Manusia Sudah Terlalu Banyak

Sedap Malam, Selasa 12 Oktober 2010

Baru saja saya melamar CPNS secara daring (dalam jaringan) di situs BKKBN. Posisi yang saya lamar adalah Konselor Remaja di propinsi Banten. Itu adalah satu-satunya posisi yang tersedia untuk jurusan saya, Psikologi. Jatahnya pun cuma satu. Ketika saya mengklik “lamar”, ternyata saya berada di urutan 109. Kemungkinan jumlah pelamar masih akan bertambah, sebab masih ada waktu beberapa jam sebelum waktu menunjukkan tanggal 13 Oktober 2010.

Saya tidak pernah punya cita-cita menjadi PNS. Tetapi jika karena tuntutan hidup saya harus melamar menjadi CPNS, pilihan terbaik bagi saya adalah BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional). Sebab kerja lembaga ini sesuai dengan misi hidup saya: menciptakan kondisi yang lebih baik bagi hidup manusia di muka bumi.

Saya berpendapat, berbagai masalah yang ada di bumi ini bersumber pokok dari terlalu banyaknya jumlah manusia. Mari kita tinjau dengan logika yang lurus dan sederhana. Misalnya masalah kemacetan. Mengapa terjadi kemacetan? Salah satunya, dan yang paling utama, karena terlalu banyak kendaraan. Mengapa terlalu banyak kendaraan? Sebab utamanya karena terlalu banyak manusia. Seandainya manusia tidak banyak, kendaraan pun tidak akan banyak. Maka salah satu solusinya, jumlah manusia di muka bumi harus dikurangi. Tapi karena mengurangi jumlah manusia itu sangat sulit, untuk tidak mengatakan mustahil (dan juga bisa menimbulkan salah paham), setidaknya jumlahnya tidak boleh dibiarkan bertambah lagi. Dengan kata lain, laju pertambahan penduduk harus direm. Caranya adalah dengan membatasi kelahiran. Seorang manusia hendaknya tidak memperbanyak dirinya lebih daripada jumlah jiwa yang ia miliki. Artinya, sepasang suami istri (dua orang) hanya boleh memiliki anak maksimal dua orang.

Contoh lain misalnya banjir. Mengapa terjadi banjir? Karena tempat-tempat untuk menampung dan menyalurkan air (sungai, kali, selokan, got, rawa, danau, hutan, sawah, taman, dan bawah tanah pada umumnya) semakin berkurang. Mengapa semakin berkurang? Karena semakin banyak dipakai sebagai hunian manusia (rumah), kantor, jalan, pasar, dll. Dengan kata lain, semakin banyak tanah yang ditanami dengan beton, yang mana hal itu menyulitkan air untuk berdiam ataupun sekadar lewat. Seandainya jumlah manusia tidak sebanyak ini, tentulah tidak sebanyak itu pula tanah-tanah yang disulap menjadi rumah dan bangunan-bangunan berbahan beton lainnya.

Masalah lain adalah krisis pangan. Ini jelas. Mengapa Indonesia sampai sekarang masih saja harus mengimpor beras dari luar negeri, sebabnya bukan terutama karena hasil panen berkurang, melainkan karena manusia yang makan beras semakin banyak. Seandainya jumlah manusia tidak bertambah banyak, tentulah hasil panen kita cukup untuk memberi makan seluruh penduduk Indonesia. Malah berlebih, sebab meskipun sepertinya luas persawahan terus berkurang (karena sebagian ditanami rumah), teknologi pertanian juga terus berkembang untuk melipatgandakan hasil panen.

Masalah lainnya, kita bisa menyebut satu istilah yang semakin populer akhir-akhir ini: pemanasan global (global warming). Secara langsung, pemanasan global disebabkan semakin banyaknya gas karbondioksida (dan gas-gas metan lainnya) yang dilepaskan ke udara. Karbondioksida (CO2) dihasilkan antara lain dari pembakaran BBM, sampah, dan kotoran makhluk hidup. Banyaknya BBM yang dibakar berbanding lurus dengan banyaknya kendaraan dan mesin-mesin, dan kesemua itu berbanding lurus dengan banyaknya manusia.

Sampah jelas dihasilkan oleh manusia; semakin banyak manusia, semakin banyak pula sampah yang menggunung. Sampah mencemari lingkungan, semua kita tahu. Tapi sampah dihasilkan oleh manusia, sehingga pencemar sesungguhnya adalah manusia. Setiap manusia menghasilkan sampah. Semua benda yang diperlukan manusia (plastik, kertas, tisu, kendaraan, lemari, rumah, bola, mainan, makanan, pakaian, alat elektronik, dll) sudah dan akan menjadi sampah, baik sebagian ataupun seluruhnya.

Seorang pencinta lingkungan sekalipun menghasilkan sampah. Namun dia mungkin mengompensasinya dengan kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan, seperti menanam pohon dan mendaur ulang sampah. Oleh karena itu diperlukan sebanyak mungkin manusia yang sadar, peduli, dan cinta pada lingkungannya. Namun jika jumlah manusia semakin banyak, semakin sulit menyadarkan mereka semua untuk peduli pada lingkungan, karena jumlah pencemar lingkungan juga menjadi tambah banyak.

Kotoran makhluk hidup, selain manusia, yang kerap menjadi sorotan adalah peternakan hewan. Konon, peternakan hewan seperti sapi menyumbang 20 persen bagi pemanasan global. Kotoran hewan, juga kentutnya dan sendawanya, adalah sumber-sumber naiknya gas metan ke angkasa. Banyaknya peternakan hewan berbanding lurus dengan banyaknya manusia, terutama yang gemar mengonsumsi daging. Seandainya manusia tidak sebanyak ini, tentu yang makan daging juga lebih sedikit. Jika yang makan daging lebih sedikit, maka jumlah permintaan akan daging berkurang, dan berkurang pula jumlah peternakan hewan.

Kiranya masih banyak lagi masalah-masalah yang diakibatkan oleh manusia. Kerusakan hutan, turunnya kuantitas dan kualitas air, longsor, perang, dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Seraya kita tetap melakukan perbaikan dalam berbagai bidang (misalnya menciptakan energi alternatif selain BBM, pengaturan tata kota yang lebih pro-lingkungan, menciptakan alat yang lebih efektif untuk mendaur ulang sampah, membangun sarana transportasi publik yang lebih nyaman sehingga orang-orang mau beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, menyediakan sarana pendidikan yang lebih baik dan lebih murah agar sebanyak mungkin orang bisa sekolah, memberantas kemiskinan, membasmi kemaksiatan dan kejahatan, membangun tata hukum yang lebih adil, dan lain-lain), kita semua bisa ikut andil dalam hal yang menjadi pokok dari semua masalah itu, yakni dengan mengikuti Keluarga Berencana. Dua anak lebih baik. Mengapa? Sebab orangtuanya ada dua, ayah dan ibu. Jika semua manusia menerapkan kebajikan ini, insya Allah jumlah manusia di muka bumi tidak akan bertambah lagi. Dengan demikian, kita bisa melakukan perbaikan di berbagai bidang tanpa khawatir akan timbulnya masalah-masalah baru dalam kependudukan.

Mungkin tulisan ini terkesan berpandangan negatif tentang manusia, bahwa manusialah penyebab dari semua kerusakan yang terjadi di bumi kita ini. Tapi saya ingin menegaskan: hanya manusia pulalah yang bisa memperbaiki segala kerusakan itu. Yakni dengan cara mengatur dirinya sendiri, di antaranya dalam hal jumlah anak yang akan ia lahirkan. Memang soal punya anak atau tidak itu terkait juga dengan pemberian Tuhan, tapi kita bisa merencanakannya dan terbukti bisa. Meskipun KB terkadang ada erornya alias bobol (sudah ikut KB tapi masih berojol juga), itu hanya membuktikan bahwa kita adalah manusia.

Adapun saya yang hari ini (12 Oktober 2010) telah mengajukan lamaran sebagai pegawai BKKBN, sebenarnya itu lebih ke masalah mencari penghidupan (pekerjaan). Tanpa di BKKBN pun, saya telah meyakini pandangan begini dan senantiasa ingin mengampanyekannya kepada orang lain. Tapi jika saya bekerja di BKKBN, tentu hal itu lebih memudahkan saya melakukan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya merencanakan kelahiran (tegasnya, membatasi jumlah anak yang dilahirkan) demi kehidupan yang lebih baik di bumi.

Saya pun terus terang tidak begitu yakin akan diterima. Pertama, posisi yang saya lamar, yakni Konselor Remaja di BKKBN Propinsi Banten, jatahnya hanya untuk satu orang. Sedangkan jumlah pelamar, sampai saat saya mengajukan lamaran, adalah 109 orang. Jadi saya harus bersaing dengan seratus orang lebih untuk mendapatkan satu posisi itu. Kedua, bisa jadi jatah yang satu itu pun telah dipesan orang dengan menggunakan jalur lain. Bukan hendak bersuuzan, tapi bukan rahasia bahwa ada orang yang diterima sebagai CPNS bukan murni karena usahanya, melainkan karena ada bantuan dari orang dalam (koneksi), atau karena dia punya uang. Tapi semoga ini tidak betul, setidaknya untuk posisi yang saya lamar. Saya berharap kompetisinya jujur dan fair, sehingga jika saya tidak diterima, hal itu semata-mata karena ada orang yang lebih baik daripada saya.

Tak lupa saya berdoa kepada Allah semoga saya diterima menjadi pegawai BKKBN. Amin. []

This entry was posted in Cathar, Lingkungan Hidup and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Manusia Sudah Terlalu Banyak

  1. taju says:

    semoga di terima aja kang.

    @Ternyata tidak. Alhamdulillah. Aku tidak perlu repot menyiapkan berkas2 ini itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s