Penggambaran Tuhan dalam Cerpen (Sebuah Pledoi)

Setelah membaca cerpen saya berjudul Wajah yang Indah, seorang kawan yang juga penulis melayangkan komentar bernada keberatan. Katanya, dia merasa terganggu oleh penggambaran Tuhan secara visual dalam cerpen tersebut, karena menurutnya, hal semacam itu tidak dibolehkan.

Penggambaran Tuhan dimaksud salah satunya terdapat pada bagian akhir dari cerpen Wajah yang Indah, yang redaksinya begini:

Tuhan tak langsung menjawab. Sambil menyeka air mata-Nya yang merembes dan menimbulkan kilau indah di Wajah-Nya, Dia mencoba bicara namun suara-Nya tersendat-sendat. Tampaknya susah sekali tawa-Nya disetop. Lalu tanpa diduga sama sekali, mendadak Dia melompat ke hadapan ahli sujud keempat hingga sahabat kita ini hampir tersedak merasakan Wajah Sang Kekasih begitu dekat. Di lain kejap, tiba-tiba bibir dari Wajah Yang Mahaindah itu menghunjam bibirnya dalam sebuah ciuman yang teramat dahsyat.

Sontak ahli sujud keempat tergeletak pingsan. Dalam pingsannya, ia bermimpi melihat Tuhan menghela nafas berulang-ulang, lalu membopong tubuhnya ke atas Kursi sambil terus bergumam.

Terhadap keberatannya, saya katakan, mengapa kita harus merasa terganggu oleh sesuatu yang juga terdapat dalam Alkitab, Alquran, dan hadis-hadis qudsi?

Lalu dengan rendah hati dia meminta saya menyebutkan tempat-tempat dalam Alkitab, Alquran, dan hadis-hadis qudsi yang menyajikan gambaran Tuhan.

Saya menyanggupi. Dengan catatan, detail-detail gambaran Tuhan dalam cerpen saya tentu tidak persis sama dengan yang terdapat dalam kitab-kitab dan hadis qudsi.

Tapi sebelumnya ingin saya katakan, secara pribadi, saya sebetulnya tidak memakai teks-teks dalam kitab suci maupun hadis qudsi sebagai dalil atas perilaku saya menggambarkan Tuhan dalam cerpen. Alasannya akan saya kemukakan di akhir.

Adapun dalam kitab-kitab dan hadis, yang saya maksud adalah ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat yang lazim dimiliki atau dilakukan manusia, misalnya dengan kata wajah, tangan, bersemayam, turun, mendengar, melihat, berbicara, dlsb. Biasanya ayat-ayat antropomorfisme tersebut ditafsir dengan cara takwil (memaknainya sebagai kiasan, perumpamaan, bukan yang sebenarnya). Ada juga yang menafsirkan sebagaimana adanya, tapi dengan catatan bi lâ kayfa (tanpa tanya bagaimana).

Saya yakin kawan saya pun mengetahui hal ini, hanya cara memandangnya beda.

Dalam Perjanjian Lama

Sekadar menyebut contoh, dalam kitab Perjanjian Lama ada adegan yang menceritakan pergumulan Yakub dengan Allah. Saya kutipkan bagian tersebut tanpa perubahan:

24. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. 25. Ketika orang itu melihat bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. 26. Lalu kata orang itu, “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” 27. Bertanyalah orang itu kepadanya, “Siapakah namamu?” Sahutnya, “Yakub.” 28. Lalu kata orang itu, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” 29. bertanyalah Yakub, “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya, “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. 30. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya, “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong.” (Kejadian, pada bab yang dinamai “Pergumulan Yakub dengan Allah” (32:24-30).

Contoh kedua (Keluaran, 15: 6 dan 8, pada bab yang dinamai “Nyanyian Musa dan Israel”):

6. Tangan kananMu, TUHAN, mulia karena kekuasaanMu, tangan kananMu, TUHAN, menghancurkan musuh.

8. Karena nafas hidungMu segala air naikbertimbun-timbun.

Contoh ketiga (Keluaran, 19:20, dalam bab “Tuhan Menampakkan Diri di Gunung Sinai”):

20. Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa.

Contoh-contoh antropomorfisme seperti ini mungkin tersedia lebih banyak lagi dalam Alkitab, tapi saya belum membaca semuanya.

Dalam Alquran

Di dalam Alquran, frase “tangan Allah” atau “tangan-Nya”, saya temukan dalam 4 ayat, yaitu:

1. Ali Imrân 3:73: “… Katakanlah, ‘Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.'”

2. Al-Mâ`idah 5:64: “Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila`nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka…”

3. Al-Fath 48:10: Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”

4. Al-Hadîd 57:29: “…dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Frase “wajah Allah” atau “Wajah-Nya” saya temukan dalam 8 ayat.

1. Al-Baqarah 2:115: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

2. Al-Baqarah 2:272: “… Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari wajah Allah….”

3. Al-An’âm 6:52: “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki wajah-Nya.

4. al-Kahfi 18:28: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya..”

5. Al-Qashash 28:88: “… Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya. BagiNyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”

6. Al-Rûm 30:38: “Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari wajah Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.”

7. Al-Rûm 30:39: “… Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai wajah Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”

8. Al-Insân 76:9: “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”

Keterangan: Dalam terjemahannya, sebagian besar dari frase wajhullâh atau wajhuhû di atas ditakwil menjadi keridaan Allah.

Selanjutnya ada istilah “kursi” dalam ayat kursi yang terkenal itu (2:255).

Kemudian ada istilah “bersemayan” atau “bertahta“, terjemah dari kata istawa. Terjemahan ini saya kira hanya sebuah bentuk eufimisme (penghalusan) dari “duduk“. Saya menemukannya di 4 tempat:

1. Al-A’râf 7:54: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy.”

2. Yûnus 10:3: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan…

3. Al-Ra’d 13:2: “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan….

4. Thâhâ 20:5: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.

Dalam Hadis Qudsi

Dalam hadis qudsi, saya menjumpai 3 contoh:

1. Dari Abu Hurarah, Nabi Saw. bersabda, Allah berfirman, “Anak Adam memprotes perubahan waktu, padahal Aku adalah Waktu, malam dan siang ada di tangan-Ku.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

2. Dari Abu Hurarah, Nabi Saw. bersabda, Allah berfirman, “Aku adalah sebagaimana persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika dia menyebut-Ku. Jika dia menyebut-Ku dalam dirinya, Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Dan jika ia menyebut-Ku dalam sebuah majelis, Aku menyebutnya dalam sebuah majelis yang lebih baik dari itu. Dan jika mendekati-Ku sehasta, Aku mendekatinya sedepa. Dan jika dia mendatangiku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.” (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

3. Dari Abu Hurarah, Nabi Saw. bersabda, Allah akan berfirman di hari kebangkitan, “Hai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak menjenguk-Ku. Anak Adam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu, bukankah Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Tuhan menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku yang bernama Fulan bin Fulan sakit dan engkau tidak menjenguk-Nya? Ketahuilah, jika engkau menjenguknya maka engkau akan menemukan-Ku bersamanya.” Kemudian Tuhan berfirman, “Hai anak Adam, Aku meminta makanan kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku makanan.” Anak Adam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu makanan sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Tuhan menjawab, “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku Fulan bin Fulan meminta makanan kepadamu dan engkau tidak memberikannya. Ketahuilah bahwa jika engkau memberinya makanan, maka engkau akan menemukan-Ku di sana.” Lalu Tuhan berfirman lagi, “Hai anak Adam, Aku meminta minum kepadamu tapi engkau tidak memberi-Ku minum.” Anak Adam berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Tuhan menjawab, “Tidakkah engkau tahu, hamba-Ku Fulan bin Fulan meminta minum kepadamu tapi engkau tidak memberikannya. Jika engkau memberinya minum, maka engkau benar-benar akan menjumpai-Ku di sana.” (H.R. Muslim).

Tentu saja teks-teks di atas sebaiknya tidak dipahami secara harfiah. Laysa kamitslihi syay`un, tak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Bagi saya, adanya ayat-ayat antropomorfis dalam kitab menunjukkan satu hal, yakni problem bahasa. Wahyu disampaikan kepada manusia dalam redaksi bahasa manusia. Maka mau tak mau ia mesti tunduk pada kaidah bahasa manusia dengan segala keterbatasannya.

Alasan Saya

Sebagaimana saya tulis di awal, apa-apa yang terdapat dalam kitab suci dan hadis qudsi tidak menjadi dalil bagi saya tatkala menggambarkan Tuhan secara visual. Meskipun demikian, bolehlah keterangan dalam kitab itu dianggap sebagai alasan sekunder.

Saya ingin pula menambahkan satu alasan sekunder lain, yakni bahwa apa yang saya lakukan ini berada dalam wilayah seni. Cerpen adalah satu bentuk sastra, dan sastra bagian dari seni. Seni memiliki hukum-hukumnya sendiri, yang berbeda dengan hukum di wilayah lain, sebutlah wilayah agama, filsafat, atau pun ilmu. Bukan berarti keempat wilayah ini tidak bisa saling berhubungan, tapi masing-masing bertumpu pada landasan dan ukuran nilai yang berbeda.

Cerpen, sebagai bentuk fiksi, akan naif kalau dimaknai sebagaimana kita memaknai teks hukum atau karya ilmiah. Fiksi berkaitan dengan makna-makna konotatif, bukan denotatif. Maka jika gambaran Tuhan dalam kitab ditafsirkan sebagai kiasan, kenapa cara yang sama tidak diberlakukan terhadap cerpen?

Sedangkan alasan pokok saya menggambarkan Tuhan secara fisik dalam cerpen, ialah karena menurut saya itu tidak apa-apa.

Dengan kata lain, tidak ada alasannya.

Saya hanya yakin bahwa Tuhan tidak akan marah dengan perbuatan saya itu. Kok tahu? Sebab saya tidak bermaksud menghina Dia atau merendahkan Dia dan tidak pula menganggap Dia serupa dengan makhluk-Nya.

Saya yakin Dia tidak akan marah, sebab Dia adalah “sebagaimana persangkaan hamba-Nya”.

Ini adalah sebentuk penghayatan iman, dan sifatnya sangat personal.

Mungkin pledoi saya ini tidak bikin sreg di hati kawan saya itu. Apalagi alasan utama saya terkesan menutup pintu diskusi. Sebenarnya saya ingin menjelaskan lebih panjang lagi, dan apa yang ingin saya sampaikan itu sudah cukup terang di kepala saya. Tapi rupa-rupanya saya terbentur pada problem bahasa.

Manusia Berpikir, Tuhan Tertawa

Terakhir, saya ingin mengutip sebuah ungkapan yang cukup terkenal, dipopulerkan oleh Milan Kundera, seorang pengarang asal Ceko. Konon ungkapan ini berasal dari tradisi Yahudi. (Semoga pembaca tidak lantas apriori mendengar kata Yahudi. Bagaimana pun mereka adalah bangsa yang paling banyak mendapat perhatian Tuhan). Ungkapan tersebut adalah, “Manusia berpikir, Tuhan pun lalu tertawa.”

Banyak orang yang tidak mau berpikir (baca: berpikir bebas) karena takut Tuhan akan marah kepadanya. Padahal senyeleneh apa pun pikiran seseorang, dalam bayangan saya, paling-paling Tuhan hanya akan tersenyum, sambil bergumam:

“Ah, ada-ada saja hamba-Ku ini.” []

This entry was posted in Esai Sastra and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Penggambaran Tuhan dalam Cerpen (Sebuah Pledoi)

  1. aris says:

    bagi kamu2 yang suka dengan design grafis, silahkan kunjungi http://abdoelcharies.blogspot.com/ ada berbagai software desing grafis, office, antivirus, dan juga windows 7, semoga bermanfaat…

  2. salam kenal.. blognya keren , artikelnya juga mantapp….

    ceritanya keren dah..

    terima kasih… di tunggu kunjungan baliknya…..

    @Salam juga. Terima kasih telah berkunjung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s