkan. Coba kalau kita yang pergi ke Aceh, pasti suami-suami kita yang tentara itu sesenggukan seharian.”

Ibu-ibu tertawa, membayangkan diri mereka pergi ke medan Aceh sementara para suami duduk menunggu di depan rumah. Apa yang mereka lakukan? Menyapu, memasak, mencuci? Atau mengasuh bayi? Semuanya tampak lucu meski tiga urusan pertama sudah biasa dilakukan setiap prajurit di barak.

Sementara itu dua prajurit yang duduk paling belakang, yang ditugaskan mengawal perjalanan kami, hanya tersenyum-senyum dan saling pandang.

Truk terguncang-guncang lagi beberapa kali. Rupanya saat ini truk tengah memasuki gerbang tol.

“Menurut Bu Ustad bagaimana?” Seseorang bertanya kepada saya dengan panggilan yang setelah hampir setahun ini masih saja terasa ganjil di telinga: Bu Ustadz. Mereka menyebutnya dengan gampang: ustad, pakai d(al), bukan dz(al).

Saya menjawab, “Laki-laki dan tentara juga bisa menangis.” Saya teringat suami Jazilah. “Tapi mereka malu menangis depan kita.”

Ibu-ibu mengangguk. Meskipun saya terhitung paling muda, belum punya anak pula, status saya sebagai guru ngaji membuat pendapat saya kerap didengar. O ya, yang betul seharusnya ustadzah, bukan ustadz, karena saya perempuan. Tapi sebutan ustad memang terdengar lebih praktis. Sebetulnya saya baru beberapa bulan mengajar ngaji. Mulanya Jazilah yang mengajak. Waktu itu kami sering merasa bingung dan hampa menyadari kekosongan semenjak suami tak ada.

“Kita harus melakukan apa saja untuk menaklukkan kesepian,” kata Jazilah. “Kita tak boleh terseret penantian. Waktu sangat kejam. Ia tak pernah pedulikan perasaanmu. Ia akan melambat jika kau sengsara, dan melesat jika kau bahagia. Jadi jangan tunjukkan perasaanmu pada waktu, atau ia akan mempermainkanmu.”

Saya tersenyum melihat Jazilah tampak bersemangat. Hari berikutnya ia menawarkan kepada ibu-ibu tetangga agar menitipkan anak-anaknya mengaji di rumah saya tiap habis magrib. Saat itu di asrama kami hanya ada satu tempat belajar ngaji. Anak-anak sering mengeluh karena tempatnya jauh –sebenarnya tidak, hanya terhalang beberapa blok. Tetapi memang murid-murid di sana sudah terlalu banyak sehingga suasananya tidak kondusif lagi. Ibu-ibu senang dengan usul Jazilah. Malah mereka bertanya kenapa tidak bilang dari dulu kalau saya bisa mengajar ngaji. Sebenarnya hal ini sudah lama jadi keinginan saya. Buat apa bertahun-tahun nyantri kalau tidak diamalkan. Cuma saya malu kalau harus menawarkan diri.

Pada awalnya Jazilah membantu saya mengajar anak-anak mengaji. Tapi selanjutnya ia berhenti karena merasa sering tak bisa menahan emosi jika anak yang diajarinya susah mengerti. Akhirnya ia duduk saja di teras, memperhatikan anak-anak yang riuh rendah mengeja Iqra. Kadang-kadang dia menyuruh anak-anak membacakan ayat-ayat suci di perutnya. Biar anakku jadi anak saleh, katanya.

Saya dan Jazilah belajar ngaji sejak sebelum SD. Setamat SD, saya melanjutkan ke pesantren, sedangkan dia ke SMP. Setelah itu dia melanjutkan ke SMA, tapi berhenti setahun kemudian begitu adik laki-lakinya masuk SMP. Perempuan tak usah sekolah tinggi-tinggi, kata orang tuanya. Jazilah sangat sedih tapi ia tak bisa apa-apa mengingat orang tuanya tak punya cukup biaya. Akhirnya dia menganggur saja, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama teman-temannya. Saya pun, sepulang dari pesantren lima tahun kemudian, tinggal saja di rumah sekalian mengajari beberapa anak tetangga belajar mengaji. Jodoh pasti datang, kata ibu, yang dijawab oleh saya dengan anggukan dalam.

Benar saja. Jodoh itu akhirnya datang, meski untuk itu butuh waktu bertahun-tahun. Suatu malam saya dikejutkan oleh kedatangan dua orang pria. Malam sebelumnya mereka datang ke tempat Jazilah, dan tadi siang Jazilah mengatakan bahwa salah satu pria itu menanyakan saya. Bapak saya mengenal mereka sebagai tentara yang membantu gotong-royong pembangunan jalan di desa kami. Sejak kedatangan para tentara itu ke kecamatan kami, saya sering mendengar gadis-gadis membicarakan mereka. Para tentara itu umumnya masih muda dan lajang, hanya sedikit yang tidak muda dan tidak lajang. Mereka juga banyak dibicarakan para orang tua, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak, dan orang tua yang punya anak gadis berharap satu dari tentara itu suka berkunjung ke rumahnya.

Ternyata dua dari mereka datang ke tempat Jazilah dan saya. Salah satu tentara itu sebetulnya adalah pemuda asli daerah kami. Dia teman khusus Jazilah sejak SMP. Setelah lulus SMP dan menganggur selama tiga tahun, dia mendaftar jadi tentara di provinsi Banten. Dia diterima, dan ditempatkan di Batalyon Siliwangi 320. Kini, beberapa tahun kemudian, dia berkesempatan mengunjungi kampungnya sebagai bagian dari tentara yang bertugas memberantas kerusuhan di daerah kami. Dan tentu saja, dia juga mengunjungi Jazilah.

Dengan ramah bapak menyambut kedua tamu itu. Mereka pun berbincang-bincang sementara saya segera sembunyi dalam kamar. Meskipun pembicaraan mereka hampir tidak menyinggung tentang saya, dada saya rasanya berdebar-debar tak karuan. Saya menenangkan diri dengan mengambil kitab Alquran dan membacanya perlahan-lahan. Tiba-tiba kitab itu jatuh ketika terdengar suara bapak memanggil saya, menyuruh dibuatkan air minum. Astagfirullah, kenapa saya bisa lupa? (Ketika peristiwa ini saya ceritakan kepada Jazilah, dia tertawa lebar. “Kamu memang sudah waktunya dikawinkan,” katanya.) Dengan langkah malu-malu saya mengantarkan air minum ke ruang tamu yang merangkap ruang keluarga. Salah seorang menanyakan nama saya. Saadah, jawab saya hampir tak terdengar. Ia berkata bahwa ia sering melihat saya lewat di jalan menuju ke sawah.

Sejak itu mereka sering datang ke rumah kami, tidak lagi berdua-dua, tapi sendiri-sendiri. Karena saya dan Jazilah berteman akrab, dan rumah kami berdekatan, hari-hari berikutnya kami sering menerima kunjungan dua prajurit itu bersamaan, di rumah saya atau rumah Jazilah.

Kabar tentang kedatangan dua tentara itu ke rumah saya langsung menjadi isu seantero kampung. Banyak orang mengatakan bahwa saya beruntung. Yah, mudah-mudahan demikian. Perlu saya katakan bahwa sebenarnya ada beberapa pemuda yang menyukai saya, dan sebagian pernah main ke rumah saya. Asalkan dia serius, sebenarnya saya tidak pilih-pilih yang penting akhlaknya baik. Tapi semuanya saya serahkan kepada bapak. Sementara Jazilah tentu lebih beruntung karena kekasih lamanya masih setia padanya. Padahal sebagai tentara, bisa saja dia mencari istri di kota. Aih, mungkin saya terlalu meninggikan status tentara. Tapi saya memang merasa beruntung karena tampaknya kawan dari kekasih Jazilah itu benar-benar serius menginginkan saya. Bagaimana akhlaknya? Seharusnya saya memeriksanya terlebih dahulu. Tapi mungkin benar kata Jazilah, saya sudah ngebet kawin. Lagi pula kalau dia adalah teman dari pacar Jazilah, berarti sifatnya juga tidak jauh beda.

Tiap pagi menjelang siang saya selalu mengirim makanan buat ayah dan ibu saya di sawah. Kadang-kadang Jazilah ikut mengantar. Suatu ketika Jazilah mengajak saya mengantarkan makanan untuk dua tentara itu di tempat pembangunan jalan. Saya menolak karena malu.

“Malu kenapa? Orang-orang sudah tahu kok hubungan kita dengan dua prajurit itu. Anggap saja kita ini Nyi Iteung yang mengantar makanan untuk Kang Kabayan.”

Saya tetap menolak. Bagaimanapun saya ini lulusan pesantren. Guru ngaji pula, biarpun anak murid saya cuma segelintir. Apa nanti kata orang. Tapi Jazilah terus mendesak.

“Kalau begitu besok saja. Besok kan bapak-bapak di RT kita kebagian piket bangun jalan. Jadi sekalian.”

Orang-orang menghentikan pekerjaannya ketika kami menjumpai dua tentara itu dengan kedua tangan mendekap bakul berisi nasi plus sayur asem dan ikan asin dan sambal terasi. Mereka berdiri bertumpu pada linggis atau cangkul yang dipatokkan ke tanah, seraya mata mereka mengikuti arah jalan kami. Ohh, muka ini rasanya panas sekali. Pasti warnanya mirip udang rebus. Saya hanya bisa menunduk. Sedang Jazilah melirik kiri-kanan dan tersenyum pada orang-orang. Mereka semua menyayangi dua pahlawan kita, bisik Jazilah. Mereka ikut senang dengan kebahagiaan kita.

Ketika pembuatan jalan berbatu yang menghubungkan kampung kami dengan jalan kabupaten itu selesai, kedua tentara itu melamar saya dan Jazilah. Kami dinikahkan bersamaan. Tidak mewah, tapi cukup meriah. Bapak Danramil dan anak buahnya berbaris menyambut tamu. Seisi kampung, tua-muda-bocah, datang dan bergembira.

Beberapa hari kemudian, kami pindah ke asrama tentara di dekat kota Pandeglang. Keberadaan mereka di daerah kami, bersama belasan tentara lain, awalnya untuk suatu misi pemulihan keamanan membantu polisi, karena tentara dianggap lebih terlatih dalam pertempuran di hutan-hutan. Tapi para pengacau itu malah menghilang begitu tentara datang. Jadinya yang mereka kerjakan malah membangun jalan. Prajurit kami kecewa setelah berminggu-minggu menyusur hutan, tak “seekor” buruan pun yang terlihat, apalagi tertangkap.

“Tak usah kecewa,” hibur saya. “Yang penting daerah kami aman kembali. Tak ada orang yang suka perang. Justru masyarakat lebih berkesan dengan kesediaan kalian memelopori pembangunan jalan.”

Dan mereka menemukan kebahagiaan dari kehangatan dan keramahan penduduk desa yang sangat berterima kasih kepada mereka. Karena jasa merekalah kini para petani di kampung kami tak kesulitan lagi menjual hasil buminya. Sejak ada jalan, meski hanya terbuat dari batu-batu, setiap hasil hutan atau kebun rasanya bisa jadi uang. Tukang ojek juga senang dengan jalan baru itu karena meski ongkosnya turun, perjalanan jadi lebih cepat dan bensin jadi lebih irit.

Tuhan sangat senang kepada orang-orang yang sabar. Suami yang diberikan-Nya kepada kami ternyata sosok suami yang sangat ideal. Soal fisik tak perlu diragukan lagi. Namanya juga tentara. Tapi hati mereka juga sangat lembut dan penuh cinta, sampai-sampai kami tak percaya kalau suami kami adalah tentara yang tiap hari mengelap senjata. Setidaknya ini yang saya rasakan terhadap suami saya. Saya lihat suami Jazilah juga tak berbeda. Bahkan mereka selalu tampak romantis seperti pasangan kekasih dalam film. Ini mungkin karena faktor Jazilah yang memang sering terobsesi oleh kisah-kisah cinta dalam roman yang dia baca.

Intinya, kami sangat bahagia, meskipun rumah kami di asrama tergolong sangat sederhana. Tipe 21, dindingnya dari batako telanjang, luas tanahnya tak sampai 100 meter persegi. Tiap rumah disusun dua-dua, berdempetan, berbaris dalam blok-blok yang rapi. Rumah kami berdampingan. Tapi kami tak pernah menganggap rumah kami ada dua. Rumah kami satu. Saya rasa suami kami juga beranggapan demikian. Suami saya bisa masuk ke rumah Jazilah kapan saja, begitu pula suami Jazilah ke rumah saya. Saya juga bisa ada di rumah Jazilah setiap saya mau, begitu pula Jazilah di rumah saya. Saya juga biasa bertukar baju dengan Jazilah.

“Tapi suami tetap punya masing-masing ya,” kata Jazilah.

“Iyalah,” saya tersipu. “Yang itu tidak boleh gantian.”

O ya, ada satu yang terasa janggal ketika awal-awal kami tinggal di asrama tentara ini. Orang-orang memanggil kami dengan nama suami kami, setelah di depannya diberi gelar “Ibu” atau “Bu”. Saya juga dengar kalau ibu-ibu yang sudah punya anak, tetangganya kadang memanggil dia dengan nama anaknya. Aneh, kata Jazilah, lantas nama kita dikemanakan? Padahal orang tua kita dulu sampai bikin selamatan untuk memberi kita nama.

Jazilah tak pernah menoleh jika para tetangga memanggil dengan nama suaminya. Namaku Jazilah, katanya kepada yang memanggil. Para tetangga pun mengalah. Sebagian mereka memanggil nama Jazilah setelah diawali dengan sebutan “Mbak”, atau “Teteh”, atau “Neng”, dan ada juga yang langsung menyebut nama.

Saya sendiri tidak berkeberatan dipanggil dengan nama suami. Malah ada rasa bangga. Saya bilang kepada Jazilah bahwa tempat baru kita ini berbeda dengan di desa, jadi kita harus pandai menyesuaikan diri. Jazilah menjawab bahwa panggilan dengan nama suami itu bukan budaya kita, tapi bawaan orang Belanda. Tapi sejak saya mengajar mengaji anak-anak, terlebih ketika kemudian saya juga sering mengisi pengajian ibu-ibu yang diadakan seminggu sekali, nama suami saya pelan-pelan menghilang. Banyak orang memanggil saya dengan sebutan Ustad Saadah (yang benar: Ustadzah Saadah). Dari sini saya tahu, nama seorang istri tak akan hilang kalau ia mempunyai posisi yang kuat. Artinya, ia punya kekhasan tersendiri yang membuat orang harus menyebut namanya secara langsung.

Jazilah telah mengandung sekitar dua bulan ketika suaminya, juga suami saya dan para prajurit lain di batalyon kami, dikirim ke provinsi Aceh. Sudah puluhan tahun daerah itu dilanda konflik bersenjata akibat adanya sekelompok orang yang menamakan diri GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Tiap tahun batalyon tentara nasional diterjunkan untuk memberantas mereka, tapi para pemberontak itu bergerilya dari hutan ke hutan sehingga usaha-usaha penumpasan yang menyeluruh selalu menemui kegagalan. Belum lagi saya dengar gerakan pemberontak itu didukung pihak luar negeri. Berbagai perundingan digelar untuk mencapai kesepakatan lewat jalan damai, tapi berkali-kali pula dilanggar. Rezim pemerintahan terus berganti, tak satu pun yang berhasil menumpas gerakan pemberontak itu hingga tuntas.

Jazilah rajin berkirim surat dengan suaminya. Mulanya dia mengirim surat tiap minggu. Tapi karena balasan suaminya hanya datang sebulan sekali (suamiku pasti sibuk, maklum Jazilah, tapi dia masih menyempatkan diri menulis surat), dia pun mengumpulkan surat yang telah dia siapkan tiap minggu untuk dikirim sekaligus. Jazilah selalu menunjukkan surat-surat suaminya pada saya. Kadang-kadang terselip pula surat dari suami saya. Dan saya menyelipkan balasan untuknya di surat yang dikirim Jazilah.

Saya lihat sebagian tetangga mengungkapkan kerinduannya lewat sms. Kalau kami sedang berkumpul, mereka saling menunjukkan sms yang diterimanya dari suaminya. Tapi saya dan Jazilah tidak punya HP. Suami kami juga tidak punya. Beberapa waktu lalu pernah terniat untuk membeli HP, yang murah saja sekadar buat menelepon dan sms. Tapi siapa yang akan saya telepon dan kirimi sms? Siapa pula yang akan menelepon saya dan mengirim sms buat saya? Paling-paling cuma buat pamer ke tetangga. Tapi itu pun percuma kalau HP saya tidak lebih bagus dari punya mereka.

Sementara Jazilah beralasan, dia dan suaminya tidak akan beli HP kalau belum bisa beli dua, buat dia satu dan buat suaminya satu. “Tapi sekalipun aku dan suamiku punya HP,” kata Jazilah, “bagiku kabar lewat surat jauh lebih berkesan.”

Iya juga, pikir saya. Jazilah selalu menemukan cara untuk berbuat romantis. Mungkin karena dia banyak membaca roman.

Saya mengisi hari-hari saya dengan mengajar iqra. Murid-murid saya semakin banyak berkat tambahan dari anak-anak blok tetangga. Jadinya memang lebih repot, apalagi ketika Jazilah tidak membantu lagi. Tapi saya menjalaninya dengan perasaan senang. Jazilah tetap rajin menulis. Bukan hanya surat, kadang juga cerita pendek. Suaminya membalas dengan menceritakan pengalamannya di medan perang.

Salah satu kisah yang sering diulang-ulang Jazilah kepada saya adalah ketika suaminya dan kesatuannya, berarti ada suami saya juga, ditugaskan mengadakan penyisiran di hutan yang dicurigai merupakan sarang GAM. Mengetahui kedatangan pasukan TNI, orang-orang GAM itu lari menyusup ke tengah hutan. Suami Jazilah mengejar mereka, dan ia berhasil menembak tiga orang GAM hingga tewas. (Jazilah sangat membanggakan suaminya. Saya kira dalam kenyataannya tentu bukan hanya suami Jazilah yang mengejar dan berhasil menewaskan musuh. Suami saya juga tidak kalah beraninya dibanding suami Jazilah).

Kisah-kisah suaminya di medan perang itu dijadikan cerpen oleh Jazilah. Ketika saya membacanya, ada satu cerpen yang saya rasa bagus sekali, jauh lebih bagus dibanding beberapa cerpen lain yang ia tulis. Kirim saja ke koran, usul saya. Tidak, jawab Jazilah. Cerpen ini hanya untuk suamiku. Lagi pula cerpen ini terlalu panjang untuk dimuat di koran.

Sejak tinggal di asrama, Jazilah sering pergi ke perpustakaan umum di Pandeglang. Dulu seminggu sekali dia diantar suaminya, sekalian jalan-jalan, sekarang pergi sendiri. Dulu paling-paling hanya satu-dua buku yang dia pinjam, sekarang bisa sampai lima, umumnya buku cerita. Jazilah membacanya dari pagi hingga malam. Habis magrib pun dia masih membaca buku sambil menemani saya dan anak-anak mengaji iqra. Jazilah memang rajin membaca sejak SD. Semua buku di perpustakaan SD dan SMP habis dilalapnya, mulai dari buku-buku cerita, buku agama, hingga buku cara menanam pepaya. Oleh karena itu tak heran jika tingkah lakunya sering dipengaruhi oleh buku yang dibacanya.

Jazilah kerap menyesalkan nasibnya tidak bisa menamatkan sekolah di SMA. Belum semua buku di SMA bisa kubaca, katanya, padahal banyak novel bagus. Tapi untung sekarang aku bisa tinggal dekat kota, yah, biarpun kota kecil. Aku akan manfaatkan kesempatan ini.

Saya tersenyum saja, karena saya tak begitu suka membaca buku latin. Membaca buku Arab pun sebetulnya saya tak begitu lancar. Paling-paling saya hanya mengulang kitab-kitab yang pernah saya pelajari di pesantren, terutama kitab tentang tauhid dan fikih. Jelasnya, saya tak begitu suka membaca. Saya baru membaca buku latin kalau isinya saya perlukan atau ada jaminan bahwa ceritanya menarik. Jazilah kerap memuji-muji sebuah buku yang habis dia baca. Luar biasa novel ini, katanya sering kali, dan dia memaksa saya untuk membacanya.

Perut Jazilah kian membengkak. Sekitar sebulan menjelang Jazilah melahirkan, tanah Aceh dihantam bencana alam mahadahsyat yang membuat daerah itu luluh lantak. Gempa bumi meledak di laut disusul tsunami yang mengamuk hingga belasan kilometer di darat. Lebih dari seratus ribu orang mati dan mayat-mayat mereka menggeletak di berbagai sudut bumi seperti ikan keracunan terdampar di pantai. Saya menyaksikan kejadian itu di televisi seraya tak henti beristigfar dan memuji. Ya Allah, cobaan apa lagi yang hendak Engkau turunkan kepada rakyat negeri kami?

Kami semua yang menyaksikan ikut merintih. Tapi Jazilah tidak setuju kalau bencana alam yang menimpa rakyat Serambi Mekah itu disebut sebagai cobaan, peringatan, apalagi hukuman. Seolah-olah kita anggap mereka kaum yang berdosa, kata Jazilah. Bencana alam ya bencana alam. Biar mereka sendiri yang memaknai bencana itu karena mereka yang mengalami. Bukan penilaian yang mereka harapkan dari kita, tapi bantuan.

Saya sependapat dengan Jazilah. Tapi lanjutan alasannya membuat saya merasa harus memohonkan ampun kepada Allah untuk Jazilah. Jazilah mengatakan bahwa orang yang menganggap bencana itu sebagai cobaan atau hukuman dari Tuhan, berarti orang itu percaya kepada Tuhan yang kejam. Aku tidak mau mempunyai Tuhan seperti itu, tegas Jazilah.

Menurut saya Jazilah telah berpikir lancang tentang Tuhan. Entah dari mana pikiran itu dia peroleh. Bagi saya Tuhan itu Maha Penyayang dan Maha Penghukum sekaligus. Adalah hak dan kekuasaan-Nya untuk menggunakan sifat manapun dari diri-Nya. Tuhan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya yang beriman dan berbuat baik. Tapi Dia juga pantas bersikap kejam terhadap orang-orang yang ingkar dan berbuat jahat. Kalau Tuhan hanya Penyayang, bagaimana orang-orang jahat bisa dihukum?

Tapi yang terkena bencana bukan cuma orang jahat, bantah Jazilah. Di sana banyak juga orang baik.

Bagi orang baik, bencana itu ujian untuk meningkatkan keimanan mereka.

Itu bagi orang baik yang masih hidup. Bagi orang baik yang mati, masa itu ujian juga? Masa ujian sampai membunuh? Bagaimana iman mereka bisa meningkat kalau mereka tak punya kesempatan memperbaiki diri?

Saya hendak mengatakan, justru kalau orang sudah mati, entah itu orang baik maupun orang jahat, pasti menjadi sangat beriman, karena mereka telah bertemu Tuhan. Tapi saya rasa itu pikiran yang konyol.

Jazilah lekas mengirim surat kepada suaminya, menanyakan kabarnya setelah terjadi bencana. Tadinya ia sangat khawatir suaminya ikut jadi korban. Tapi melihat di televisi bahwa justru para tentara yang berjibaku menyelamatkan korban, mengangkati mayat-mayat dan menguburkannya, juga berita dari kantor Batalyon bahwa tak ada tentara Siliwangi yang meninggal dalam bencana itu, Jazilah jadi lega. Sebetulnya kekhawatiran itu tak perlu diikuti mengingat bahwa markas tentara berada di daerah pedalaman, dekat dengan pegunungan yang menjadi markas pemberontak. Sedangkan bencana itu terjadi di daerah pesisir.

Tapi balasan suaminya tak kunjung datang. Satu minggu. Tiga minggu. Jazilah mengirim surat lagi kepada suaminya, sekaligus memberi tahu bahwa kelahiran bayinya tinggal menghitung hari. Ia sangat cemas jangan-jangan terjadi sesuatu dengan suaminya tercinta. Saya menghiburnya dengan mengatakan bahwa akhir-akhir ini para tentara pasti tidak berada di markas, melainkan di pesisir untuk mengurusi bencana, ngangkut mayat, gali kuburan, bikin tenda, dan lain-lain. Jadi surat itu pasti tertahan di pos, suaminya kemungkinan besar belum membaca, dan lebih-lebih lagi tak ada sempat untuk membalas. Atau bisa jadi kantor posnya tutup terkena bencana. Jazilah mengangguk-angguk. Dia juga sudah menduga hal semacam itu, dan selalu mendoakan agar suaminya dan para tentara semuanya berada dalam keadaan baik-baik saja tidak kurang suatu apa.

Ketika tiba saatnya Jazilah melahirkan, saya memanggil bidan asrama untuk menangani kelahiran Jazilah. Selamat. Bayinya montok dan sehat. Jazilah tersenyum mendekap sang bayi. Sayang ayahnya tak ada di sini, katanya. Ia masih belum tahu kabar suaminya. Sesungguhnya saya juga cemas. Suami saya juga tak ada memberi kabar. Saya sering memperhatikan televisi, siapa tahu ada gambar suami saya sedang menggotong mayat atau mendirikan tenda darurat. Tapi tak tampak.

Lalu saya dengar para tetangga bicara tentang rencana kesepakatan damai antara pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka. Di antara berita tentang penanganan bencana, stasiun televisi menyiarkan berita tentang rencana kesepakatan damai itu. Rupanya bencana itu telah menyadarkan rakyat di seluruh negeri, termasuk pula orang-orang GAM. Mereka sangat berduka dan sedih karena bencana itu terjadi di tanah mereka sendiri. Dan itu melenyapkan hasrat mereka untuk berperang. Pemerintah melihat peluang ini, lalu dijajakilah kemungkinan tercapainya perdamaian abadi di negeri Serambi Mekah. Bagi pemerintah, perdamaian ini sangat penting mengingat Aceh perlu dibangun dengan segera, dan itu mensyaratkan situasi keamanan yang kondusif. Apalagi banyak sekali bantuan dari berbagai pihak, dalam maupun luar negeri, dan mereka tak ingin penyaluran bantuan itu terhambat masalah keamanan.

“Jadi tak akan ada lagi perang?” kata Jazilah saat kami sedang menonton berita di televisi tetangga.

Saya mendehem, lantas mengusap pipi anaknya yang masih merah.

“Lantas suami kita kerja apa?”

Saya tertawa. “Ada-ada saja kamu ini, Jaz. Memangnya kerja tentara hanya perang. Kalau tidak ada perang, ya bikin jalan lagi.”

“Bikin jalan itu kerjaan orang sipil,” kata Jazilah. “Tapi bagus juga kalau tak ada perang. Berarti suami kita tak perlu pergi ke mana-mana. Paling-paling tiap pagi ikut apel di asrama. Tapi kalau cuma itu buat apa ada tentara ya?”

“Ya buat jaga keamanan. Kalau ada perampok, penjahat, tentara bisa turun tangan.”

“Itu tugas polisi. Dulu kekacauan di kampung kita itu harusnya polisi yang tangani, bukan tentara. Tentara itu tugasnya melawan tentara musuh, bukan membasmi perampok bangsa sendiri.”

“Ah, sudahlah. Yang penting negara kita aman, dan suami kita baik-baik saja.”

“Iya sih. Tapi suami kita kapan ya pulangnya? Kalau ada perdamaian, harusnya suami kita lekas pulang ya.”

“Kita doakan saja secepatnya.”

Akhirnya surat balasan itu datang juga. Suami saya juga menitipkan surat di surat suami Jazilah. Intinya keduanya meminta maaf karena tidak pernah memberi kabar. Sejak terjadi gempa bumi dan tsunami itu semua tentara sibuk sekali. Surat mereka juga menyinggung tentang rencana kesepakatan damai. Tapi tampaknya kami harus lebih bersabar karena suami kami baru bisa dipulangkan setelah kesepakatan damai itu ditandatangani.

Bagaimanapun adanya rencana perdamaian itu membuat hidup saya dan para tetangga sedikit lebih bergairah. Saya dan Jazilah pun semakin sering mengikuti berita. Bayi Jazilah yang mungil itu menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak tetangga. Sebenarnya di antara kami ada juga perbedaan pendapat tentang perlu tidaknya kesepakatan damai itu. Saya sendiri setuju perdamaian, walaupun, kalau menurutkan kata hati, saya lebih suka para pemberontak itu diberantas saja seperti kalau kita menyemprot nyamuk. Sayangnya mereka bukan nyamuk; mereka seperti kecoa yang ketika disemprot langsung telentang dan kelenger, tetapi habis itu bisa lagi merangkak. Dari rencana itu kami ambil positifnya saja, yaitu bahwa dengan berhentinya perang kami yakin suami kami akan pulang dalam keadaan selamat. Kalau perang tidak ada, suami kami tentu tidak perlu lagi bertugas jauh-jauh. Bagi kami para istri, hal ini tentu lebih membahagiakan.

Tapi tiba-tiba datang berita itu: suami Jazilah tewas.

Jazilah menjerit histeris. Ia langsung pingsan. Bayinya menangis keras sekali, dan tidak mau berhenti ketika saya diamkan seolah dia mengerti apa yang terjadi pada ayahnya.

Saya terkejut dan sangat berduka. Berita ini datang di saat perang sudah reda. Bukankah sejak terjadi bencana baik pihak pemerintah maupun GAM sepakat untuk gencatan senjata?

Surat suami saya yang datang beberapa hari kemudian memperkuat berita itu.

Menurut cerita suami saya, suami Jazilah ditembak orang tak dikenal saat mengawal truk bahan bantuan untuk korban tsunami. Ada kemungkinan, kata suami saya, penembak itu salah seorang kerabat dari anggota GAM yang pernah dibunuh oleh suami Jazilah. Meskipun pelaku diduga kuat merupakan anggota GAM karena mempunyai senjata, suami saya yakin motif pembunuhan itu bukan soal perang. Karena sejak adanya bencana alam itu, disusul rencana kesepakatan damai, kedua belah pihak saling menahan diri untuk tidak saling menyerang. Motif pembunuhan itu tampaknya lebih disebabkan balas dendam. Kata suami saya, suami Jazilah termasuk tentara yang paling banyak membunuh anggota GAM. Jadi tak heran jika di antara kerabat mereka ada yang menaruh dendam.

Tapi Jazilah tidak tahu itu. Ia hanya tahu suaminya mati, dan suaminya mati saat menjalankan tugas negara. Dana pensiunan dan asuransi yang diterimanya sebagai kompensasi kematian suaminya, walaupun cukup besar, sama sekali tidak mengurangi kedukaannya. Jika biasanya ia antusias mengikuti berita, kini ia lebih banyak berdiam di kamar. Jika ada orang bicara tentang perdamaian, dia malah tersinggung. Dia sangat heran kenapa peristiwa gugurnya seorang anggota TNI itu hanya sedikit mempengaruhi proses perdamaian. Perundingan-perundingan tetap digelar. Dan ketika kesepakatan damai itu benar-benar jadi ditandatangani, yaitu pada tanggal 15 Agustus 2005, kami semua mengikuti siaran langsungnya di televisi di rumah tetangga tempat biasa kami berkumpul.

Kecuali Jazilah.

Sejak pagi dia mengurung diri di kamarnya. Dia sudah mendengar sebelumnya bahwa hari itu adalah hari penandatanganan kesepakatan.

Ketika malam harinya saya datang ke rumah Jazilah, dia menyambut saya dengan gumam lirih berulang-ulang.

“Jadi kematian suamiku sia-sia? Jadi kematian suamiku…”

Saya menggeleng.

Tiba-tiba matanya mencorong liar. Mukanya tampak kelam. Dia berkata setengah berteriak.

“Lantas untuk apa suamiku mencucurkan keringat, menumpahkan darah, kalau semua itu sama sekali tidak dihargai? Kenapa harus ada kesepakatan damai? Tentara republik kita tidak kalah. Kenapa harus mengalah? Kalau harus damai, kenapa setelah suamiku meninggal? Kenapa tidak dari dulu Aceh dibuat damai?”

Jazilah menarik ujung kerudung saya, lalu mendorong saya hingga mepet ke dinding.

“Jawab, Saadah, kenapa kita harus berdamai dengan pemberontak itu? Mereka penjahat. Mereka pembunuh suamiku. Harusnya mereka dibasmi sampai tumpas. Kenapa mereka dibebaskan?”

Saya ketakutan. Tak satu kata pun bisa saya ucapkan.

“Lantas para pembunuh suamiku itu akan mendapat pengampunan, yang di penjara dilepaskan, dan mereka mendapat tanah dua hektar dan dikasih makan gratis selama setahun? Enak benar mereka. Lalu apa imbalan untuk para prajurit-prajurit kita yang setia pada negara?”

Jazilah terus mencerocos menumpahkan semua kekesalan dan kedukaan hatinya. Saya hanya bisa diam, meresapi ada muatan kebenaran pada kata-katanya, meskipun tidak seluruhnya. Lagi pula percuma membantah Jazilah, atau dia akan makin kalap. Tenaganya besar sekali. Dada saya ditekan ke tembok. Saya nyaris tak bisa bergerak.

Hari berikutnya saya menyadari bahwa Jazilah telah kehilangan kewarasannya. Pagi telah beranjak siang ketika saya datang ke rumah Jazilah. Dia tengah duduk di teras rumah, di atas kursi, sementara bayinya menggelendot di pangkuan. Lewat pintu dan jendela yang terbuka lebar, harum masakan tercium dari sebuah meja di ruang tengah.

“Kamu habis masak?” tanya saya keheranan.

Jazilah seperti tak mendengar. Dia mencium bayinya dan tersenyum.

“Untuk siapa kamu masak?”

Jazilah mengangkat mukanya. Matanya terarah kepada saya, tapi saya merasa ujung pandangannya mengambang beberapa senti di depan hidungnya.

“Suamiku.” Bicaranya seperti tidak ditujukan kepada saya.

“Suamimu?”

“Suamiku akan pulang.”

Para tetangga berdatangan. Mereka menatap Jazilah dengan perasaan kasihan. Namun semuanya bingung, tak satu pun tahu apa yang harus dilakukan. Jika seorang gila mengamuk, kita tinggal merantai tangan dan kakinya di tiang. Tapi Jazilah, kecuali matanya yang kehilangan cahaya, tampak baik-baik saja. Hanya saja dia tidak memedulikan kami. Sesekali dia melayangkan pandangan ke arah kami; tapi sejatinya dia tidak menatap kami. Bahkan kepada saya pun dia seperti tidak kenal. Satu yang membuat kami sangat heran, sekaligus terharu, adalah dia tidak kehilangan perhatian sedikit pun pada bayinya. Dia menyusui bayinya pada saat tertentu, mengajaknya berbicara, dan bercerita. Bercerita tentang ayah bayi itu, suaminya, yang pergi ke medan perang dan menewaskan banyak musuh.

Besoknya Jazilah mengulangi perbuatannya. Pagi-pagi sekali dia bangun, membuka pintu dan jendela, mandi, menjerang air, memasak nasi. Ketika tukang sayur lewat dengan gerobaknya, Jazilah mencegatnya sebelum tukang sayur itu mangkal di tempat biasa di perempatan.

Sekitar jam delapan, Jazilah selesai memasak. Setelah itu dia menghidangkan hasil karyanya ke meja makan, menutupnya dengan tudung saji. Dia menengok ke dalam kamar. Mendapati bayinya masih tidur, dia meraih buku di ujung ranjang, lalu keluar dan duduk di kursi depan rumah, membaca. Saya kira itu buku milik perpustakaan umum yang belum dia kembalikan. Sebentar-sebentar matanya menengok ke ujung jalan, seolah-olah sedang menunggu seseorang, dan orang yang ditunggunya akan segera datang.

Ketika satu jam kemudian terdengar tangis bayi dari kamar, Jazilah lekas beranjak masuk. Dia tak pedulikan saya yang sejak tadi berdiri saja di pintu, seolah-olah saya tidak ada. Saya pun hanya memperhatikan dia, sama sekali tidak membantunya. Tak lama dia keluar lagi dengan bayinya, mengganti popoknya, memandikannya, mengenakan pakaiannya, memeluknya dengan penuh kasih sayang, menyusuinya.

Dia melakukan semua itu dengan ketelitian yang mengagumkan.

Hari-hari berikutnya saya tidak lagi hanya memperhatikan, melainkan juga membantunya, dari mulai memasak, mencuci, sampai memandikan bayi. Dia menanggapi setiap bantuan saya dengan datar, seolah-olah sendok yang saya sodorkan, air yang saya isikan di baskom, sayuran yang saya iris, semua itu sudah semestinya saya lakukan. Saya sering mengajaknya bercakap-cakap, tapi dia lebih suka bicara dengan bayinya. Dunianya seolah tertutup. Yang ada di ruang batinnya hanyalah bayinya dan bayangan suaminya.

Saya memberi tahu orang tua Jazilah. Mereka datang dan berniat membawa Jazilah pulang. Tapi Jazilah tidak mau dan tidak bisa dipaksa. Mereka tinggal seminggu lebih di asrama, mengupayakan berbagai cara yang terpikirkan untuk menyembuhkan Jazilah. Dokter, kiyai, dan dukun pernah dipanggil (Jazilah tidak bisa dibawa ke luar; ia hanya ingin menunggu suaminya di depan rumah), tapi semuanya tak mempan. Akhirnya orang tua Jazilah pulang setelah berpesan kepada saya untuk menjaga Jazilah. Mungkin waktu akan menyadarkan Jazilah dari kegilaannya.

Namun tak ada tanda-tanda bahwa kegilaan Jazilah akan mereda. Malah Jazilah mulai menampakkan perilaku yang mengkhawatirkan, khususnya bagi ibu-ibu. Jazilah sering memanggil seorang tentara yang lewat di depan rumahnya sebagai suaminya. Di mata Jazilah, tampaknya semua tentara atau orang yang berpakaian hijau loreng adalah suaminya belaka. Untungnya Jazilah tidak pernah melakukan pemaksaan terhadap tentara yang disangka suaminya itu. Satu atau dua kali tentara itu mengatakan bukan, biasanya Jazilah langsung mundur dan duduk kembali di kursinya dengan muka tertunduk.

Lama-kelamaan Jazilah mulai menyadari kehadiran saya. Di antara beberapa tetangga yang bertandang, Jazilah bisa membedakan bahwa sayalah yang paling sering dan paling lama menemaninya, serta selalu mengajak dia bercakap-cakap. Akhirnya suatu hari dia menyahuti omongan saya. Tidak tanggung-tanggung, sahutan pertamanya kepada saya adalah sebuah cerita:

“Ada seorang istri yang ditinggal suaminya ke medan perang. Setahun berlalu, dia merasa sudah waktunya bagi suaminya untuk pulang. Dia pun menunggu. Dia merasa setiap saat dalam satu hari suaminya bisa saja datang. Maka tiap hari dia bangun pagi-pagi, membuka pintu dan jendela dan pagar, menyediakan masakan di meja makan, lalu duduk di depan rumahnya…”

“Kamu juga begitu,” saya menggumam.

“Ya, karena aku istri prajurit,” jawab Jazilah. “Seorang istri prajurit sudah ditakdirkan untuk menanti. Setiap waktu seorang prajurit harus selalu siap dipanggil ke medan perang. Maka istrinya pun harus siap sedia jika sewaktu-waktu ditinggalkan. Tak ada yang patut dilakukan istri prajurit kecuali menunggu suaminya pulang. Begitulah aku. Begitulah takdirku.”

This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s