Hujan Bulan Mei dan Hujan Bulan Juni

Mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan

di mana gerangan kemarau, yang malamnya dingin

yang langitnya bersih, yang siangnya menawarkan

bunga randu alas dan kembang celung, yang dijemput angin

di bukit-bukit, yang tidak mudah tersinggung

yang lebih suka menunggu sampai penghujan

dengan ikhlas meninggalkan kampung-kampung

(diusir kerumunan bunga dan kawanan burung)

di mana gerangan kemarau, yang senantiasa dahaga

yang suka menggemaskan, yang dirindukan penghujan

(Ayat-ayat Api, fragmen 1)

Hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya setiap sore pada bulan Mei ini membuatku teringat selalu akan puisi “Ayat-ayat Api”, karya Sapardi Djoko Damono. Puisi yang sejatinya bercerita tentang tragedi Mei 1998 ini dibuka dengan sebuah lanskap cuaca: di musim yang seyogyanya kemarau, hujan masih turun ternyata.

Sebuah paradoks yang memikat. Dan di situlah salah satu ciri khas sajak-sajak Sapardi. Lukisan tentang cuaca itu baru paradoks pertama. Kita pun bisa melihat, dari mulai bait kedua (“di mana gerangan kemarau” dst), tersurat kerinduan akan kemarau. Biasanya kita merindukan hujan pada musim kemarau, dan merindukan panas pada musim hujan. Tapi sang pesyair dalam sajaknya ini merindukan kemarau pada musim kemarau.

Akhir-akhir ini, memang kita semua merasakan perubahan iklim semakin sulit diprediksi. Negeri kita masih dihuni oleh dua musim, hujan dan kemarau. Tapi jadwalnya sudah tak teratur lagi.

Barangkali gejala ini merupakan salah satu dampak dari pemanasan global.

Paradoks berikutnya, dan ini sama sekali tidak memikat, di musim kemarau yang masih hujan itu ternyata ada serangkaian peristiwa penuh bara. Gelombang demonstrasi, teriakan-teriakan protes, penembakan mahasiswa, pembakaran toko-toko, penjarahan, pemerkosaan gadis-gadis dari etnis tertentu, pendudukan gedung dewan, hingga jatuhnya seorang penguasa.

Seolah-olah hujan yang belum pergi dari bulan Mei itu hanyalah sebuah kamuflase, topeng dari sejumlah kejadian penuh api.

Kemarau mungkin belum tiba sepenuhnya. Tapi ia telah lebih dulu singgah di dada-dada manusia.

Sepuluh tahun sebelum “Ayat-ayat Api” tercipta (1998-1999), Sapardi telah menulis sajak yang indah berjudul “Hujan Bulan Juni” (1989). Judul ini juga sebuah kontradiksi: hujan bulan Juni nyatanya bukanlah hujan seperti yang turun di bulan Mei. Hujan bulan Juni adalah hujan yang bersembunyi.

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni)

Bagi Sapardi, tampaknya setiap musim adalah penghujan. Bedanya, ada hujan yang menampakkan diri dan ada hujan yang lebih suka merahasiakan diri.

Jika pada Mei 1998 hujan lebih mirip sebuah topeng (atau jika menuruti prasangka baik: untuk memadamkan api yang berkobar-kobar di dada manusia dan di tepian jalan), lalu untuk apakah hujan yang setiap hari menderas pada Mei tahun ini?

Sekarang, mari kita lihat Juni yang tinggal beberapa hari lagi, apakah hujan masih betah menggelandang di jalanan, ataukah ia akan bersembunyi di balik akar pohon berbunga?

Ciputat, 28 Mei 2010

This entry was posted in Esai Sastra and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Hujan Bulan Mei dan Hujan Bulan Juni

  1. beasiswa says:

    informasi beasiswa menarik dan yang saya cari makasih admin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s