Mengapa Yahudi Memilih Dendam? (Sehabis Menonton “The Boy in the Striped Pyjamas”)

“Ketika kisah tentang ganasnya perang disandingkan dengan kepolosan anak-anak,

kemanusiaan pun menyeruak”

Sedap Malam, Ahad dini hari, 27 Juni 2010

Kutulis catatan ini sehabis menonton film “The Boy in the Striped Pyjamas”, disutradarai oleh Mark Herman. Film ini dibuat tahun 2008, didasarkan pada novel karya John Boyne. Film The Boy berkisah tentang persahabatan seorang bocah delapan tahun bernama Bruno (diperankan Asa Butterfield), anak seorang petinggi militer Jerman pada perang dunia 2, dengan Shmuel (Jack Scanlon), anak seorang pekerja Yahudi. Cerita diawali saat keluarga Bruno harus pindah rumah karena sang ayah mendapat promosi: ditugaskan mengepalai sebuah kamp konsentrasi untuk para pekerja-paksa Yahudi.

Di tempat baru itu, Bruno segera bosan karena kehilangan teman-temannya. Namun ia dilanda penasaran tentang sebuah tempat yang tampak dari jendela kamarnya. Disangkanya tempat itu adalah ladang pertanian. Ia ingin berkunjung ke sana, mungkin ada anak-anak yang bisa diajak bermain. Namun orangtuanya tidak memperbolehkan.

Suatu ketika, karena kesepian, ia menyelinap keluar, pergi menuju ladang pertanian itu. Rupanya tempat itu dikelilingi pagar kawat berduri. Di dalam pagar Bruno melihat seorang anak sebaya dirinya, memakai piyama bergaris-garis, tengah duduk melamun. Disapanya anak itu, dan dimulailah persahabatan mereka.

Nama anak itu Shmuel. Ia dan ayahnya menjadi pekerja di lahan yang sebenarnya adalah kamp kerja paksa. Setiap hari Bruno mengunjungi Shmuel. Ia melihat banyak orang di sana. Namun ia tak mengerti apa yang mereka lakukan.

Sementara itu, Elsa, ibunya Bruno, menyadari bahwa tempat baru itu tidak baik untuk anak-anak yang sedang tumbuh. Ia telah tahu pekerjaan apa yang sebenarnya dilakukan suaminya, dan terutama apa yang dialami orang-orang Yahudi di kamp kerja paksa. Tanpa sengaja ia mendengar bahwa asap hitam yang kerap terlihat membumbung tinggi ke angkasa, yang pernah ditanyakan oleh anaknya, adalah hasil pembakaran mayat-mayat orang Yahudi yang dibunuh. Maka ia memaksa suaminya untuk memindahkan ia dan anak-anak dari tempat itu.

Sehari sebelum mereka akan pindah, Bruno mendatangi Shmuel, memberi tahu mereka akan berpisah. Shmuel rupanya sedang bersedih pula, sebab ayahnya belum pulang dari sebuah pekerjaan. Lalu dua anak itu merencanakan untuk mencari ayah Shmuel; Bruno akan menyamar menggunakan piyama para pekerja agar bisa masuk ke dalam kamp.

Rencana itu dilaksanakan keesokan harinya, tepat pada saat Bruno, ibunya, dan kakaknya harus pindah rumah. Pagi-pagi Bruno menemui Shmuel; ia menyelinap ke dalam kamp dengan memakai piyama dari Shmuel. Mereka berlari memasuki gubuk demi gubuk untuk mencari ayah Shmuel, dimulai dari gubuk Shmuel sendiri.

Di dalam gubuk itu berjubel puluhan orang. Tidak mudah menemukan di mana ayah Shmuel.

Sementara itu, di rumah, Elsa yang tengah beres-beres barang panik melihat anaknya tidak ada. Ia memberitahukan suaminya yang saat itu tengah rapat. Suaminya kaget juga. Lalu mereka mencari. Cemaslah mereka tatkala melihat jejak-jejak Bruno ternyata menuju kamp konsentrasi.

***

Film ini menyajikan sudut pandang anak-anak dalam melihat apa yang dialami bangsa Yahudi Israel saat Jerman tengah berjaya di bawah kekuasaan Nazi. Kita dibawa untuk merenung, betapa kejamnya perang, dan alangkah sayangnya jiwa-jiwa yang polos milik anak-anak harus dilibatkan dalam sesuatu yang tak mereka paham.

Bangsa Israel telah mengalami bagaimana rasanya ditindas, dijajah, disiksa oleh bangsa lain. Tragedi yang menimpa mereka, terutama yang terbaru: holocaust, bahkan telah dikodifikasi dalam berbagai cara (termasuk barangkali lewat film semacam ini) sehingga seakan menjadi bagian dari keyakinan dan penghayatan agama, layaknya tragedi Karbala bagi kaum Syiah.

Yang menjadi pertanyaan: mengapa sekarang ini mereka (tepatnya: Zionisme) melakukan hal yang serupa terhadap bangsa Palestina? Mengapa mereka tidak belajar dari sejarah yang mereka alami sendiri? Lupakah mereka bahwa sejarah kerapkali terulang?

Ketika seseorang tertindas, ada dua kemungkinan yang akan ia lakukan seandainya ia lepas dari penindasan itu: memaafkan, atau mendendam.

Muhammad Saw., Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, telah melakukan yang pertama.

Tapi orang-orang Yahudi Zionis, mengapa mereka memilih yang kedua? Dan, anehnya, mengapa ditujukan kepada orang-orang (bangsa) yang sama sekali tidak terlibat dalam holocaust?

Wallahu a’lam. Semoga Tuhan segera mengakhiri dunia ini agar anak-anak dan orang-orang tak berdosa tak perlu lagi menderita. []

This entry was posted in Cathar, Film, Politik and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Mengapa Yahudi Memilih Dendam? (Sehabis Menonton “The Boy in the Striped Pyjamas”)

  1. sumpah artikel ini bagus benar…… satu lagi bayang2 holocous itu belum tentu benar….setiap orang yg mau membongkar misteri holocous pasti di ancam…..itu semua hanya bualan2, alasan2 israel saja membantai palestina…. mas kami minta izin mau mengkopi artikel ini, dan kami akan taruh di blog kami…..
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/

    Asep:
    Dengan senang hati. Terima kasih.

  2. Jannah says:

    salahnya kenapa juga kita men judge Yahudi itu selalu buruk..padahal Ibrahim,Ishak,Daud,Musa,dll berasal dari BaNI iSRAEL..dan lbh dr separoh nabi Islam itu dr Bani Israel…kan belum tentu..tergantung hati masing2…gak semua Yahudi itu buruk,….Aq Islam tp aq pro Yahudi,byk hal2 positip yg bs dicontoh (tp jgn negatifnya)…misal bagaiman mereka bekerja keras dan belajar hingga dr bangsa dirtindas menjadi bangsa yg menguasai dunia…

    aq penganut paham2 Yahudi…tetapi jgn dicampur dg agama,nanti akan rumit..

    itu hal yg wajar kalau Yahudi mau balas dendam…di dlm ALQURANpun jahat dibalas jahat itu halal hukumnya namun lbh baik memaafkan..
    kn gak semua yahudi yg dendam…byk jg kok mrk yg mentang penyerangan ke Palestine…

  3. susi says:

    benarkah holokaus dilakukan untuk membasmi yahudi?
    nyatanya yahudi dan nazi bersekongkol untuk membuat drama holokaus..
    ga percaya? simak kata harun yahya:
    http://harunyahya.com/indo/buku/social/kekejaman_holokaus/kekejaman_holokaus_01.php

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s