Penyesuaian Diri pada Janda dan Duda Lanjut Usia

(Catatan: Tulisan ini berasal dari skripsi saya berjudul ”Motivasi Menikah pada Janda dan Duda Lanjut Usia”. Saya muat di sini agar lebih bermanfaat.)

Istilah perkembangan (development) memiliki dua arti, yakni pertumbuhan (evolusi, progresi) dan kemunduran (involusi, regresi). Manusia pada setiap rentang usia sebenarnya mengalami baik peristiwa pertumbuhan maupun kemunduran. Namun masa lanjut usia adalah periode di mana peristiwa kemunduran terjadi lebih banyak dibanding pertumbuhan, dan pemunduran itu terjadi hampir di semua aspek dalam diri individu, fisik maupun psikis. Hal ini wajar mengingat masa lansia adalah periode terakhir dan penutup dari kehidupan manusia normal, seandainya hidup yang bersangkutan tidak berakhir lebih awal.

Sebagaimana diketahui, para ahli perkembangan telah membagi-bagi masa hidup manusia ke dalam delapan periode (atau kurang dari itu atau lebih, bergantung bagaimana menghitungnya), yakni masa pranatal, masa bayi, masa anak-anak awal, masa anak-anak akhir, masa remaja, masa dewasa awal, masa dewasa madya, dan masa dewasa akhir. Masa dewasa akhir inilah yang disebut lanjut usia atau disingkat lansia.

Enam puluhan biasanya dipandang sebagai garis pemisah antara masa dewasa madya dan masa lanjut usia. Di Indonesia, pemerintah dan lembaga-lembaga pengelola lansia memberi patokan bahwa mereka yang disebut lansia adalah yang telah mencapai usia 60 tahun yang dinyatakan dengan pemberian KTP seumur hidup. Namun di negara maju diberi patokan yang lebih spesifik: 65 – 75 tahun disebut old, 76 – 90 tahun disebut old–old, dan 90 tahun ke atas disebut very old (W.M. Roan, dalam Kuntjoro, 2002).  John Santrock (2002) menguraikan pendapat sejumlah ahli yang pada umumnya menggunakan pembagian ke dalam dua sub-periode, dengan catatan bahwa batas yang jelas dari dua sub-periode itu belum mencapai kesepakatan. Secara agak longgar, Elizabeth Hurlock (2000) membedakan usia lanjut dini yang berkisar antara 60 s.d. 70 tahun, dan usia lanjut yang dimulai pada usia 70 sampai akhir kehidupan seseorang.

Pengelompokan tersebut bersifat teoritis, artinya untuk kepentingan ilmiah, namun dalam kenyataan untuk pelayanan kesehatan, sosial, dan sebagainya tidak dibedakan. Meskipun lansia seringkali mendapat prioritas dan fasilitas, misalnya kalau naik pesawat dapat potongan khusus, beberapa tempat wisata memberi karcis gratis bagi pengunjung lansia, di bandara atau stasiun kereta api disediakan loket/jalan khusus bagi lansia, hal itu bukan dimaksudkan untuk membedakan lansia dengan orang lain tetapi lebih bertujuan untuk membantu kelancaran pelayanan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka (Kuntjoro, 2002).

Menurut Hurlock (Hurlock, 2000), usia kronologis bukanlah kriteria yang baik dalam menandai permulaan usia lanjut karena terdapat perbedaan tertentu di antara individu-individu saat mana usia lanjut mereka mulai. Dapat saja seseorang tampak lebih tua daripada usia sebenarnya sehingga pada usia lima puluhan dia sudah dapat dikategorikan lansia. Namun bisa pula sebaliknya; karena kondisi kehidupan dan perawatan yang lebih baik, kebanyakan pria dan wanita zaman sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda ketuaan mental dan fisiknya sampai usia enam puluh lima, bahkan sampai awal tujuh puluhan. Karena alasan tersebut, ada kecenderungan yang meningkat untuk menjadikan usia 65 sebagai usia pensiun dalam berbagai urusan sebagai tanda dimulainya usia lanjut (Hurlock, 2000).

Di Indonesia, karena usia harapan hidup penduduknya baru sekitar 65 tahun (Hendrizal, 2009), maka menjadikan 65 tahun sebagai patokan awal masa lansia agaknya berlebihan. Enam puluh tahun adalah batas yang lebih wajar. Namun sekali lagi, usia kronologis tidak selalu tepat dijadikan patokan. Untuk konteks Indonesia, seringkali setelah melewati usia 50 tahun, seseorang sudah mulai merasa tua. Oleh karena itu, penelitian ini memajukan batas awal masa lanjut usia pada kisaran 55 tahun.

Usia lanjut adalah periode kemunduran. Perkembangan yang terjadi bukan mengarah ke puncak karena puncak sudah dilalui pada usia dewasa madya, melainkan menurun kepada keadaannya sebelumnya. Alquran menggambarkan bahwa orang yang dipanjangkan umurnya, maka dia akan dikembalikan kepada kejadiannya yang semula. Dalam surat Yâsîn ayat 68, Allah berfirman:

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ.

Artinya: Dan barang siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (Q.S. Yâsîn [36]: 68)

Menurut pada ulama, yang disebut “kejadian(nya)” adalah keadaannya seperti awal mula diciptakan ke dunia, yaitu masa bayi atau anak-anak. Kemampuan-kemampuan yang sebelumnya dimiliki satu per satu akan lenyap, persis seperti keadaan orang anak-anak, bahkan lebih payah lagi.

Pemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan sebagian lagi dari faktor psikologis (Hurlock, 2000). Pada umumnya, ketuaan yang bersifat fisik mendahului ketuaan psikologis. Penyebab fisik kemunduran ini merupakan suatu perubahan pada sel-sel tubuh, bukan karena penyakit khusus tapi karena proses menua. Jika seseorang mengalami suatu penyakit, penuaan fisik ini berlangsung lebih cepat lagi. Sementara penyebab psikologis atau psikis dari kemunduran beragam bentuknya, antara lain stres dan kebosanan akibat pensiun, perasaan tidak berguna, motivasi yang kurang untuk belajar hal-hal baru, sikap tidak senang terhadap diri sendiri dan kehidupan, dan kehilangan pasangan hidup.

Kaum lansia memiliki sejumlah tugas perkembangan yang jika semuanya atau sebagian besar dapat terlaksana sesuai kebutuhan, yang bersangkutan akan mencapai apa yang diistilahkan oleh Erik H. Erikson sebagai integritas (integrity, lawan dari keputusasaan atau despair). Tugas-tugas perkembangan masa lanjut usia, menurut Havighurst (Havighurst, 1955; dimuat juga dalam Hurlock, 2000; Monks dkk, 1994), adalah:

  1. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
  2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga
  3. Menyesuaikan diri dengan kematian atau hilangnya pasangan hidup
  4. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
  5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
  6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

Perubahan Fisik Lansia

Usia lanjut membawa penurunan fisik yang lebih besar dibanding periode-periode usia sebelumnya (Santrock, 2002). Penurunan atau pemunduran fisik pada lansia dijelaskan oleh sejumlah teori biologi tentang penuaan. Teori-teori itu secara garis besar dibagi dua kelompok, yaitu teori mikrobiologi dan teori makrobiologi. Teori-teori mikrobiologi melihat ke dalam sel-sel tubuh untuk tanda-tanda menuju penuaan. Tiga teori mikrobiologi yang terkenal adalah sampah sel, hubungan-persilangan, dan lonceng waktu sel. Teori-teori makrobiologi lebih melihat sebab-sebab penuaan yang global, meliputi sistem kekebalan, hipotalamus dan kelenjar pituitari, serta organ pendukung dan homeostatis (Santrock, 2002).

Beberapa perubahan fisik yang terjadi pada lansia antara lain:

Pertama, hilangnya atau berkurangnya sejumlah neuron, yaitu unit-unit sel dasar dari sistem syaraf. Lima sampai sepuluh persen dari neuron otak berhenti tumbuh sampai manusia mencapai usia 70 tahun. Setelah itu, hilangnya neuron menjadi dipercepat. Aspek yang signifikan dari proses penuaan mungkin adalah bahwa neuron-neuron itu tidak mengganti dirinya sendiri (Moushegian, dalam Santrock, 2002). Tanda yang tampak sebagai akibat tidak bereproduksinya neuron-neuron tersebut antara lain kulit di sekujur tubuh menjadi keriput, rambut memutih atau menipis, kelopak mata semakin cekung, gigi rontok satu per satu, bahu membungkuk dan tampak mengecil, serta payudara pada wanita menjadi kendor.

Kedua, penurunan kemampuan sensori alat-alat indera. Pada lansia berusia 65 s.d. 74 tahun, indera penglihatan dan pendengaran mengalami penurunan yang tajam, sementara kemampuan indera perasa, pembau, dan peraba hanya sedikit berkurang. Tetapi pada lansia 75 tahun ke atas, kesemua indera itu mengalami penurunan kemampuan yang signifikan (Santrock, 2002). Lansia juga mengalami perubahan sensitivitas terhadap rasa sakit (Hurlock, 2000), dalam arti mereka semakin sulit menahan rasa sakit mereka.

Ketiga, penurunan kemampuan seksual. Anggapan umum menyatakan bahwa kaum lansia sudah tidak memiliki lagi hasrat seksual. Ini mitos. Memang perempuan yang telah melewati menopause tidak mampu lagi melahirkan anak. Namun hasrat dan kemampuan seksual adalah soal lain. Penurunan kemampuan tentu terjadi, dan ini dapat disebabkan baik oleh penurunan fisik pada umumnya, penyakit, maupun sebab psikologis. Pada dasarnya sepanjang tidak mengalami dua keadaan – yaitu penyakit dan kepercayaan bahwa orang tua adalah atau seharusnya aseksual – seksualitas dapat menjadi kekal (Santrock, 2002). Penelitian mengenai perilaku seksual bagi orang usia lanjut menunjukkan bahwa pria dan wanita pada usia enam puluhan dan tujuh puluhan tetap melakukan hubungan seksual walaupun frekuensinya tidak sebanyak pada masa muda, dan pada pria persiapan untuk mencapai masa orgasme lebih lama (Hurlock, 2000).

Kalaupun seorang lansia mengalami masalah seksual, hal itu dapat dipulihkan kembali dengan terapi. White & Catania (dalam Santrock, 2002) menyimpulkan dari penelitiannya bahwa pendidikan seks – yang sebagian besar berisi informasi sederhana mengenai seks – meningkatkan perhatian, pengetahuan, dan aktivitas seksual pada orang lanjut usia.

Keempat, penurunan kemampuan motorik. Kaum lansia umumnya menjadi lebih lambat dan koordinasi gerakannya kurang begitu baik dibanding masa muda mereka (Hurlock, 2000). Kekuatan tenaga berkurang, otot melemah, persendian menjadi kaku, serta ada gejala gemetar pada anggota tubuh seperti tangan, kaki, dan rahang bawah. Penurunan kemampuan motorik ini dapat dihambat dengan latihan atau olah raga secara teratur, meski bagaimana pun tidak akan bertahan seperti halnya orang muda.

Hal-hal lain yang dicurigai mengalami penurunan pada lansia, seperti sistem peredaran darah dan sistem pernafasan, diketahui hanya mitos. Sepanjang seorang lansia tidak mengalami sakit jantung, jumlah darah yang dipompa sama tanpa memertimbangkan usia orang dewasa. Sementara kapasitas paru-paru memang sudah menurun sejak seseorang berusia 20 hingga 80 tahun, sekalipun tanpa penyakit (Fozard, dalam Santrock, 2002).

Semakin tua, kemungkinan seseorang memiliki beberapa penyakit atau dalam keadaan sakit meningkat. Kondisi kronis yang paling sering dialami oleh orang lanjut usia antara lain radang sendi, tekanan darah tinggi, kerusakan pendengaran dan penglihatan, penyakit jantung, masalah sinus kronis, osteoporosis, dan diabetes (Santrock, 2002). Sebagian besar orang dewasa yang masih hidup pada usia 80 tahun tampak memiliki penurunan kondisi tubuh.

Perkembangan Kognitif Lansia

Telah lama ada suatu stereotip mengenai penuaan yang menyatakan bahwa seluruh aspek inteligensi memburuk saat manusia lanjut usia. Beberapa aspek dari inteligensi menurun pada masa dewasa akhir, namun keadaan menurun tersebut tidak setajam seperti yang dipercaya orang, dan pada banyak contoh, pelatihan kognitif ternyata dapat memerbaiki kemampuan pada lanjut usia (Santrock, 2002).

John Horn (Santrock, 2002) berpikir bahwa beberapa kecakapan menurun saat lanjut usia, namun yang lainnya tidak. Ia berpendapat bahwa fluid intelligence (kecakapan seseorang untuk berpikir abstrak) menurun, tetapi crystallized intelligence (akumulasi informasi individual dan keterampilan-keterampilan verbal) meningkat.

Namun Paul Baltes dan K. Warner Schaie (Santrock, 2002) meragukan kesimpulan Horn. Data hasil penelitian longitudinal yang dikumpulkan oleh Schaie tidak menampakkan penurunan intelektual pada masa dewasa, setidaknya sampai usia 70 tahun. Kalaupun ada penurunan, itu pun tidak signifikan dan biasanya baru dimulai rata-rata pada usia 74 tahun (Santrock, 2002).

Beberapa aspek kognitif yang dapat dilihat antara lain kecepatan memproses informasi, mengingat, dan memecahkan masalah praktis. Kecepatan memproses informasi dan kemampuan mengingat mengalami penurunan, namun kemampuan memecahkan masalah praktis tidak.

Ada juga aspek kognitif yang dipercayai meningkat pada lansia, yakni apa yang disebut kebijaksanaan. Menurut Baltes (Santrock, 2002), kebijaksanaan (wisdom) merupakan pengetahuan seorang ahli mengenai aspek-aspek praktis dari kehidupan yang memungkinkan munculnya keputusan yang bermutu mengenai hal-hal yang penting dalam kehidupan. Keputusan praktis ini melibatkan wawasan yang luar biasa dalam perkembangan manusia dan persoalan kehidupan, keputusan yang baik, dan suatu pemahaman mengenai bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan yang sulit dalam kehidupan. Kebijaksanaan lebih daripada sekadar konsep-konsep standar dalam inteligensi, terpusat pada perhatian yang pragmatis terhadap kehidupan dan kondisi-kondisi manusiawi. Sistem pengetahuan praktis ini didapatkan selama bertahun-tahun, dikumpulkan secara sungguh-sungguh, melalui pengalaman-pengalaman yang direncanakan maupun tidak (insidental).

Perkembangan Sosio-Emosional Lansia

Para teoretikus psikoanalisis, seperti Sigmund Freud dan Carl G. Jung, melihat usia lanjut mirip dengan masa anak-anak. Freud percaya bahwa pada usia lanjut, manusia kembali pada kecenderungan-kecenderungan narsistik masa anak-anak awal. Jung mengatakan bahwa pada usia lanjut, pikiran tenggelam jauh ke dalam ketidaksadaran; sedikit kontak dengan realitas pada usia lanjut mungkin terjadi (Santrock, 2002).

Tetapi akhir-akhir ini, para ahli perkembangan memandang usia lanjut dengan lebih positif. Di satu sisi, pelukisan Freud dan Jung tentang orang lanjut usia memang benar, tapi mereka melupakan sisi lainnya yang bersifat positif. Misalnya teori perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik H. Erikson, dia percaya bahwa masa dewasa akhir dicirikan oleh tahap terakhir dari delapan tahap siklus kehidupan, integritas versus keputusasaan (integrity versus despair). Dalam pandangan Erikson, tahun-tahun akhir kehidupan merupakan suatu masa untuk melihat kembali apa yang telah kita lakukan dengan kehidupan kita. Melalui beberapa jalan yang berbeda, orang dewasa lanjut telah mengembangkan suatu harapan yang positif di setiap periode sebelumnya. Jika demikian, pandangan tentang masa lalu (retrospective glance) dan kenangan akan menampakkan suatu gambaran dari kehidupan yang dilewatkan dengan baik, dan seorang dewasa lanjut akan merasa puas (integritas). Integritas adalah keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda dan orang-orang, produk-produk dan ide-ide, dan setelah berhasil menyesuaikan diri dengan keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan dalam hidup (Hall dan Lindzey, 1993).

Namun jika seorang dewasa lanjut melalui satu atau lebih tahapan-tahapan yang awal dengan suatu cara yang negatif (terisolasi di dalam masa dewasa awal atau terhambat di masa tengah, misalnya), pandangan tentang masa lalu akan menampilkan keragu-raguan, kemurungan, dan keputusasaan terhadap keseluruhan nilai dari kehidupan seseorang (Santrock, 2002). Keputusasaan memerburuk perasaan bahwa kehidupan ini tak berarti, bahwa ajal sudah dekat, ketakutan dan bahkan keinginan untuk mati (Hall dan Lindzey, 1993).

Salah satu hal yang menghambat penyesuaian diri pada lansia adalah stereotipe masyarakat yang disebut ageisme. Ageisme merupakan prasangka (prejudice) terhadap orang-orang dewasa lanjut (Santrock, 2002). Banyak orang dewasa lanjut menghadapi diskriminasi yang menyakitkan yang seringkali tersembunyi sehingga sulit untuk melawannya. John W. Santrock (Santrock, 2002) melukiskan, orang-orang dewasa lanjut mungkin tidak dipekerjakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang baru atau dikeluarkan dari pekerjaan lama karena mereka dipandang terlalu kaku, lemah pikiran, atau karena efektivitas biaya. Mereka mungkin ditolak secara sosial karena dipandang sudah pikun dan membosankan. Pada waktu yang lain, mereka mungkin dipandang seperti anak-anak dan dilukiskan dengan kata-kata sifat sebagai sosok yang “mungil” dan “manis”. Orang usia lanjut mungkin disingkirkan dari kehidupan keluarga mereka oleh anak-anak yang melihat mereka sebagai sosok yang sakit, jelek, dan parasit. Singkatnya, orang usia lanjut mungkin dipandang tidak mampu untuk berpikir jernih, memelajari sesuatu yang baru, menikmati seks, memberi kontribusi terhadap komunitas, dan memegang tanggung jawab pekerjaan. Persepsi ini tentu saja tak berperikemanusiaan, tapi seringkali terjadi secara nyata dan menyakitkan.

Untuk melawan prasangka ini, seorang lansia membutuhkan usaha dan keteampilan pemecahan masalah. Proses penuaan dapat dijalani dengan berhasil ketika orang-orang dewasa lanjut mengikuti diet yang sesuai, olah raga, pencarian stimulasi mental yang tepat, dan memiliki relasi dan dukungan sosial yang baik (Santrock, 2002). Penuaan yang berhasil membawa kepada kepuasan hidup, yang bermakna kesejahteraan psikologis secara umum. Menurut Santrock (2002), hal-hal yang umumnya dikaitkan dengan kepuasaan hidup pada orang lanjut usia adalah pendapatan yang memadai, kesehatan yang baik, gaya hidup yang aktif, serta jaringan keluarga dan pertemanan.

Penyesuaian Diri pada Janda dan Duda Lansia

Hampir tidak ada pasangan suami istri yang meninggal secara bersamaan, kecuali keduanya mengalami kecelakaan pesawat, tenggelam di laut, atau yang hidup segera bunuh diri begitu pasangannya mati. Satu dari dua orang yang terikat hubungan pernikahan pasti menjadi janda atau duda, bergantung siapa yang lebih dulu mati. Menjadi janda dan duda dapat juga terjadi karena perceraian. Namun pada lansia, faktor kematian lebih dominan.

Pada generasi lanjut usia, jumlah janda biasanya lebih banyak daripada duda. Hal ini disebabkan beberapa hal. Pertama, umumnya usia suami lebih tua daripada usia istri sehingga, tanpa bermaksud mendahului ketentuan Tuhan, suami berpeluang mati lebih dahulu. Kedua, fakta sosial menunjukkan bahwa duda berusia tua lebih mudah menikah lagi daripada janda tua. Ketiga, terdapat kecenderungan konstan bahwa usia harapan hidup perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.

Penyesuaian terhadap kematian pasangan atau terhadap perceraian sangat sulit bagi pria maupun wanita pada usia lanjut, karena pada masa ini semua penyesuaian semakin sulit dilakukan (Hurlock, 2000). Masalah-masalah yang dihadapi janda dan duda lanjut usia memiliki sejumlah persamaan dan perbedaan. Masalah yang paling umum dan dihadapi baik oleh janda maupun duda adalah kesepian. Kesepian bukan soal remeh dan mudah dienyahkan. Segera setelah seorang lansia pensiun dari pekerjaannya, jika ia tidak bersiap dengan baik akan muncul perasaan tak berguna atau tak dipakai lagi.

Oleh karena itu, bagaimana pun memiliki suami atau istri lebih menyenangkan daripada tidak, seperti halnya bagi orang muda punya pacar lebih mengasyikkan daripada menjomblo.

Penyesuaian Diri pada Janda Lansia

Melihat fakta bahwa kaum janda berusia tua lebih banyak daripada duda pada rentang usia yang sama, menurut Hurlock (2000), penyesuaian terhadap hilangnya pasangan hidup pada usia lanjut lebih merupakan masalah wanita daripada pria. Masalah-masalah yang umum dirasakan para janda antara lain (Hurlock, 2000):

Pertama, masalah ekonomi. Dalam struktur keluarga tradisional, kendali ekonomi biasanya berada di tangan suami. Ketika suami meninggal, keadaan ekonomi keluarga berubah ke arah yang menyedihkan. Kekecualian terjadi, misalnya jika janda itu memang kaya sejak awal, atau suami melimpahkan warisan yang banyak, atau anak-anak sudah mandiri dan dapat membantu ekonomi orangtuanya.

Kedua, masalah sosial. Seorang janda, terutama yang disebabkan perceraian, akan mudah mendapat anggapan miring atau merendahkan dari masyarakat. Selain itu, ia akan segera menyadari bahwa ia tidak bisa hadir di acara orang-orang yang masih berpasangan lengkap. Seorang janda hanya bisa terlibat dalam acara-acara yang diadakan oleh para wanita atau sesama janda.

Ketiga, masalah praktis. Beberapa pekerjaan di rumah seperti membetulkan genteng bocor, memerbaiki peralatan rumah tangga yang rusak, memangkas rumput di halaman, dan sebagainya, sebelumnya mungkin ditangani oleh suami. Ketika suami tak ada, hal-hal semacam ini dapat menjadi masalah tersendiri.

Keempat, masalah seksual. Walau tidak sekuat masa muda, seorang wanita tua yang sehat masih memiliki hasrat seksual. Hasrat yang tidak tersalurkan bisa membuat frustrasi.

Kelima, masalah tempat tinggal. Di mana seorang janda tinggal, biasanya bergantung pada dua kondisi. Pertama, status ekonominya, dan kedua, apakah dia memiliki seseorang yang bisa diajak tinggal bersama, mungkin anaknya atau saudaranya. Jika dua kondisi itu tidak dia miliki, sementara kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk hidup sendirian di rumahnya, dengan terpaksa ia harus pindah ke panti jompo.

Keenam, karena kesempatan untuk menikah lagi bagi janda lebih kecil daripada duda, beberapa wanita mencoba mengatasi masalah kesepiannya dengan memelihara binatang piaraan, seperti anjing atau kucing. Binatang piaraan tersebut ternyata dapat dijadikan kawan untuk mengatasi kesepian dan mendorong mereka untuk keluar rumah apabila ada kesempatan untuk berjumpa dan bercakap-cakap dengan orang lain.

Menurut beberapa penelitian, pengaruh negatif jangka panjang masa menjanda lebih banyak disebabkan oleh rendahnya faktor sosial ekonomi daripada karena menjanda itu sendiri (Hurlock, 2000). Artinya, sepanjang masalah ekonomi dan sosial teratasi, seorang janda akan lebih mudah dan mampu menyesuaikan diri dengan masalah menjandanya.

Penyesuaian Diri pada Duda Lansia

Penyesuaian diri pada duda usia lanjut pun bukan merupakan hal yang mudah. Adapun masalah penyesuaian diri bagi duda lanjut usia adalah (Hurlock, 2000):

Pertama, usia lanjut adalah periode di mana selama masa tersebut keinginan menyusut. Apalagi jika ia pun telah pensiun dari pekerjaannya. Hidup sendiri dalam suatu periode waktu yang lama, dalam keadaan menganggur, dan hanya menyerap sedikit minat baru dapat meningkatkan rasa kesepian.

Kedua, walaupun duda mungkin tidak selalu merasa puas dengan perkawinannya, tetapi ia masih dapat menerima istrinya untuk dijadikan sahabat, untuk merawat kebutuhan fisik dan mengatur rumah tangga mereka. Pria yang sebelumnya terbiasa dilayani segala keperluan sehari-harinya oleh istrinya, akan menjadi sulit menyesuaikan diri bila istrinya meninggal dunia. Hanya ada sedikit duda yang siap untuk hidup menyendiri dan mengatur hidupnya seperti yang dilakukan oleh orang bujangan.

Ketiga, masalah tempat tinggal merupakan duri bagi sebagian besar duda. Pria pada umumnya lebih malas untuk merasa bergantung pada anaknya yang telah dewasa yang tinggal di rumahnya, kecuali tidak ada pilihan lain. Mereka juga tidak mau tinggal di panti jompo karena hal itu terus-menerus mengingatkan mereka bahwa mereka telah semakin tua.

Keempat, masalah seksual. Dikatakan oleh Rubin (Hurlock, 2000), hasrat seksual seseorang tidak mungkin berhenti secara otomatis pada usia berapa pun. Penurunan terjadi secara bertahap seiring penurunan pada fungsi-fungsi lainnya, namun tidak akan mencapai titik nol sama sekali, kecuali yang bersangkutan diterpa penyakit.

Pernikahan Kembali pada Lanjut Usia

Salah satu cara orang lanjut usia dalam mengatasi masalah kesepian dan hilangnya aktivitas seksual yang disebabkan tidak memunyai pasangan hidup adalah dengan cara menikah kembali. Orang-orang yang menikah di masa dewasa akhir biasanya lebih bahagia dibandingkan orang-orang yang sendiri (Lee, dalam Santrock, 2002). Menikah dapat mengembalikan hal-hal menyenangkan yang dulu pernah diperoleh, walaupun tentu saja ada konsekuensi-konsekuensinya.

Sekarang ini sikap sosial terhadap perkawinan pada usia lanjut lebih ditoleransi daripada dahulu, terutama kalau hilangnya pasangan disebabkan perceraian. Lagi pula, sekarang ini jumlah kaum lansia yang masih hidup lebih banyak daripada di masa lalu. Satu yang penting dicatat, kesempatan untuk menikah lagi lebih sedikit bagi janda lansia daripada bagi duda lansia dari tahun ke tahun (Hurlock, 2000).

Biasanya lansia menikah dengan orang yang kira-kira seumur juga. Namun sekarang terdapat kecenderungan yang besar untuk menikah dengan orang yang lebih muda. Pria usia lanjut biasanya memilih wanita yang lebih muda bila mereka menikah lagi. Sedangkan wanita, sampai usia dewasa madya biasanya menikahi pria yang lebih tua atau yang hampir seumur. Setelah itu timbul kecenderungan sebaliknya; wanita usia lanjut menikah dengan pria yang lebih muda. Kecenderungan ini meningkat seiring dengan usia (Hurlock, 2000).

Penelitian Sebelumnya yang Relevan

Arlini Puspita Dewi, dalam skripsinya berjudul Motivasi Menikah Kembali di Usia Lanjut: Studi Kualitatif tentang Motivasi Menikah pada Janda atau Duda di Usia Lanjut (Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Solo, 2005), meneliti janda dan duda lansia yang telah menikah lagi. Penelitiannya menunjukkan bahwa motivasi subjek menikah lagi ialah untuk mengurangi rasa kesepiannya setelah ditinggalkan oleh pasangannya; faktor-faktor yang mendorong lanjut usia untuk menikah lagi antara lain untuk memenuhi kebutuhan psikologis, mengatasi masalah kesepian, masalah praktis, masalah sosial, masalah seksual, masalah tempat tinggal, masalah ekonomi dan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis; kondisi yang menunjang pernikahan kembali di usia lanjut adalah persetujuan dari anak dan saudara ketika akan menikah lagi, kondisi kesehatan yang baik dan memungkinkan untuk menikah lagi, dan mengetahui sifat-sifat dan perilaku dari pasangan yang sesuai dengan keinginannya (Dewi, 2005).

Meyka Sari Putri, dalam skripsi berjudul Motif Yang Mendasari Minat Menikah Kembali Janda dan Duda Lansia, (Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, 2002), meneliti janda dan duda lansia berumur 60-70 tahun yang memiliki keinginan untuk menikah lagi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa motif utama yang mendasari keinginan untuk menikah kembali janda dan duda lansia adalah: [1] Lansia membutuhkan pendamping; [2] lansia membutuhkan orang yang menjaga dan merawat; dan [3] keinginan untuk berbagi dengan orang lain (Putri, 2002).

Lanniwati Yapianto menulis skripsi berjudul Janda dan Duda Usia Lanjut yang Menikah Kembali (Fakultas Psikologi UI, 1999). Dia meneliti empat janda dan duda lansia, dan alasan mereka menikah kembali adalah: [1] kebutuhan akan pendamping; [2] ingin terbebas dari kesepian; [3] merasa kasihan pada pasangan. Menikah kembali di usia lanjut membutuhkan pertimbangan matang. Hal ini dapat menjadi pilihan bagi usia lanjut jika didukung oleh adanya kesamaan latar belakang, persetujuan keluarga, mengetahui kebutuhan pasangan, dan adanya penghasilan yang memadai. Perbedaan latar belakang kerapkali menimbulkan masalah dalam penyesuaian diri (Yapianto, 1999).

Referensi

Buku:

Alquran dan Terjemahnya, Departemen Agama RI.

Chaplin, J.P., 2004, Kamus Lengkap Psikologi, cet. ke-9, Penerjemah: Dr. Kartini Kartono, Jakarta: Rajawali Pers.

Hall, Calvin S., & Gardner Lindzey, 1993, Teori-teori Psikodinamik (Klinis), Penerjemah: Yustinus, Yogyakarta: Kanisius.

Havighurst, Robert J., 1955, Human Development and Education, New York: Longmans, Green and Co.

Hurlock, Elizabeth B., 2000, Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi Kelima, Penerjemah: Istiwidayanti dan Soedjarwi, Jakarta: Erlangga.

Monks, F.J., A.M.P. Knoers, & Siti Rahayu Haditono, 1994, Psikologi Perkembangan Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, cet. ke-9, Yogyakarta: Gadjah Mada University  Press.

Munandar, S.C. Utami (Ed.), 2001, Bunga Rampai Psikologi Perkembangan Pribadi dari Bayi sampai Lanjut Usia, Jakarta: UI-Press.

Santrock, John W., 2002, Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup) Jilid 2, Edisi Kelima, Penerjemah: Achmad Chusairi dan Juda Damanik, Jakarta: Erlangga.

Skripsi:

Dewi, Arlini Puspita, 2005, Motivasi Menikah Kembali di Usia Lanjut: Studi Kualitatif tentang Motivasi Menikah pada Janda atau Duda di Usia Lanjut (abstrak skripsi), Fakultas Psikologi UMS, http://etd.library.ums.ac.id/go.php?id=jtptums-gdl-s1-2007-arlinipusp-4639&node=1165&start=41, diakses tanggal 22 Januari 2009.

Herawati, Eer, 2006, Hubungan antara Pengetahuan Ibu Rumah Tangga tentang Undang-undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), Persepsi terhadap UU PKDRT, dengan Intensi untuk Melapor pada Polisi, Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Putri, Meyka Sari, 2002, Motif Yang Mendasari Minat Menikah Kembali Janda Dan Duda Lansia (abstrak skripsi), Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, dilihat di http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-meyka-5640-motif&q=Hidup, diakses tanggal 22 Januari 2009

Yapianto, Lanniwati, 1999, Janda dan Duda Usia Lanjut yang Menikah Kembali, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Internet:

Hendrizal, 2009, “Lansia dan Agenda ke Depan”, artikel dalam http://www.hupelita.com/baca.php?id=45106, diakses 25 Januari 2009

Kuntjoro, Zainuddin Sri, 2002, “Memahami Mitos dan Realita tentang Lansia”, dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=173, Diakses pada 22 Januari 2009.

This entry was posted in Psikologi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Penyesuaian Diri pada Janda dan Duda Lanjut Usia

  1. wah…..gini aja…mau tanya aja..klau kawin muda bagi anak muda zaman sekarang baik g?
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/

    Asep:
    Kawin muda itu umur berapa?

  2. YayukSL says:

    Mumpung hari Minggu, mendingan blogwalking deh. Mencari ilmu baru dan tambah teman dengan mengunjungi situs ini. Salam Kenal dari saya ya. Semoga anda berkenan juga melakukan kunjungan balik be blog saya di http://RelatedToIndonesia.blogspot.com

    Asep:
    Salam kenal. Boleh, nanti sy kunjungi balik.

  3. Akas says:

    Janda dtnggal mti umran 42 thn….dngan 3 anak ,gmn?…..psikologixa.., bng tlng jlsin..!

    @Cariin suami aja hehehe

  4. Tita says:

    hi.. aku lagi bikin skripsi ttg Kehidupan lansia yang nikah lagi..

    boleh gag minta softfile skripsinya buat referensi???

    @Maaf baru balas sekarang. Saya lupa terus bawa softfilenya kalau ke warnet. Sekarang juga lupa. Tapi sekarang saya berpikir, skripsi saya tidak bagus, jadi saya tidak mau dibaca orang lain. Hanya landasan teorinya yang cukup pede saya pampang di blog, juga abstraknya. Semoga itu cukup bermanfaat. Selamat mengerjakan skripsi.

  5. Pingback: Bertambah Usia « Long Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s