Perempuan yang Menunggu [3-habis]

Siang sudah lewat ketika akhirnya kapal yang ditunggu merapat di dermaga Tanjung Priok. Dada kami serasa meledak melihat para prajurit di atas dek melambai-lambaikan tangannya. Kami juga melambaikan tangan. Itu suamiku, itu suamiku! Para istri menjerit histeris, padahal tak satu pun wajah suami mereka yang terlihat dengan jelas. Para prajurit itu terlalu banyak untuk dibedakan. Pakaian mereka sama. Tinggi mereka sama. Rambut mereka juga sama.

Tangga dipasang. Dengan agak berantakan para prajurit itu berbaris turun melalui tangga. Ingin kami langsung menyerbu mendapatkan suami masing-masing. Tapi aturan protokoler mengharuskan ada upacara penyambutan. Lalu sekitar seribu prajurit itu berjalan rapi membentuk barisan bersama kesatuannya. Upacara dimulai. Suasana perlahan senyap, berganti suara para petugas upacara yang berteriak dengan tegap. Kaki kami menjinjit, leher kami memanjang, memastikan letak kepala suami kami dalam barisan. Lalu rasa haru menyeruak begitu panglima angkatan darat menyampaikan sambutan. Lantang namun lembut. Kami semua mendengarkan dengan khidmat.

Saya memegang tangan Jazilah erat-erat. Jazilah memeluk bayinya dengan ketat. Seorang ibu memegangkan payung, dan ibu yang lain melingkarkan tangan ke pinggang Jazilah. Kami betul-betul ingin melaksanakan pesan Ibu Danyon untuk menjaga Jazilah selama di pelabuhan hingga pulang kembali ke Pandeglang.

Begitu kata-kata panglima berakhir, tiba-tiba seorang perempuan berlari ke tengah upacara menuju seorang prajurit yang berdiri di barisan depan sebuah kesatuan. Ia mengalungkan bunga yang dibawanya ke leher prajurit itu, dan merangkulnya amat lekat. Suaminya pun balas memeluk. Air matanya tampak mencucur. Lalu seperti dikomando para istri yang lain berhamburan pula ke tengah lapangan.

Suasana langsung riuh oleh hiruk-pikuk. Saya juga ingin berlari ke lapangan, tapi saya harus menahan Jazilah yang berkelejatan terus minta tangannya dilepaskan. Waktu upacara tadi saya telah melihat suami saya, tapi sekarang tak tampak lagi, terhalang oleh orang-orang yang berlari kian kemari. Saya menoleh kiri-kanan, para istri di sekeliling saya sudah terseret pula ke tengah lapangan. Tinggal saya yang masih berdiri kebingungan sementara tubuh Jazilah saya rasakan melejat-lejat di tangan saya.

“Itu suamiku!” Tiba-tiba Jazilah menunjuk ke atas geladak kapal. Tampak seorang berpakaian prajurit berjalan terbungkuk-bungkuk, seperti tengah membereskan sesuatu. Tapi saya tahu itu bukan suami Jazilah.

“Oh, dia terluka. Pantas dia belum turun. Kenapa orang-orang tidak menolongnya?”

“Dia bukan suamimu.” Saya eratkan genggaman saya. Saya benar-benar bingung. Apa yang sejak mula dicemaskan tampaknya mulai terbukti. Mana teman-teman? Saya takut kalau Jazilah tiba-tiba berontak; tenaganya bisa menjadi sangat kuat.

Benar saja. Mendadak Jazilah menghentak demikian keras hingga pegangan tangan saya terlepas. Ia berlari ke arah kapal, melewati kerumunan para istri dan para prajurit yang juga tengah berlarian saling mencari pasangan. Saya mengejar dan berteriak-teriak kepada orang-orang, minta tolong agar Jazilah dihentikan. Tapi tak satu pun yang mempedulikan teriakan saya. Atau mereka tak mendengar saya. Lagi pula perempuan yang berlari bukan hanya Jazilah.

Jazilah berlari cepat dalam langkah zigzag menghindari tubrukan dengan orang-orang. Ia semakin dekat ke arah kapal. Sekilas tampak orang di geladak itu mengangkat tangga, dibantu seorang prajurit lain yang rupanya sejak tadi sudah ada di situ. Sekonyong-konyong dada saya dihantam kecemasan yang luar biasa. Lekas tangan saya menggamit seorang prajurit yang saya lewati.

“Hentikan dia!” jerit saya sambil menunjuk Jazilah. Prajurit itu tanggap akan nada cemas di wajah dan suara saya, lalu ia berlari lebih cepat.

Jazilah hampir sampai di bibir dermaga, tapi gerak larinya tak menampakkan tanda-tanda akan berhenti. Sementara itu prajurit yang saya mintai tolong masih agak jauh jaraknya. Sekonyong-konyong sebuah adegan menegangkan hampir dua tahun lewat menyeruak ke pikiran saya. Ketika itu para prajurit muda di asrama kami baru pulang dari pelatihan kenaikan pangkat yang dilaksanakan selama sebulan. Jazilah berlari mendahului kami menyambut suaminya yang baru turun dari truk.

Suamiku…! Dan masih beberapa meter Jazilah melompat ke arah suaminya yang tertawa lebar lalu merentangkan tangan menangkap lentingan tubuh Jazilah di udara. Seperti adegan dalam film India dua tubuh itu berpeluk dan berputar-putar dalam tumpuan dua kaki sang prajurit yang perkasa. Orang-orang memandang dengan terkesima. Anak-anak bersorak-sorak dan tertawa.

Tapi kali ini tidak demikian. Saya tahu di depan Jazilah tidak ada suami yang akan menangkap lentingan tubuhnya. Saya hanya mendapati sekilas keterkesimaan pada wajah dua prajurit di atas geladak. Lalu dunia seperti tak bergerak. Atau saya yang tak bisa bergerak. Tenaga saya seperti lenyap, mungkin telah dirampok Jazilah untuk melompat. Setelah itu semuanya menjadi gelap.

Saya tak tahu apa-apa lagi.

Entah apa yang terjadi.

***

Ketika saya tersadar, saya mendapati diri saya terbaring di atas ranjang. Sekeliling berwarna putih. Saya melamun dan mengingat-ingat. Saya mengerang. Lalu saya melihat seseorang mendekat ke arah saya. Bentuk tubuhnya seperti Jazilah. Entahlah. Wajahnya tak jelas seperti siapa. Penglihatan saya belum pulih seutuhnya.

“Kamu sudah sadar?” terdengar suaranya, seperti suara Jazilah. Lalu sepertinya saya mengeluarkan keluh kehausan. Dia mengambil sesuatu seperti gelas air dan menuangkannya ke mulut saya. Saya merasa tubuh saya lemah sekali. Saya biarkan isi gelas itu mengairi kerongkongan saya. Lalu dia mengambil sesuatu seperti piring dan di atasnya ada segumpal benda putih dan sendok. Saya biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Saya masih lemas. Saya mencoba mengingat-ingat apa yang tengah saya alami dan apa yang telah terjadi.

“Dua malam kamu pingsan,” terdengar lagi suara seperti suara Jazilah itu. Saya terheran-heran. Bagaimana saya bisa pingsan selama itu?

Seperti tahu apa yang saya pikirkan, perempuan itu menyuruh saya agar tidak memikirkan apa-apa. “Makan saja yang banyak,” katanya, “setelah itu istirahat.”

Saya beranjak duduk. Saya lapar sekali dan menerima setiap suapannya dengan lahap. Tapi pandangan saya masih belum jelas. Lalu saya seperti teringat sesuatu.

“Kamu baik-baik saja?” tanya saya kepadanya.

Dia mengangguk. Begitulah kelihatannya.

“Anakmu..?” tanya saya lagi.

Dia seperti tergeragap. Lama dia diam saja.

“Maaf,” saya ulangi pertanyaan saya, “apakah anakmu tidak apa-apa?”

“Sudahlah,” dia berkata, “jangan memikirkan apa-apa. Besok bapak dan ibu kamu akan tiba di sini.”

Bapak? Emak? Untuk apa mereka datang?

Saya ingin menanyakan banyak hal, tapi perempuan seperti Jazilah itu tidak berkata apa-apa lagi. Setelah menaruh piring dan sendok di meja samping ranjang, dia merebahkan tubuh saya. Tenaganya besar sekali, saya tak bisa menolak, atau mungkin tenaga saya yang terlalu kecil.

Tapi otak saya tak bisa dicegah untuk berhenti berpikir. Saya sungguh tak mengerti apa yang telah terjadi. Saya mencoba mengingat-ingat, namun sia-sia. Saya lelah. Saya ingin tidur.

Tapi saat itu saya merasakan sebuah getaran halus di ujung kaki saya. Saya membuka mata, dan tersentak. Tersentak sekaligus gembira. Mendadak penglihatan saya jadi terang. Di ujung ranjang itu, dia, berdiri dengan tegak, pria yang selama ini saya rindukan.

Suami saya.

Saya bangkit dari ranjang tapi dia lekas memburu dan memegang lengan saya. Saya rebah kembali seraya menarik tangannya dan memeluknya.

“Oh, suamiku, tahukah kamu betapa saya sangat rindu padamu?”

Saya merasakan dia gelagapan dalam rengkuhan saya. Kedua tangan saya dipegangnya lalu dia menarik wajahnya menjauhi saya. Saya tersentak dan kepala saya ditaburi tanda tanya. Apakah suami saya tidak rindu pada saya?

Tapi kata-kata Jazilah yang saya dengar setelah itu membuat saya sangat tersinggung.

“Tidak apa-apa,” kata Jazilah. “Biarkan dia memeluk Aa.”

Apa maksudnya dengan ucapan itu? Tiba-tiba satu pikiran buruk menyelinap ke benak saya. Mungkinkah suami saya telah berselingkuh dengan Jazilah ketika saya pingsan? Jazilah, tega sekali kamu sama saya.

Lekas saya tersadar lalu mengucap istigfar. Tuduhan itu pasti setan yang susupkan. Tapi tidak, tidak apa-apa. Jazilah, kamu adalah saudara saya. Kita satu jiwa. Suamimu telah meninggal. Saya ikhlas jika suami saya mengambil kamu sebagai istri di samping saya. Mungkin dengan itu suami saya bisa mendapatkan apa yang sampai saat ini belum bisa saya berikan. Anak.

Jangan membantah, Jaz, tidak kali ini. Saya ingat, kamu pernah kutipkan pada saya sebuah kalimat entah dari buku apa, “Jika kau punya sahabat, dan sahabatmu hanya seorang, kau akan bersedia melakukan apa saja agar dia tidak kecewa.” Bagi saya, itu berarti termasuk berbagi suami bersamamu.

Saya lihat suami saya mundur dan berdiri agak di belakang Jazilah. Wajahnya menunjukkan kebingungan, atau mungkin kesedihan. Mungkin juga kelelahan. Saya jadi kasihan kepadanya. Pasti dia menderita di medan perang. Tak ada perempuan. Tak ada makanan.

Makanan?

Mendadak saya bangkit dan melompat ke arah suami saya. Tapi saya terjatuh. Suami saya lekas menolong saya dan mendudukkan saya di atas kasur. Saya tersenyum penuh terima kasih. Kedua tangan saya melingkar di belakang lehernya. Saya merasa amat terlindung di bawah pandangan matanya yang teduh. Saya menciumnya dan dia membiarkan bibirnya saya cium, tapi hanya sebentar.

“Suamiku, kamu sudah makan? Maafkan istrimu ini, kamu datang sedang aku belum menyiapkan makanan. Kamu pasti lapar. Tunggulah sebentar, aku akan masak makanan untukmu.”

“Terima kasih,” terdengar suaranya, merdu sekali. “Saya sudah makan.”

Tiba-tiba saya jadi cemburu. Pasti yang dia makan bukan masakan saya. Tapi saya tidak boleh terseret cemburu. Paling-paling masakan Jazilah, siapa lagi. Itu tidak apa-apa. Lalu suami saya membaringkan tubuh saya dan menyuruh saya beristirahat. Saya patuh dan merebahkan diri di atas ranjang. Saya menatap matanya, berharap dia akan mengikuti saya naik ke ranjang, berbaring di samping saya atau menindih tubuh saya. Tapi dia malah mundur perlahan-lahan. Saya ingin berteriak, tapi suara saya tercekat di tenggorokan.

Lalu wajah suami saya digantikan oleh wajah Jazilah.

Wanita itu memang Jazilah.

Baru sekarang saya sadari betapa wajah itu tampak sangat lelah.

***

Saya sudah terbangun ketika bapak dan ibu saya datang. Beberapa saat lalu saya memperhatikan sekeliling saya. Rupanya saya berada di rumah sakit. Aneh, rasanya saya tidak sakit apa-apa. Saya hanya merasa agak lemah. Kenapa saya bisa ada di rumah sakit?

Saya pura-pura memejamkan mata ketika Bapak dan Emak masuk ke dalam kamar, diikuti Jazilah. Emak langsung menubruk saya dan menangis. Terdengar suaranya memuji-muji Tuhan. (Mungkin juga mencaci-maki, siapa tahu? Saya tak sepenuhnya paham ungkapan Arab, meskipun saya pernah belajar di pesantren dan banyak dari ungkapan itu sering saya ucapkan). Saya tersenyum-senyum saja. Hmmh, tampaknya mereka terlalu membesar-besarkan apa yang saya alami.

Saya menggerakkan kedua tangan menutup wajah, “Ciluuk…,” kata saya, lalu membukanya kembali. “Baa..!” Dan berderailah tawa saya, menertawakan Emak yang menurut saya tangisnya tidak beralasan.

Emak meringis masam, lalu berkata kepada bapak. “Edan, sudah begini pun masih bisa dia ketawa.”

Saya tersenyum ke arah bapak. Bapak masih bercakap-cakap dengan Jazilah. Saya dengar beliau bertanya, “Lalu di mana sekarang jenazah anaknya?”

Jazilah menjawab perlahan. “Sudah dikubur.”

Suaranya yang perlahan itu menyentak saya. Dikubur? Anak siapa yang dikubur? Anak saya? Kapan saya punya anak? Oh, iya. Tentu yang dikubur itu anak Jazilah. Saya ingat, saya ingat sekarang. Jazilah, dia melompat ke geladak kapal, mengira jaraknya dari ujung dermaga dekat saja. Oh, kasihan dia. Tentu dia jatuh ke air laut, dan anaknya tidak tertolong lagi. Oh, Jazilah, saya sangat berduka akan nasibmu.

Tanpa sadar air mata saya meleleh. Saya menangis tersedu-sedu. Dapat saya rasakan betapa sakitnya kehilangan orang-orang yang dicintai. Saya tak dapat bayangkan jika itu terjadi pada saya, jika yang kehilangan suami dan anak itu saya. Menangis pun mungkin saya takkan sanggup.

Bapak melangkah mendekati saya. Dia duduk di tepi ranjang, membelai kepala saya, lalu berkata, “Tabah ya, nak, sabar. Kalau kamu sudah agak baikan, kita pulang saja ya, tinggal saja di kampung, temani Bapak dan Emak.”

Saya tahu bapak mencoba menghibur, tapi saya tak mengerti kenapa saya yang dihibur. Harusnya Jazilah. Dia yang terkena musibah begitu parah. Oh iya, harusnya saya juga menghibur Jazilah.

Saya bangun, memanggil Jazilah, dan dia menghampiri saya. Saya pegang kedua pundaknya. Dia memegang kedua lengan saya.

Kami saling pandang.

Wajah kami dekat sekali.

***

Entah berapa lama saya bersitatap dengan Jazilah. Tahu-tahu saya mendapati diri saya seakan-akan orang yang baru bangun dari tidur.

Tidur yang panjang.

Tidur yang entah kapan saya mulai.

Begitulah. Kesadaran sering datang tanpa kita sadari, sebagaimana perginya juga hampir tak mungkin kita amati. Ingatkah kita kapan persisnya kita terlelap tidur, dan tahukah kita bilamana kita terjaga?

Entah siapa yang Jazilah atau siapa yang Saadah, perlahan-lahan saya sadar bahwa istri yang suaminya meninggal di medan Aceh adalah saya, bahwa ibu yang anaknya telah dikubur itu saya. Saya sadar bahwa bukan dia, entah dia Jazilah atau Saadah, tapi sayalah yang gila. Sayalah yang tiap hari menunggu suami di depan rumah, sayalah yang begitu bangun tidur langsung membuka pintu dan jendela dan baru menutupnya kembali jika saya hendak tidur, sayalah yang memasak tiap pagi dan menghidangkannya di meja makan. Sayalah perempuan yang bernasib menyedihkan itu.

Tapi apa arti kesadaran ini buat saya?

Satu yang saya langsung rasakan. Tiba-tiba kedua tangan dan kaki saya dipegangi orang dengan kuat. Orang-orang itu, banyak sekali, tak sanggup saya melawan walaupun tenaga saya sudah saya gandakan beberapa kali lipat. Saya baru tahu bahwa di luar kamar banyak orang menunggui saya. Mereka langsung masuk begitu saya mengeluarkan raung kesakitan –kesakitan yang amat hebat dan tak pernah saya rasakan sebelumnya– dan mengamuk.

Saya diikat dengan rantai dan dibawa ke ruangan lain. Tangan dan kaki saya perih sekali. Tapi itu tak ada artinya dibanding perih yang mendidih di hati saya. Saya tak bisa bergerak. Tapi saya memang tak ingin bergerak. Saya hanya inginkan satu hal, yaitu tidak merasakan apa-apa. Dan saya tahu, karena saya masih sadar, keinginan itu bisa dicapai hanya jika saya mati.

Tapi bagaimana caranya mati? Kenapa saya masih sadar? Apalah artinya kesadaran, jika kemudian saya tak sanggup lagi membuka mata, tak ingin lagi menghembuskan nafas setelah tarikan terakhir yang saat ini masih saya tahan di dada. Apalah artinya kesadaran, jika saya harus hidup dengan kenyataan bahwa saya adalah seorang ibu yang tiga hari lalu telah membunuh anaknya sendiri?

Setidaknya saya ingin dibolehkan kembali pada keadaan seperti beberapa saat lalu. Saya ingin gila lagi. Tak apalah jika pikiran saya terbalik-balik. Saya ingin menjadi Saadah lagi, atau siapalah itu, yang penting bukan menjadi istri yang kehilangan suami dan ibu yang menceburkan anaknya ke laut. Saya tahu, jika saya gila dan saya tidak tahu bahwa saya gila, maka saya masih mungkin bahagia. Tapi jika saya gila dan saya sadar bahwa saya gila…, maka saya benar-benar gila jika masih menginginkan hidup lebih lama.

Tapi apa yang bisa saya lakukan sekarang?

Ah, barangkali segala yang saya alami ini tidak benar-benar terjadi. Anggap saja begitu. Mungkin semuanya hanya mimpi. Atau khayalan orang gila saja. Tapi bagaimana mungkin semua ini bohong-bohongan?

Saya merasa sakit.

Sakit sekali.

Dan rasa sakit ini begitu nyata.

Tuhan, jika Kau katakan dalam kitab bahwa Engkau takkan membebani hamba-Mu dengan beban yang melebihi kemampuannya untuk menanggung beban itu, maka lihatlah saya. Jika pikiran saya telah terbolak-balik, jika ingatan ini tak sanggup lagi mengenali nama sendiri, jika rasa sakit ini teramat hebatnya mendera jiwa, masihkah Engkau bersikeras mengatakan bahwa beban yang Kau timpakan ini masih sanggup saya tahan?

Tuhan, mungkin akhirnya saya harus mengatakan ini: bahwa saya tidak mau mempunyai Tuhan yang kejam. #

Ciputat, 2005-2007

Pernah dimuat di majalah Horison edisi November 2007

This entry was posted in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s