Mari Memakai Pertamax, Sebab Premium Ada Subsidinya

Beberapa bulan lalu bergulir wacana tentang usulan untuk membuat aturan yang melarang sepeda motor memakai BBM bersubsidi. Usulan ini tidak jadi diaturankan karena banyak ditentang. Meski saya pun tidak setuju jika usulan itu disahkan menjadi aturan yang berlaku umum, secara pribadi saya menerapkannya pada kendaraan sendiri.

Oleh karena itu, di sini saya ingin mengajak kepada orang-orang yang memiliki kendaraan pribadi, jika mampu, pakailah Pertamax, sebab Premium ada subsidinya.

Bukan tak boleh kita menerima subsidi. Sebab para konglomerat dan petinggi negeri ini pun menikmatinya, bahkan dalam porsi yang jauh lebih banyak. Tapi negeri ini hanya akan maju jika rakyatnya punya harga diri.

Punya harga diri berarti: lebih memilih memberi daripada menerima; kalaupun tidak memberi, jagalah diri untuk tidak menerima.

Bagi orang muslim, ingat-ingatlah sabda Rasulullah, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Memang, memberi dan menerima adalah hukum kehidupan. Tapi konteks pembicaraan kita bukan itu. Subsidi merupakan dana negara yang dianggarkan untuk meringankan beban rakyat dalam sektor-sektor tertentu. Kita semua adalah rakyat. Tapi rakyat yang baik tidak akan ikut-ikutan memberati anggaran negara.

Hanya rakyat tidak mampu yang pantas menerima subsidi dari negara, di mana uang negara itu sendiri sebenarnya berasal dari rakyat. Jika kita terbiasa menerima subsidi, berarti kita menganggap diri sebagai tidak mampu. Jika kita memang benar-benar tidak mampu, bolehlah. Tapi jika kita mampu, alangkah baiknya jika kita menolak subsidi BBM, walaupun sebenarnya kita berhak, karena tidak setiap hak perlu kita ambil.

Mampu dan tidak mampu terkadang lebih merupakan masalah mental. Orang yang terbiasa menerima pemberian, lama-kelamaan dia akan menganggap dirinya tidak mampu. Kita tentu tidak ingin menjadi orang yang tidak mampu. Hanya orang dengan mental pengemis yang akan berpura-pura tidak mampu; orang seperti ini mungkin tak akan ragu memalsukan data penghasilannya agar tampak berhak menerima raskin, BLT, dll. Kita bukan orang seperti itu, dan tidak ingin menjadi seperti itu.

Memakai Pertamax adalah satu bentuk upaya kita memelihara diri agar tidak jatuh ke dalam golongan bermental lemah. Kata Rasulullah, “Mukmin yang kuat lebih disukai daripada mukmin yang lemah.”

Memakai Pertamax memang lebih mahal. Tapi kita akan mendapat beberapa keuntungan, antara lain pembakarannya lebih sempurna sehingga mesin jadi lebih awet, dan juga lebih ramah bagi lingkungan.

Tentang yang terakhir, ini juga sepatutnya menjadi perhatian kita, sebab planet bumi yang sama-sama kita huni sekarang telah semakin lemah dan rapuh. Kita membutuhkan lebih banyak sumber energi yang tidak ikut-ikutan melemahkan bumi.

Sayangnya, Pertamax bukan sumber energi yang dimaksud, sebab bagaimana pun ia berasal dari sumber yang tidak bisa diperbarui. Namun Pertamax lebih disukai bumi ketimbang Premium.

Demikian. []

This entry was posted in Lingkungan Hidup, Politik and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s