Perjalanan Menyusur Takdir

Semuanya terjadi begitu cepat. Penuh kejutan dan keajaiban. Hari Jumat bertemu, Ahad jadian, dan hari Senin deklarasi di fesbuk. Ketika aku mencari penjelasan bagaimana semua ini bisa terjadi, aku hanya menemukan satu kata: TAKDIR.

Atau begitulah harapanku, bahwa pertemuan ini sudah ditakdirkan dan kelanjutannya pun sudah ditakdirkan dengan alur yang konsisten seperti permulaannya. Maksudku, jika awalnya begitu membahagiakanku, pada akhirnya pun begitu.

Tapi takdir, dalam pemahamanku, bukanlah sesuatu yang terberi begitu saja. Ia harus diusahakan. Minimal dengan doa. Dan apa yang kuperoleh saat ini, aku yakin, adalah wujud pengabulan dari Tuhan Yang Maharahman atas doa-doa yang siang malam kupanjatkan: “Ya Allah, kirimkan untukku seorang istri yang mencintaiku dan aku mencintainya.

Ciputat – BSD, Jumat, 2 Juli 2010

Hari Jumat inilah awalnya. Pukul satu siang, aku datang ke HMB (Himpunan Mahasiswa Banten) untuk mengisi materi bahasa Indonesia di acara bimbingan tes masuk UIN Jakarta. Sesi berakhir pukul tiga.

Saat aku keluar ruangan, tampak seorang gadis bergaun ungu sedang mengobrol dengan beberapa panitia sambil menunggu sesuatu. Bukan menungguku, melainkan jadwal materi berikutnya, bahasa Arab, di mana dia menjadi tutor.

Aku dan dia berbincang beberapa jeda. Namanya sudah kukenal sejak bertahun-tahun lalu. Demikian pula sebaliknya. Tapi ada hal-hal yang tak bisa diukur hanya dari durasi waktu.

Tak berapa lama dia dipanggil masuk ruangan. Sesekali aku melongok ke dalam, melihat gayanya menyampaikan dan membahas soal-soal bahasa Arab bersama peserta bimtes. Hmmh… J. Aku tak langsung pulang; duduk-duduk saja di luar sampai dia selesai dengan acaranya. Mungkin kami bisa ngobrol lagi.

Ternyata jadinya bukan sekadar ngobrol. Saat dia hendak pulang, aku bertanya kepada Aang, ketua HMB, apakah dia ada yang mengantar. Eh, si Aang malah balik nanya, apakah aku mau mengantarnya. Tentu aku mau, dan ternyata dia pun tak keberatan. (Kenapa harus keberatan, katanya beberapa hari kemudian, kan malah enak tidak usah ngongkos, tidak usah naik turun angkot, dan tidak usah campur jalan kaki.)

Awal yang baik, pikirku. Setelah sembahyang magrib, aku pun mengantarkan dia pulang ke kosannya di wilayah BSD Tangerang.

Rute Ciputat – BSD dilanda macet. Perjalanan yang sedianya memerlukan waktu tak sampai setengah jam memuai menjadi hampir dua jam. Tapi aku tak protes. Malah senang. Dia pun tampaknya demikian.

Karena lapar, dan memang sudah waktunya, kami pun mampir dulu di Taman Jajan BSD. Selama satu jam, kami makan sambil, tentunya, berbincang-bincang.

Setelah mengantar sampai di kosannya, aku segera pulang. Sudah malam, mungkin dia hendak istirahat. Aku pun ingin menonton big match Belanda vs Brasil yang kurasa sudah dimulai. Tak lupa, kupinjam dua buku darinya: al-Nahwu al-Wadhih dan Pelajaran Bahasa Arab untuk Madrasah Aliyah. Sebelumnya sudah kubilang bahwa aku ingin ikut tes beasiswa S2 di UIN Jakarta, program Studi Agama dan Perdamaian, kerja sama dengan Kemenpora. Bahasa Arabku sangat payah, hanya cukup untuk masuk S1 di UIN.

Sampai di Ciputat, kulihat Belanda sudah tertinggal satu gol. Aku menonton bola sambil fesbukan di rumah Bang Wendi. Kuketik nama si dia. Langsung ketemu, sebab teman-teman kami banyak yang sama. Kutambahkan namanya sebagai temanku. Pertengahan babak kedua, Belanda mendapat keberuntungan setelah Felipe Melo mencetak gol bunuh diri: 1-1. Gol Sneijder di sepuluh menit terakhir memulangkan Brasil dari Afrika Selatan.

Ciputat, Sabtu, 3 Juli 2010

Besok harinya aku hadir di Raker FLP (Forum Lingkar Pena) Ciputat. Ketua umum baru, Ali Rif’an, mengamanahiku sebagai Koordinator Sastra. Saat Raker hampir selesai, sore hari, hujan deras turun. Aku mengirim sms kepadanya. “Di sini hujan. Apakah di sana hujan?”

Sms balasannya tiba-tiba menghangatkan hatiku. “Cieee, mau nanyain hujan apa pengen smsan sm aku… sms tadi pendahuluannya… hehehe.”

Kubalas lagi. Dia balas pula. Dan beberapa smsnya setelah itu membuatku seakan meledak. Meledak oleh satu rasa yang sudah lama tak mengisi jiwaku: bahagia.

Lewat magrib, aku mengirim lagi sms kepadanya. Namun hingga beberapa kali kukirim, dia tak membalas sekali jua.

Hatiku mendadak cemas. Kenapa ini? Oh, mungkin aku berharap terlalu banyak. Padahal boleh jadi dia hanya sedang menggodaku. Mempermainkanku. Tapi apakah dia orang seperti itu?

Hingga Jerman menggulung Argentina 4-0, aku masih cemas. Mungkin dia sudah tidur sejak tadi, pikirku menghibur diri.

Tiba-tiba terbetiklah sebuah ide. Besok pagi-pagi sekali, hari Ahad, aku akan mengetuk pintu kamarnya, mengajaknya lari pagi di Taman Kota BSD. Kubayangkan ini akan menjadi satu kejutan di pagi buta. Walaupun semalaman dia tak memberi kabar, biarlah aku bertaruh: tanggapannya kuyakin takkan mengecewakan. (Belakangan dia bercerita bahwa sebetulnya smas-smsku selalu dia balas. Tapi entah kenapa, mungkin jaringan sedang kusut atau ada intervensi kekuatan gaib, balasannya tidak sampai di ponselku.)

Berbekal ide ini, aku pun tidur lebih awal dari rencana. Tadinya aku mau menonton Spanyol vs Paraguay pada dini hari. Tapi aku harus bangun saat fajar. Setelah salat subuh, akan kugeber Beat biruku ke BSD.

BSD – Ciamis, Ahad, 4 Juli 2010

Sesampainya di sana, malah aku yang dibuat terkejut. Dia telah berdandan cantik sekali, menenteng tas hitam dan bungkusan plastik, bersama Bu Andini teman dekat kosnya. Bukan untuk menyambutku, tapi hendak pergi kondangan ke Ciamis. Bu Rosi, teman mereka sesama guru di SDI Raudhah BSD, menikah hari itu.

Humph, beruntung! Tiga menit saja terlambat, pasti aku hanya bisa tertegun.

Mereka pun terheran-heran melihatku. Memakai kaos Persib dan celana panjang Adidas, jelas aku tidak tampak sebagai orang yang pantas ada di acara perkawinan. Tapi mereka mengajakku. Dan aku setuju.

Maka jadilah, bersama si dia, Bu Andini, dan empat orang lagi guru-guru Raudhah, aku ikut menumpang Avanza sewaan ke Ciamis.

Di jalan, si dia bertanya untuk meyakinkan apakah aku tidak malu dengan pakaian olahraga pergi ke pesta pernikahan. Kujawab, “Tidak. Tapi mungkin kamu yang malu membawaku.”

Dia juga menjawab tidak.

Ya sudah. Sesekali tak ada salahnya saltum di sebuah pesta. Mungkin bisa jadi bahan cerita yang akan terus dikenang dan diulang hingga tua.

Tadinya terpikir untuk membeli baju di Bandung. Tapi kurasa itu pemborosan. Aku pun tidak bawa banyak uang. Niat awalnya kan mau ngajak jogging.

Kami sampai di Ciamis pukul 2 siang. Rupanya benar, dia tidak malu dengan keadaanku. Dengan yakin, dia berjalan di sampingku dalam iringan menuju kedua mempelai, dan memperkenalkan diriku kepada mereka. Memperkenalkan diriku? Sebagai apanya? Ya teman-lah. Teman adalah sebuah istilah dengan fleksibilitas tinggi. Bisa dipahami dengan beragam makna tanpa kehilangan nilai kebenarannya.

Satu adegan yang takkan kulupakan di sana adalah saat kami – aku dan dia – meminjam kursi pelaminan untuk foto berdua. Sepasang pengantin asli menyingkir sebentar, dan kelakuan kami pun diabadikan dengan kamera. Wow! Semoga kami lekas menyusul.

Pukul setengah empat sore, kami semua pamit. Kami mampir beberapa jenak di Tasikmalaya di rumah Pak Muslim, guru Raudhah. Di sana kami salat magrib, makan dengan pepes dan goreng ikan mas plus tahu bulat. Setelah itu perjalanan diteruskan.

Jika waktu pergi aku duduk di depan di samping supir, pulangnya aku duduk di jok tengah bagian sisi paling kiri, tepat di sebelah dia.

Di luar perkiraan, perjalanan kami dihambat dengan hebat oleh kemacetan. Konon sumbernya ada di Nagreg. Maka jarak Tasik-Bandung yang 70 km itu terpaksa kami tempuh dalam waktu sekitar tujuh jam. Pukul setengah tiga dini hari, kami baru sampai di Bandung, padahal dari Tasikmalaya kami berangkat pukul setengah delapan isya. Di depan kami, kota BSD Tangerang masih dua ratusan kilo jauhnya.

Namun perjalanan yang berlarut-larut ini sama sekali tak membuatku bosan. Sebab ada dia di sisiku. Malam dingin oleh AC mobil yang berdesir. Tapi elok senyumnya, redup matanya, bisik suaranya, rapat tubuhnya, dan lembut jemari tangannya yang hanya sesekali kulepaskan, menghangatkan diriku luar dalam. Oh, ampuni aku, Tuhan, jika ini adalah dosa, dan terima kasih sebab ini pastilah anugerah.

BSD – Ciputat, Senin, 5 Juli 2010

Kami sampai di Raudhah BSD pukul lima lewat sepuluh, pagi hari Senin. Setelah salat subuh di musala sekolah, pulanglah aku ke Ciputat membawa kenangan indah.

Sampai di kosan, aku langsung tidur setelah melayangkan sebuah sms kepadanya, mengucap terima kasih atas keridaannya bersamaku sehari semalam. Waktu zuhur, aku bangun, mandi, lalu membuka laptop dan menghubungkannya ke jaringan internet.

Tujuanku satu: mengubah profilku di fesbuk pada bagian relationship.

Bismillah. Pada usiaku yang menghampiri 30 ini, tentu bukan waktunya lagi berpikir kelamaan. Yakinlah. Dia pasti Hawa yang dicipta Tuhan untuk membunuh kesepian Adam.

Maka tak lama kemudian, setelah dia mengonfirmasi, profilku pun bertambah dengan sebuah keterangan: in a relationship with Iyan Desi Susanti.

Hingga saat kutulis catatan ini, aku masih berpikir betapa cepatnya rangkaian peristiwa ini berlangsung. Tapi jika ini adalah takdir, biarlah aku tunduk dan menuruti apa maunya, ke mana pun ia membawaku.

Asalkan beserta dia. []

This entry was posted in Cathar and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Perjalanan Menyusur Takdir

  1. kasminel says:

    Slmt ya semoga samapi pd tahap yg diinginkan…dimdhkan semua krn 4LL4H..

    @ Terima kasih. Amin.

  2. desy says:

    smoga qt slalu dalam ridhoNya………

    @Amin. Makasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s